Kandas

Kandas
Riko Patah Hati


__ADS_3

Udara dingin kota Bandung bertiup masuk di sela lubang angin kamar. Membuatku makin mengeratkan gulungan selimut. Jam digital di dinding menunjukkan angka 04.25. Sebentar lagi azan subuh berkumandang, jam weker pun akan berteriak membangunkan. Namun rasa dingin membuat malas untuk keluar dari selimut.


Benar saja, tak lama setelah gulungan selimut membelit erat tubuhku, azan subuh berkumandang merdu. Membangunkan jiwa-jiwa yang masih berkemul dalam dekapan mimpi. Selang beberapa menit kemudian, jam weker berteriak nyaring. Dengan berat hati, aku mengucapkan salam perpisahan pada selimut hangatku.


Selesai shalat subuh, mataku benar-benar terasa segar. Tadinya aku sempat terpikir untuk melanjutkan mimpiku setelah menunaikan shalat. Ternyata tubuhku memang tidak bisa diajak bermalas-malasan ala kaum rebahan.


Lebih baik aku meneruskan proyek cover lagu yang kemarin sempat tertunda karena menemani Riko bermalam minggu. Baru keluar dari kamar, hidungku menangkap aroma sedap omelet dari dapur. Heran, darimana aroma ini berasal.


Rasa penasaran membuatku menuruni tangga yang terletak di seberang pintu kamar. Sejujurnya ada perasaan takut juga, mengingat di rumah tidak ada orang sama sekali.


Begitu menginjak anak tangga terakhir, di dapur yang terletak di samping tangga terlihat sesosok perempuan lampai yang tengah asyik memasak di depan kompor.


"Mam?" panggilku.


"Eh, sudah bangun, Sayang?" Mama berbalik menghadapku.


"Mama kapan pulang? Kok enggak bangunin aku?" Aku duduk di kursi bar menghadap mama.


"Sepertinya mama sampai rumah pukul dua belas, deh. Kata pak Karsa kamu juga pulang sudah agak larut. Jadi mama takut ngeganggu kamu," tukas mama sambil meletakkan sepiring omelet panas lengkap dengan mashed potato di hadapanku.


Wanginya benar-benar menggoda. Mama memang paling juara kalau urusan memanjakan perut. Tanpa menunggu mama menyuruhku makan, aku langsung menyantap hidangan yang ada dihadapanku.


"Pelan-pelan makannya, Jun," protes mama meletakkan segelas susu hangat di samping piringku.


"Au haper anget, Ma," ujarku dengan mulut penuh.


"Hei, kemana adabmu. Mulut penuh begitu malah ngomong," tegur mama, menepuk pelan lenganku.


"Maaf, Ma. Abis laper banget," sesalku setelah makanan yang ada di mulutku berpindah ke lambung.


"Semalam makan apa?" Mama ikut duduk di sampingku.


"Nasi bakar di Punclut." Aku meletakkan sendok dan garpu di atas piring yang telah kosong, karena semua isinya berpindah ke dalam perutku.


"Wah, malam mingguan ya?" goda mama.


"Iya, bisa dibilang begitu," kekehku mengingat wajah Riko yang kemarin menghiba-hiba mengajakku ikut.


"Sama Runa?"


"Enggak, Ma. Runa lagi ke Jakarta, ke tempat ibunya."


Aku mendadak kangen gadis berlesung pipi itu.


"Terus kamu malam mingguan sama siapa? Enggak biasanya mau keluar pas malem minggu." Suara menyelidik mama mulai menajam, bahkan sorot matanya ikut memaksaku untuk bercerita.


"Si Riko, Ma. Dia minta temenenin buat jalan sama gebetannya. Pakai acara mohon-mohon pula," kekehku.


"Oo ... kirain sama siapa."


"Terus, mama kok pulang cepat? Bukannya kata mama mau seminggu di Solo?"


"Enggak seneng mama pulang cepat?" Wajah mama cemberut.


"Ya Allah, Mama. Kenapa jadi sensi gini. Aku kaget aja tiba-tiba ada aroma omelet di dapur. Mana pagi-pagi pula. Untung anak mama pemberani, kalau enggak udah gemeteran di atas mah, Ma," tukasku.


"Ha-ha, maaf ya Jun. Mama sudah berprasangka buruk sama anak ganteng mama," ujar mama mencubit gemas pipiku.

__ADS_1


"Adaw! Mama ih, anaknya udah bangkotan gini masih diperlakukan kayak anak kecil," protesku, menggosok pipi yang terasa panas akibat cubitan mama.


"Iya-ya. Anak Mama udah bujang. Mama udah bukan wanita satu-satunya di hati Juna, ya," sahut mama pelan.


"Sampai kapanpun, posisi mama tak akan pernah begeser di hati aku, Mam. Enggak usah sedih begitu," hiburku memamerkan senyum andalan.


"Terima kasih, Sayang," ucap mama lembut. Mengelus pipiku sebentar seperti yang sudah-sudah. "Mama ada janji dengan klien pagi ini, mama tinggal, ya," pamit mama.


"Ok, Mam. Aku juga mau lanjutkan rekaman."


Mama beranjak dari kursi bar, hendak mengambil piring bekas makan.


"Biar aku yang cuci, Mam." Aku menahan tangan mama yang akan mengangkat piring kosong dihadapanku.


"Uhm, ok. Thanks ya, Honey." Mama berlalu meninggalkanku seorang diri, di dapur.


***


Selesai membereskan perkakas makan, aku bergegas menuju lantai atas. Mengambil ponselku di dalam kamar. Mengecek pesan yang masuk. Tak ada pesan dari Runa.


Huft, kenapa aku jadi seposesif ini, rutukku dalam hati.


Ada beberapa pesan yang masuk, dari Riko.


Kenapa lagi anak ini. Pasti membahas soal Leona lagi. Semoga kali ini kabar baik.


05.30 : [Jun, lo ada acara ga hari ini?] tulisnya.


Ini pasti masalah si Leona lagi deh. Bagus juga pengaruh cewek ini buat Riko. Biasa jam segini dia masih molor. Atau malah dia jadi tidak bisa tidur karena kepikiran terus.


06.00 : [Enggak. Kenapa?]


Sepertinya dari tadi dia menunggu balasan dariku.


06.00 : [Gue ke rumah lo, ya.]


06.00 : [Mo cerita si Leon lagi? 🤣🤣]


06.01 : [Iya.. Enggak kemana-mana kan lo?]


06.01 : [Enggak]


06.02 : [Ya udah, gue jalan]


Sambil menunggu Riko datang, kucoba memainkan kunci-kunci nada yang sempatku aransemen ulang. Mencoret beberapa nada yang terdengar agak sumbang.


"Jun...." ketukan di pintu menghentikan jariku memetik senar gitar. Suara mama memanggil.


"Ya, Ma?" Aku melongok keluar kamar.


Kulihat mama sudah tampil anggun. Kali ini mengenakan celana palazzo berwarna cokelat dipadankan dengan kemeja berwarna pastel. Walaupun mama sudah menginjak umur lima puluh tahun, kecantikannya belum memudar. Ditambah dengan gayanya yang modis. Membuat siapa saja tak akan menyangka umurnya sudah setengah Abad.


"Mama berangkat dulu, ya. Buat makan siang sudah mama siapkan di kulkas, tinggal dihangatkan."


"Terima kasih, Mam." Aku mencium tangan mama penuh hormat.


Sesibuk apapun mama, dia selalu menyediakan makanan yang bisa kusantap dengan cepat, ketika beliau sedang tidak ada di rumah untuk menyediakan makanan untukku. Mama memang ibu yang terbaik versiku.

__ADS_1


***


Sepeninggal mama, niatku menyempurnakan nada aransemen untuk cover lagu yang sudah kurencanakan menguap. Wajah Runa kembali membayang di pelupuk mata, besok aku sudah bisa bertemu dengannya. Hanya saja waktu terasa makin melambat.


"Woi! Bengong aja! Lagi mikirin Runa lo ya?" sebuah suara cempreng dengan tepukan kasar bersarang di bahuku.


Untung saja tanganku tidak reflek memukul kepalanya dengan gitar. Sayang gitarnya.


"Lo, ngapain coba pagi-pagi ke sini. Gue kan lagi nyari inspirasi," rutukku.


"Gawat, Jun."


"Segawat apaan masalah lo ama gebetan lo itu?" tanyaku setengah geli melihat wajah Riko yang seolah dunianya baru saja runtuh.


"Dia ternyata suka, lo Jun!"


"E-eh jangan fitnah lo, ya," jawabku bingung.


Bagaimana mungkin Leon menyukaiku.


"Dih, gue enggak bohong, suer. Nih lo baca sendiri deh chat dari si Vita." Riko menyerahkan ponselnya padaku.


Aku membaca berulang. Ternyata benar


apa yang Riko katakan. Pada percakapan whatsapp yang Riko tunjukkan, memang benar Vita mengatakan bahwa cowok yang Leona suka adalah aku. Di pesan itu di sebutkan juga bahwa aku adalah cinta pertama Leona.


Aduh! Kenapa malah jadi rumit begini.


"Terus sekarang gimana?" Aku menyerahkan ponsel kembali pada Riko.


"Ya sudah, game over," kekehnya berusaha terlihat cuek.


"Kenapa enggak lo pepet terus? Kali aja perasaannya jadi berubah." Aku mencoba memberi saran.


"Sekarang gue tanya lo aja deh. Perasaan lo sama Runa bisa berubah enggak?"


"Lah, kenapa jadi bahas gue?"


"Ya lo rasain ke diri lo aja. Lo bisa enggak ngelupain Runa begitu saja?"


"Ya enggak sih." Aku mengerti kemana arah pembicaraan Riko.


Soal perasaan memang tak bisa dipaksakan.


"Takutnya entar, tiap ngeliat gue, yang keinget sama dia malah lo," kekeh Riko.


Rumit memang, jika membahas soal hati dan perasaan. Tak ada solusi sederhana ketika berurusan dengan hati. Hal yang sederhana saja bisa jadi rumit jika hati sudah terlibat. Kasian Riko, disaat dia mulai serius, malah seperti ini.


"Yang sabar ya, Bro. Mungkin Tuhan sedang nyiapin cewek yang pas buat, lo," hiburku sok bijak.


"Siga nu bener maneh ah, Jun," (kayak yang benar aja kamu) kekehnya mencaplok sepotong brownies yang ada di meja.


"Yaah, Ko. Itu kan brownies yang dikasih Runa buat gue. Malah lo makan," gerutuku.


"Ya elah, lo tinggal minta bikinin lagi aja. Enggak kasian lo liat temen, belum apa-apa cintanya udah kandas," sungutnya menelan brownies di mulutnya dengan cepat.


Ya sudahlah. Jika memang brownies pemberian Runa bisa bermanfaat untuk menghibur teman. Aku relakan saja. Toh nanti ketika Runa kembali ke Bandung, aku bisa makan sepuasnya.

__ADS_1


Wahai sang waktu, cepatlah bergerak. Agar aku bisa segera bertemu gadis pujaan hatiku. Aku sudah tak mampu lagi berlama-lama bersama rindu.


__ADS_2