
Aku masih saja terdiam dan tidak melihat Dika, sedangkan Dika masih tetap memelukku dengan eratnya. Hingga akhirnya pelukan itu lepas
“Ada apa, apa kamu tidak merindukanku?” kata Dika yang langsung melihat wajahku
“Rindu?, apa aku pantas?” kata ku yang langsung meninggalkannya
“Kenapa kamu mengatakan begitu?” kata Dika yang mengikutiku dari belakang
“Kamu pasti sudah tahu jawabannya, lalu kenapa aku harus memberitahumu” kata ku
“Sudahlah Vit, aku tidak mau berdebat, aku datang kesini karena aku rindu denganmu, apakah salah?” kata Dika
Aku hanya terdiam melihat Dika, yah jelas saja aku ingin marah, aku ingin menangis bahkan aku ingin menanyakan hubungan yang tidak jelas ini. Hubungan yang membuatku terbebani bahkan sangat menyiksa ku. Karena setiap aku ingin melepas semuanya, Dika datang dengan mudah tanpa rasa bersalah lalu mengatakan kata saying, rindu bahkan cinta tanpa melihat bagaimana posisiku. Dan jelas saja aku masih saja menerima semua ucapan yang diberikan kepadaku dengan menerima bahkan memberi senyuman untukknya.
Mungkin aku adalah orang yang begitu bodoh yang selalu menerima segalanya, kebodohan yang benar-benar membuatku hancur dengan mudah. Jika ditanya apa yang ku harapkan dari laki-laki tersebut. Tentu saja tidak ada, tapi rasa cinta dan saying yang sudah terlanjur membuatku tidak ingin melepaskan dengan mudah. Bahkan aku ingin menunjukkan bahwa ada cinta yang tulus yang bisa di dapatkan dariku. Walau aku selalu menangis karena dirinya aku selalu berusaha tersenyum untuknya. Yang pada akhirnya aku yang terluka dalam, dibandingkan dia yang tidak pernah menghargaiku.
****
Beberapa minggu kemudian, Dika selalu datang kepadaku, bahkan aku tidak tahu ada apa dengan Dika, bahkan Dika tidak ada mengatakan apa-apa padaku. Hanya yang ku tahu Dika kembali berada di rumah perempuan itu. Mereka kembali tinggal bersama, dan itu semakin membuatku semakin tidak ingin bersamanya. Walau begitu Dika selalu menjelaskan bahwa perempuan itu sedang berada di kampung.
Berada di tempat yang sama dengan kejadian yang pernah ku alami, apalagi yang bisa ku percaya dari Dika. Semua yang dikatakan semuanya adalah kebohongan, yah semua termasuk diaa yang mengatakan akan selalu ada untukku, yang mencintaai ku bahkan mempedulkan diriku. Aku yang kini sudah terbiasa akhirnya hanya berpuraa-pura bahwa semua baik-baik saja. Yah semua menyakitkan kini membekas dalam diriku.
__ADS_1
Tidak peduli sedalam apa yang sudah diberikan kepada ku, karena nyatanya aku sudah tidak peduli lagi. Hingga akhirnya, diwaktu yang benar-benar membuatku lelah, Dika yang datang padaku, akhirnya berbicara dengan ku.
“Vit, boleh aku mengatakan sesuatu” kata Dika
Aku hanya melihatnya yang sedang duduk disebelah ku, tanpa berbicara Dika melanjutkan pembicaraan tersebut.
“Aku ingin bebas, aku ingin melangkah ke tempat dimana aku merasa tenang” kata Dika
“Lalu, apa yang kamu ingin lakukan?” kataku
“Yah, ini mungkin akan memakan waktu yang lama untukmu dan aku, tapi aku sudah memikirkan semuanya” kata Dika
“Apa yang kamu pikirkan?” kata ku
“Menunggumu?” kataku heraan
“Yah, aku ingin saat ini bebas, setelah itu aku akan datang kembali padamu dan menepaati janjiku untukmu” kata Dika
“Apakah kamu ingin menikah dengannya?” kata ku
Dika melihatku saat itu juga dengan wajah serius
__ADS_1
“Kenapa kamu mengatakan hal itu, aku tidak akan menikahi wanita seperti dia. Dia bukanlah wanita yang ku harapkan” kata Dika menyakinkan diriku.
“Lalu kenapa kamu ingin pergi dari hidupku?” kataku bertanya
“Yah karena aku ingin bebas saja, dan juga aku akan datang lagi kepadamu. Saat aku datang, kamu siap-siap untuk bersama ku.” kata Dika
“Kamu memintaku menunggumu, aku akan menunggumu” kata ku
“Berjanjilah, kamu akan menungguku” kata Dika yang tersenyum padaku
“Iya, aku berjanji. Tapi sampai kapan aku menunggu mu?” kata ku yang melihatnya
“Saat kamu sudah wisuda dan mendapatkan pekerjaan, aku akan datang kepadamu” kata Dika
“Baiklah, tapi boleh aku bertanya satu hal” kata ku
“Apa itu” kata Dika
“Apakah aku sudah tidak penting lagi?” kataku
“Boleh ku katakan padamu Vit, kalau ditanya apa aku menyesal atau tidak, aku akan katakan. Aku tidak menyesal meninggalkanmu.” kata Dika yang bahkan menunjukku dengan wajah seriusnya
__ADS_1
Saat itulah, hatiku benar-benar hancur, bagaimana Dika dengan tega mengatakan hal ini padaku tanpa memikirkan apa yang sudah aku lakukan semua untuknya. Semua yang ku lakukan ternyata tidak memiliki arti selama hidupnya.
Dika pergi setelah dia mengatakan hal itu, tanpa melihat diriku yang benar-benar hancur. Aku menangis seorang diri bahkan tangisan itu benar-benar menyakitkan. Sesak yang bahkan membuatku tidak bisa tenang. Hancur yah semua hancur dengan begitu mudah baginya yang mengatakan semuanya.