Kandas

Kandas
Mendadak Bucin


__ADS_3

Aku meninggalkan stasiun setelah kereta yang membawa Runa benar-benar hilang dari penglihatan. Suasana stasiun juga sudah mulai sepi. Tak begitu banyak penumpang yang berlalu lalang di sekitar stasiun.


Aroma kopi dan butter dari kios penjual roti menggoda penciumanku, mengajak perut turut berteriak, mengingatkan kalau siang ini belum diisi. Aku tak pernah mampu menolak aroma roti yang baru matang.


Kulangkahkan kakiku ke salah satu kios yang berada tak jauh dari pintu keluar, membeli dua potong roti beraroma kopi dan sebotol air mineral. Setidaknya bisa mengganjal perutku yang protes, sebelum kuisi dengan makanan yang memadai.


Begitu keluar area stasiun, kemacetan kembali menyambutku. Bandung sudah bukan tempat yang nyaman lagi dikala akhir minggu. Setiap sudut kota ini akan dipenuhi mobil dengan pelat nomor luar kota.


Aku selalu berpikir, apa yang mereka cari dari tempat yang sudah menjadi langganan macet ini, tetapi setiap orang punya selera yang berbeda. Mungkin bagiku tidak ada yang menarik dari tempat yang dipenuhi kemacetan di setiap sudutnya, tapi bagi orang lain mungkin menjadi suatu kepuasan tersendiri bisa menikmati akhir pekan di kota yang berhawa sejuk ini.


Tengah asyik berkutat dengan pikiran yang kusut karena macet, ponselku bergetar. Aku berharap Runa yang menelpon, mengatakan kalau dia sudah kangen. Ha-ha agak lebay memang, namanya juga orang baru jadian.


Tanpa melihat siapa yang menelpon, aku menekan tombol pada headset yang sedari tadi sudah menempel di telingaku.


"Halo."


"Jun, lagi dimana?" sapa suara cempreng di seberang sambungan, suara Dimas salah seorang teman sejurusanku.


"Lagi sama Runa enggak?" lanjutnya.


"Enggak, kenapa emangnya?" tanyaku heran.


"Gue takut ganggu aja, he-he," kekehnya.


"Emang mau ngapain?" tanyaku masih dengan nada penasaran.


"Biasa, mau ngajak lo nge-DOTA," Suara cempreng Dimas seolah mengacak-ancak gendang telingaku.


"Main di rumah gue aja, gue males kemana-mana macet gini," sahutku.


"Ya emang gitu maksud kita, mah. Di rumah lo kan wifi-nya kenceng, he-he," kekeh Bima.


Teman dekatku di jurusan memang paling senang bermain game online dirumah. Alasan utamanya karena sambungan internetnya.


"Ya sudah, lo duluan aja. Minta bukain aja pintu sama pak Karsa, takut gue kelamaan dijalan."


"Ok, deh, Bro. Gue jalan ke rumah lo."


"Siapa aja emang yang ikut?"


"Biasa ... Gue, Riko, Apeng sama Cuplis."


Mereka berempatlah yang masih terus kompak bertandang ke rumah. Ada beberapa yang bilang mereka masih betah berteman denganku hanya karena memanfaatkan fasilitas di rumahku saja, tapi aku tak peduli. Setidaknya merekalah yang sering menemaniku menghabiskan waktu weekend atau ketika sedang tidak bersama Runa. Namanya juga para jomblo, jadi saling menghibur.


Hampir satu setengah jam aku terjebak kemacetan di jalan Pasupati. Perjalanan yang seharusnya bisa ku tempuh dalam waktu setengah jam saja kalau lancar, jadi lebih lama. Untung saja aku tadi sempat membeli roti, jadi bisa sedikit mengganjal perutku yang sudah riuh.


Pak Karsa seperti biasa, bergegas membukakan pintu gerbang ketika mobilku merapat dan menyambutku dengan sapaan ramahnya.


"Sore, Aden. Teman-teman Aden sudah pada datang," sapa beliau.


"Oh-iya Pak. Terima kasih."

__ADS_1


Memasuki area car port, motor matic Dimas dan Riko sudah berjejer rapi di sana.


"Naah, tuan rumah akhirnya datang," sorak Cuplis ketika melihat wajahku muncul dari balik pintu.


"Lama banget, Bro. Dari mana emang lo?" tanya Riko yang tengah mengisi gelasnya dari dispenser yang berada di dekat dapur.


"Abis dari stasiun," sahutku singkat, mencari sesuatu di kabinet dapur untuk meredam perut yang sudah demo.


"Kalian sudah pada makan? Gue mau bikin spaghetti, pada mau enggak?" tawarku pada gerombolan yang tengah asyik menghabiskan sisa cemilan di meja ruang tengah.


"Ya mau, lah namanya dikasih, apa aja sikaat," sahut Cuplis.


"Gue ikut bantuin deh, ga enak hati gue tinggal makan," ujar Riko.


"Sejak kapan lo punya manner?" gelakku.


Biasanya juga dia tinggal makan sama seperti yang lain.


"Gue mau interogasi, lo," balasnya setengah berbisik.


"Buat?" tanyaku tidak mengerti kemana arah pembicaraan Riko.


"Cara lo nembak Runa kemaren." Riko menaik turunkan alisnya dengan cengiran lebar.


"Kenapa lo mau tau? Kan lo yang suruh gue nembak kemarin."


"Gue juga lagi deketin cewek, modelnya kayak Runa juga," bisiknya.


"Woi, lo ngapain berdua pada bisik-bisik? Jangan sampe lo taro racun aja di makanan ntar," teriak Cuplis dari arah ruang depan. Memang posisinya berhadapan dengan dapur, sehingga langsung terlihat segala kegiatan di dapur.


"Anak mana emang?" tanyaku penasaran dengan cewek yang di taksir Riko.


Walaupun ini anak jomblo, sebenarnya dia bukan karena tidak ada yang naksir, tapi selama ini dia selalu bilang belum berniat buat pacaran.


"Anak Fikom, baru pindah ke kosan gue sebulan ini," sahutnya sambil memotong bawang bombay, sesekali dia menyeka matanya yang perih akibat gas syn-propanethial-S-oxide yang dikeluarkan bumbu masakan itu.


"Tumben?"


Riko menghentikan kegiatan memotong bawang, seolah berpikir. Kemudian dia berkata, "Enggak tau kenapa, pas ngeliat dia tuh gue mendadak grogi."


"Enggak kayak biasanya?"


Sepertinya temanku yang satu ini benar-benar sedang kasmaran. Bukan tipikal dia yang sampai grogi ketika berhadapan dengan seorang cewek.


"Nah, itu dia. Gue mau nanya sama lo. Pas lo awal suka sama Runa gimana?" sahutnya kembali melanjutkan kegiatan memotong bawang.


"Gue kan udah dari dulu suka sama Runa. Jadi selama ini gue ga mau pacaran, ya karena hati gue memang buat Runa," kekehku. Agak sedikit geli juga mendengar kalimat itu keluar dari mulutku sendiri.


"Eh, serius lo? Dari kapan emang?"


"Dari SMP."

__ADS_1


"Eh ... bucin* juga lo!" ledeknya.


"Yee, itu bukan bucin, tapi berprinsip," sahutku melemparkan beberapa potong spaghetti.


"Ya, beda tipis lah," sahutnya masih dengan wajah meledek.


"Ya gimana penilaian lo aja deh, yang jelas gue bukan bucin," gerutuku. Ini anak niatnya mau minta pendapat apa mau meledek.


"Terus, gimana cara gue ngedeketinnya, ya?" tanyanya lebih sepertui gumaman.


"Kalau tipenya emang kayak Runa, lo bikin nyaman aja. Jangan keliatan lo lagi pdkt-nya," kataku sedikit memberi nasehat.


"Caranya?"


"Ya lo sapa dia biasa aja, pura-pura minjem apa kek gitu. Eh, tapi kok malah lo jadi minta saran gue sih. Kan lo yang lebih ngerti gimana ngadepin cewek," ujarku seolah tersadar kalau aku tidak begitu punya banyak pengalaman berurusan dengan kaum hawa.


"Kan gue udah bilang, ini cewek auranya enggak kaya cewek yang biasa gue kenal," sahutnya seolah menerawang.


"Yakin lo itu cewek beneran?" kekehku.


"Yee, maksud lo cewek jelmaan makhluk halus gitu?" sahutnya dengan wajah kesal.


Pada akhirnya niat Riko meminta pendapat untuk mendekati gebetan-nya hanya berujung pada argumen saling meledek.


"Yok, pada ngisi bahan bakar dulu, baru entar battle!" teriakku setelah saus spaghetti bolognese selesai dimasak.


Tak sampai hitungan menit, hasil masakanku telah berpindah ke lambung teman-temanku. Entah memang hasil masakanku benar enak, atau hanya karena mereka memang kelaparan. Hanya mereka yang tau.


Menjelang pukul setengah sepuluh team-ku kalah. Tak seperti biasanya, mereka lebih memilih untuk berhenti. Setelah menghabiskan beberapa bungkus cemilan yang kusuguhkan, mereka pamit pulang. Kembali suasana rumah menjadi sepi.


Kalau sudah sendiri begini, Runa kembali memonopoli pikiranku. Padahal sudah biasa, jika sedang bersama ibunya dia lebih memilih mematikan ponselnya, tapi tak ada salahnya juga aku mengiriminya satu pesan saja.


Selesai mengirimi Runa pesan whatsapp, aku berusaha membunuh rasa bosan yang mendadak datang. Membuka file-file foto lama bersama Runa. Cukup banyak juga yang telah kami lalui selama delapan tahun ini. Runa dari dulu wajahnya tidak banyak berubah.


Pipinya masih chubby dengan lesung pipi sebagai pemanisnya. Hanya poninya saja yang berganti model, kalau dulu poninya model rata sekarang model poni samping. Selain itu, tak ada perubahan lain yang terlihat dari Runa.


Lelah melihat-lihat foto lama, akhirnya aku memutuskan untuk tidur saja. Bukannya mengobati rasa kangen melihat foto Runa, yang ada malah makin memperparah.


Ponselku bergetar ketika aku tengah berusaha untuk tidur. Ingin kuabaikan saja, tapi rasa penasaran lebih besar, sehingga tanganku akhirnya mengambil benda pipih itu dari meja samping tempat tidur.


Aku mendadak bersemangat ketika melihat kontak Runa tertera di layar. Tumben dia belum tidur. Setelah saling membalas pesan, akhirnya aku mengetikkan, [Have a nice sleep my sunshine 😘].


Begitu pesan terkirim, aku mendadak merasa malu sendiri membaca tulisanku.


Ya Tuhan, apa benar yang Riko bilang, kalau aku mendadak menjadi bucin semenjak jadian sama Runa, rutukku.


Benar saja, pesanku barusan jadi bahan tertawaan Runa. Dia bukan tipe cewek yang senang dibanjiri kata-kata manis. Aku menutupi wajah karena malu, serasa ada Runa yang tertawa dengan tawa renyahnya di depanku.


Ah, masa bodohlah dengan rasa malu. Yang jelas saat ini aku sedang bahagia, terkadang orang yang sedang bahagia suka melakukan hal-hal bodoh bukan?


______________________________________________

__ADS_1


Catatan buat yang belum tau 😉:


*Bucin \= Budak Cinta


__ADS_2