Kandas

Kandas
Tak Diakui


__ADS_3

Kami pun melakukan hari-hari seperti biasa, bahkan kami lebih banyak menghabiskan waktu ditengah malam, saat Dika sudah pulang dari tempat kerjanya. Bahkan jika Dika merasa lelah, Dika akan langsung pulang, namun pamit terlebih dahulu kepadaku. Bahagia tentu saja, bahkan aku berharap Dika akan selalu bersikap seperti ini padaku. Karena bagiku dia sekarang akan menjadi penyemangatku untuk segala aktivitasku. Semua memang butuh proses dan aku berharap Dika selalu melakukan hal ini padaku. Memberi waktu padaku walau itu hanya beberapa menit saja, itu sudah menjadi kebahagiaan yang tidak dapat ku ungkapkan.


*****


Awalnya ku pikir akan bertahan sampai kapan pun, tapi lambat-laun, semua kembali seperti dulu. Seperti cuek yang tidak pernah ada perubahan, bahkan menghabiskan waktu dengan teman-teman perempuan tanpa melihat aku yang sudah menunggunya. Aku semakin jenuh dengan sikap Dika yang tidak ada habisnya. Selalu bertengkar hanya karena waktu yang selalu direbut oleh teman sekerjanya. Walaupun aku marah, Dika selalu tidak mempedulikan perasaan ku, bahkan Dika terkadang dengan beraninya memamerkan hubungan pertemanan mereka kepadaku.


Aku yang sudah terbiasa melihat hal itu, hanya terdiam tanpa mengatakan apa-apa. Karena nyatanya semua benar-benar membuat ku seperti boneka yang kini sudah mati rasa. Dika yang selalu menceritakan perempuan yang lagi mendekatinya, semakin hari semakin membuat ku kesal, hingga akhirnya rasa kesalku pun memuncak


“Apa kamu senang direbutin oleh banyak wanita?” tanyaku pada Dika


“Apa yang kamu katakan?” kata Dika


“Kamu tidak pernah berubah, meskipun aku selalu mengatakan hal ini” kataku


“Aku sudah katakan padamu, bukan salahku jika aku setampan itu di depan mereka” kata Dika dengan pedenya


“Tampan ?, Yah kamu memang tampan bahkan karena tampan mu membuat mereka terpesona akan hal itu” kataku


“Kalau kamu tahu akan hal itu, berarti itu bukan kesalahanku” kata Dika

__ADS_1


“Apa kamu tidak lelah ?” kata ku


“Lelah karena apa, karena mereka?. Tentu saja tidak, melainkan aku menyukai hal itu” kata Dika


“Tapi aku lelah Dika, aku lelah yang harus bersabar mendengar kamu selalu berbicara mengenai tentang mereka saat bersamaku” kata ku marah


“Apa sih kamu ini, gak usah aneh-aneh” kata Dika


“Aneh- aneh katamu, coba aku tanya sama kamu, mereka tahu gak kalau kamu punya pacar ?” kataku


“Tentu saja tidak, mereka tahu kalau aku masih sendiri saat ini” kata Dika tanpa memikirkan perasaanku


“Tentu saja penyelamatku” kata Dika


“Aku ini pacarmu, bukan penyelamatmu. Bahkan kamu sendiri tidak mengakui aku sebagai pacarmu” kataku


“Pacar bukan berarti harus diakui di depan teman-teman kan ?” kata Dika


“Apa ?” kataku heran

__ADS_1


“Kitakan gak tahu kita bisa bersama atau gak nantinya, lebih baik saat ini kita seperti ini daripada nanti kita mengakui di depan teman-temanku padahal besoknya sudah putus” kata Dika


“Apa kamu sadar dengan yang kamu katakan itu ?” kataku


“Tentu saja, dan itu tidak salah” kata Dika


“Aku dan kamu sudah menjalani hubungan 4 tahun lebih, tapi hingga saat ini kamu tidak mengakui aku sebagai pacarmu di depan teman-temanmu. Sedangkan aku selalu membanggakan mu di depan teman-temanku” kataku


“Itukan hak kamu melakukan hal itu” kata Dika


Mendengar perkataan Dika, aku hanya terdiam dan menangis seorang diri


“Apakah kamu harus terus menangis gak jelas seperti ini ?” kata Dika


Aku tetap tertunduk dan merasa hancur


“Ahh terserah kamu saja, aku lelah” kata Dika yang langsung pergi membiarkan aku seorang diri menangis di kegelapan malam.


Aku kembali kecewa pada hubungan yang kini semakin renggang untuk ku pertahankan. Lelah berpura-pura bahwa semua baik-baik saja yang berakhir pada kesendirian seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2