
Seperti lupa waktu adalah kebiasaan ku saat bersamanya. Namun saat Dika ingin balik, aku malah menahannya dan tak ingin melepaskannya. Tapi mau bagaimana lagi. keadaan membuat aku dan Dika hanya bisa menghabiskan waktu sebentar saja.
****
Saat tertawa lepas menghampiri, tiba-tiba handphone Dika berdering
"Halo, kenapa kak ?" kata Dika
"Kamu dimana ?" kata kakak yang sekerja dengan Dika
"Oh ini aku mau balik kok kak, bentar lagi aku sampai" kata Dika
__ADS_1
"Oke deh" kata kakak
Dika pun mengakhiri telepon,l dan melihat aku
"Aku pulang ya" kata Dika
Aku hanya terdiam saat itu
"Udah dong jangan buat wajah seperti itu. Kita sudah dari tadi bersama. Masa kamu gini lagi sih ?" kata Dika
"Baiklah, begini saja besok aku akan jemput kamu nanti pulang kuliah. Kita main di tempatku, oke" kata Dika
__ADS_1
"Janji bakal jemput aku?" kataku
"Iya, besok kabari saja biar aku siap-siap" kata Dika
Aku pun hanya menganggukkan kepalaku, sedangkan Dika mengeluskan tangannya di kepalaku sambil tersenyum. Saat itu juga Dika langsung pergi. Sedangkan aku pun langsung mandi dan melanjutkan tidurku kembali. Yah karena sudah bersama cukup lama, Dika tidak memberiku kabar lagi sama sekali. Itulah sifatnya, padahal aku sudah sering bilang untuk selalu memberi kabar jika sudah pulang dari tempatku. Tapi Dika tidak mengingatnya, bahkan karena sikapnya seperti itu, aku yang sering memberi pesan padanya.
Sulit bagiku untuk mengubah sikap Dika, tapi aku percaya dia akan berubah seiring waktu nantinya. Karena bagiku, mengubah sikap seseorang itu adalah kebahagiaan seorang pasangan. Hubungan yang sudah begitu lama dijalani, dan begitu banyaknya lika-liku, tidak menyurutkan aku akan sosok dirinya. Bahkan semakin lama, perasaan ini semakin dalam untuk dirinya. Memang banyak yang mengatakan bahwa Dika adalah seseorang yang tidak beres dalam perasaan. Dika masih saja melirik perempuan-perempuan yang dekat dengannya bahkan memberikan perhatian yang lebih dari pada untukku. Bahkan Dika mengatur waktunya untuk bertemu dengan mereka tanpa sepengetahuan ku. Aku yang mengetahui hal itu, hanya berpura-pura bahwa itu hanya kunjungan teman.
"Tapi apakah kunjungan harus berdua di kafe ?"
Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi dengan sikap Dika yang selalu mengatakan hanya sebatas teman, membuatku pura-pura menerimanya, walau air mata ini mengalir. Bisa ku katakan, air mata yang sering ku dapat dari perilaku Dika. Tapi walau begitu, tetap saja aku mau bertahan dengannya yang tidak pernah mau memahamiku. Ku coba bertahan untuk luka yang lama, tapi luka baru terus datang dalam hubungan kami. Jika dikatakan rasa egois untukknya tidak pernah ku tunjukkan sebanyak dia memberikan padaku. Tapi nyatanya Dika tidak pernah memikirkan hal itu, karena hal itulah aku hanya bisa terdiam walau sebenarnya aku ingin memberitahunya.
__ADS_1
****
Pagi telah tiba, saatnya melakukan aktivitas seperti biasa. Walau sebenarnya rasa bosan itu sudah menghampiriku untuk kuliah. Tapi mau bagaimana pun semua harus aku jalani. Seperti biasa, setelah selesai siap-siap, aku jalan kaki untuk sampai ke jalan besar. Sesampainya disana, aku harus menyeberang dan menunggu angkot. Terkadang aku harus menunggu beberapa menit, karena angkutan umum yang bisa dikatakan masih sepi saat itu. Setelah menaiki angkutan umum, aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan mendengarkan lagu. Yah aktivitas yang menjadi rutinitasku selama perkuliahan ku berlanjut.....