
Rasa bahagia menerima kabar bahwa Runa sudah di kereta menuju Bandung, membuatku memacu mobil dengan cepat ke rumah. Seharian di kampus dari pagi membuat badan terasa lengket. Sepertinya aku harus mandi dulu, biar nanti terlihat segar ketika bertemu Runa.
Jarum jam menunjukkan angka lima ketika aku masuk kamar. Tak mau menghabiskan terlalu banyak waktu, aku bergegas ke kamar mandi. Menyegarkan tubuh yang sedari pagi kupaksa untuk bertahan agar tetap bersemangat.
Mengingat Runa akan kembali saja, membuat semangatku serasa terisi kembali. Setelah berganti pakaian, aku bergegas turun. Sebaiknya aku berangkat dari sekarang, daripada nanti terjebak macet. Aku tak mau membuat Runa menungguku terlalu lama.
Seperti dugaan. Macet di jalanan Dago menghambatku untuk segera sampai di stasiun. Kondisi padat merayap, membuatku menghabiskan waktu hampir dua jam di perjalanan. Kulirik jam di pergelangan tangan, jika kereta Runa tidak mengalami keterlambatan, lima menit lagi keretanya sudah sampai.
Benar saja, begitu mobilku memasuki area parkiran, telpon dari Runa masuk. Segera kuangkat telpon dari gadis itu.
"Halo, Run udah sampai?" sapaku dengan semangat yang telah terisi penuh.
"Sudah, Lo dimana?" Suaranya terdengar tidak semangat sepertiku. Tak seperti biasanya, apa karena masih lelah?
"Gue baru nyari parkiran ...."
"Udah, gue aja yang kesana. Gue udah liat mobil, Lo. Enggak usah nyari parkiran!" potongnya, tak lama gadis itu terlihat setengah berlari dari dalam stasiun ke arah mobil
Gadis itu menghenyakkan tubuhnya begitu masuk. Wajahnya terlihat kuyu. Berubah drastis hanya dalam beberapa hari. Inginku tanyakan apa yang terjadi selama dia di Jakarta, kenapa perubahannya begitu kentara, tapi kutahan. Dia masih lelah. Sebaiknya kutahan saja semua pertanyaan yang sudah berentet dalam otak.
"Sudah nunggu lama, ya?"
"Enggak, pas banget baru nyampe. Macet ya?"
"Iya, tadi aku pulang dulu, soalnya gerah banget, mau ganti baju."
"Ooh." Hanya jawaban itu yang keluar dari bibirnya. Tak seperti biasa. Pikirannya tampak sedang melanglang buana.
"Lagi mikirin cowok yang di Jakarta, ya?" candaku dengan kekehan.
"Apaan, sih Lo? Kok jadi mikir gitu?" sungutnya dengan nada ketus.
Hei, kemana perginya Runa yang kukenal selama ini. Dia benar-benar terlihat aneh. Tak ada candaan khasnya seperti biasa.
"Gue becanda kali, Lo serius amat. Lagi kenapa, sih?" selidikku penasaran dengan tingkahnya.
"Enggak kenapa-kenapa," sahutnya acuh.
"Ketemu cowok baru di Jakarta, ya?" Kembali kulontarkan pertanyaan itu.
"Lo lagi kenapa, sih Jun? Kenapa jadi curigaan gini? Lo bilang becanda, enggak lucu tau!" gerutunya dengan nada tinggi.
"Hei, Run! Serius gue bingung. Kenapa Lo jadi emosian gini, sih? Apa jangan-jangan bener lagi Lo ketemu cowok baru, makanya jadi sensi."
"Terus kenapa? Lo cemburu?" tantangnya.
__ADS_1
"Lo lagi kesambet apaan, Run? Enggak biasanya gini?" Aku mencoba menurunkan nada suara. Meliriknya yang tengah menatap keluar jendela.
"Sorry, pikiran gue lagi kusut," lirihnya kemudian tanpa menoleh padaku.
"Kita makan dulu, ya?" ajakku berbelok ke halaman sebuah restoran. Kulihat parkirannya tidak terlalu ramai. Sepertinya tempat yang cocok buatku yang memang tak menginginkan tempat yang hiruk.
"Pulang aja deh, Jun. Gue lagi enggak mood makan," sahutnya lemah.
"Temenin gue makan, kalau gitu," sahutku setengah memaksa.
Tak ada bantahan. Tatapannya hanya terpaku keluar jendela. Entah apa yang dipikirkannya.
"Ayo!" Kubukakan pintu bagian penumpang untuk mengajaknya turun ketika dia masih bergeming di jok penumpang.
Dengan wajah yang tampak sedikit keberatan, Runa akhirnya turun. Desain restoran yang terlihat homey, memberi kesan tenang ketika kami memasuki ruangannya. Disambut oleh salah seorang pramusaji, kami diberikan tempat yang berada pojok di bagian dalam restoran.
"Jadi, apa yang terjadi selama di Jakarta?" Langsung kuutarakan apa yang terasa mengganjal di hati.
Runa diam. Aku tak mampu menangkap arti diamnya.
"Run ... cerita, dong. Biasa juga cerita," bujukku.
"Nyokap gue divonis kanker, Jun," sahutnya lirih tak mampu membendung selaput bening yang mulai membanjiri matanya.
"Gue takut, Jun. Kepergian bokap saja belum mampu gue terima, apalagi nyokap." Tangisnya pecah, dia menyembunyikan wajahnya dibalik kedua telapak tangan.
Ragu-ragu, kutarik tubuhnya mendekat. Semoga saja pelukan mampu membuatnya meluruhkan segala gundah yang mengganggu kedamaian hatinya.
"Sebenarnya, gue masih ingin tinggal di Jakarta sama nyokap, gue mau dampingin pengobatannya ...." lanjutnya di sela isakan, "Tapi nyokap ama kakaknya enggak kasih izin gue untuk tinggal."
"Ya ... mungkin nyokap Lo mikir, kalau Lo di sana, kuliah Lo bakal keteteran."
"Iya, nyokap emang bilang gitu, makanya gue sekarang bingung. Kalau gue berhenti kuliah, hasil kerja keras selama ini bakal sia-sia. Terus, kalau gue lanjut kuliah, pikiran gue enggak tenang, Jun," isaknya dengan suara sengau.
"Sekarang, Lo coba tenang dulu. Pelan-pelan, enggak gampang emang ... tapi gue yakin Lo kuat." Terlalu klise memang kalimat yang kuucapkan. Sekuat apapun seseorang, pasti akan merasa hancur jika orang yang terkasihnya divonis penyakit yang mematikan. ".... dan gue yakin, nyokap Lo enggak bakal nyerah begitu saja, dia perempuan kuat."
Runa hanya mengangguk, kembali terisak. Selang beberapa menit kemudian, dia tampak sudah mulai mampu meredakan tangisnya.
"Thanks ya, Jun. Gue sedikit lega. Maaf kalau tadi gue emosi ke Elo." Kali ini suaranya sudah sedikit tenang.
"Gue enggak bantu apa-apa."
"Lo udah dengerin gue cerita aja, sudah ngebantu banget, Jun. Makasih," ujarnya dengan suara yang hampir tak terdengar.
"Ya sudah, makan dulu. Perut yang kenyang bikin mood membaik," ajakku.
__ADS_1
Aruna, matahari itu kembali tertutup awan gelap. Sinarnya yang selama ini selalu menghangatkan terasa hilang begitu saja. Aku tak tahu kenapa Tuhan memberikannya cobaan yang bertubi-tubi. Aku tau dia memang gadis yang kuat, tapi aku yakin kekuatan seseorang ada batasnya.
Baru kali ini aku melihatnya begitu terpukul. Bagaimana tidak, ibunya adalah tempat bergantungnya saat ini. Bayangan akan kehilangan orangtua, pastilah suatu hal yang sangat menakutkan.
"Jun, balik, yuk! Gue capek banget," ajaknya setelah emosinya mulai terlihat tenang.
"Gue masih pengen sama Lo, sih, Run."
"Tapi ini sudah malam, besok gue ada kuliah pagi."
"Ya sudah, ayo!"
***
Di perjalanan, Runa masih saja tampak lesu. Membuat semangatku yang tadi terisi penuh juga ikut melemah.
"Jun ...." Runa menoleh padaku. Menatapku lama seperti menimbang-nimbang sesuatu.
"Kenapa?"
"Uhm, kalau gue jalan sama cowok lain ... Lo marah, enggak?" tanyanya menatap lekat padaku.
Seketika perasaanku tak tenang, apakah benar terjadi apa yang tadi kuanggap hanya candaan.
"Perasaan Lo ke cowok itu gimana?" balasku dengan melontarkan pertanyaan.
Ada rasa takut yang kurasakan. Aku merasa tak siap jika tiba-tiba Runa berkata bahwa dia mempunyai rasa terhadap laki-laki lain.
"Kalau gue enggak ada rasa sama cowok itu gimana?" Dia kembali bertanya tanpa melepaskan tatapannya dariku.
"Buat apa gue marah kalau gitu," sahutku berusaha santai. Walaupun dalam hati, perasaan tak tenang itu tak mampu kuredakan.
"Lo enggak cemburu?"
"Ya ... kalau Lo terlalu sering jalan ama cowok lain, gue cemburu lah, Run. Kan gue cowok Lo. Lagian kenapa nanya kayak gini, sih?" Kali ini aku memalingkan wajah padanya, berusaha mencari tau maksud dari pertanyaannya.
"Jadi, pas di Jakarta gue dianter jemput sama temen Wina, cowok, dari rumah ke rumah sakit. Gue khawatir aja Lo cemburu," sahutnya pelan.
Walaupun sebenarnya memang ada rasa cemburu itu hadir, tapi tak kuperlihatkan. Bagaimana pun, Runa telah berusaha Jujur padaku. Aku tak ingin dia menjauh jika aku terlalu menunjukkan rasa cemburu.
"Pantes tadi Lo sewot pas gue nanya cowok di Jakarta, ya? Ngerasa ke-gap?" candaku berusaha mengusir kekhawatiran yang berlebihan.
"Ha-ha, enggak ... Tadi gue emang lagi bingung banget, sepanjang jalan keinget nyokap terus." Walaupun dia berusaha tertawa, tapi matanya kembali berubah sendu.
Seolah menyesal dengan apa yang telah kuucapkan. Aku menatap kembali gadis yang masih menatap sayu jalanan di depan. Seolah berusaha untuk menguatkan diri. Ya Tuhan, ingin kupindahkan sedikit bebannya ke pundakku, agar mata itu kembali ceria, menatapku dengan penuh kehangatan seperti hari-hari sebelumnya.
__ADS_1