Kandas

Kandas
Beri Aku Kekuatan, Tuhan.


__ADS_3

Arjun tampak sama terkejutnya denganku. Tak pernah terlintas dalam benakku, hubungan yang terhalang oleh persamaan suku. Aku yang telah lahir dan di besarkan di tanah Priangan, hampir tak mengenal aturan mengenai pernikahan dalam adat istiadat tanah leluhurku.


"Apa sampai sekarang aturan itu masih berlaku, Maktuo?" tanyaku, meninggalkan kegiatanku membantu bi Sumi mencuci piring. Duduk di samping Arjun, berseberangan dengan maktuo.


"Masih, sampai kapan pun aturan itu masih terus berlaku bagi yang mau menikah sesama Minang," ujar maktuo tegas.


"Tapi ... kalau nanti aku memang berjodoh dengan Arjun, resepsinya diadakan bukan di kampung maktuo, jadi tidak ada yang akan mempermasalahkan itu." Suaraku bergetar, hampir saja aku tak mampu menahan rembesan hangat yang mulai menggantung di pelupuk mata.


Walaupun hatiku belum terlalu mantap untuk menjalani hubungan ke jenjang yang lebih serius bersama Arjun, tapi kenyataan ini membuatku terpuruk. Aku yakin, Arjun merasakan lebih parah lagi.


Maktuo menarik nafas panjang, memandang kami secara bergantian. Ibu hanya terdiam. Tampak sama terkejutnya dengan kami.


"Maktuo kasih tau kalian. Kenapa nikah sesuku itu dilarang, karena kita yang sesuku itu dianggap masih dari keturunan yang sama. Leluhur kita dulu sudah bersumpah, tidak boleh ada pernikahan sesuku. Jika ada yang melanggar, bukan hanya sanksi sosial yang akan kalian dapat. Banyak kejadian keturunan dari yang menikah sesuku akan terlahir cacat," tutur maktuo. Kali ini nada suaranya tidak seperti biasa. Suaranya terdengar lemah. Sepertinya beliau juga merasa prihatin dengan kondisi kami.


"Itu bukan hanya mitos saja, Maktuo?" Aku bersikukuh, masih saja mencoba mencari celah.


"Terlepas dari mitos atau bukan, sebaiknya kalian jangan melanggar. Kasihan nanti keturunan kalian."


Hening. Meja makan yang tadi sempat hidup karena percakapan ibu dan Arjun, mendadak seperti kehilangan nyawa. Kulihat wajah Arjun, pias. Tak mampu kuartikan tatapan matanya itu. Ia mengetuk-ngetukkan jari pelan pada meja, seolah memikirkan sesuatu.


"Tapi persahabatan kalian jangan sampai rusak hanya karena ini. Tak bisa melanjutkan ke pernikahan, tak masalah, kan? Kalian masih berteman," Maktuo memandang kami bergantian.


Kopi pahit seolah kembali terhidang. Jika kemarin Arjun yang memberikan rasa manis pada kopiku, tidak untuk saat ini. Dia juga tampak terlihat mencoba berusaha menelan kopi pahit yang dipaksakan padanya untuk di minum.


Sekilas Kulihat, ada cairan bening menggantung di ujung matanya.

__ADS_1


"Aku akan berusaha untuk menerima, Maktuo," sahutnya pelan. Suaranya bergetar. "Bisa melihat Runa setiap hari, bagiku juga sudah cukup jika tak bisa bersamanya."


"Maafkan Maktuo ya, Nak. Ini juga demi kebaikan kalian." Parau terdengar suaranya.


"Ibu juga minta maaf Runa, selama ini ibu tak pernah mengajarimu tentang adat istiadat kampung kita. Ibu tak menyangka hal ini akan terjadi." Suara ibu bergetar. Dan di matanya, aku melihat kesedihan yang mendalam. Sama seperti saat ayah meninggal. Sudah lama sekali aku tak melihat ibu bersedih.


"Bukan salah Ibu. Tuhan yang menyusun semua ini, kan Bu. Kita tak punya kuasa." Aku mencoba menghibur ibu. Tak ingin kesehatan ibu menjadi terganggu dengan masalahku.


"Arjun mau istirahat dulu? Di kamar Indra saja, maktuo mau ke mesjid dulu." Suara maktuo mengurai rasa canggung yang terasa makin menyesakkan.


"Oh, aku mau langsung ke tempat papa saja, Maktuo. Kebetulan papa sedang di Jakarta." Arjun berdiri dari duduknya, menyalami maktuo untuk berpamitan.


"Ah! Ya, Hati-hati di jalan. Nanti ke sini lagi sebelum balik ke Bandung, kan?"


"Iya. Hati-hati di jalan." Hanya kalimat itu yang terucap dari bibir ibu. Biasanya ibu selalu melontarkan candaan yang mampu memancing Arjun untuk tertawa. Sekilas ibu mengusap punggung tangan Arjun ketika dia itu menyalaminya.


"Iya, Tante aku pamit." Arjun tersenyum lemah.


Aku mengantarkan Arjun keluar rumah tanpa berkata apa-apa. Dia tampak masih belum mampu meredakan rasa terkejutnya mendapati kenyataan yang baru saja terjadi.


"Nanti kabari mau balik kapan," ujarnya ketika akan memasuki mobil.


"Hu-um." Aku sudah tak mampu lagi menahan airmata lebih lama. Kuusap kasar mataku agar Arjun tak perlu melihatnya, tapi terlambat. Dia telah melihat airmataku luruh sebelum aku sempat menghapusnya.


"Nanti kita bicarakan lagi masalah ini. Sekarang kita coba menenangkan diri," ujarnya, tampak mengurungkan niat untuk mengusap airmataku.

__ADS_1


"Iya ...." sahutku tergugu, menggigit keras bibirku agar tak ada lagi airmata yang lolos.


Aku bergeming melihatnya menjauh. Membiarkan sapuan angin malam membelai lembut wajahku. Berharap apa yang kudengar tadi hanya gurauan mimpi.


"Kita shalat dulu, yuk!" Ajak ibu lembut dari ujung atas tangga, ketika aku masuk ke rumah.


"Iya, Bu." perlahan kuseret langkahku ke lantai atas. Menyusul ibu untuk menunaikan shalat.


"Run ... Perasaanmu pada Arjun belum terlanjur dalam, kan?" tanya ibu lirih.


"Ha-ha, tidak usah ibu risaukan. Aku dan Arjun sudah lama bersahabat. Kami hanya perlu menyesuaikan diri kembali seperti sebelumnya." Aku berusaha menutupi rasa sakit yang diam-diam menyusup hadir.


"Humm ... syukurlah, semoga kalian bisa mengatasinya dengan baik. Ibu tak bisa memberi jalan keluarnya," desah ibu lemah.


"Tentu, Bu. Pasti ada jalan lain. Ibu doakan saja, ya."


***


Tak sepejampun aku bisa tertidur. Aku menatap langit-langit kamar, wajah terluka Arjun masih terus menggantung di pikiranku. Apa yang harus kukatakan nanti pada Arjun ketika kami bertemu kembali. Tentu semua tak mungkin bisa lagi sama.


Aku berbalik menghadap ibu. Suara dengkuran halusnya terdengar begitu tenang. Di saat aku seharusnya bahagia melihat kesehatan ibu mulai membaik, Tuhan memberikanku satu ujian lagi. Ingin aku berteriak pada-Nya, apalagi yang harus aku hadapi setelah ini. Apa masih belum cukup rasa sakit yang harus kuterima saat menerima kenyataan penyakit ibu. Lalu, apalagi ini Tuhan?


Otakku tak mampu berpikir jernih. Walaupun aku berusaha terlihat biasa saja ketika berbicara dengan ibu, tapi hatiku seolah tercabik.


"Tuhan, kuatkan aku. Izinkan aku sedikit merasakan bahagia," lirihku dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2