Kandas

Kandas
Ketidakpahaman (2)


__ADS_3

Dengan sikap Dika yang masih saja menunjukkan wajah sedihnya, membuat aku hanya bisa menemaninya walau sebenarnya aku juga kecewa akan sikap Dika. Tapi aku bisa apa, saat ini aku yang bisa menemaninya. Sulit untuk mengubah keadaan, tapi semua hanya bisa pura-pura bahwa semua akan baik-baik saja. Aku berusaha menerima keadaan dengan melupakan segalanya, tapi jika keadaan selalu harus berpihak kepadanya bukankah itu namanya tidak adil ?. Aku uga ingin sperti Dika tapi yang aku dapat berbeda dari yang aku harapkan. Dika akan marah balik padaku, bahkan lebih marah dari yang aku ingin lakukan. Karen itulah aku lebih banyak terdiam daripada mencari permasalahan.


“Aku sedang butuh seseorang saat ini” kata Dika


“Yah aku tahu akan hal itu, bukankah kamu datang padaku saat kamu hanya punya masalah ?” kataku


“Kenapa kamu mengatakan hal itu ?” kata Dika


“Karena nyatanya itu yang saat ini kamu lakukan” kataku


“Sudahlah, aku tidak ingin membuat suasanaku semakin lama semakin sulit” kata Dika yang langsung berdiri


“Kamu mau pergi lagi seperti dulu?” kataku dengan kesal


“Apa maksudmu ?” kata Dika


“Sudahlah, aku tidak ingin berdebat dengan mu. Sekarang terserah kamu mau bagaimana, kalau mau pergi ya sudah” kataku


Mendengar hal itu, Dika kembali duduk di dekatku.

__ADS_1


“Apa harus kamu mengatakan hal itu saat aku datang mencarimu?” kata Dika


“Baiklah, aku minta maaf jika aku salah” kataku


“Lupakan saja, aku tidak tahu harus bagaimana di tempat kerjaku” kata Dika


“Emang ada apa dengan kerjamu ?” kataku


“Mereka sepertinya iri padaku, sampai-sampai mereka selalu menyalahkanku” kata Dika


“Bukankah itu hal biasa, seharusnya kamu sudah belajar banyak saat kamu sudah berada di pulau seberang, bahkan ditempat kamu tinggal juga melakukan hal yang sama kan, lalu kenapa disini kamu malah mengeluh?” tanya ku heran


“Apa ada yang membuatmu tidak nyaman disana” kataku


“Para perempuan yang dekat dengan ku, mereka menyalahkanku karena itu” kata Dika


Aku yang mendengar hal itu benar-benar terkejut, bagaimana bisa Dika percaya diri dengan mengatakan hal itu di depanku. Bagaimana bisa dengan pemikirannya hanya karena perempuan, dia merasa terbebani


“Apa gunanya aku untukmu ?” tanyaku

__ADS_1


“Kenapa kamu mengatakan hal itu” kata Dika yang keheranan


“Kenapa katamu, apakah perasaan ku juga tidak berguna untukmu” kataku


“Kamu marah karena hal itu?” kata Dika


“Apa semudah itu mengatakan hal yang tidak memikirkan perasaan ku ?” kataku


“Salahkan mereka, mengapa merasa suka padaku ?” kata Dika


“Aku tidak tahu harus apa dan bagaimana lagi menghadapi mu Dik, aku selalu berusaha untuk bersabar tapi kamu tidak mengerti hingga sampai sekarang. Kita sudah lama menjalani hubungan tapi selalu saja aku yang mengalah” kata ku


“Lalu sekarang kamu mengeluh ?” kata Dika


“Aku tidak mengeluh, hanya saja aku tidak ingin kamu peduli dengan perempuan itu” kataku


“Aku peduli dengan siapa, itu hak aku kan ?” kata Dika


Mendengar perkataan Dika, membuat aku hanya terdiam dan tak bisa menjawab. Aku berusaha menahan airmata yang ingin sekali mengalir. Aku berpura-pura melihat langit malam yang tidak ditemani bintang-bintang. Sama sepertiku, gelap dan tak bersinar, itulah yang menggambarkan diriku di hadapan Dika yang bahkan tidak peduli akan kehadiranku.

__ADS_1


__ADS_2