
Aku seperti orang yang kebingungan dengan keadaan yang aku hadapi saat ini. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku dengan apa yang aku dengar. Aku yang ingin mengetahui hal itu lebih dalam, akhirnya berpikir jernih.
“Jam berapa kak ?” kataku
“Jam sembilan atau jam sepuluh, itu terserah adek” kata kakak
“Baiklah, aku akan datang” kataku
Saat itu juga Dika datang entah dari mana dan aku tidak menanyakan hal itu padanya. Karena semua yang aku hadapi saat ini masih membuat aku terkejut.
“Ayo, biar aku antar pulang” kata Dika dari luar
Aku pun siap-siap dan pamit dengan kakak-kakak yang ada disana dan menghampiri Dika saat itu. Aku hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa. Dan saat aku lewat dari tempat perempuan itu berada, aku melihat perempuan itu sedang memperhatikan kami. Aku ingin marah, aku ingin menjumpai perempuan itu, tapi aku punya bukti apa sampai-sampai aku menemuinya. Aku menahan amarahku dan berharap malam ini tidak akan terjadi apa-apa.
__ADS_1
Aku berharap apa yang dikatakan kakak itu hanyalah sebuah kesalahpahaman.
Aku menyandarkan kepalaku ke badan Dika dan berharap semuanya hanyalah omongan belaka. Selama diperjalanan aku terdiam dan tidak tahu harus apa dan bagaimana, hingga Dika mengatakan sesuatu padaku
“Vit, aku ingin mengatakan sesuatu” kata Dika
Mendengar hal itu, aku ingin sekali menutup telingaku karena aku takut apa yang aku dengar dari orang, aku dengar dari mulutnya. Aku tetap diam saat itu dan melihat sekeliling.
“Kamu dengar gak ?” kata Dika
“Aku ada membuat kesalahan, tapi kesalahan itu pasti tidak akan pernah bisa kamu maafkan” kata Dika
“Kesalahan seperti apa sampai kamu tidak aku maafkan ?” tanyaku langsung
__ADS_1
“Kesalahan yang benar-benar tidak akan bisa kamu maafkan” kata Dika
Aku tidak melanjutkan pembicaraan itu lagi, aku terdiam sambil melihat sekeliling tempat yang kami lewati setiap aku pulang dari kuliah.
“Apa kamu akan memaafkan aku jika aku melakukan kesalahan?” kata Dika
“Aku lihat dulu kesalahan apa yang kamu lakukan” kata ku
“Jujur saja mungkin kamu tidak akan bisa memaafkan aku” kata Dika
Mendengar perkataan itu, membuat aku tidak bisa melakukan apa-apa bahkan tidak bisa membalas perkataan Dika. Aku hanya terdiam dan berharap apa yang dilakukan Dika dengan apa yang dikatakan kakak itu adalah hal yang berbeda. Aku selalu mengatakan dalam hati bahwa apa yang ingin aku lihat malam ini adalah sebuah kesalahpahaman. Aku menyakinkan diriku sendiri tanpa memikirkan hal lain.
Sesampainya di kost, Dika langsung balik dan dengan cepat juga aku siap-siap ke tempat temanku yang berdekatan dengan kost Dika saat itu. Aku meminta tolong kepada temanku untuk menginap disana, syukurnya temanku mengizinkan aku saat itu juga.
__ADS_1
Setelah semua beres, aku berangkat seorang diri tanpa memberitahu Dika. Aku seperti bermain dalam peran detektif hanya untuk mencari sebuah kebenaran. Bahkan aku memnita bantuan kepada teman yang lain untuk menemaniku ke tempat Dika. Walau jujur saja, mereka tidak mengetahui maksudku apa tapi aku benar-benar membutuhkan teman saat itu juga.
Sesampainya di tempat temanku, kami pun menghabiskan waktu dengan bermain, bercerita sambil menunggu waktu yang tepat. Setelah jam sepuluh malam tiba, saat itu juga aku berpura-pura menghubungi Dika dengan melakukan video call. Karena aku penasaran dengan keadaan Dika saat itu. Awalnya Dika tidak mengangkatnya, aku tidak tahu alasannya tapi yang pasti rasa kesal ku sudah ada saat itu juga.