
Kuliah hari ini berakhir tepat waktu. Arjun sudah terlihat berdiri di taman jurusan ketika aku keluar dari ruangan. Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi sosok Arjun yang berdiri tak jauh dari ruangan kelasku membuat mataku tak dapat menangkap sosok lain selain dirinya. Tubuh jangkung dengan postur tubuh proporsional, benar-benar maha karya sempurna di mataku.
Arjun melambaikan tangan ketika melihatku keluar dari pintu kelas. Seulas senyum simpul menghiasi bibirnya. Dari gestur tubuh yang memainkan tali tas yang tersampir di bahunya, terlihat Arjun sedikit grogi ketika aku membalas senyuman.
Sejujurnya aku juga mendadak grogi. Memang wajah itu bukan wajah baru bagiku, tapi rasa yang baru hadir ini membuat hal yang dulu telah biasa bagiku, terlihat agak berbeda.
"Adeu, yang udah ditungguin," goda Andin menyenggol bahuku.
"Udah biasa kali," semburku.
"Ha-ha, iya. Pengen ngegodain aja gitu," kekeh Andin. "Ya udin, gue duluan," lanjutnya sambil menepuk bahuku.
"Okay, sampai ketemu Selasa ya," sahutku tanpa mengalihkan tatapanku dari Arjun.
"Udah deh, fix gue cuma ngontrak ini mah," kekeh Andin saat melihatku tak seantusias biasa ketika berpamitan.
"Ha-ha, sekali-kali bolehlah lo ngontrak," kekehku melihat ekspresi Andin.
Gadis mojang priangan itu berlalu dari hadapanku setelah cipika-cipiki ritualnya sebelum berpisah.
Aku tak tau, sebenarnya sampai kapan debaran ini akan terus terasa. Walaupun semua hal tentang Arjun mendadak tampak lebih indah dari biasa, tapi bagiku agak sedikit mengganggu. Apa mungkin karena baru kali ini aku merasakan perasaan ini.
Sepertinya aku agak sedikit terlambat merasakan jatuh cinta. Jika rata-rata teman sebayaku mulai merasakan perasaan suka pada lawan jenis pada saat SMP, setelah dipikir-pikir, aku mulai merasakannya kali ini.
Dari SMP aku memang terkenal sebagai cewek dingin. Wajahku bisa dikatakan lumayan cantik, terbukti dari banyaknya cowok yang menyatakan perasaan padaku. Tapi entah kenapa, tak ada yang nyangkut di hati. Terlebih lagi, ibu termasuk cerewet melarang tidak boleh pacaran, membuatku juga malas untuk menerima mereka yang berniat menjadikanku pacarnya.
"Kamu itu sekolah aja yang rajin, kalau udah mikir pacar-pacaran, entar sekolahnya enggak bener," omel ibu ketika awal kedekatanku dulu dengan Arjun.
"Siapa yang pacaran Bu, dia temen aja. Beneran deh. Masih banyak temen cowokku yang cakep datang kerumah, kenapa Ibu malah mikir aku pacaran sama bocah cupu itu," protesku.
"Ya kali aja emang seleramu yang seperti itu," kekeh ibu.
Ha-ha kalau di ingat-ingat, memang waktu mampu mengubah segala yang tak mungkin menjadi mungkin. Tak ada yang pernah tau apa yang akan terjadi kalau berurusan dengan hati. Ada kalanya rasa sayang mendadak benci, sebaliknya rasa benci bisa jadi berubah sayang, jika hati telah memainkan perannya.
__ADS_1
"Mau langsung berangkat sekarang atau nanti setelah shalat Jum'at, Run?" suara Arjun menarikku kembali ke halaman kampus.
"Eh ... Abis shalat Jum'at aja," sahutku agak sedikit tergagap.
"Lagi mikirin apa, sih?" selidiknya.
"Mikirin kamyu, ha-ha," kilahku mencoba sedikit menghilangkan rasa grogi.
Arjun hanya membalas dengan cengiran lebar sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal.
***
Kami meninggalkan kampus setelah selesai menunaikan shalat. Suasana kampus sudah mulai terlihat sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang masih terlihat berkumpul di beberapa sudut kampus. Kalau akhir minggu begini, memang tak begitu banyak kegiatan perkuliahan. Biasanya kampus ramai di akhir minggu hanya karena ada kegiatan ekstra kurikuler.
"Mau makan siang di mana?" tanya Arjun ketika kami meninggalkan jalan Dipatiukur.
"Lo laper banget ya, Jun? Kalau kita cari tempat makan sekitar stasiun aja, gimana? Gue belum beli tiket, takut dapat yang terlalu sore."
Sebenarnya dari kemarin selera makanku mulai menghilang karena khawatir memikirkan keadaan ibu. Aku ingin cepat-cepat sampai di Jakarta untuk ketemu ibu.
Jalanan sudah mulai padat ketika kami memasuki jalan Juanda. Jalanan ini memang akhir-akhir ini makin parah macetnya. Terkadang melihat Bandung yang sekarang membuatku rindu masa-masa Bandung yang masih asri. Tak begitu banyak kendaraan pribadi yang memenuhi jalanan. Sekarang, hampir seluruh jalanan kota Bandung padat oleh kendaraan. Bahkan, saat ini aku juga jadi menjadi salah satu penyumbang kemacetan jalanan Bandung.
Pernah aku protes pada Arjun, kenapa harus naik mobil pribadi, padahal jarak rumahnya ke kampus tidak begitu jauh. Arjun beralasan hanya untuk mencari kenyamanan saja. Kendaraan umum di kota ini belum memberikan kenyamanan baginya. Apalagi selama ini, fobia keramaiannya masih sering kambuh ketika menaiki kendaraan umum.
Setelah menembus kemacetan kota Bandung, akhirnya kami memasuki area parkiran stasiun Hall. Perlu beberapa menit untuk mencari tempat parkiran yang masih kosong, sampai akhirnya mobil ber-body besar itu menemukan tempat untuk berhenti.
Kami sampai tepat ketika kereta dari Jakarta baru saja tiba. Penumpang yang baru turun dari kereta memadati area peron. Aku melirik Arjun, wajahnya mulai terlihat pias, kentara sekali dia sedang berusaha untuk menenangkan diri dari serangan paniknya.
"Lo yakin mo nemenin gue sampe ke peron?" tanyaku menarik tangannya, seperti yang kulakukan selama ini.
"I-iya, enggak apa-apa," sahutnya sambil mengusap keringat yang mulai membanjiri keningnya.
"Enggak usah maksa kalau lo enggak nyaman, sampai di sini aja lo nganter."
__ADS_1
"Udah. Tenang aja, buat latihan," tepisnya menghalau kekhawatiranku.
Walaupun belakangan serangan panik Arjun sudah mulai jauh berkurang dibanding awal aku mengenalnya dulu, tapi aku masih khawatir melihat wajahnya yang selalu pias ketika berhadapan dengan keramaian. Begitu dalam trauma yang ia rasakan akibat perundungan yang ia terima dulu.
Seperti biasa, aku membiarkan telapak tangan Arjun menggenggam erat telapak tanganku, layaknya seorang anak yang takut ditinggal ibunya di keramaian. Telapak tangannya masih dingin, seperti dulu. Hanya saja sekarang beda ukuran dan sedikit memberikan sensasi yang berbeda.
Mendekati loket penjualan tiket, kosentrasi keramaian mulai mengurai. Arjun sudah mulai terlihat santai. Melihat jadwal keberangkatan yang hanya tinggal sepuluh menit lagi, aku dan Arjun bergegas menuju jalur dua, tempat dimana kereta Argo Parahyangan telah menunggu penumpang yang naik.
Beberapa kuli angkut tampak membantu penumpang menaikkan barang dalam ukuran besar. Sesekali aku harus menepi, ketika para kuli panggul itu berjalan tergesa dengan beban yang cukup besar di pundaknya.
"Gue berangkat ya," pamitku pada Arjun sesaat sebelum menaiki kereta.
"Kita enggak jadi makan. Lo enggak bakal kelaperan entar?" tanya Arjun dengan wajah khawatir.
"Gue ada bekal, lo langsung makan aja abis ini ya. Sorry jadi bikin lo telat makan," sesalku.
"Gampang gue, mah."
"Ya udah, gue masuk, ya."
"Iya. Hati-hati, lo jangan molor."
"He-he, enggak. Gue udah bawa novel buat di jalan. Jadi enggak bakalan tidur," kekehku.
Arjun paling tau kebiasaanku yang suka tidur di sembarangan tempat kalau sedang mengantuk. Tapi kali ini aku bertekad tidak akan tidur di perjalanan. Hampir delapan tahun aku tak menggunakan transportasi massa ini. Setelah tol Cipularang di resmikan, aku dan keluarga lebih sering menggunakan mobil jika berkunjung ke Jakarta. Kali ini aku ingin sedikit bernostalgia menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan.
"Kabari kalau udah nyampe," pesannya ketika aku berbalik hendak meninggalkannya.
"Ok ... See you," sahutku agak sedikit bingung hendak berkata apa lagi.
Tak berapa lama setelah aku mendaratkan tubuhku di kursi penumpang, terdengar bunyi lengkingan peluit penanda kereta akan berangkat, mengalahkan keriuhan stasiun. Aku melambaikan tangan pada Arjun yang masih berdiri di peron menunggu keretaku berangkat. Arjun menarik tangannya yang sedari tadi berada di kantong jaketnya, membalas lambaianku.
Perlahan kereta bergerak, meninggalkan stasiun Bandung yang mulai sepi. Sosok Arjun pun mulai menjauh. Aku berjengit ketika sengatan cahaya matahari menerobos masuk ke dalam gerbong ketika kereta telah keluar dari area stasiun, membuat mataku silau.
__ADS_1
Begitu bangunan stasiun telah sepenuhnya menjauh, bayangan wajah ibu mulai memenuhi pikiranku. Tak sabar ingin segera bertemu, tiga bulan bukan waktu yang sebentar bagiku tak bertemu ibu. Terbayang celotehan dan omelannya ketika menyambutku nanti.