Kandas

Kandas
Waktu yang sedikit


__ADS_3

Hari-hari kami pun kembali seperti dulu. tanpa ada kabar dan tanpa ada hubungan. Seperti tidak memiliki seseorang yang istimewa yang ada di kehidupan ini. Walau aku sudah terbiasa, tapi rasa takut akan kehilangannya terus hadir dalam setiap langkahku. Bukan karena aku tidak percaya dengannya, hanya saja sikap Dika belum bisa diubahnya. Sikap yang perhatian dengan perempuan yang berada di dekatnya. Rasa nyaman yang diberikan Dika kepada perempuan lain hampir sama dengan ku. Dika tidak peduli apa perempuan itu suka atau tidak, tapi yang jelas Dika adalah sosok laki-laki yang suka memberi perhatian namun hanya untuk kesenangan sesaat. Sikap Dika inilah yang membuat aku selalu terluka. Tapi rasa sayang ku untukny tidak pernah hilang walau sedikitpun.


*****


Beberapa minggu kemudian, Dika datang ke kost setelah Dika sudah bekerja di hotel tersebut. Dika datang dengan wajah yang lelah.


"Ada apa ?" kataku


"Aku lagi bingung ini, kami harus pake kemeja putih, sedangkan aku hanya punya satu kemeja putih" kata Dika


"Mang kapan butuhnya ?" kataku

__ADS_1


"Aku udah sering pake sih beberapa hari ini, tapi kalau sudah kotor, gak mungkin kan aku pake lagi" kata Dika


"Ya sudah besok aku lihat-lihat dulu ya, biar kamu pake" kataku


"Makasih ya" kata Dika


"Oh iya, gimana kerjaannya, lancarkan ?" kataku


"Nyaman gak disana ?" kataku


"Lumayan lah, apa pula aku lagi beradptasi di sana dengan teman-teman baru" kata Dika

__ADS_1


"Syukurlah, setidaknya kamu nyaman disana, aku udah senang kok" kata ku


"Kami ada shif loh, jadi kalau aku gak bisa mampir gak apa-apakan ?" kata Dika


"Gak apa-apa kok, aku gak akan memaksa kamu nya untuk selalu datang kesini" kataku


"Makasih ya, kamu memang yang terbaik" kata Dika


Aku hanya tersenyum saat itu, saat itu juga Dika langsung pulang, karena Dika harus berangkat kerja jam tujuh malam. Aku tidak bisa memaksa kehendakku untuknya, karena itu adalah untuk masa depannya. Aku hanya bisa mendukungnya dan selalu ada di sampingnya saat dia membutuhkanku.


Setelah Dika balik, aku pun masuk ke kost dan menghabiskan dengan mendengarkan musik hingga tertidur. Besok harinya saat pulang kuliah, aku dan teman-teman pergi untuk membeli kemeja putih untuk Dika. Setelah beberapa menit mencari, akhirnya dapat juga. Lelah sudah pasti, tapi semua hanya untuk Dika seorang. Aku berharap dengan diriku yang selalu ada untuk Dika, akan menyadarkan Dika bahwa aku tulus padanya. Aku tidak pernah meminta imbalan atas apa yang sudah aku berikan kepada Dika. Karena segala yang ku lakukan untuknya adalah ketulusan ku akan menjadi pacarnya. Menjadi sosok yang akan selalu ada untuknya bahkan dalam suka dan duka. Tidak heran teman mengatakan bahwa aku sudah terlalu dalam mencintai Dika karena sikap ku untuk Dika. Tapi aku hanya tersenyum mendengar hal itu. Karena segalanya Dika adalah pilihan yang ku terima baik dalam kekurangannya maupun kelebihannya.

__ADS_1


Setelah kemeja putih sudah terbeli, aku pun mengabari Dika saat itu. Dika mengatakan hari sabtu saja aku berikan, dan tentu saja aku mengiyakannya. Karena aku tahu Dika akan sibuk beberapa hari, maka aku juga menyibukkan diri sambil memberinya semangat setiap pagi. Aku bahagia dan dia juga merasakan hal yang sama, itu sudah cukup untuk hubungan kami. Tanpa ada pihak ketiga diantara aku dan Dika, dan itu selalu ku jaga dengan baik. Karena aku percaya semua akan seperti ini sampai semua menjadi terang dalam hubungan yang lama ini.


__ADS_2