Kandas

Kandas
Kabar Ibu


__ADS_3

Semburat lembayung senja telah menggantung di langit kelabu Jakarta, ketika kereta yang membawaku, memasuki stasiun Gambir. Kereta berhenti sempurna diiringi bunyi decitan rem beradu dengan rel. Aku bergegas turun dari kereta, beberapa menit yang lalu maktuo Erni sudah mengabarkan bahwa beliau sudah sampai di stasiun.


Aku turun ke lantai bawah, melewati beberapa kios penjual makanan dan minuman yang menyebarkan aroma yang menggugah selera. Mendadak perutku meminta jatahnya untuk diisi. Walaupun tadi di kereta aku sudah mengisi perutku dengan beberapa potong brownies yang kubawa dari rumah, tapi nyatanya belum mampu membuatnya merasa penuh.


Aku berjalan tergesa menuju pintu keluar Selatan stasiun, tempat di mana maktuo telah menungguku sedari tadi. Baru saja kakiku menginjak anak tangga terakhir, wajah maktuo langsung dapat kukenali berada tak jauh dari pintu masuk yang tidak begitu ramai. Tak ada yang berubah dari sosok kakak perempuan Ibuku itu, walaupun sudah hampir dua tahun aku tak bertemu.


"Maktuo," sapaku menyalami kakak ibuku satu-satunya itu setelah berada di dekatnya.


"Ondeh, alah gadang anak maktuo*. Sudah lama sekali rasanya maktuo tidak bertemu," sambutnya masih dengan suara paraunya yang khas.


"Ha-ha iya, maafkan aku Maktuo, jarang berkunjung ke Jakarta. Dengan siapa maktuo ke sini?" tanyaku tatkala melihat perempuan paruh baya yang memakai gamis coklat itu hanya sendirian menungguku.


"Dengan si Indra, dia menunggu di mobil," sahutnya merangkul pundakku ketika berjalan ke arah parkiran.


"Oh uda Indra tidak kerja?"


Uda Indra adalah anak laki-laki tertua maktuo— sepupuku.


"Udamu itu buka rumah makan dia sekarang, katanya sudah tidak mau jadi orang gajian, he-he," kekeh maktuo sambil menepuk-nepuk pundakku.


"Oh, bagus dong maktuo. Jadi bos," ujarku penuh semangat.


"Yaa, bos kecil-kecilan." Kembali maktuo terkekeh.


Sesampainya di mobil, uda Indra menyambutku dengan candaan khasnya. Tampilannya yang biasa klimis ala pekerja kantoran, kali ini sedikit terlihat agak sedikit berantakan dengan rambut yang dibiarkan agak gondrong, bulu halus di wajahnya pun dibiarkan tak dicukur.


Walaupun percakapan di antara kami terlihat santai, entah kenapa ada rasa yang mengganjal melihat gerak-gerik ibu dan anak itu, seperti ada yang mereka sembunyikan. Semoga bukan tentang kondisi ibu, harapku dalam hati.


Kemacetan menyambut ketika mobil yang dikendarai oleh uda Indra keluar dari area parkiran stasiun. Sepertinya hal ini sudah menjadi langganan sehari-hari di semua kota besar, apalagi kota seperti Jakarta.


Melewati beberapa halte busway, aku melihat tumpukan penumpang yang sedang menunggu bus. Seketika terbayang wajah ibu yang juga merupakan salah satu pejuang nafkah di ibukota. Aku Salut pada mereka yang mampu bertahan dengan situasi Jakarta yang menurutku begitu keras. Apalagi ibu, umurnya yang tak lagi muda harus berjuang menghadapi kerasnya hidup di kota ini, tentulah tidak mudah.


Ibu pernah bercerita, kalau setiap hari dari rumah di Depok, ibu harus berangkat setelah shalat subuh ke stasiun kereta, lalu melanjutkan perjalanan ke kantor dengan busway. Dulu aku mengira perjuangan ibu harus berganti beberapa kali moda transportasi menuju kantor tidaklah sesulit ini. Setelah melihat sendiri bagaimana kondisi mereka yang menggunakan busway, baru aku sadar, ternyata perjuangan ibu untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhanku tidak mudah.


Makin menjauhi stasiun, kemacetan makin memadat. Lampu-lampu mulai menerangi kegelapan ibukota. Sebenarnya pemandangan malam dengan lampu-lampu seperti ini cukup indah bagiku, tapi bukan dalam keadaan terjebak macet seperti saat ini.


Maktuo sepertinya sudah tak mampu mentolerir kemacetan yang makin menggila, tak berapa lama setelah keluar dari stasiun, beliau telah merebahkan kepalanya ke sandaran jok mobil. Mungkin saja dia telah berpindah ke alam mimpi yang bebas dari kemacetan.


"Sekarang sudah semester berapa, Run?" Tiba-tiba suara bariton uda Indra memecah kesenyapan di dalam mobil.


"Hah? Eh, sudah semester enam, Da," sahutku agak sedikit kaget mendapat pertanyaan dari uda Indra.


"Wah, sebentar lagi lulus dong, ya?" tanyanya melirikku dari kaca spion.

__ADS_1


"Insya Allah, Da. Semester depan tinggal KKN dan seminar aja, baru nanti lanjut skripsi."


"Nilai gimana? Bagus kan?"


"Alhamdulillah, Da."


"Semester kemarin IPK berapa?"


"Tiga koma Tujuh, Da," sahutku agak sedikit sungkan.


"Wow, mantap. Tidak sia-sia tante kerja keras nguliahin kamu," pujinya kembali melirikku dari spion depan.


"Ha-ha ya ... Aku juga tidak mau kecewain ibu, Da."


"Iya, bagus itu," sahutnya terlihat mengangguk-angguk.


Kembali hening. Hanya suara lantunan musik dari radio yang dinyalakan oleh uda Indra saja yang terdengar menghalau sepi. Tiba-tiba getaran ponsel mengagetkanku. Aku pun bergegas mengambil benda pipih itu dari dalam tas. Wajah Arjun tampak memenuhi layar. Segera kugeser tombol untuk menerima Telpon.


"Ya, halo," sahutku.


"Udah nyampe? Kok aku wa enggak dibales?" Suaranya terdengar khawatir.


"Maaf, td hp aku silent, jd enggak ngeuh pas ada wa masuk," sahutku dengan nada rendah. Ada sedikit rasa bersalah merayap di hati, karena sempat lupa memberinya kabar.


"Sudah, ini masih di jalan, macet banget."


"Oh, ya sudah. Sampai ketemu hari Senin, ya. I miss you already," ucapnya dengan suara yang terdengar agak sedikit serak.


"Sama," sahutku singkat.


Padahal, ada sedikit keinginan untuk menggodanya, tapi kuurungkan. Ada rasa sungkan juga jika pembicaraanku didengar oleh sepupuku.


Arjun mengakhiri percakapan setelah memastikan bahwa aku baik-baik saja. Aku berjanji akan mengabarinya lagi setelah bertemu ibu.


Setelah menembus kemacetan yang cukup menguras kewarasan, mobil berbelok ke arah area rumah sakit. Maktuo telah terbangun ketika aku masih bertanya-tanya dalam hati untuk apa berhenti di rumah sakit. Kapan aku bisa bertemu ibu. Kerinduan terhadap ibu terasa sudah teramat penuh.


"Run, ada yang maktuo ingin katakan sama kamu," ujar maktuo ketika mesin mobil telah dimatikan oleh uda Indra dan ia telah keluar terlebih dahulu dari mobil.


Nada suara maktuo membuka pembicaraan membuat rasa was-was kembali menyerang.


"Ada apa dengan ibu, Maktuo?" tanyaku langsung menebak arah pembicaraan.


"Sepertinya kamu sudah punya firasat, ya?" tanya beliau menatapku dengan tatapan yang tak dapat kuartikan.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti apa yang Maktuo maksud, hanya saja dari kemarin setelah ibu menelpon, firasatku tidak enak. Lalu dengan cara Maktuo berbicara seperti ini, aku jadi merasa ada yang tidak beres dengan ibu," terangku.


"Sebenarnya ... Ibumu itu ...." Mata maktuo terlihat berkaca-kaca diantara keremangan lampu area parkiran rumah sakit.


"Ibu sakit, dan sekarang dirawat disini, ya?" Kembali aku mengajukan analisaku.


"Iya." Maktuo menghembuskan nafas berat.


Mendadak aku mati rasa dengan segala pikiran buruk yang tiba-tiba merangsek masuk. Tidak mungkin maktuo sampai terlihat sesedih itu jika sakit yang diderita ibu hanya sakit ringan.


"Ibu sakit apa, Maktuo?" tanyaku tercekat, mencoba menguatkan diri untuk mendengar apa yang nantinya diutarakan kakak ibuku itu.


"Sebenarnya, ibumu sudah tiga bulan ini dirawat di rumah sakit." Maktuo menarik nafas panjang.


Aku mencoba untuk menahan diri untuk tidak menyela, bersabar menunggu apa yang akan disampaikan maktuo kepadaku. Walaupun sebenarnya rasa takut mulai menguasaiku.


"Baru kemarin hasil lab-nya keluar. Ibumu didiagnosa kanker rahim."


Seketika duniaku terasa runtuh. Bagaimana mungkin ibu yang selama ini terlihat sehat didiagnosa penyakit mematikan itu. Aku pernah mendengar, peluang untuk sembuh dari penyakit itu sangatlah kecil.


"Stadium berapa, Maktuo?" tanyaku berusaha mengumpulkan kekuatan di sela tangis yang mulai pecah.


"Stadium empat. Dokter bilang masih ada peluang untuk kesembuhannya, walaupun kecil, tapi ibumu terlihat bersemangat untuk mengambil peluang yang kecil itu."


"Iya, Ibu tidak akan menyerah. Maktuo yang tau pasti bagaimana watak ibu," sahutku lemah.


Ibuku adalah sosok perempuan tegar. Tak pernah sekalipun aku melihatnya menangis selain pada waktu ayah meninggal. Setelah itu, ibu kembali berdiri layaknya karang. Kuat seolah tak ada yang mampu menghancurkannya.


"Aku ingin segera bertemu ibu," ujarku menghapus airmata. Aku tak ingin ibu melihatku menangisi nasibnya. Aku ingin segera melihat wajah tegar ibu menghadapi penyakit. Menghadapi kenyataan yang bagi sebagian orang dirasa tidak adil.


"Ah, iya ... Maktuo minta maaf karena tidak memberitahukanmu dari awal, Run." Ada nada bersalah dari suara parau maktuo saat mengucapkan itu.


"Tidak apa-apa, Maktuo. Aku yakin ibu juga pasti melarang Maktuo memberitahukanku," ujarku berusaha untuk terlihat kuat.


Aku kembali berusaha menata hati. Mengumpulkan serpihan harapan untuk kesembuhan ibu. Peluangnya memang sangat kecil, tapi sekecil apapun peluangnya, tetap ada harapan yang tersimpan di sana. Tuhan pasti masih menyisakan sedikit harapan untuk hamba-Nya, agar mereka mau berusaha sampai titik penghabisan.


Tak sabar rasanya ingin segera bertemu ibu. Memeluknya untuk sedikit memberikan kekuatan. Mengatakan padanya bahwa aku akan selalu mendampinginya menjalani proses pengobatan. Agar senyuman ibu kembali terkembang untukku.


______________________________________________


Catatan :


* Aduh sudah besar anak maktuo (bahasa minang)

__ADS_1


__ADS_2