
Aku telah mengungkapkan segalanya, walau aku tidak tahu apa yang aku ungkapkan sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Tapi jujur saja, rasa benci, rasa kecewa bahkan rasa ingin menghancurkan segalanya membuat aku selalu menahan amarah. Amarah yang aku pendam sendiri pada akhirnya menyakiti hatiku.
Sesak dan terluka sendiri membuat aku seperti tidak memiliki apa-apa lagi. Perasaan ku ternyata tidak berarti untuknya yang aku sayangi. Rasa sayang yang selama ini aku pertahankan sampai aku lelah sendiri, bahkan menahan segala keegoisanku untuknya ternyata hanya angin yang tidak memiliki arti.
Aku melangkahkan kaki ku berharap semua yang kami lewati, yang kami hadapi saat ini hanya permainan yang dilakukan mereka padaku. Aku menganggap mereka hanya sedang bercanda dengan ku. Yah aku membohongi diriku sendiri akan semua yang terjadi, aku tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Saat aku pulang dari tempatnya untuk terakhir kalinya sebelum aku balik ke kampung, aku harap semua masalah ini selesai. Tapi nyatanya semua masih di ambang yang tidak ada arah.
Selama Dika mengantar aku, selama itu juga aku menyandarkan kepalaku ke badan Dika. Rasa lelah akan semua yang terjaadi membuat aku tenang walau hanya sesaat. Dan sesampainya di tempat temanku, Dika langsung pergi tanpa mengatakan apa-apa. Dan aku hanya melihatnya pergi, dan rasa sesak itu kembali datang karena aku takut Dika akan pergi menemui perempuan itu lagi setelah berpisah dengan ku. Rasa takut itu datang dengan seiring waktu dan itu terus terjadi kemana pun aku melangkah.
*****
Beberapa hari kemudian, sebelum libur telah tiba, kami harus ke kampus saat itu juga. Dan jelas saja aku benar-benar malas, tapi mau bagaimana lagi semua harus hadir saat itu juga. Sesampainya aku di kampus, saat menunggu teman-teman yang lain, aku mendengarkan lagu dari handphone dan menikmati lagu tersebut. Hingga tiba-tiba teman ku datang dan menyapa ku
“Kak, udah lama” kata Ina
“Ah, kamu. Yah begitulah” kataku yang langsung memperbaiki posisi duduk ku
“Widih rajin sekali ya” kata Lya
__ADS_1
“Habisnya gak ada kerjaan” kataku membalas
“Lalu bagaimana?” kata Lya
“Apanya ?” tanya ku heran
“Itu masalah Dika dengan kakak?” kata Ina
“Entahlah aku tidak tahu harus bagaimana sekarang” kataku
Aku sebenarnya tidak tahu maksudnya Lya apa, dan apa yang harus aku tunggu. Tapi aku tidak merespon apa yang Lya katakan, aku kembali mendengar lagu ku saat itu. Yang kemudian membuat Lya dan Ina melihatku dengan wajah sedih.
“Ada apa, kenapa wajah kalian seperti itu?” kata ku yang melihat mereka
“Ah, aku salah kak” kata Lya
“Salah apa ?” kataku heran
__ADS_1
“Ini, ah bagaimana ya” kata Ina
“Apaan sih, buat penasaran saja” kataku
“Tapi kakak jangan marah ya” kata Ina
“Emang kalian buat salah ya, kok takut banget sih sampai minta maaf gitu” kata ku
Lya langsung memberikan handphonenya saat itu juga, dan aku yang penasaran akan apa yang ingin di beritahu padaku, akhirnya aku melihat sendiri. Sebuah foto dari status perempuan itu, status dimana mereka berdua berfoto bersama yang saling menyandar satu dengan yanag lainnya. Aku yang melihat hal itu, benar-benar hancur. Aku tidak menyangka selama ini, mereka telah bersama bahkan mereka pergi berduaan disaat aku dan Dika pacaran.
Aku terdiam dan melihat tanggal kapan postingan itu dibuat. Dan betapa terkejutnya aku melihat tanggal dan bulan itu sudah terjadi tahun yang lalu. Aku hancur dan terdiam saat itu, tidak menyaangka bahwa mereka sudah lama bermain di belakang ku. Dan saat tu aku melihat sebuah kalimat yang dibuat perempuan itu.
“Maaf untuk yang merasa tersakiti karena ini. Nyatanya ini lah yang sudah terjadi”
Dengan bangganya mereka memamerkan kebahagiaan mereka di atas penderitaan ku. Aku hancur, aku benar-benar telah dipermainkan oleh mereka. Mereka memperlakukan aku seolah aku hanya lah orang yang dengan mudah mereka bohongi. Dan jelas saja sudah terlihat jelas, ketika aku baru tahu mereka sudah melakukan ini selama itu dan aku yang selalu percaya dengan omongan Dika membuat aku tidak menyangka rasa sakit itu semakin dalam. Bahkan tidak ada yang bisa aku lakukan, kecuali menangis seorang diri.
Aku hancur dan terluka Dika, aku benar-benar hancur
__ADS_1