Kandas

Kandas
Perjalanan Pulang


__ADS_3

Suara ketukan di pintu menghentikan gerakanku yang sedang menyuapi ibu. Pasti kak Beni yang datang. Lima belas menit yang lalu dia mengabarkan bahwa dia sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Maktuo membukakan pintu sebelum aku sempat meletakkan piring yang sedang ku pegang.


"Eh, Beni. Mau jemput Runa lagi?" sapa maktuo ketika wajah kak Beni muncul di ambang pintu.


"Iya Tante. Wina katanya masih di Bintaro," sahut kak Beni dengan suara yang terdengar sangat percaya diri.


"Kok mau aja sih, disuruh-suruh Wina?" selidik maktuo ketika kak Beni menyalami maktuo.


Aku menahan geli melihat gaya maktuo yang terlihat seperti menginterogasi cowok jangkung bermata elang itu. Terkesan judes, tapi kak Beni tampak tak terganggu dengan sikap maktuo seperti itu. Dia masih terlihat santai menanggapi. Mungkin sudah paham watak maktuo. Kakak ibuku itu memang kesan pertamanya terlihat judes, padahal sebenarnya orangnya baik.


"Bukan menyuruh, Tante. Minta tolong," ujar kak Beni meralat perkataan maktuo.


"Ya, beda tipis itu," sahut maktuo. "Sudah makan, belum?" tanya maktuo setelah menggeserkan kursi ke arah kak Beni, mempersilahkannya duduk.


"Sudah Tante," sahut kak Beni sopan lalu duduk dengan agak canggung ketika mata kami bersirobok.


"Kalau begitu, kamu bawa rendang ini pulang. Tante bawa banyak." Maktuo menyodorkan kotak yang berisi rendang pada kak Beni. "Tapi, nanti balikin Tupperware tante, ya," sambungnya.


"Ha-ha, iya Tan. Mama juga ngamuk kalau Tupperware-nya sampai kenapa-kenapa. Mending anaknya enggak pulang daripada Tupperware-nya enggak balik," canda kak Beni, mengambil kotak yang disodorkan maktuo.


"Nah! Paham juga kamu," kekeh maktuo.


Aku dan ibu ikut tertawa mendengar candaan receh kak Beni. Lumayan juga dia mencairkan suasana. Tak semua orang paham karakter maktuo. Biasanya ketika orang lain melihat maktuo dengan wajah judesnya, langsung surut nyalinya.


"Terima kasih rendangnya, Tante," ucap cowok yang sudah duduk dengan santai itu kemudian.


"Iya. Terima kasih juga sudah mau direpotin, ya," balas maktuo.


"Pulanglah Run, istirahat. Takut di jalan macet, bisa malam banget sampai rumah." Maktuo beralih memandangku.


"Iya, Maktuo," ujarku seraya bangkit dari sisi ibu.


Lalu bergerak membereskan novel dan beberapa barangku yang berserakan di kasur tempat tidur kosong sebelah ibu, ke dalam tas. Tak ada gunanya bernegosisasi dengan maktuo perihal keinginanku menemani ibu malam ini. Tidak akan pernah menang, hanya membuang energi saja.


"Runa pulang dulu ya, Bu," pamitku pada ibu. Memeluk ibu erat.


Kali ini tubuh ibu tidak terlalu beraroma obat seperti pertama kali aku bertemu. Kuhirup dalam aroma buah dari shampo yang dipakainya. Begitu menenangkan bisa memeluk ibu seperti ini. Pelukannya seolah penawar dari segala gundah yang menggumpal di hati. Meleburkan segala kecemasan.


Aku benar-benar rindu masa-masa ketika bisa tidur semalaman memeluk ibu, setelah kami menghabiskan malam untuk bercerita. Rindu aroma vanilla dari parfum yang ibu pakai. Rindu kehangatan tubuh ibu yang balas memelukku ketika tidur.


***


Keluar dari ruangan tempat ibu dirawat, aku kembali bungkam. Aku memang tak ahli memulai percakapan. Tampaknya kak Beni juga sedang asyik dengan pikirannya. Biasanya jika sedang berdua seperti ini, kak Beni yang memulai untuk membuka suara. Namun kali ini, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.


Setitik rasa sungkan diam-diam menyusup. Dalam kecanggungan, aku berusaha mencari kata pembuka untuk mengenyahkan keheningan diantara kami.


"Kak ... maaf ya, jadi ngerepotin." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari bibirku. Terlalu basa-basi, tapi aku mulai jengah dengan kebisuan ini.


"Enggak perlu sungkan gitu. Aku yang maksa, he-he." kak Beni terlihat kikuk. Padahal kemarin dia masih terlihat santai ketika berbicara denganku.

__ADS_1


Kehabisan ide untuk mencari bahan percakapan. Akhirnya aku membiarkan saja keheningan memaksa hadir diantara kami. Tak perlu memaksakan diri untuk saling berbicara.


Kak Beni membukakan pintu mobil untukku. Menutupnya setelah aku duduk dengan sempurna pada kursi penumpang. Aku langsung menarik tali sabuk pengaman sebelum kak Beni masuk mobil. Ada rasa sungkan jika nanti dia membantuku lagi memasangkannya seperti sebelumnya. Kali ini benda itu seperti memihak padaku, ia berhasil kukaitkan dalam sekali dorongan.


"Eh, sudah bisa masang seatbelt-nya?" tegur kak Beni ketika melihat sabuk pengaman itu telah terpasang sempurna menyelempang di tubuhku.


"Sudah, sepertinya ia sudah mulai bersahabat denganku," candaku dengan cengiran lebar. Kali ini aku berusaha untuk mencairkan suasana.


"Berarti kamu sudah di terima dengan baik oleh mobilku," kekehnya menampilkan sederet gigi rapi yang tampak samar dibalik temaram lampu penerang tempat parkir.


"Mau menemani aku makan dulu enggak, Run?" tanyanya ketika mobil keluar dari area parkiran rumah sakit.


"Yee, tadi katanya sudah makan," protesku.


"Malu dong. Masa iya aku bilang belum, nanti si tante maksa aku makan."


"Terus kenapa enggak mau?"


"Takut ketauan makanku banyak, ha-ha," gelaknya, membuat mata elangnya tampak seperti garis lengkung.


"Tapi apa enggak kemalaman entar aku pulang?" Aku beralasan.


"Kita cari tempat makan yang dekat rumah Wina saja. Di sana kan banyak tempat makan enak," sahutnya kali ini menatapku agak lama.


Sungkan menolak, juga sungkan untuk mengiyakan. Aku hanya diam. Entah bagaimana kak Beni mengartikan diamku. Di tengah kebingungan mencari alasan, ponselku bergetar beberapa kali. Tanganku bergerak menarik benda itu dari dalam tas, mengintip layarnya yang menyala. Ada kontak Arjun tertera di sana.


"Oh, dari pacarnya ya?" tembak kak Beni.


"Bukan, ada yang memesan kue," sahutku berbohong, lalu kemudian menyesal kenapa harus berbohong.


"Memangnya, kamu jualan kue?" Dia kembali bertanya.


"Iya, lumayan buat tambahan uang jajan," terangku, memandang sekilas padanya lalu kembali menatap layar ponsel.


[Lama banget hari Senin, sudah enggak sabar pengen ketemu.] kubaca pesan dari Arjun.


Aku menahan diri untuk tidak tersenyum. Dua hari ini Arjun seperti kesambet setan romantis. Biasanya dia juga cuek ketika jadwalku bertemu ibu. Dia sudah tau kalau aku tidak mau di ganggu ketika bersama ibu, tapi entah kenapa beberapa hari ini dia selalu mengirimiku pesan seperti ini setiap hari.


[Sesekali berjarak, biar enggak bosen liat aku terus] Aku mengirimkan pesan balasan padanya.


[Lo udah kayak candu, Run. Bikin sakau.] Tak lama balasan darinya masuk.


Ya Tuhan, jangan sampai aku tertawa geli membacanya.


[Widiih, berarti gue enggak baik dong buat kesehatan lo] balasku masih dengan senyum ditahan.


[Gue rela sakit karena kecanduan lo, Run 😂😂😂]


[Wkwkwk ... Lo lagi ngapain sih? Jadi ga jelas gini?] geli, tapi senang juga sesekali digombali. Karena aku tau, Arjun bukan tipe cowok yang suka gombal.

__ADS_1


[Serius, kali ini gue kangen banget sama lo]


Tertegun membaca pesan Arjun. Aku tak begitu paham seluk beluk perasaan. Sampai saat ini perasaanku pada cowok itu masih saja belum mampu kuungkapkan layaknya dia menyatakan perasaannya padaku pada setiap pesan yang dikirimkannya. Entah karena aku terlalu kaku, atau memang belum bisa mengungkapkannya secara gamblang.


[Bisa gue telpon, enggak?] Pesannya kembali masuk.


[Gue lagi di jalan, enggak enak nerima telpon. Nanti ya kalau sudah di rumah,] balasku.


[Memangnya dari mana?]


Aku tersadar, dari kemarin aku memang belum menceritakan pada Arjun perihal ibu masuk rumah sakit. Rasanya kurang pas jika membicarakan hal ini pada Arjun melalui telpon.


[Biasa, Wina maksa aku buat jalan. Sekarang udah di jalan pulang kok,] balasku berbohong.


Aduh, kenapa terlalu banyak kebohongan yang terlontar hari ini. Aku menepuk jidat.


"Kenapa, Run?" tanya kak Beni heran melihatku yang tanpa sadar menepuk jidat.


"Eh ... ha-ha, biasa ini orang order suka minta yang aneh-aneh," sahutku sekenanya.


"Oh, kirain kenapa." Mata kak Beni kembali fokus ke jalanan.


Beruntung malam ini tidak terlalu macet, sehingga dalam waktu empat puluh lima menit, kami telah memasuki daerah tempat tinggal maktuo.


"Jadi kan ya, kita makan dulu?" tanya kak Beni menunggu persetujuanku.


"Uhm, kemaleman enggak?" tanyaku melirik jam di ponsel. Angka yang tertera disana sudah menunjukkan pukul 20.45.


"Masih sore ini. Mau ya," pintanya setengah memaksa.


Entah apa yang ada di pikiranku ketika aku menyetujui begitu saja ajakan kak Beni untuk menemaninya makan malam. Mungkin rasa sungkan atau mungkin terlalu malas mencari alasan untuk menolak. Yang jelas, sekarang aku tertunduk kikuk menatap deretan menu yang disediakan oleh restoran yang kami kunjungi.


Ponselku kembali bergetar. Kulirik kembali pesan yang tertera di layar,


[Have fun. Can't wait to see you]


[Jangan terlalu menunggu, bikin jadi terasa lama] balasku, membayangkan Arjun seperti seekor kucing yang sedang menunggu tuannya pulang.


"Dari tadi senyum-senyum sendiri." Suara bass kak Beni membuyarkan lamunanku.


"Ah, maaf kak. Suka begitu deh kalau ngeladenin orderan orang yang suka aneh-aneh," kekehku berusaha mencari alasan, lalu kembali fokus pada sosok cowok tegap yang duduk dengan gagah di depanku.


"Memangnya yang order mintanya gimana?" Wajah macho-nya terlihat penuh minat.


"Mintanya, yang enak, gede terus murah." Aku kembali mengarang cerita.


"Ah, tipikal manusia ogah rugi," kekehnya santai.


Sekian menit kemudian, aku telah larut dalam obrolan santai dengan kak Beni. Cowok itu juga telah kembali melontarkan candaan-candaan receh yang mencairkan suasana. Membuatku kembali menepikan sejenak segala permasalahan yang tumpang tindih dalam benakku.

__ADS_1


__ADS_2