Kandas

Kandas
Terbiasa


__ADS_3

Setelah beberapa minggu, Dika kembali padaku seperti tidak terjadi apa-apa, bahkan Dika mengajak ku makan diluar tapi dengan biaya dariku. Yah sudah biasa dengan kehadiran Dika yang selalu saja menggunakan uang ku dibandingkan dengan uangnya. Bisa dikatakan, Dika yang sudah bekerja selama dua bulan dari tempat kerjanya yang baru, tidak pernah memberiku sedikit saja. Bukannya aku ingin merasakan uang darinya, karena bagiku uang yang saat ini ku gunakan masih bisa memenuhi kebutuhan ku. Tapi Dika, dia bahkan tidak pernah mengatakan apa-apa padaku, kapan dia gajian, berapa uang gajinya dan lain-lainnya mengenai kerjaan. Dika tidak pernah mengatakan apa-apa padaku, tapi setiap saat, Dika selalu saja meminjam uang bahkan meminta uang padaku. Dan aku tidak pernah menagih apa-apa pada Dika. Bukan karena aku kaya atau bagaimana sehingga aku selalu memberi Dika uang, tapi karena aku merasa empati melihat Dika yang selalu saja berwajah murung. Aku yang sudah biasa dengan sikap Dika, hanya bisa mengiyakan apa yang Dika lakukan padaku. Dan jelas saja, aku tidak bisa juga menghindari Dika yang kini hanya tempatku mengadu akan segala yang aku rasakan saat ini. Aku berusaha menjadi yang terbaik atau bahkan memberikan sesuatu yang bisa membuatnya terbantu walau itu hanya hal sederhana.


*****


Dika yang sudah datang di depan kost, membuat aku yang awalnya tidak au bertemu dengannya, akhirnya aku menemuinya.


“Ayo keluar” kata Dika


“Kemana ?” kataku

__ADS_1


“Ayolah” kata Dika


Aku yang mendengar perkataan Dika, hanya bisa mengikutinya. Aku pun langsung mengambil jaket dan dompetku saat itu juga. Setelah itu, kami pergi mengelilingi kota yang penuh dengan cahaya lampu. Dan akhirnya berhenti pada satu tempat, dimana tempat yang bisa membuat aku dan Dika menikmati malam dengan makanan yang akan dipesan.


“Kamu bawa uang kan ?” kata Dika


“Sekali-kali kamu yang traktir kenapa ?” kataku


“Banyak alasan, ya udahlah” kata ku

__ADS_1


“Saatnya kita memesan” kata Dika yang langsung memesan tanpa melihat reaksiku


Yah itu adalah kebiasaan Dika yang bahkan tidak pernah berubah. Dengan kata lain, Dika adalah orang yang tidak mau rugi atau bisa dikatakn orang yang tidak mau berbagi. Sikapnya membuat aku semakin tahu, bahwa Dika akan berpikir dua kali untuk menyenangkan perasaan pasangannya. Jelas saja, karena hubungan yang kami jalani yang sudah lama, aku tidak pernah merasakan hasil jerih payahnya bahkan aku yang selalu membiayain setiap kami keluar untuk makan. Setelah Dika memesan makanan, akhirnya Dika kembali memainkan handphonenya tanpa melihat atau berbicara dengan ku.


“Apa harus kamu bermain handphone ?” kataku


“Aku sengaja mengajak kamu kesini karena aku membutuhkan wifinya” kata Dika


“Lalu gunanya aku disini apa ?” kataku

__ADS_1


“Tentu saja menemani aku lah, jadi apa lagi” kata Dika


Aku pun menyandarkan badanku pada sandaran kursi, karena semua nya tidak sesuai dengan keinginanku. Karena nyatanya Dika masih saja sibuk dengan dunianya. Dunia yang tidak bisa menjauhkan diri dari handphone. Padahal dulu waktu aku yang selalu menggunakan handphone saat bersamanya, maka dia akan marah jika tidak ku perhatikan. Tapi sekarang Dika yang melakukan hal yang sama padaku. Dan jelas saja aku hanya bisa terdiam dengan waktu yang lama berputar. Bahkan aku berharap saat bersamanya cepat berlalu, padahal dulu saat bersamanya, aku selalu berharap waktu jangan cepat berlalu karena bagiku bersama dia adalah hal yang istimewa, tapi sekarang semua kebalikan dari apa yang aku rasakan dulu


__ADS_2