Kandas

Kandas
Dilema


__ADS_3

Aku terperangah setelah mendengar Arjun membeberkan fakta tentang kehidupannya. Mengerjap-ngerjap tak percaya. Menelisik kembali wajahnya, mencari kebenaran dari manik mata coklatnya.


"Lo enggak ngarang cerita, kan, Jun?"


Hanya kalimat itu yang terlontar dari bibirku. "Kok Lo, kayanya biasa aja gitu, enggak sedih?" imbuhku menyelidik.


"Hal yang paling menyedihkan di hidup gue, setelah perceraian orangtua gue, yaitu kehilangan Lo, Run!" serunya dengan nada agak meninggi, membuat beberapa pasang mata yang ada di ruang baca tempat kami sedari tadi bercerita, mencuri-curi pandang ke arah kami.


"Ssst! Pelanin suara Lo! Enggak enak di dengar orang." Aku membekapkan tangan di mulutnya, setengah berbisik.


"Kok, Lo enggak sedih mengetahui kalau Lo bukan anak kandung mereka?" kembali aku menyelidik, masih dengan suara setengah berbisik. Yang ada di pikiranku, Arjun akan drop setelah mengetahui bahwa dia bukan anak kandung kedua orangtuanya.


Kembali duduk berhadap-hadapan seperti ini dengannya, membuat hatiku kembali menguak lebar pintu yang hampir kututupkan untuknya. Aku putus asa karena hubungan yang baru berjalan belum seumur jagung, kandas begitu saja.


Namun kini, semua seakan dijungkir balikkan kembali. Akal sehatku seakan diuji untuk menerima kebenaran ini. Aku kembali menatap lekat wajah yang kurindukan selama beberapa bulan ini. Ingin rasanya menghambur ke pelukannya, dan mengatakan betapa aku tak pernah mampu melepaskannya.


"Kenapa gue harus sedih. Walaupun gue cuma anak angkat, nyokap merawat gue dengan penuh kasih sayang. Buktinya gue bisa tumbuh sampai seganteng ini, kan?" Dia menaikkan sebelah alis, berusaha bercanda. Kendati demikian, aku melihat sekilas kegetiran yang menggantung di mata tajam itu.


"Enggak lucu!" sergahku, antara senang bercampur bingung.


"Eh, gue mesti balikin motor Riko dulu. Sekalian balik ke rumah gue, yuk! Tadi gue pergi gitu aja ninggalin nyokap, " sentaknya.


Duduk berboncengan dengan Arjun, membuat tembok tinggi yang telah kubangun selama beberapa bulan ini untuk menahan perasaan, seketika roboh. Berbagai perasaan tak menentu, meluber begitu saja. Ingin aku memeluknya erat. Tak ingin melepaskannya, tapi akal warasku menahan untuk tidak melakukannya.


****


"Gue pikir kenapa Lo kayak kesetanan gitu ngedorong motor mogok, taunya mau jemput Runa doang!" cecar Riko ketika kami sampai ke bengkel, tempat Riko menunggu.


"Runa doang! Penentu masa depan gue, ini!" Arjun mendebat. "Thanks, ya Bro! Jasa Lo enggak bakal gue lupain. Ada yang bisa gue lakuin biar cewek Lo enggak marah?" nadanya melunak, menepuk pelan bahu Riko yang tampak masih kesal.


Aku tertawa kecil melihat perdebatan dua sahabat itu. Wajah Riko terlihat begitu kesal, sementara Arjun terlihat begitu bersalah. Lalu tiba-tiba saja telingaku berdenting, sekelebat cahaya terang berubah menjadi gelap seketika, membuatku tak mampu lagi mendengar perdebatan dua sahabat itu.


***


"Run?"


Samar-samar kulihat siluet sosok gagah seseorang, kemudian sosok itu mulai tergambar nyata, seiring bau menyengat yang membuat memoriku mengingat ibu, masuk ke rongga hidungku. Bau rumah sakit.


"Lo sudah sadar?" Wajah Arjun terlihat begitu khawatir.


"Gue dimana?" tanyaku untuk memastikan. Meski aku tau, saat ini aku sedang terbaring di ranjang rumah sakit.

__ADS_1


"Di rumah sakit, tiba-tiba Lo pingsan. Gue kaget banget." Arjun mengusap lembut punggung tanganku.


"Ah! Maaf ...." Aku berusaha bangun, tetapi rasa pusing membuatku merasa hendak mengeluarkan semua isi perut.


"Lo jangan maksa duduk. Masih pusing gitu. Tadi enggak sarapan lagi ya?" cecarnya.


"Sarapan, tapi sereal doang," sahutku meringis. Kulihat di punggung tangan, abocath berwarna merah muda tertanam di sana, tersambung dengan selang kecil ke tiang yang menyangga cairan infus. "Kayaknya gue kecapean aja, deh," imbuhku berusaha meredakan kekhawatiran Arjun.


"Lo gejala typus," bebernya singkat.


"Hah? Masa sih? Tapi gue bisa pulang hari ini, kan?"


"Kata dokter, Lo mesti istirahat dulu dua atau tiga hari. Lihat kondisi Lo entar. Demam Lo juga tinggi. Emang enggak ngerasa apa, kondisi Lo itu enggak baik begitu, masih maksa aja jalan sampai ke Nangor. Kalau Lo pingsan di jalan bagaimana?" Kembali cecarannya terdengar begitu kesal, tapi sarat kekhawatiran.


Aku mendengus pelan. Memang tadi pagi aku merasa tidak enak badan, tapi aku paksakan untuk mengejar tanda tangan pembimbing utamaku, agar bisa segera untuk mendaftar sidang. Aku ingin segera lulus dan kembali ke Jakarta menemui ibu.


Lalu sekelebat wajah teduh Kak Beni pun turut hadir. Pria itu terlupakan begitu saja. Harapan yang kemarin telah pupus terhadap Arjun, seketika bermunculan kembali bagai tunas baru di musim semi setelah mendengar kisah Arjun.


"Maaf, bukan bermaksud marahin Lo Run. Gue khawatir," sambungnya lemah.


"Gue mau daftar buat sidang, Jun. Biar bisa cepat kembali bersama ibu. Makanya gue Bela-bela-belain begadang, ngejar dosen pembimbing sampai enggak ingat waktu ...." Aku mendesah pelan. "Padahal tinggal nyerahin persetujuan dosen pembimbing gue besok. Gue udah bisa nunggu jadwal sidang. Kalau kayak gini, sepertinya gue harus nunggu lagi." Mataku mulai memanas.


"Kenapa Tuhan gini amat sama gue ya, Jun? Padahal gue udah berbesar hati nerima vonis penyakit nyokap. Sekarang ketika gue sudah hampir di ujung perjuangan, malah dikasih batu sandungan lagi. Sakit gue berkali-kali jatuh kayak gini."


"Sssh ... Jangan sampai Tuhan jadi marah karena ucapan, Lo. Kalau buat daftar sidang doang, besok gue bantuin. Lo tinggal mikirin buat segar kembali ketika sidang nanti." Kata-kata Arjun membuka pintu harapan yang tadi hampir tertutup.


Aku mengusap kasar mataku, kembali memaksakan senyum. "Terima kasih, Jun!" ucapku dengan suara masih sengau.


"Enggak usah maksa senyum, jelek!" ledeknya menyentil ujung hidungku. "Gue tau, Lo udah nahanin dari kemarin-kemarin, kan itu sedihnya?" tebak Arjun.


Aku mengangguk pelan. Mengusap kembali cairan bening yang kembali luruh. Beban yang entah berapa lama kupendam dengan berusaha terlihat ceria, terus menumpuk bagai magma yang menggelegak, siap tumpah kapan saja. Membuat dadaku kembali sesak.


"Nangis aja, Run. Enggak ada larangan cewek nangis kayak cowok," ujarnya tersenyum tipis. Senyum yang selalu membuatku rindu.


***


"Lega, kan?" ujar Arjun setelah kutumpahkan semua tumpukan beban yang selama ini mengganjal. Mataku terasa perih, hidung terasa membengkak.


"Udah, Lo pulang sana!" usirku menutup wajah. Sudah pasti mukaku terlihat hancur setelah menangis.


"Kok jahat? Beres ngebuang emosi, terus gue disuruh pergi. Memangnya gue tong sampah?" protesnya dengan wajah dibuat sedih.

__ADS_1


"Muka gue jelek kalau habis nangis. Gue malu."


"Mau Lo kayak nenek-nenek, gue tetap cinta Elo."


"Gombal, ah! Dah sana dulu."


"Ha-ha, enggak ah! Gue masih kangen," tolaknya.


Dering ponsel menghentikan gerakan tanganku yang hendak menjewer kuping Arjun.


"Handphone Lo, nih." Arjun menyerahkan ponselku yang disimpannya di kantong celananya.


Kulihat air mukanya berubah sesaat setelah melihat nama kontak yang tertera di layar.


"Halo, Kak," sapaku pelan. Mataku masih terpaku pada wajah Arjun yang berubah masam, lalu menunduk, untuk menenangkan hati yang berubah was-was.


"Run, aku sudah di Bandung. Kamu di rumah sakit mana?" Suara khawatir Kak Beni begitu kentara.


"Kak Beni tau aku masuk rumah sakit dari siapa?"


"Tadi pas aku nelpon, ada cowok yang angkat. Dia ngaku pacar kamu. Aku khawatir kamu kenapa-kenapa, jadi langsung berangkat ke Bandung. Kamu beneran masuk rumah sakit?"


Aku menoleh pada Arjun yang masih menatapku tajam. "Iya, itu tadi sepertinya Arjun yang nerima. Dia yang bawa aku ke rumah sakit," ungkapku jujur.


Hening menjeda.


"Mantan kamu itu, kan? Kamu balikan lagi sama dia? Bukannya kamu bilang kalian sudah tidak bisa bersama lagi?" Nada Kak Beni penuh selidik.


"Kak, aku baru siuman. Tolong jangan ngebahas ini dulu. Aku masih pusing." Mendadak jengah dengan nada bicaranya.


"Ah! Maaf," ucapnya seolah tersadar. "Kamu di rumah sakit mana?"


Aku memutuskan sambungan telpon setelah memberitahukan nama rumah sakit tempatku dirawat pada Kak Beni. Menoleh pada Arjun yang masih mengunci tatapannya padaku.


"Itu siapa? Cowok baru, Lo?" tanyanya dingin, membuatku bergidik.


"Ada apa sih dengan kalian? Apa tidak bisa menungguku kembali segar baru mengajukan pertanyaan seperti itu?" sahutku dengan nada meninggi. Emosi yang tadi sempat menurun, kembali naik ke ubun-ubun.


"Maaf, Run! Aku hanya tidak mau kehilanganmu untuk kedua kali," sahut Arjun dengan nada terluka.


Aku kembali harus dihadapkan pada dua pilihan. Apakah mungkin aku bisa meninggalkan Kak Beni begitu saja tanpa membuatnya terluka. Menjadikannya tempat bersandar ketika berduka, lalu meninggalkannya ketika seseorang yang selama ini kurindu kembali hadir.

__ADS_1


Lalu, apa mungkin aku akan terus bersamanya, di saat hatiku masih terpaut pada Arjun. Dan halangan yang membuatku dan Arjun tidak bisa bersama telah runtuh. Bukankah ini yang aku inginkan sedari dulu? Hidup bersama dengan Arjun.


Tuhan, apa lagi ini yang harus aku hadapi?


__ADS_2