Kandas

Kandas
Hidup di Desa


__ADS_3

Seolah memasuki dimensi lain, ketika kakiku menjejak kembali desa yang terletak di kaki Gunung Papandayan ini. Hamparan kebun yang luas dan hijau, udara yang bersih dan segar, serta tak adanya suara kendaraan yang lalu lalang membuat desa ini menjadi tempat yang tepat untuk menenangkan pikiran.


Kontur desa yang menanjak dan jalanan yang berbatu, serta tidak adanya transportasi untuk mengelilingi desa, cukup menguras energiku ketika melakukan kegiatan penyuluhan dari rumah ke rumah penduduk. Keramahan penduduk yang menyambut, membuatku seolah kembali berada di rumah. Teman-teman kelompok yang juga kompak menambah rasa tenang berada di tempat ini. Sedikit demi sedikit menyapu gumpalan sedih yang bertumpuk. Membasuh luka yang perlahan mulai mereda.


Sore ini, matahari perlahan mulai turun. Bersembunyi di balik kokohnya gunung. Menyisakan garis-garis cahaya keemasan, memberikan nuansa jingga pada hijaunya hamparan kebun. Para petani mulai meninggalkan kebun, lelah jelas terjejak pada wajah-wajah mereka.


Aku dan Lia, teman satu Fakultas–beda jurusan, juga turut kembali ke rumah, berjalan beriringan dari balai desa setelah mengadakan penyuluhan. Wajah lelah tergambar dari wajah mungilnya yang telah dibasahi peluh. Rambut pendeknya juga telah basah oleh keringat.


"Run, jalannya jangan ngebut. Mentang-mentang kakinya panjang," pintanya sambil terengah-engah.


"Ah! Padahal aku jalannya juga nyantai, Li." Aku terkekeh pelan. Kemudian lebih memelankan langkahku. Mengusap peluh yang membanjir di kening. Walaupun udara begitu dingin, karena berjalan hampir dua kilometer dari balai desa ke rumah tempat kami tinggal, membuat badanku basah oleh keringat. Ditambah lagi aku membawa satu karung kecil singkong pemberian warga ketika penyuluhan tadi. Membuat badan terasa sedang melakukan olahraga berat.


Tepat sebelum waktu magrib, kami sampai di rumah yang menjadi posko. Sinar matahari masih menggantung, menyisakan siluet gagah Gunung Papandayan yang terlihat begitu anggun dari pelataran rumah yang kami tempati. Aku menghempaskan diri di balai bambu yang terdapat di depan rumah. Melemaskan otot kaki yang terasa mengeras akibat berjalan terlalu jauh.


"Eh, Neng Runa sudah balik." Johan muncul di pintu depan, cengar-cengir lalu ikut duduk di ujung balai bambu.


"Kalau gelagatnya kayak gini, seperti ada maunya deh ini anak," ketus Lia.


"Ha-ha, Lia memang paling tau Aa Johan," sahut cowok tambun itu tersenyum centil. "Itu ... gas habis. Aku enggak bisa nyalain tungku. Air panas habis, jadi enggak bisa bikin kopi." Kembali dia cengengesan.


Di desa ini memang tidak mudah mendapatkan gas untuk memasak layaknya di kota. Gas yang kami punya saat ini, merupakan properti yang kami bawa sendiri dari Bandung. Penduduk desa ini masih menggunakan kayu untuk memasak. Penjual gas hanya ada di desa tetangga yang terletak jauh di bawah, berjarak dua kilometer dari desa. Biasanya ada yang bertugas sekali seminggu untuk turun membeli beberapa keperluan sehari-hari. Jika keadaan mendesak seperti saat ini, terpaksa harus menggunakan kayu bakar untuk memasak.

__ADS_1


"Ya sudah, mana korek. Biar aku nyalain." Aku menadahkan tangan pada Johan, meminta korek api yang selalu disimpannya untuk menyalakan rokok.


"Cemen, kamu mah. Nyalain api tungku saja tidak bisa, gimana mau nyalain api cinta Runa," ledek Lia mencibir.


Ya, semenjak game yang diadakan di bis pada saat keberangkatan, Johan terang-terangan memperlihatkan rasa sukanya padaku. Membuat anggota kelompok yang lain turut meledek. Hanya kali ini, aku berusaha untuk menanggapi dengan bercanda. Aku berpikir, jika aku langsung memperlihatkan rasa tidak suka, khawatirnya akan berdampak pada kelangsungan program kerja selama KKN.


"Runa saja tidak protes, naha kamu yang rese?" balasnya acuh, mengikutiku ke dalam rumah.


Rumah masih sepi ketika aku masuk. Tampaknya anggota kelompok lain menunggu selesai shalat isya untuk kembali ke rumah. Lampu petromak sudah dinyalakan dan digantung, menerangi ruang tengah rumah seluas lima kali enam meter tersebut. Tidak ada listrik di desa ini, jika ada yang menggunakan lampu listrik, biasanya menggunakan genset sebagai tenaganya.


Sebenarnya kepala desa juga memberikan fasilitas genset untuk rumah ini. Namun Riana mengusulkan agar genset dipakai pada saat-saat penting saja. Untuk sehari-hari, cukup memakai petromak sebagai penerangan. Selain itu menurut Riana, ada baiknya kami juga bisa merasakan hidup layaknya penduduk desa agar lebih memahami keterbatasan yang mereka alami.


Asap tipis mengepul dari daun kelapa kering yang kugunakan untuk menyalakan api di tungku, cahaya jingga itu membesar, memberikan kehangatan di dapur yang cukup dingin.


"Sebentar lagi. Kenapa?"


"Aku mandi duluan, ya."


"Iya. Aku mau masak cemilan dulu, takut pada kelaparan pas pulang. Mumpung tadi dikasih singkong."


"Tumben maneh mau bantuin, Jo! Biasa na ge hoream." (Tumben kamu bantuin, biasanya juga malas.) Lia mendelik pada Johan yang tengah asyik memotong singkong yang selesai kukupas.

__ADS_1


"Karunya si Runa sorangan," (Kasihan si Runa sendirian) sahutnya tanpa menoleh pada Lia.


"Hallah, modus wae maneh mah!" (Hallah, modus saja kamu) cibir Lia, kemudian menghilang di balik pintu yang terbuat dari anyaman bambu yang digunakan sebagai kamar mandi.


"Run, bener yah gosip-gosip si Arjun teh ada kelainan jiwa?"


Aku tertegun mendengar pertanyaan Johan.


"Kata siapa, Jo?" tanyaku menekan amarah yang mendadak hadir. Bagaimana bisa ada orang membuat berita sekejam itu.


"Banyak yang bilang begitu. Katanya si Arjun teh enggak bisa kalau kumpul rame-rame, bisa kambuh sakitnya, ceunah. Ekh kamu jangan marah atuh yah, aku kan mau konfirmasi biar tidak kemakan gosip." Kali ini wajah Johan terlihat serius, tidak seperti biasa yang sering bercanda. "Ini aku juga nanya karena mikirnya sudah dekat sama kamu, kalau tidak mah, enggak berani juga aku nanya," imbuhnya ketika melihatku masih diam.


Sebenarnya aku malas untuk membahasa masalah Arjun. Hanya saja, jika aku tidak mengatakan hal yang sebenarnya, kasihan juga dia.


"Dia itu fobia keramaian akibat pernah jadi korban bully. Jadi sampai sekarang masih berusaha untuk mengatasi fobianya. Bukan karena kelainan jiwa." Aku berhenti sejenak. Mencoba memilih kata yang tepat, "Dan aku putus sama Arjun juga bukan karena itu. Aku sama dia sudah sahabatan dari lama. Ada suatu hal yang enggak bisa aku ceritakan. Jadi tolong jangan berasumsi macam-macam." Kalimat terakhir membuatku tercekat.


Hampir dua bulan ini aku sudah mampu sedikit mengobati luka hatiku. Hubungan komunikasi kami terputus akibat tidak ada sinyal seluler di tempat ini. Rindu yang kemarin sempat mereda, kini kembali hadir.


"Oh! Begitu. Maaf atuh yah. Aku tidak bermaksud membuat kamu sedih."


Aku hanya tersenyum tipis. Apa kabar cowok itu sekarang, apakah dia bisa bertahan tanpa aku. Ah! Kenapa aku besar kepala sekali. Tentu saja dia akan bisa melewati hari-harinya tanpa kehadiranku. Aku hanya seseorang yang kebetulan di hadirkan Tuhan untuk menemaninya sesaat. Aku tau dia tidak lemah, buktinya dia mampu bertahan sampai saat ini. Jika dia lemah, mungkin saja dia memilih untuk mengakhiri hidupnya seperti Anton, adikku.

__ADS_1


Aku yakin, Tuhan merencakan semua ini dengan sebaik-baik perencanaan. Hanya saja aku belum mampu menemukan maksud dari semua ini.


__ADS_2