Kandas

Kandas
Lamaran Mendadak


__ADS_3

Mendekati masa akhir semester, aku mulai makin sibuk memikirkan perkuliahan. Walaupun tidak setiap hari aku menelpon ibu, tapi setiap hari aku masih menanyakan bagaimana keadaan ibu melalui pesan chat. Benar kata ibu, aku harus mengenyampingkan perasaan untuk sementara. Fokus pada pendidikan, supaya bisa menyelesaikannya tepat waktu.


"Hanya tinggal beberapa bulan lagi kalau kamu semangat, sudah bisa lulus," pesan ibu.


Mengingat hanya tinggal satu semester dari target kelulusanku, aku makin bersemangat untuk menyelesaikan kuliah. Tak kuhiraukan segala hal yang membuat semangatku kendor. Tak ada waktu untuk bersantai.


"Run, liburan semester mau ke Jakarta apa mau ikut KKN?" tanya Arjun ketika di perjalanan pulang dari kampus.


"Sepertinya gue mau ajuin ikut KKN saja. Biar semester depan tinggal ngurus kerja praktek sama skripsi," sahutku, teringat bahwa semua persyaratan untuk mengajukan KKN telah kupenuhi.


Di kampusku, setiap mahasiswa tingkat akhir yang telah memenuhi total pencapaian jumlah satuan kredit semester yang ditentukan akademi, mereka telah bisa mengajukan diri untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata, semacam pengabdian pada masyarakat. Kegiatannya sendiri dilaksanakan tak hanya di sekitar lokasi kampus, tapi ke daerah pinggir yang masih masuk wilayah cakupan kampus.


"Gue mau ngajuin juga deh, siapa tau bisa bareng Lo desanya," sahut Arjun.


"Enggak bosen apa Lo liat gue entar? Dari pagi ketemu pagi lagi." Aku menggernyit heran.


"Kalau Lo, bosen ya ketemu gue tiap hari?" Dia balik bertanya.


"Enggak juga sih, cuma kalau nanti bakal satu desa dengan Lo, enggak tau juga deh," paparku.


"Ah, iya benar juga ya. Sesuatu yang berlebihan kadang enggak baik juga. Apa sebaiknya gue ngajuin tempat yang beda sama Lo, ya?" gumamnya.


"Iya. Begitu saja. Biar Lo juga bisa berbaur sama yang lain, jangan sama gue terus," sambutku setuju.


Kalau dipikir-pikir, selama ini memang Arjun selalu mengikuti kemana aku pergi. Kalau saja dia tidak sakit pada saat ujian akhir semester pertama, mungkin saat ini dia juga masuk di jurusan yang sama denganku, mengingat kemampuan otaknya lebih tinggi dariku.


Lingkup pertemanan Arjun tak banyak. Hanya ada aku, Riko dan geng kecilnya. Aku hanya tak ingin Arjun terlalu bergantung padaku, bukan karena aku merasa terganggu, hanya saja dia harus belajar untuk menghadapi situasi ketika aku tak ada bersamanya. Dia sudah bukan anak laki-laki yang harus terus dilindungi. Sudah saatnya dia belajar untuk mengatasi segala ketakutannya tanpa bantuan siapa-siapa.


"Bukan karena bosan sama gue, kan Run?" Arjun mengulangi pertanyaannya.


"Ya enggak, lah. Kalau bosen, dari dulu sudah gue tinggal," sanggahku.


"Ha-ha, iya juga."


"Sekarang kan umur kita sudah bukan anak-anak lagi, Jun. Sebentar lagi kita sudah masuk ke ranah yang lebih besar dari lingkungan kita sekarang, sudah saatnya juga Lo berbaur dengan yang lain," ujarku memaparkan alasanku.


"Iya, benar juga." Arjun mengangguk menyetujui. "Terus, Lo ke Jakarta lagi kapan?"


"Lusa, selesai UAS."


"Gue anter, ya? Sekalian ketemu nyokap Lo," pintanya dengan suara penuh harap.


"Iya, deh." Aku menyetujui. Tak ada salahnya juga aku diantar Arjun ke Jakarta.


"Terima kasih," ucapnya lembut.


"Harusnya gue yang berterima kasih, Jun. Sudah mau nawarin nganterin," ucapku.

__ADS_1


"Sebenarnya, gue khawatir, nanti Lo ketemuan sama cowok yang temen Wina itu lagi, sih," ungkapnya pelan.


"Eh? Jadi masih kepikiran?" tanyaku kaget mendengar pengakuannya.


Aku pikir selama ini dia sudah bersikap biasa, karena dia sudah melupakan pengakuanku jalan dengan kak Beni saat di Jakarta. Ternyata dia masih memikirkan masalah itu.


"Ya ... enggak juga, sih. Cuma baru kepikiran saja," sanggahnya.


"Lo cemburu?" tudingku menggodanya.


"Sedikit," akunya dengan wajah memerah.


"Ha-ha, Lo manis banget kalau lagi cemburu gitu, Jun," kekehku mencubit pipinya gemas.


"Aw!" jeritnya memegang pipi yang baru saja kucubit.


"Tenang saja, Jun. Pas gue jalan sama kak Beni, yang kepikiran malah Elo," sahutku malu-malu.


"Ah, masa?" godanya melirik sekilas lalu tersenyum simpul.


"Sudah, ah! Entar pipi gue panas," sergahku memegang pipi yang mulai terasa panas.


"Enggak apa-apa, manis kok," kekehnya tanpa menatapku, masih dengan senyum dikulum.


"Sejak kapan, sih Lo jadi gombal gini," gelakku geli.


Akhirnya perjalanan menuju rumah diisi dengan percakapan saling menggombal antara aku dan Arjun. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan ini aku mampu tertawa lepas, setelah menguras airmata yang seolah tak pernah kering.


***


Ujian akhir semester berakhir juga. Setengah berlari, aku menemui Arjun yang telah menunggu di taman depan gedung jurusan.


"Mau pulang dulu atau mau langsung jalan?" tanyanya ketika aku datang.


"Lo enggak ambil pakaian ganti dulu pulang?"


"Sudah gue siapin dari semalam."


"Eh? Sudah siap buat berangkat juga?" Takjub, ternyata cowok yang satu ini gerak cepat juga.


"Sudah dong! Lo mau pulang dulu enggak?"


"Enggak usah, gue juga sudah bawa sekalian di tas, pakaian ganti gue."


"Ya sudah, kita jalan yuk!"


Setelah mampir di sebuah minimarket, membeli cemilan dan minuman untuk bekal di jalan, kami bergerak meninggalkan Bandung.

__ADS_1


Beruntung gerbang tol Pasteur tidak seramai di akhir minggu, sehingga kami tidak terlalu lama terjebak kemacetan di daerah Pasteur yang selalu menjadi langganan macet.


"Run, nyokap udah tau kalau kita sudah jadian?" Suara Arjun menyentakkanku yang hampir tertidur.


"Sudah, sih. Kenapa memangnya?" sahutku mengembalikan kesadaran.


"Terus, nyokap komen apa?"


"Enggak komen apa-apa, sih. Kenapa memangnya?"


"He-he, takut nyokap enggak setuju sama hubungan kita," kekehnya terdengar gugup.


"Kenapa Lo mikir seperti itu, memangnya selama ini nyokap gue tipe emak-emak judes apa?"


"Ya, enggak. Kan selama ini nyokap Lo taunya gue cowok culun, apa dia nerima gitu anaknya sama cowok culun kayak gue?" Ada keraguan dan rasa rendah diri dari nada bicaranya.


"Ah elah, Jun. Masih saja mikirin itu. Kalau nyokap gue, enggak masalahin penampilan."


"Ha-ha iya, sih ya. Dari dulu nyokap Lo selalu baik. Tiap gue ke rumah Lo, selalu disambut hangat," ujarnya lirih.


"Sampai sekarang dia masih seperti itu, kok. Walaupun sakit tetap masih penuh semangat seperti dulu." Aku tersenyum kecut, mengingat wajah ibu yang tak sesegar dulu, tapi masih terlihat bersemangat. "Terus, nyokap Lo sudah tau kalau kita sudah jadian?"


"Sudah. Eh iya, kemarin nyokap nanya kapan bisa ketemu?"


"Eh? Mau ngapain?"


"Mau nanya, kapan bisa ngelamar buat jadi mantu mungkin," kekehnya.


"Becanda aja, Lo ah!" sungutku memukul pelan lengannya.


"Memangnya Lo enggak mau gue lamar?" suaranya terdengar santai, tapi mampu membuat debaran jantungku jadi tak beraturan.


"Eengg ... belum kepikiran sampai kesitu juga gue, Jun," sahutku agak sedikit malu.


"Gue sudah mikirin, lulus kuliah gue mau lamar, Lo. Enggak masalah kan, kita mulai hidup dari bawah?" Suaranya terdengar begitu serius.


"Eh, gue belum kepikiran, Jun. Kasih waktu buat mikirin, ok?" Aku gelagapan ketika ditodong pertanyaan seperti itu.


Jujur untuk masalah kelanjutan hubungan ke arah yang lebih serius masih belum terpikirkan olehku. Hal yang memenuhi pikiranku saat ini adalah bagaimana supaya cepat lulus dan bisa mendampingi ibu selama masa pengobatan.


"Ok. Enggak masalah. Yang penting Lo tau, gue ngejalanin hubungan ini enggak setengah-setengah. Gue memang serius sama Lo."


Aku hanya membalas dengan senyum. Menata debaran jantung yang makin terasa tak menentu.


Ya Tuhan, jangan sampai jantungku berhenti mendadak mendengar apa yang tadi diucapkan Arjun. Walaupun dia terlihat santai, tapi aku yakin dia tidak main-main dengan apa yang diucapkannya.


Beginikah rasanya dilamar. Antara senang dan takut bercampur jadi satu. Ketakutanku terbesar saat ini, bagaimana jika nanti Arjun ternyata bukan laki-laki yang tepat buatku. Apakah benar dia jodoh yang Tuhan siapkan untukku? Ah! Untuk saat ini aku harus kesampingkan dulu semua ketakutan ini. Lebih baik aku menjalaninya saja tanpa ada beban. Semoga semesta merestui kami.

__ADS_1


__ADS_2