Kandas

Kandas
Semangat Baru


__ADS_3

"Runaa, maaf malah jadi dikacangin, ha-ha," gelak Wina ketika menyadari aku sudah duduk di bangku dekat pintu masuk taman.


"Enggak apa-apa, Win. Namanya juga ketemu teman lama," sahutku maklum.


"Sampai ketemu lagi Runa. Nanti kalau aku ke Bandung bisa meet up ya?" pamit Beni dengan nada sok akrab.


"Oh ... Iya," sahutku canggung.


"Udah laper banget, ya?" tanya Wina dengan muka bersalah setelah Beni meninggalkan kami.


"Enggak terlalu. Jadi makan ketoprak kan?"


"Jadi, yuk. Ketoprak yang di ujung sana yang paling enak. Ada yang sengaja datang ke sini cuma buat makan ketoprak," terang Wina menunjuk tukang ketoprak yang di ujung jalan komplek taman.


"Rame banget, Win," sahutku melihat antrian di sekitar tulang ketoprak.


"Iya, selalu rame. Buruan yuk," ajak Wina setengah menarik tanganku.


"Nyari yang lain aja deh. Aku males ngantri buat makan aja. Selesai makan laper lagi yang ada karena kelamaan ngantri," tolakku.


Aku memang tidak terlalu suka makan di tempat yang ramai pembeli. Menurutku tempat makan yang nyaman itu yang tidak terlalu ramai dan waktu menunggu makanan tersaji pun tidak terlalu lama. Apalagi jika dalam kondisi lapar, tempat makan yang terlalu banyak antrian menurutku terlalu menyiksa.


"Yah, padahal aku mau kasih tau kamu ketoprak yang paling enak di sini," ujar Wina dengan wajah agak kecewa.


"Iya, sih. Tapi antriannya udah kaya antri sembako gitu," tunjukku ke arah gerombolan orang yang mengelilingi gerobak penjual ketoprak.


"Kalau bubur ayam, mau enggak?"


"Asal enggak terlalu rame, hayu aja," sahutku.


"Rame juga sih, tapi tempat nunggunya cukup nyaman," terang Wina.


"Ya sudah, yuk."


Kami berjalan meninggalkan area taman. Memasuki area perumahan. Tak jauh dari jalan raya, terlihat gerobak penjual bubur ayam yang diletakkan di depan pelataran sebuah rumah. Bagian beranda rumah itu dijadikan sebagai tempat berjualan. Pada bagian kanopi yang menutupi teras rumah tertulis "Bubur Ayam Sukabumi".


Beruntung tidak terlalu banyak pembeli yang antri. Walaupun agak susah mencari tempat duduk yang kosong. Wina memesan dua porsi bubur ayam bersama dua gelas teh hangat.


"Kok makannya enggak selera gitu? Kurang enak ya?" tanya Wina sambil mengaduk bubur di mangkoknya.


"Enak, rasa gurihnya pas. Bukan enggak selera, emang gaya makan aku kayak gini kan," sahutku menepis kekhawatiran Wina.


"Kita langsung beres-beres aja sampai rumah. Jam setengah sepuluh berangkat ke rumah sakit," terang Wina seolah menghapus kegundahan hatiku.


"Iya." Aku mempercepat suapan agar cepat sampai di rumah.


***


Wina masih memanaskan mesin mobil ketika aku baru seledai mandi. Air di Jakarta tidak sedingin di Bandung, tapi cukup menyegarkan untuk menghilangkan rasa gerah akibat keringat yang sudah menempel di kulitku.


"Sudah beres, Run?" Wajah Wina muncul di pintu.

__ADS_1


"Sudah, yuk."


Ketika akan menutup pintu kamar, aku baru ingat kalau ponselku masih tersambung dengan kabel charger. Sedikit tergesa, aku mengambil ponsel yang belum kunyalakan dari pagi dan menjenjalkannya ke dalam tas selempang kecilku.


"Run, nanti tante tinggal di rumah sini aja, enggak usah pulang ke Bandung dulu." Wina membuka percakapan setelah sempat hening sejak dari rumah.


"Nanti ngerepotin, Win," sahutku sungkan.


"Enggak kok, mama malah seneng adiknya ada di sini. Sebelum tante masuk rumah sakit kan udah tinggal di rumah sebulan. Mama jadi ada teman. Biasa berdua aja sama si bibi," celoteh Wina.


Kalau kupikir-pikir, jika ibu aku bawa pulang ke Bandung, kasihan juga ibu di rumah sendirian. Aku sudah mulai sibuk dengan berbagai tugas kuliah, lalu semester depan juga sudah mulai Kuliah Kerja Nyata.


Ah! Kepalaku pusing. Aku tidak ingin membebani keluarga maktuo, tetapi di sisi lain, aku juga tidak mampu mengurus ibu dengan sisa waktuku.


Apa aku sebaiknya ambil cuti kuliah?


Jika aku mengambil cuti kuliah, otomatis beasiswaku dicabut, belum tentu aku akan bisa mendapatkan beasiswa kembali jika track record sudah tidak baik. Jika aku memilih berhenti kuliah, sayang juga hanya tinggal beberapa semester lagi. Aku berasa dihadapkan pada pilihan sulit.


"Kamu jangan sampai drop juga mikirin, Run. Insya Allah, kalau pola makan dan pengobatannya dilaksanakan sesuai dengan anjuran dari dokter, pertumbuhan sel kankernya bisa ditekan. Peluang bertahan hidupnya juga bisa panjang. Divonis kanker tidak serta merta hidup pasien akan segera berakhir kok. Kamu harus kasih support buat ibumu biar semangat melawan penyakitnya," ujar Wina.


"Banyak kok penyintas kanker yang bisa bertahan hidup belasan tahun walaupun sudah divonis stadium lanjut. Asal pasiennya punya semangat untuk sembuh, lingkungannya juga memberikan dukungan," lanjut Wina.


Aku tercenung mendengar penjelasan Wina. Mencoba menerima setitik harapan yang dinyatakan oleh Wina barusan. Kalau untuk semangat juang ibu, tidak perlu diragukan lagi. Kemarin saja ketika bertemu, wajah ibu masih menyiratkan semangatnya, walaupun tubuhnya sudah terlihat lemah.


"Sekarang coba kamu sugesti diri, kalau kamu bisa menjadi supporting system tante untuk sembuh. Gimana cara pasien akan semangat buat sembuh, jika orang di sekitarnya sudah kehabisan harapan." Suara Wina kembali terdengar. Lembut, tapi tepat ke sasaran.


"Terima kasih ya, Win. Kemarin ketika maktuo bilang ibu kena kanker, aku merasa diberi tahu vonis mati buat Ibu," sahutku dengan suara serak. Tekanan di dada terasa kembali menyesakkan.


"Nangis aja, enggak usah di tahan. Biar nanti pas ketemu Ibumu, udah bisa ceria kembali," ujar Wina mengalihkan pandangannya dari jalanan padaku.


***


Setelah melewati beberapa titik kemacetan di jalanan ibukota, akhirnya mobil yang dikendarai Wina memasuki area parkiran gedung rumah sakit. Hatiku sudah sedikit tenang karena puas menangis selama di perjalanan.


Ternyata airmata memang mujarab untuk meluruhkan semua rasa yang tak mampu lagi diungkapkan dengan kata-kata.


Aroma obat-obatan dan disinfektan kembali menyambutku ketika memasuki pelataran rumah sakit. Suasana tempat ini tidak seseram pertama kali aku memasukinya. Entah karena saat ini siang hari, atau karena hatiku sudah tak digelayuti perasaan takut yang berlebihan seperti kemarin.


"Assalamualaikum," sapa Wina ketika dia membuka pintu kamar tempat ibu di rawat.


"Waalaikum salam," sahut suara dua orang perempuan yang ada di dalam kamar —suara ibu dan maktuo.


Wina berjalan terlebih dahulu di depanku, dia langsung menyalami maktuo—mamanya— dan ibuku.


"Si Indra kemana, Win?" tanya maktuo ketika melihat hanya aku dan Wina yang datang.


"Katanya ada kerjaan, Ma. Tadinya uda yang mau anter, tapi aku bilang tidak usah," sahut Wina sambil duduk di pinggir ranjang kosong di seberang ranjang ibu.


Aku mendekati ibu, mencium tangannya yang hanya tinggal tulang.


Tuhan, tolong kembali kan ibuku yang dulu, jeritku dalam hati.

__ADS_1


Anak mana yang tega melihat ibunya dalam kondisi seperti tak berdaya.


Wina dan maktuo memberikanku waktu dengan ibu untuk mengobrol berdua. Maktuo meminta Wina mengantarkannya pulang.


"Indak latiah Wina Uni? Baru datang lah diajak pulang," (Tidak capek Wina, Uni? Baru datang sudah diajak pulang) tanya ibu ketika maktuo hendak meninggalkan kamar.


"Inyo tu memang hobi jalan. Indak usah dipikian," (dia itu memang hobi jalan, tidak usah terlalu dipikirkan) sahut maktuo dengan kekehan suara seraknya yang khas.


"Nah, maktuo pulang sebentar ya, Run. Puas-puaskanlah bercerita sama ibumu," lanjut maktuo menepuk pelan pundakku.


"Iya Maktuo, terima kasih sudah jagain ibu semalam," ucapku.


"Sama-sama," sahut maktuo berlalu meninggalkan kami.


"Ntar malem aku jemput lagi sekalian anter mama, ya. Dah tante," ucap Wina melambaikan tangannya sambil menggandeng maktuo ke arah pintu keluar.


"Terima kasih, Sayang," sahut ibu dengan senyum khas yang membuat matanya seperti terpejam.


"Jadi cerita apa, nih yang ibu lewatkan?" tanya ibu dengan senyum menyelidik ketika hanya tinggal kami berdua di ruangan.


"Banyak," sahutku membalas senyum ibu.


Pagi ini wajah ibu sudah sedikit terlihat lebih bersemangat dibanding semalam.


"Ibu duluan yang cerita," pintaku memijat lembut kaki ibu, ritual yang selalu aku lakukan ketika bertemu ibu.


"Runa enggak marah sama ibu, kan?" tanya ibu dengan wajah sendu.


"Aku hanya sedih Bu, kenapa Ibu enggak terus terang saja dari awal kalau kondisi kesehatan ibu seperti ini." Airmataku kembali mengaburkan penglihatanku. Aku pikir ia sudah habis tumpah semua selama di perjalanan.


"Sudah tidak usah menangis. Mungkin ini cara Tuhan menyuruh kita untuk lebih mendekat pada-Nya," hibur ibu.


"Insya Allah, lusa ibu sudah bisa pulang. Kondisi ibu sudah makin membaik," lanjut ibu.


"Aku mau temani ibu selama proses pengobatan," ujarku dengan suara bergetar.


Setegar apapun ibu, hatiku masih belum mampu menerima kenyataan pahit ini. Yang kubayangkan adalah bagaimana menyakitkannya proses pengobatan kanker ini.


"Kamu pulang saja ke Bandung ...."


"Tapi aku tak enak hati merepotkan maktuo," potongku.


"Sudah, dalam kondisi seperti ini hilangkan perasaan seperti itu. Ibu mau kamu fokus saja ke kuliahmu."


Hening menjeda. Aku seperti kehabisan kata-kata. Tidak tau harus mengajukan alasan apa lagi agar aku bisa mendampingi pengobatan ibu.


"Jangan sampai karena kejadian ini, semangat belajarmu menurun, kamu harus makin semangat. Biar cepat lulus." Ibu kembali tersenyum.


"Jangan sia-sia kan perjuangan kita beberapa tahun ini," ujar ibu kembali.


Mencoba memcerna kalimat demi kalimat yang ibu sampaikan. Ya, aku tidak boleh patah semangat, semakin cepat aku lulus kuliah, semakin cepat aku bisa mendampingi ibu. Padahal ibu yang divonis penyakit mematikan itu, malah beliau yang menyemangatiku.

__ADS_1


"Iya, bu. Aku akan fokus kuliah. Ibu juga harus semangat buat terus bertahan." Akhirnya aku mampu menepiskan airmata yang menggantung.


Jika ibu bersemangat seperti ini, kenapa aku harus terus-terusan meratapi nasib ibu. Aku juga harus mampu memberikan sugesti positif terhadap diriku, agar mampu menyemangati ibu melewati masa-masa sulit ini. Penyakit ini memang tidak bisa sembuh dengan mudah, tapi jika disiplin menjalani pengobatan dan menjaga pola hidup, bisa memperpanjang harapan hidup pasien. Aku harus tanamkan itu dalam pikiranku.


__ADS_2