
Tiga bulan telah terlewati tanpa kehadiran Runa. Rasa cemas tidak mampu bertahan tanpa kehadirannya kembali menghantuiku. Meskipun aku telah mencoba untuk mengatasi sendiri, kecemasan itu tetap saja tak mau pergi.
Aku kembali mendatangi psikiater untuk menjalani sesi terapi. Kali ini Leona yang selalu mendampingi. Meskipun banyak kemiripan sifat antara gadis itu dengan Runa, tetapi hatiku masih saja merindukan sosok yang selama ini selalu menyambutku dengan senyum hangatnya. Separuh hatiku telah dibawa pergi bersama ketiadaannya.
Walaupun aku belum mampu menerima Leona untuk hubungan yang serius, gadis itu masih saja setia mendampingiku. Memberi semangat layaknya yang dilakukan Runa dulu. Setitik rasa suka memang sudah mulai muncul terhadapnya, hanya saja aku belum merasakan getaran apa-apa terhadapnya. Aku belum sepenuhnya nyaman ketika bersama gadis bermata bulat itu. Bisa jadi karena aku juga baru dekat dengannya tiga bulan ini, atau karena memang hatiku belum sepenuhnya melepaskan Runa.
Setelah masa KKN berakhir, disambut dengan masa kerja praktek. Beruntung mama mau menerima anaknya menjadi mahasiswa magang di butik yang dikelolanya. Jika tidak, mungkin aku harus kembali rutin mengkonsumsi antidepressant karena harus menyesuaikan diri kembali dengan lingkungan asing seorang diri.
Siang ini Leona mengajak untuk bertemu. Namun tugas yang diberikan mama untuk melakukan stock opname pada barang yang baru dikirim supplier belum beres, aku memintanya untuk berkunjung ke butik.
"Aa Arjun, aya rerencangan na di payun," (Aa Arjun, ada temannya di depan) ujar Usep OB di butik melongokkan kepalanya ke ruangan yang dijadikan sebagai gudang, tempatku tengah memeriksa stock.
"Oh, iya. Cowok apa cewek, Sep?" tanyaku hanya untuk memastikan apakah yang datang memang Leona.
"Cewek, A'. Geulis ... kabogoh na A' Arjun, yaa." Mata cekung Usep menggerling jenaka.
"Naon, sih, Sep." Aku melemparkan tali dari batik yang kupegang dari tadi pada Usep.
"Pak, saya tinggal sebentar, ya." Aku pamit pada Pak Jajang, salah seorang karyawan mama yang turut membantu mengurusi barang yang baru datang.
"Muhun, Den. Nanti biar Bapak yang nerusin sisanya, sudah tinggal sedikit ini juga."
"Oh baik, terima kasih, Pak."
Gadis itu duduk dengan anggun di sofa yang ada di galeri butik sambil membolak-balik katalog yang terdapat di meja. Rambutnya yang bergelombang, tergerai panjang bagai tirai yang menghalangi pandanganku melihat wajahnya. Kulit lengannya yang putih begitu kontras dengan gaun coklat yang dikenakannya.
"Lama nunggu?" sapaku, membuat mata bulatnya yang bercahaya beralih menatapku.
"Enggak, baru juga datang." Gingsul yang menjadi pemanis wajahnya menyembul ketika dia tersenyum. Kulit putih gadingnya merona.
Baru saja aku hendak bicara, tiba-tiba pintu galeri terbuka. Sosok mam yang tak kalah anggunnya, muncul disana. Memakai gamis batik berwarna toska, dengan kerudung pink fanta memperindah wajahnya.
"Eh siapa ini?" sapa mama ketika melihatku tengah duduk di sofa yang berseberangan dengan Leona.
"Leona, Tante. Temannya Arjun." Leona bangkit dari duduknya, menyalami, dan mencium punggung tangan mama dengan santun.
"Oh, teman sejurusan Arjun atau bagaimana?" mama ikut duduk di sampingku, mempersilahkan Leona kembali duduk.
"Dulu teman SMA, tapi baru ketemu lagi pas KKN kemarin." Leona tersenyum canggung.
__ADS_1
"Ooh. Tante jarang lihat Arjun bawa teman perempuan, biasa cuma Runa saja yang tante kenal, tukas mama ramah. "Eh, kok tidak disuguhi minum, Jun?" Mama beralih manatapku.
"Eh, iya ...." Baru saja aku hendak berdiri untuk memanggil Usep, pemuda bertubuh kurus dengan rambut cepat itu datang membawa nampan berisi cangkir dengan asap yang masih mengebul.
"Mangga, Teh. Di leueut." (Silahkan di minum, Kak.) Usep meletakkan dua cangkir teh panas si meja kaca yang terletak di samping Leona. "Eh ada Ibu ... Ibu mau saya buatkan minum seperti biasa?" Pria itu beralih menatap mama.
"Nanti saja, Sep. Saya baru minum juga tadi di luar," tolak mama. "Mama tinggal, ya. Kalian lanjutkanlah mengobrol." Memberi tepukan lembut dibahuku dan mengangguk pelan pada Leona.
"Jun, nonton yuk!" ajaknya ketika mama telah menghilang di balik pintu pemisah ruang depan galeri dengan ruang karyawan.
"Hah? Mau nonton film apaan, emang?" Aku sedikit terkejut mendengar permintaan Leona. Satu hal yang tidak pernah diminta oleh Runa selama bersamaku, karena dia selalu menjagaku untuk menjauhi keramaian seperti itu.
"Ada beberapa film yang pengen aku tonton, sih. Cuma nanti kita lihat saja yang mana jam tayangnya lebih sore."
Aku tidak langsung menjawab. Menatapnya sambil berpikir.
"Mau, ya? Hitung-hitung terapi kamu juga buat menghadapi keramaian, kan?" bujuknya dengan tatapan penuh harap.
"Uhm, aku beresin sebentar pekerjaan di belakang, ya. Kamu enggak apa-apa nungguin?" sahutku ragu-ragu.
"Iya, nyantai aja. Masih siang ini."
"Tapi enggak bosan nungguin?"
Aku meninggalkan Leonasendirian. Kembali ke gudang untuk memeriksa hasil kerja Pak Jajang.
"Jun!" panggilan mama menghentikan langkahku, ketika melintasi ruangannya yang dikelilingi kaca.
"Iya, Mam?" melongokkan kepala ke dalam.
"Sini, sebentar."
Aku menurut, melangkah masuk dan duduk di kursi yang ada di depan meja mama.
"Leona beneran cuma temen aja?" mata mama meyelidik dari balik kacamatanya yang berbingkai hitam.
"Iya ... memangnya mama mikir apa?"
"Pacar kamu." Tersenyum mengangkat alis.
__ADS_1
Sontak wajahku memanas.
"Kamu putus sama Runa?"
"Kok Mama mikir begitu?" Aku masih mencoba untuk menyangkal. Hatiku masih belum bisa menerimanya dengan rela.
"Sudah lama sekali Runa enggak main ke rumah. Terus tiba-tiba kamu bawa teman perempuan ke sini, enggak biasanya. Makanya mama mikir begitu."
"Memangnya mama enggak suka anak mama punya teman banyak?" kembali aku mengelak.
"Bukannya enggak suka. Cuma kalau memang kamu putus sama Runa, mama pengen tau kenapa. Jangan sampai anak orang kamu sakitin, mama enggak ridho." Ada luka yang ku tangkap dari kalimat itu. Apa mama seolah merasakan ke dirinya sendiri.
"Enggak Mam, mana mungkin aku berani nyakitin perasaan dia. Sekarang dia lagi kerja praktek di Jakarta, makanya enggak pernah ke sini lagi." Aku mencoba mengajukan alasan yang logis.
"Oh! Syukurlah. Ya sudah, kamu mau kemana memang sama Leona?"
"Ngajakin jalan sih dia, paling janjian sama teman KKN-ku kemarin."
"Hati-hati. Obat kamu jangan lupa di bawa."
"Siap, Bos!" Aku bergegas meninggalkan ruangan mama, kembali ke gudang meneruskan pengerjaan laporan.
***
Suasana Bandung Indah Plaza cukup ramai sore ini. Sudah barang tentu, karena malam minggu. Sebenarnya aku tidak terlalu suka keluar rumah akhir minggu begini, tapi aku tidak tega menolak permintaan Leona.
Memasuki gedung plaza dari arah parkiran, aku mulai gugup. Keringat kembali membanjiri keningku. Berbeda dengan Runa, Leona tidak langsung mengurungkan niatnya ketika melihat wajah gugupku.
"Ayo, Jun. Kamu bisa kok mengatasi ini. Jangan terus-terusan menghindar. Anggap saja mereka semut." Dia tersenyum berusaha menguatkanku.
"Malah makin ngeri aku kalau semutnya segede itu, Eon!" Aku terkekeh mengusir kegugupan.
"Ha-ha, iya-ya. Uhm ... gini aja. Kamu bawa headset, kan?"
"Bawa."
"Nah, pasang headsetmu. Nyalakan musik yang kamu suka."
Aku memasang headset mengambil ponsel, dan menyalakan aplikasi pemutar musik. Aku mulai mengerti Tujuannya. Alunan alat musik yang mengalun membelai gendang telingaku, mengurangi sedikit hiruk pikuk yang tadi sempat membuatku gugup.
__ADS_1
Lalu dia berjinjit menarik hoody sweater yang kukenakan, menutupkan kepalaku hingga mata. Seketika seolah aku berada sendirian dalam ruangan studioku, mendengarkan musik. Aku menoleh pada gadis berparas ayu itu, dia tersenyum lebar. Lalu menuntunku berjalan ke arah eskalator.
Rasa damai kembali kurasa. Mengikuti langkah cepat Leona, rambut hitamnya yang tergerai indah melambai ketika melewati gerai pameran yang menjual kipas angin di lantai dasar. Dia menyibakkan rambutnya dengan tangan yang tidak memegang tanganku. Setitik getar kurasa ketika dia memalingkan wajah ke arahku, masih dengan senyumannya.