
Semua hidangan yang telah disiapkan mama tandas sudah dilahap teman-temanku tanpa rasa sungkan. Tawa mama berkali-kali terdengar ketika Cuplis melontarkan banyolan-banyolannya. Tawa yang sudah lama tidak kudengar, bagai alunan musik yang menenangkan di kala resahku. Aku telah lama rindu suara tawa mama seperti ini.
Selepas shalat isya, Riko dan tim rusuhnya pamit, dengan wajah berbinar dan perut yang kenyang. Aku meminta izin pada mama untuk mengantarkan Leona kembali ke kosannya.
"Jadi mau cerita?" Aku mulai jengah dengan sikap Leona yang tidak biasa hari ini.
"Jun, kamu jadi ambil beasiswa yang ke Ausie?" tanyanya tanpa menoleh.
"Insya Allah jadi. Tinggal menunggu hasil IELTS keluar. Kenapa?"
Leona mendesah pelan, "Jadi enggak bisa sering ketemu lagi, dong, ya?" sahutnya lemah.
Aku paham kemana arah pembicaraan Leona. Dia masih saja menyimpan harapan untuk masuk ke hatiku. Namun, aku masih belum mampu menempatkan seseorang untuk menggantikan Runa di dalam hati. Kedudukan Runa sampai saat ini masih saja belum tergantikan. Dia masih saja bertahta di sana.
Aku rasa, inilah saatnya untuk menegaskan kepada Leona tentang kedudukannya saat ini di hatiku.
Aku berdehem melegakan tenggorokan yang terasa tersumbat.
"Eon, aku minta maaf. Sepertinya aku masih belum bisa menggantikan Runa dengan yang lain. Aku takut kedekatan kita makin membuat harapanmu membesar. Jadi sekarang aku tegaskan saja, kalau kita tidak bisa lebih dari teman." Setelah kalimat itu lepas, bongkahan yang selama ini mengganjal yang terasa lepas.
Mungkin kata-kataku terlalu kejam, tapi aku tidak mau menyakitinya dengan kedekatan seperti ini. Tidak ada perasaan murni persahabatan dari laki-laki dan perempuan, cepat atau lambat suatu hari nanti akan ada terbetik rasa mengagumi yang berujung pada rasa yang lebih besar. Seperti perasaanku pada Runa. Dan untuk saat ini aku masih belum bisa menepiskan rasa yang masih begitu besar terhadap gadis mentari itu.
Leona kembali menarik napas panjang. Menatapku dengan senyum yang terkembang. Ah! Kenapa perempuan yang kukenal selalu saja menyembunyikan luka di balik senyumnya. Mama, Runa, dan kini Leona. Kenapa mereka tidak jujur saja mengungkapkan rasa sedihnya tanpa berlindung di balik senyum.
"Aku minta maaf," ucapku tercekat. Kendati tak ada rasa sayang terhadapnya, hati ini tetap saja tak kuasa melihat kesedihan di balik senyum itu.
"Tidak perlu minta maaf. Lebih baik begitu, daripada kamu bersikap seolah-olah menyukaiku, tetapi kenyataannya tidak. Itu lebih menyakitkan."
"Terima kasih selama beberapa bulan ini telah menemaniku di saat aku terpuruk, Eon ... aku mungkin tidak akan mampu melewati masa sulit ini sendirian."
Mataku kembali memanas. Merasa menjadi makhluk paling jahat. Bagaimana tidak, setelah aku melewati masa sulit ini dengan didampingi Leona, aku seolah tak berperasaan mengatakan tidak bisa bersamanya. Sekilas kulirik wajah ayu gadis di sampingku, matanya menatap nanar jalanan di depan yang hanya diterangi keremangan lampu yang seperti segan untuk menyala.
"Terima kasih, Jun. Sukses ya, buat rencana post graduate-nya." Leona meluncur turun dari mobil ketika sampai di depan pagar kosnya.
Aku hanya terpaku melihatnya hilang di balik pagar tempat kosnya yang tinggi. Setengah merutuki diri atas apa yang kulakukan barusan.
***
"Jun, kesini sebentar." Mama memanggilku ke ruang keluarga. Wajahnya tampak tegang, meski dia berusaha menutupinya.
"Sudah beres semua urusan skripsi kamu?" tanyanya setelah aku duduk di hadapannya.
"Sudah, Mam. Tinggal nunggu jadwal wisuda."
"Papa katanya nanti ikut hadir." Segaris senyum kaku kembali tercetak pada wajahnya. Entah untuk apa berpura-pura.
"Kalau tidak bisa, enggak usah dipaksa, Mam. Biarin aja." Aku takut kehadiran papa hanya akan menyayatkan kembali luka mama yang belum sembuh.
"Iya ...."
__ADS_1
Meskipun mama berada di ruangan yang sama denganku, tapi aku hanya merasakan raga yang kosong. Manik matanya seolah menatap tempat yang jauh. Baru saja semalam aku melihat wajahnya telah kembali ceria, siang ini kembali murung.
"Jun ...." Mama memijit pelipisnya dengan ujung jari, kedua manik mata hitamnya tertuju padaku. Kesedihan kembali menggantung di sana. "Mama sudah janji sama kamu untuk memberitahu kamu alasan Mama sama Papa pisah ...."
Aku mengangguk. Kecemasan mulai menjalar, mengalirkan rasa dingin hingga ke sumsum tulang.
"Sebenarnya Papa punya keinginan untuk mempunyai penerus bisnisnya ...." kali ini Mama sudah tidak mampu membendung airmatanya. Membuat pertanyaan yang selama ini menggantung, makin terasa memberat.
"Apa papa menganggap aku tidak mampu?" tanyaku tercekat. Mengingat fobiaku yang masih saja belum sepenuhnya sembuh. Aku sedikit terluka mendengar penjelasan mama. Apakah hanya karena itu, papa rela mengorbankan perasaan orang-orang yang mencintainya?
"Sebenarnya bukan begitu ...." isakan mama makin terdengar menyayat. "Karena kamu sebenarnya bukan darah daging kami ...."
Tubuhku seperti dialiri ribuan voltase tegangan listrik. Membuat jantungku sejenak berhenti bekerja.
"Maksudnya, Mam?" Hanya itu yang mampu terucap ketika rasa keterkejutanku mulai mereda.
"Maafkan, Mama baru bisa kasih tau kamu. Mama tidak sanggup kehilangan kamu."
"Lalu aku anak, siapa?" bendunganku runtuh. Aku sudah tidak sanggup lagi menerka-nerka apa yang akan dikatakan perempuan yang mengatakan aku bukan darah dagingnya itu.
Setelah tangisnya mereda, cerita tentang asal usul keluarga kandungku pun di ceritakan.
"Dulu, waktu kami tinggal di Jakarta, Mama punya asisten, namanya Siti. Dia berhenti bekerja ketika hendak menikah, tapi dia masih sering datang mengunjungi Mama. Lalu, tepat ketika dia hamil anak pertama, mama juga diberi kesempatan hamil anak ke empat. Entah apa maksud Tuhan ketika itu, pada saat melahirkan, kami juga berbarengan di rumah sakit yang sama. Namun Tuhan mengambil kembali bayi yang baru Mama lahiran, sebelum dia sempat membuka mata, melihat Mama. Di ruangan lain, tempat ibumu melahirkan, kamu terpaksa harus kehilangan ibu kandungmu karena pendarahan."
Lidahku kelu, berusaha untuk kuat mendengar lanjutan kisah ibu kandungku. Kepalaku terasa kosong.
"Tiba-tiba saja terlintas satu ide di pikiran Mama, mengambil anak Siti untuk Mama akui sebagai anak mama dan menukarnya dengan darah daging yang baru saja mama lahirkan."
Aku terperangah mendengar cerita perempuan yang selama ini ku anggap sebagai ibu kandungku. Menatapnya tak percaya. Entah aku harus bersedih atau bergembira. Di satu sisi aku terpuruk, karena orang yang kuanggap darah dagingku selama ini bukanlah orangtua kandungku. Di sisi lain aku bahagia, ternyata aku masih mempunyai harapan untuk kembali bersama Runa.
Teringat akan gadis itu, aku Buru-buru menghapus airmata, "Terima kasih sudah memberi tahuku kejujuran ini, Mam," sorakku seraya bangkit dari duduk. "Ada yang harus ku selesaikan dulu!" dengan tergesa, aku berlari keluar.
Menyadari bahwa kunci mobil tidak berada di kantong, enggan untuk kembali ke dalam rumah, aku mencari Pak Karsa di posnya.
"Pak! Saya mau pinjam motor!" pintaku setengah berteriak di depan pintu.
"Jun! Kamu mau kemana?" teriak mama dari pintu hendak menyusul.
"Sebentar, Mam! Nanti aku kabari!" Aku balas berteriak, segera melesat keluar pagar bersama motor astrea tua Pak Karsa.
Beberapa meter keluar dari jalan perumahan, motor tua itu mulai terbatuk-batuk. Berkali-kali kusentakkan tuas engkolnya, tapi ia bergeming. Ah! Kenapa di saat darurat begini ia berulah. Dengan setengah berlari, aku mendorong motor tersebut. Beberapa pasang mata menatapku, tapi tidak ada yang terlihat berniat membantu.
Ketika aku baru saja hampir kehabisan tenaga, sebuah motor berhenti tepat di sampingku.
"Woi! Lo ngapain dorong-dorong motor!" Suara sengau itu terdengar bagai suara malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk membantuku.
"Ko! Gue pinjam motor, Lo! Tolong bawa motor ini ke bengkel! Please!" dengan wajah putus asa aku mendekati Riko yang terlihat bingung.
"Ini motor siapa? Terus Lo mau kemana?" sahabatku itu masih bergeming diatas motor maticnya.
__ADS_1
"Entar, gue ceritain! Buruan, gue pinjam!" ujarku memaksa, mendorong tubuh Riko menyingkir dari motornya.
"Eh, main dorong-dorong aja! Enggak ada manner banget, Lo!" sergahnya dengan terpaksa menyerahkan kendali motor padaku.
"Gue bakal hutang Budi banget sama Lo setelah ini, Ko! Serius! Dah ya, tolong Lo urus dulu itu motor. Gue cabs dulu!" Aku menarik kencang gas motor, meninggalkan Riko yang masih ternganga di tempatnya berdiri.
Rumah Runa terlihat sepi seperti biasa. Kulihat gembok menggantung tertutup pada selot pengunci pagar. Sepertinya gadis itu tidak di rumah.
"Nyari Neng Runa, ya A'?" seorang tetangga sebelah rumah Runa menyapa.
"Iya, Bu. Sepertinya lagi pergi." Aku menghapus keringat yang membanjiri di pelipis, mengatur napas yang masih belum bekerja normal efek tadi berlari mendorong motor.
"Iya, dari tadi pagi perginya."
"Baik, Bu. Biar saya telepon saja."
Kenapa baru sekarang teringat untuk menghubunginya lewat telpon. Padahal seharusnya sebelum berangkat aku bisa melakukannya. Jadi tidak sia-sia usahaku mendorong-dorong motor di siang bolong seperti ini.
"Halo, Jun? Kok Lo nelpon? Lupa ama kesepakatan?" cecar Runa ketika telponku dijawab.
"Kesepakatan batal!" sorakku. "Lo dimana? Gue susul!"
"Eh apa maksudnya?"
"Entar gue kasih tau! Lo dimana?"
"Di kampus...."
"Lo tunggu, gue jalan ke sana!"
Kembali kupacu motor Riko dengan kecepatan tinggi ke kampus. Tidak sampai seluluh menit, aku kembali mengatur napas di depan gedung jurusan Runa. Mengambil ponsel dari dalam kantong celana, lalu kembali memencet panggilan terakhir di kontak.
"Gue sudah di kampus, Lo dimana?"
"Gue di kampus Jatinangor, Jun!" Lengking suara Runa seolah menampar gendang telinga. "Belom juga gue beres ngomong udah main tutup aja!"
Aku menepuk jidat menyadari kebodohan.
"Lagian Lo kenapa, sih?"
"Gue susul deh, ya!"
"Enggak usah, gue udah di jalan balik. Lo tunggu di Zoe aja."
Waktu terasa beringsut pelan, menunggu kedatangan Runa. Beberapa telpon dari mama kuabaikan. Lalu pesan dari Riko muncul di layar dengan huruf kapital.
"MANEH DI MANA? BALIKIN MOTOR AING! AING REK KA IMAH KABOGOH AING!" (Kamu DI mana? Balikin motorku, aku mau ke rumah pacarku: Bahasa sunda kasar).
Setengah menertawakan kebodohanku, aku memencet nomor kontak Riko. Sontak suara omelannya mengalir mengaduk-aduk gendang telingaku. Ya, Tuhan. Sungguh kebodohan yang berlipat kulakukan hari ini.
__ADS_1