
Aku habiskan waktu ku dengan melupakan segalanya, bahkan aku yang tidak bisa menahan pada akhirnya kembali menangis. Aku menangis ketika aku sudah tidak sanggup lagi. Aku menangis dengan airmata yang bahkan tidak mau berhenti saat itu. sakit dan kecewa bahkan membekas begitu dalam.
Aku yang berusaha melepaskan pada akhirnya hanya bisa mengatakan mengikhlaskan tapi nyatanya aku tidak bisa. Aku terluka melebihi kebahagiaan yang diberikan Dika padaku. Tapi nyatanya aku tidak bisa mengungkapkan segalanya. Aku menahan segalanya yang pada akhirnya hanya akan memberiku luka daripada yang lainnya.
Aku yang terluka tapi penasaran dengan tingkah mereka, membuat aku penasaran dengan media sosial mereka. Dan aku melihat mereka begitu bahagia memamerkan kebahagiaan mereka, sedangkan aku merasa hancur kembali.
“Ah, mereka seperti tidak memiliki rasa bersalah dengan apa yang mereka lakukan padaku. Yah mereka bermain dengan baik dan inilah kenyataannya, aku yang terluka dan seperti orang bodoh, sedangkan mereka bahagia dengan pilihan mereka” kataku dalam batin.
Akhirnya aku menyerah untuk bertahan pada Dika, janji yang belum aku tepati pada akhirnya aku ingkari saat itu juga. Ku habiskan waktu ku dengan bermain bersama keponakan di pulau seberang. Yah selama libur perkuliahan, aku sengaja berada di tempat kakak, untuk menenangkan diriku yang terluka. Aku menyesal telah membelanya di depan keluarga ku, aku malu pada diriku sendiri yang masih saja mempertahankan laki-laki yang ternyata apa yang dikatakan tentangnya adalah benar.
Dia adalah cowok berengsek, yang bahkan dengan mudah mempermainkan wanita. Aku berusaha menerima segalanya, bahkan aku yang disalahkan akan hubungan yang hancur ini. Walau jujur saja, aku bahkan tidak tahu kesalahan apa yang aku lakukan sampai Dika mengatakan kepada semua orang dan termasuk perempuan itu kalau aku yang salah sehingga Dika berpaling dariku. Aku hanya tersenyum dengan apa yang aku dengar dan aku lihat. Karena nyatanya aku tidak ingin menaruh emosi yang tidak memiliki arti bagi mereka.
******
Setelah dua bulan di tempat kakak, aku pun akan balik ke tempat dimana seharusnya aku. Yah minggu depan, aku akan balik untuk melanjutkan perkuliahanku, karena nyatanya liburan kampus telah selesai. Aku sebenarnya tidak ingin kembali, karena bagiku tempat itu adalah tempat dimana kenangan yang memuakkan akan terus menghampiriku.
__ADS_1
Tapi perkuliahan ku adalah hal yang penting untukku, karena setahun lagi, maka aku bisa menyelesaikan perkuliahan ku dengan gelar yang selama ini aku impikan. Aku bertekad untuk selalu mengutamakan gelarku dibandingankan dengan rasa kecewa ku. Aku menutup telinga dan mata, ketika pembahasan tentang Dika menghampiri hariku.
Awalnya aku berpikir begitu, hingga tiba-tiba orang tua Dika mengirim aku pesan
“Pesan Singkat”
“Nak, kamu dimana ?” kata Ibu
“Di tempat kakak bu, kenapa ya bu?” kata ku
“Aku sudah dengar masalah kalian, aku minta maaf mewakili Dika atas apa yang dilakukan padamu ya” kata Ibu
“yah, aku aku Dika salah, bahkan dengan mudah pergi ke tempat perempuan itu” kata Ibu melanjutkan pesannya
Dengan cepat aku langsung mengalihkan pembicaraan kami
__ADS_1
“Oh iya, Ibu sehat disana ?” tanya ku
“Yah, ibu baik-baik saja” kata Ibu
“Baguslah” kata ku dengan singkat
“Oh iya, kapan balik ke sini. Kalau mau balik singgah kerumah ya biar kita cerita-cerita lagi” kata Ibu
“Ah mungkin depan aku sudah balik bu, hanya saja tidak ke kampung. Soalnya perkuliahan minggu depan sudah di mulai” kata ku
“Oh ya udah gak apa-apa kalau begitu. Yang penting sehat selalu disana ya” kata Ibu
“Iya bu” kataku mengakhiri pembahasan kami
Awalnya aku tidak ingin memberitahu tentang aku yang akan balik, karena nantinya Dika akan tahu dari Ibu. Tapi karena sudah terlanjur mau bagaimana lagi, semua hanya tergantung waktu saja.
__ADS_1
Besoknya malamnya seperti biasa, aku akan menidurkan para keponakan ku, hingga tiba-tiba handphone ku berbunyi menandakan ada pesan yang datang. Awalnya aku tidak merespon, hingga bunyi itu selalu datang. Dengan cepat aku mengambil handphone itu, karena aku tidak mau keponakan ku bangun karena nada pesan itu. Dan dengan cepat aku melihat siapa yang mengirim pesan padaku, dan betapa terkejutnya aku, sosok yang ingin ku lupakan hadir kembali
...“Dika” kataku pelan dengan tangan yang gemetar. ...