Kandas

Kandas
Masihkah ada harapan?


__ADS_3

Sedu sedan gadis di hadapanku telah berhenti. Secercah semangat kembali menyala dari mata sembabnya. Dan tentu saja, senyum yang selalu membuatku rindu kembali menghias bibir itu. Beruntung di kamar perawatan ini tidak ada pasien lain, sehingga dia bisa tuntas melepaskan emosinya.


Tawanya kembali berderai ketika tangisnya reda. Meski awan hitam seolah masih menutup mentariku, tetapi pendaran cahayanya sedikit demi sedikit mulai menguak kegelapan. Hingga hangat kembali kurasakan.


Baru saja kekakuan diantara kami mulai mencair, suara dering ponsel Runa menjeda. Kutarik ponselnya yang kusimpan di dalam kantong semenjak tadi siang. Nama laki-laki itu kembali tertera disana. Hatiku terasa memanas, saat menyerahkan benda pipih itu ke tangan gadis yang tengah tergolek lemah di brankar.


Melihat cara Runa menerima telepon, membuat rasa cemburu hadir. Ketakutan terbesarku saat ini adalah hatinya telah dimiliki hati yang lain. Bahkan ketika aku menanyakan perihal hubungannya dengan laki-laki itu, emosi gadis itu kembali naik.


Aku tak menyangka akan secepat ini dia menggantikan kedudukanku di hatinya. Mungkinkah mentari itu telah berpindah menerangi belahan bumi yang lain, hingga cahayanya yang biasa memberi kehangatan padaku meredup.


"Ya sudah, Lo istirahat deh. Gue mau beli minuman dulu," ujarku seraya bangkit dari tempat duduk.


"Maafin gue, Jun. Pikiran gue benar-benar lagi kacau," ucapnya menyesali ledakan emosi yang baru saja dia tujukan padaku.


"It's ok, gue yang salah," sahutku mengulas senyum tipis padanya.


Seseorang tiba-tiba membuka pintu dari luar, bertepatan dengan tanganku hendak menarik handle pintu. Kami hampir bertubrukan. Laki-laki, berpostur hampir sama denganku. Tinggi sekitar 185 senti dengan tubuh proporsional. Matanya menyorot tajam ketika berhadap-hadapan denganku.


"Maaf, nyari siapa?" tanyaku sebelum dia masuk.


"Ini benar ruangan tempat Runa dirawat?"


"Iya. Mas ini siapa?" tanyaku kembali.


"Saya Beni. Kamu pasti Arjun?" sapanya ramah, mengulurkan tangan untuk bersalaman.


"I-iya." Aku menyambut tangannya dengan canggung. Laki-laki yang membuat hatiku memanas kini hadir berhadap-hadapan.


Tak heran jika Runa dengan cepat berpaling pada laki-laki ini. Kharismanya membius.


"Eh, silahkan masuk. Runa sedang istirahat." Aku menepi agar laki-laki itu bisa masuk. Meski hati ini tidak pernah rela membiarkan Runa berduaan dengannya di ruangan ini.


"Thanks, Bro! Eh, maaf tadi telponnya langsung putus, handphone saya lowbat," ujarnya.


"Ya." Aku melangkah keluar, tanpa melihat lagi pada Runa. Berharap hati ini akan siap menerima apapun nanti yang akan gadis itu katakan untuk kejelasan hubungan kami.


****


Aku hendak memasuki lift ketika mendengar suara yang tidak asing bagiku, memanggil.


"Jun!" Kulihat mama menghampiriku dengan langkah anggunnya, seperti biasa. Tangannya menenteng goody bag yang cukup besar. "Runa sama siapa di atas? Di tinggal sendiri?" tanyanya heran. Matanya masih terlihat sembab. Mungkin seharian tadi tidak berhenti menangis setelah kutinggalkan.

__ADS_1


"Ada temannya dari Jakarta datang," sahutku dengan senyum tipis. Entah mengapa ada rasa getir ketika mengatakannya.


"Ganggu enggak kalau Mama masuk?"


"Sepertinya enggak. Yuk, Mam!" ajak ku, mengambil alih goody bag yang ternyata cukup berat dari tangannya, dan merangkul bahu mama seperti biasa.


Meski dia bukan ibu yang telah melahirkanku, tetap saja dia adalah ibu yang telah merelakan waktunya untuk bersusah payah menjagaku dari kecil. Ibu yang selalu memastikan aku untuk bisa hidup dengan baik tanpa sedikit pun aku merasa dia bukan perempuan yang telah menghadikanku ke dunia. Kasih sayang dia berikan padaku selama ini benar-benar tulus.


Senyumnya mengembang, meski ujung matanya kembali basah. Buru-buru mama menghapus ujung matanya dengan saputangan yang sedari tadi digenggamnya.


"Mama enggak usah khawatir aku tinggalin. Mama itu satu-satunya perempuan yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Tanpa Mama, mana bisa aku akan seperti ini. Mungkin jika dulu Mama tidak mempunyai ide mengambilku, aku akan berakhir di panti asuhan," tuturku menghibur perempuan paruh baya yang masih dalam dekapanku.


Beruntung hanya kami berdua dalam lift, sehingga tidak ada yang perlu menyaksikan adegan yang sarat emosi ini.


Mama kembali menghapus airmatanya.


"Maafkan Mama, baru kasih tau kamu sekarang. Mama tidak sanggup kehilangan dua orang yang mama cintai sekaligus," lirihnya dengan suara tercekat.


Aku menarik napas panjang. Seandainya saja mama memberitahukanku lebih awal, tentu urusanku dengan Runa tidak akan serumit. Namun aku hanya membisu, tidak mampu mengatakannya. Aku takut akan menambah kesedihan mama.


***


"Run ... ada Mama datang," ucapku ketika membuka pintu.


"Tante, maaf ya ... aku jadi ngerepotin," sapa Runa memaksakan senyum ketika mama datang mendekat.


"Ah! Enggak kok, Sayang," tepis mama dengan senyum tulus. "Ini siapa?" sapa mama ramah ketika Beni berdiri menyambut kedatangan kami.


"Beni, Tante. Saya teman Runa dari Jakarta," sahutnya sopan.


"Wah! Maaf Tante ganggu."


"Enggak, kok, Tan. Silahkan." Kursi yang tadi didudukinya diserahkan pada mama.


"Terima kasih, ya!"


"Saya pamit dulu, Tante," ujarnya ketika mama hendak duduk.


"Eh? Mau balik ke Jakarta lagi?"


"Enggak, mau ke bawah dulu."

__ADS_1


"Oh! Iya." Mama mengangguk pelan kembali berbalik menatap Runa.


"Kamu maksain banget ya ngerjain skripsi? Pasti deh lupa makan yang benar." Tangan mama mengelus lengan Runa.


Kulihat mata gadis itu terlihat sedih, tapi tak ada airmata di sana. Senyumnya meski lemah, melengkung manis menatap mama.


"Bukan maksain Tante, kejar target. He-he," kekehnya lemah.


Mama berbicara dengan Runa layaknya berbicara dengan anak sendiri, begitu hangat dan penuh kasih sayang. Aku hanya mencuri pandang sambil memainkan ponsel. Sesekali mata gadis itu melirik padaku.


"Malam ini biar mama yang temani Runa, ya?" Mama berbalik menatapku.


"Eh? Apa ...."


"Tidak usah, Tan. Tante jadi repot," tolak gadis itu sebelum aku sempat menjawab.


"Tante juga besok engga ada acara. Nanti kalau ada apa-apa denganmu, gimana? Lagian enggak baik orang sakit dibiarin sendirian," tukas mama.


"Tapi, tan ...."


"Sudah! Enggak usah sungkan. Anggap sama ibumu sendiri, ya!" tepis mama, seolah tidak menerima alasan dari gadis itu.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahatlah. Tante keluar dulu biar kamu bisa tidur," ujar mama seraya berdiri.


***


Aku dan mama kini duduk berhadap-hadapan di kantin. Rasa penasaran membuatnya terus-menerus menanyakan apa yang terjadi denganku dan Runa di sepanjang perjalanan menuju kantin.


Akhirnya cerita yang telah kusimpan lama, terkuak sudah. Sama seperti saat aku mendengar rahasia yang disimpan mama, perempuan di hadapanku ini pun tak kalah terkejutnya setelah mendengar cerita hubunganku dengan Runa.


"Ya Tuhan, Jun! Mama tidak menyangka akan seperti ini," lirihnya menekan pelipisnya dengan ujung jari. "Lalu apa yang harus Mama lakukan agar kalian bisa bersama lagi?" tanyanya kemudian, mengangkat wajahnya menatapku.


"Mohon doa saja, Mam. Semoga hati Runa masih ada untukku," sahutku dengan nada putus asa.


Teringat sosok Beni, membuat rasa percaya diriku kembali merosot. Jika disuruh memilih, tentu saja Runa akan memilih laki-laki itu. Sosok laki-laki dewasa yang bisa mengayominya.


Sementara diriku, hanya laki-laki yang selalu bergantung padanya, laki-laki yang tidak bisa memberi kekuatan apa-apa. Jika dibandingkan dengan laki-laki itu, aku layaknya anak kecil yang berharap bisa memeluk matahari. Selalu merengek ketika matahari itu tenggelam dan kembali tertawa riang ketika dia hadir, tanpa mau mengerti bahwa matahari tidak akan selamanya bersinar.


"Mama, selalu doakan yang terbaik untukmu, Jun. Maaf ini semua karena mama tidak berterus terang dari awal. Mama tidak tau akan ada hal seperti ini yang akan menjadi masalah," sesal mama kembali mengusap ujung matanya yang terlihat lelah.


"Aamiin. Doa Mama sudah cukup bagiku."

__ADS_1


Saat ini aku hanya butuh percaya. Jika memang takdir kami untuk bersama, tentu Tuhan akan memudahkan semua. Meski secercah harapan untuk kembali bersamanya kembali kandas.


__ADS_2