Kandas

Kandas
Tak peduli


__ADS_3

Semua memang membuatku merasa sesak, sandiwara bahkan permainan yang mereka lakukan kepadaku membuat aku seperti orang bodoh yang dengan mudah dipermainkan oleh mereka. Aku mengikuti alur yang mereka mainkan. Aku membiarkan mereka bermain di atas luka yang mereka berikan, lalu diakhiri dengan kata maaf dan kebohongan.


*****


Aku yang menunggu malam, berharap semua yang dia katakan adalah kebenaran, karena aku berharap semua yang terjadi adalah hanya sebuah kesalahanpahaman yang bisa kami selesaikan. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa saat ini, tapi semua membuat aku hanya berpikir tapi tidak tahu arahnya kemana. Malam telah tiba, aku datang kembali ke tempat dimana mereka berduaan.


Saat itu aku melihat kembali bagaimana mereka berdua berada di tempat ini. Sakit yah sungguh benar-benar sakit, bahkan air mataku tidak bisa mewakili hatiku saat itu. Air mata yang seharusnya menenangkan hatiku, tidak menetes sama sekali. Hingga akhirnya perempuan itu menghubungi Dika


“Panggilan”


“Dimana, nanti datang ke kost gak ?” kata perempuan itu dengan santainya


“Iya aku datang kok” kata Dika dengan lembutnya


Saat aku mendengar hal itu, sakit hatiku semakin dalam, bahkan mereka saling bercanda tawa. Perempuan itu dengan bangganya memamerkan kemesraan mereka dihadapanku, aku yang tidak bisa lagi mencerna dengan baik keadaan yang ada hanya tersenyum manis akan tingkah mereka. Saat Dika datang, pintu ketuk dengan lembut dan Dika memanggil namanya dengan lembut.


Ah, apakah aku salah datang ke tempat ini?” kataku dalam batin


Saat itu perempuan itu membuka pintu dan membiarkan Dika masuk

__ADS_1


“Kamu ya” kata Dika yang langsung melihat aku tepat di belakang pintu


“Kenapa diam, apa yang ingin kamu katakan ?” kataku


Dika langsung melihat perempuan itu, sedangkan perempuan itu hanya terdiam melihat aku


“Boleh kakak keluar, aku ingin bicara dengannya?” kataku


“Kenapa aku harus keluar” kata perempuan


“Bisa kakak keluar gak ?” kataku


“Wah, aku yang tinggal disini, tapi aku yang keluar ya” kata perempuan itu sambil keluar


“Apa kamu bahagia ?” kataku


Dika tetap terdiam dan tak mau mengatakan apa-apa


“Kenapa, bukankah seharusnya kamu menjelaskan padaku. Tapi kenapa aku yang harus mengejar-ngejar penjelasan darimu Dika” kataku tunduk

__ADS_1


Dika tetap saja terdiam


“Aku yang terluka disini, aku yang kamu khianati, aku yang kamu duakan, aku yang kamu bohongi tapi aku yang harus menanggung semua dengan mengejar penjelasanmu, kenapa? Apa yang salah denganku Dika, kenapa kamu melakukan semua ini padaku?” kataku sambil menangis tertunduk


Dika hanya melihat aku, tanpa mengatakan apa-apa bahkan membiarkan aku menangis sendiri


“Aku berharap kepadamu, tapi kamu hancurkan harapan itu” kataku.


Saat itu juga perempuan itu kembali masuk dan melihat kami


“Aku berharap semua yang kamu lakukan dirasakan oleh adekmu” kataku


Dengan cepat Dika langsung melihatku dan ingin memukulku, saat itu juga perempuan itu berkata


“Jangan Dika, tahan emosimu” kata perempuan itu


“Hahahaha, ternyata kalian memang sudah lama bersama ya, bahkan kamu lebih mendengarkan dia berbicara dibandingkan aku yang dari tadi bicara” kataku sambil duduk menjauh dari Dika


Mereka pun terdiam saat itu juga dan suasana hening itu membuat ku lelah

__ADS_1


“Baiklah, jika memang ini yang kamu inginkan. Aku tidak akan mengganggu kalian, aku sudah tahu bahwa kamu memang menyukainya sedangkan aku tidak ada artinya bagimu. Terima kasih Dika, kamu membuatku rendah dimatamu dan perempuan itu. Aku pamit” kataku yang langsung berdiri dan pergi dari tempat itu.


Dalam perjalanan itu, aku seperti orang bodoh yang menangis dan tidak tahu arah. Aku langkahkan kaki ku dengan berharap semua hanyalah mimpi belaka. Tapi ternyata semakin aku melangkahkan kaki ku ke jalan yang gelap, semakin aku merasa hancur. Bahkan rasa sakit itu tidak bisa ku gambarkan dengan jelas, sakit, sesak, kecewa, hancur bersatu di malam ku yang kelam. Seperti ingin mengakhiri segalanya dan terluka seorang diri pada hubungan yang memuakkan


__ADS_2