
Jadwal pelaksanaan KKN pun tiba. Hari ini aku dan kelompok KKN-ku berangkat dari kampus menggunakan bis yang kami sewa, karena kondisi desa yang akan kami tempati tidak memungkinkan mahasiswa yang akan melaksanakan KKN untuk membawa kendaraan pribadi.
Matahari baru saja muncul dibalik dedaunan pohon yang masih diselimuti embun. Cahayanya yang keemasan terpantul membuat pagi ini terasa begitu cerah dengan latar belakang langit dengan warna birunya yang terang. Tak ada awan yang terlihat menggantung. Begitu tenang. Berbeda dengan keadaan sekitarku yang begitu riuh. Ketua kelompokku masih sibuk mengurusi anggota yang belum datang. Harusnya kami sudah berangkat pukul tujuh, setengah jam yang lalu. Namun sampai saat ini, beberapa anggota kelompok masih saja belum terlihat batang hidungnya.
Aku masih betah menatap langit dengan rasa tenang yang dihadirkannya. Duduk tenang di pinggir jendela, menatap keluar bis, menunggu anggota kelompok lain yang masih belum datang.
"Di sini kosong?" tiba-tiba suara seorang cowok bertubuh tambun dengan kacamata berbingkai hitam, serta memakai jaket baseball merah memecah ketenanganku. Menunjuk ke arah bangku yang ada di sebelahku.
"Eh, kosong kok."
"Aku, duduk di sini, ya?" ujarnya seolah minta izin.
"Iya, silahkan." Aku menggeser duduk, lebih merapat ke sisi jendela, menarik ransel yang menempati setengah ruang kosong bangku itu.
"Eh, kenalin aku Johan. Kamu Runa, kan?" Dia mengulurkan tangan padaku.
"Iya." Aku menyambut uluran tangannya, merasa sedikit tidak enak hati karena pada saat perkenalan anggota kelompok kemarin, aku tak memperhatikan nama anggota kelompokku.
"Tumben enggak bareng Arjun," ujarnya setelah duduk, menempatkan tas ranselnya ke rak atas.
"Eh, kamu kenal Arjun?" tanyaku tersentak.
"Ya kenal, kan aku teh teman sekelas Arjun." Johan menyeringai memamerkan gigi yang dilapisi kawat behel berwarna hitam.
"Eh, iya, ya?"
Pikiranku kembali menarik Arjun masuk. Padahal aku telah berusaha menghalangi untuk tak memikirkannya lagi. Aku ingin momen KKN ini bisa membuat rasa yang terlanjur mengakar di hatiku bisa kusingkirkan.
"Kamu gaulnya sama Arjun aja, sih. Jadi pada ga kenal teman yang lain."
__ADS_1
Aku hanya tertawa rikuh, bingung hendak menanggapi seperti apa, karena memang kenyataannya aku tak mempunyai banyak teman. Baik di jurusan, maupun di Fakultasku. Temanku bisa dihitung dengan jari. Bukan aku berniat mengasingkan diri, hanya saja semenjak kuliah, bagiku waktu amat sangat berharga. Terlebih lagi, ketika bersama Arjun, aku seolah tak membutuhkan yang lain. Sehingga tak ada waktu bagiku untuk bergaul dengan teman sekelas lainnya.
Akhirnya mendekati pukul delapan, semua anggota kelompok telah berkumpul, ditimpali oleh riuh suara omelan dari Riana—ketua kelompok kami— gadis berperawakan agak maskulin, dengan rambut cepak, mahasiswi Fakultas Teknik Geologi.
Bis yang membawa kami mulai bergerak meninggalkan area kampus. Melewati Gedung Sate yang menjadi ikon kota Bandung. Gedung tua itu terlihat begitu angkuh dan dingin. Sedingin hatiku saat ini.
Ketua kelompok mulai membagikan selebaran yang berisi susunan agenda perencanaan kegiatan selama melaksanakan kegiatan KKN yang telah disusun beberapa hari sebelum keberangkatan. Aku dan Johan kebagian penanggung jawab bidang Ekonomi, karena kami memang dari Fakultas Ekonomi.
"Sudah ada gambaran belum, kira-kira untuk bidang Ekonomi kita mau ngadain penyuluhan apa?" tanya Johan dengan lihat Sunda mendayu.
"Kemarin aku kepikiran untuk penyuluhan mendirikan koperasi, karena kemarin pas survey kata kepala desanya kan mereka masih menjual hasil pertanian pada tengkulak."
"Eh tos kepikiran sama kamu teh, aku kamari teu nyimak pisan si bapak teh nyarios naon." (Eh sudah kepikiran sama kamu, aku kemarin tidak menyimak bapaknya ngomong apa) Johan menggaruk-garuk pelipisnya.
"Lah kamu ngapain aja atuh, jauh-jauh kesana malah buang-buang waktu."
"Ha-ha atulah, Run. Kan kemarin juga masih survey, ga perlu kaku banget lah," sahutnya santai.
Selesai membahas masalah program kerja selama KKN, ketua kelompok mengadakan game untuk membuat kami menjadi lebih akrab antara satu sama lain. Game yang mereka pilih adalah truth or dare. Mereka yang ditunjuk akan memilih, menerima tantangan atau memilih menjawab Jujur pertanyaan yang akan ditanyakan.
Tantangan yang diberikan lebih banyak yang konyol. Sehingga suasana bis menjadi riuh akan tawa kami. Akhirnya giliranku menjadi target sasaran. Tak ingin terlihat konyol karena diberi tantangan yang tak masuk akal, aku memilih truth—menjawab jujur apa yang akan ditanyakan anggota lain. Johan kebagian yang memberi pertanyaan padaku.
"Kamu jawab jujur, ya," ujarnya dengan senyum mencurigakan.
"Iya, jangan nanya yang aneh-aneh tapinya." Aku mencoba memperingatkan.
"Huu, mana seru!" sorak Vanya dari bangku tengah.
Aku hanya tertawa kecil. Sudah lama sekali rasanya aku tak berbaur dengan banyak orang seperti ini. Semenjak bersama Arjun, aku lebih memilih untuk menemaninya menjauhi keramaian. Bukan karena dia yang meminta, hanya saja aku merasa aku harus membantunya mengatasi fobia. Trauma akan kehilangan adikku karena korban bully, membuatku merasa perlu menemaninya agar kejadian seperti adikku tidak terulang.
__ADS_1
"Sudah siap belum?" teriak Johan dari arah bangku tempatku tadi duduk.
"Sudah," sahutku pasrah, melihat gelagat Johan.
"Kamu sudah putus sama Arjun, ya?" tanyanya lantang.
Seketika wajahku terasa memanas. Aku terdiam, tak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan Johan. Hubunganku dengan Arjun adalah hal yang tidak ingin ku bahas saat ini.
"Huuu, itu mah kamu aja yang pengen pdkt!" sorak yang lain.
"Eh, tapi kan aturannya enggak boleh nolak loh!" protes Johan.
"Emangnya boleh ya, nanya hal yang bersifat pribadi?" tanyaku mengajukan keberatan.
"Kan itu enggak terlalu rahasia atuh!" kembali Johan berteriak mengalahkan keriuhan suara yang lain.
"Boleh nanya yang lain, enggak? Aku enggak nyaman ngejawab pertanyaan ini," pintaku memelas.
"Yang lain, Jo. Jangan bikin Runa nangis." Vanya seolah peka dengan apa yang kurasakan.
"Yah! Enggak seru!" tukasnya mengibaskan tangan sambil mencebik.
"Lagian kamu mah, urusan yang begini nanya di belakang aja atuh! Malah nanya di depan umum," sembur Sheila menoyor kepala Johan dari belakang.
"Iya deh, aku nanya yang lain." Akhirnya Johan mengalah. "Kamu masih single, kan?"
"Huu!" sorakan serempak kembali terdengar.
"Ngecengin sih ngecengin, Jo. Jangan terlalu kelihatan banget atuh!"
__ADS_1
"Sekarang ya jelas single, belum jadi nyonya," kilahku, memaksa untuk tersenyum.
Sudah saatnya aku mulai menata hati, mulai untuk mengosongkannya. Agar tak ada lagi rasa getir yang kurasa ketika namanya yang selama ini tertanam di hati, disebut. Biarkanlah dia menjadi mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan bagiku.