Kandas

Kandas
Cemburu


__ADS_3

Wina kembali datang pada jadwal besuk kedua, jam lima sore. Dia tak sendiri, tapi bersama maktuo dan kak Beni. Ada sedikit perasaan heran, kenapa kak Beni juga ikut. Tapi melihat penampilan Wina dan kak Beni sore ini, sepertinya mereka akan pergi kencan.


Wina tampak cantik berbalut oversized t-shirt berwarna mauve dipadankan dengan skinny jeans hitam, rambut hitam panjangnya yang bergelombang dibiarkan tergerai. Wajahnya dipoles make up tipis natural, lipstik warna nude, senada dengan warna bajunya.


Sementara itu, tampilan kak Beni juga tampak tak kalah rapi, memakai kaus polo putih dan celana chino warna khaki. Rambutnya yang berpotongan undercut tertata rapi dengan bantuan pomade.


"Assalamualaikum, Tante. Maaf Wina bawa teman. Ini Kak Beni," ujar Wina memperkenalkan kak Beni ketika mereka mendekat.


Kak Beni menyalamiku yang berada paling dekat dengannya, kemudian beralih menjabat tangan ibu dengan penuh hormat. Ibu menyambut tangan kak Beni dengan senyum hangat.


"Oh, tidak apa-apa. Pacarnya Wina, ya?" tembak ibu dengan nada menggoda. Wajahnya yang tadi pucat mulai terlihat merona.


"Ih, bukan Tante. Dia malah minta dicomblangin, jadi aja ngemodus mau traktir Wina," kekeh sepupuku itu.


"Kenapa enggak sama Wina saja, kan Wina juga masih single." Kembali ibu terkekeh menatap Wina dan kak Beni.


"Tipe cewek kak Beni bukan kayak Wina, Tante," jawab Wina tergelak mendengar perkataan ibu.


Untung saja Wina tipe cewek cuek, jadi dia menanggapi dengan gaya santai usulan ibu, yang bagi sebagian orang terkesan nyinyir.


"Eh, Beni duduk dulu," tegur maktuo menggeserkan kursi ke arah kak Beni yang tersenyum geli memperhatikan ibu menggoda Wina.


"Iya, Tante. Terima kasih," sahut kak Beni mengambil dan duduk pada kursi yang disodorkan maktuo.


"Wina ajak Runa boleh ya, Tante? Mumpung ada yang mau traktir buat nonton." Wina duduk di pinggir ranjang ibu.


"Eh, aku mau nungguin ibu, Win. Kamu saja yang jalan sama kak Beni," tolakku, merasa sungkan karena belum terlalu kenal dengan kak Beni, takut dikira aji mumpung memanfaatkan traktirannya.


"Enggak apa-apa, Run. Biar rame," imbuh kak Beni.


"Runa ikut saja sama Wina. Biar ibu sama maktuo," ujar ibu menyetujui permintaan Wina.


"Iya, Run. Kamu kan sudah lama enggak ke Jakarta," bujuk Wina memandangku.


"Lain kali saja, Win." Aku masih berusaha menolak ajakan Wina. Mana bisa tenang perasaanku pergi bersenang-senang, sementara ibu tergolek lemah di rumah sakit.


*****


Bujuk rayu Wina akhirnya tak mampu kutepis. Setelah shalat magrib, kami meninggalkan rumah sakit. Wina menyuruhku duduk di kursi penumpang bagian depan, di samping kak Beni.


"Aku mau tidur bentar, mumpung macet. Kamu temani kak Beni ngobrol saja, ya," pinta Wina mengajukan alasannya.


Dengan terpaksa, aku duduk di bangku penumpang bagian depan. Duduk dengan canggung di samping orang yang baru kukenal.


"Sorry, Run. Ini seat belt-nya agak sedikit macet," ujar kak Beni ketika aku hendak memasang sabuk pengaman.


Kak Beni menjangkau tali sabuk pengaman yang masih menggantung pada tempatnya. Menarik dan memasangkan pada kaitannya.


Perpaduan lembut aroma cedar dan bergamot dari parfum kak Beni mampir pada indera penciuman, ketika tangannya melewati wajahku. Parfum yang dipakai kak Beni wanginya hampir sama dengan parfum Arjun.


Mau tak mau, pikiranku seolah di seret mengingat sosok Arjun. Sebenarnya aku berharap malam minggu ini bisa kuhabiskan bersama Arjun, bukan dengan cowok lain seperti saat ini. Namun, keadaan memaksaku harus menerima.


Canggung, itu yang kurasakan selama di perjalanan. Memulai percakapan dengan orang baru, bukanlah keahlianku. Apalagi aku belum mengenal kak Beni, kecuali hanya pada perkenalan singkat tadi pagi.


"Kamu kuliah ngambil jurusan apa, Run?" tanya kak Beni memulai percakapan, setelah lima belas menit kami membisu.


"Akuntansi, Kak," sahutku singkat, kaget mendapat pertanyaan yang tiba-tiba.


"Wah, hebat. Aku paling jeblok mata pelajaran satu itu," pujinya sekilas memandang padaku, lalu tatapan mata elangnya beralih kembali ke jalanan.


"Ha-ha biasa saja, karena aku memang enggak terlalu tertarik menghitung rumus fisika, bisa keriting otakku," sahutku berusaha mulai bersikap santai.


Di sepanjang perjalanan, kami hanya terlibat obrolan ringan seputar kehidupan sehari-hari. Kak Beni lumayan bisa mencairkan suasana. Candaan ringannya mampu membuat pikiranku yang tadinya terasa bagai benang kusut teralihkan sesaat.


"Kita makan dulu baru nonton, ya, " ujar kak Beni ketika mobil memasuki area parkiran basement sebuah mall.

__ADS_1


"Terserah yang traktir, kita ngikut aja," sambar Wina dari bangku belakang.


"Eh, sudah bangun, Win?" kak Beni terlihat kaget mendengar suara Wina yang tiba-tiba.


"Sudah, hawa-hawa mall-nya bikin segar," sahut Wina memperagakan gaya orang yang sedang menghirup udara segar.


"Terlalu banyak gaya, ah," kekeh kak Beni.


Memasuki area mall, berbagai aroma masakan yang menggugah selera mengusik indera penciuman, membuat otakku mengirimkan sinyal gemuruh pada perut. Aku baru sadar, dari tadi siang aku tidak begitu berselera untuk makan. Pikiran yang penuh, serta rasa makanan yang disediakan oleh rumah sakit terasa hambar di lidah, membuatku makin tak berselera untuk makan.


"Mau makan sushi, enggak?" tanya kak Beni berhenti sejenak, meminta persetujuan kami.


"Apa saja boleh kak, asal enak buat dimakan," sahut Wina dengan seringai lebar.


"Runa?" tanyanya seolah menunggu jawaban dariku.


"Aku ngikut aja, kak."


"Tapi enggak masalah kan?"


"Enggak, aku termasuk pemakan segala kok," candaku.


Kak Beni terkekeh mendengar jawaban dariku. Sekali lagi Wina benar, pikiran yang tadinya benar-benar penuh dan kusut, sedikit demi sedikit mulai terurai. Rasa pesimis yang dari kemarin tak mampu kuusir, mulai menguap.


Kita memang harus mengisi tangki kebahagiaan diri sendiri terlebih dahulu, sebelum kita mampu menularkan kebahagiaan pada orang lain.


Selesai menonton dan mengelilingi area mall, kami diantar kak Beni pulang. Kembali aku ditumbalkan Wina untuk menemani kak Beni ngobrol selama diperjalanan, masih dengan alasan yang sama, yaitu ingin melanjutkan tidur yang tadi terganggu. Heran, kenapa anak satu itu tak pernah puas untuk tidur.


"Besok mau nemenin ibumu lagi di rumah sakit?" tanya kak Beni ketika kami hampir sampai.


"Iyalah kak, kan niat aku ke Jakarta mau ketemu ibu."


"Oh, iya-ya," sahutnya manggut-manggut.


Sisa perjalanan, kak Beni tidak terlalu banyak bertanya lagi. Mungkin sudah kehabisan topik pembicaraan atau sudah mulai capek, aku tak tau.


"Iya, sampai ketemu lagi," sahut kak Beni.


Kak Beni berlalu meninggalkan kami yang masih berdiri di depan pagar. Wina segera mengunci pagar ketika mobil kak Beni telah menjauh dan menyusulku yang sudah duduk di kursi yang ada di beranda.


***


Sambil menunggu Wina membersihkan diri, aku iseng menuliskan pesan pada Arjun. Tak dapat kupungkiri, ada rasa rindu yang diam-diam menyelinap di sudut terdalam hatiku pada cowok pemilik senyum simpul itu.


23.00 : [Udah tidur?] tanyaku memulai percakapan.


Tanda pada pesan langsung berubah biru, dan status Arjun terlihat keterangan 'mengetik'.


23.00 : [Belum. Riko baru saja pulang] balasnya.


23.00 : [Lho, bukannya tadi ke kost-nya Riko?]


23.00 : [Bisa gue telpon? Ganggu enggak?] tanyanya tak membalas pertanyaanku.


23.01 : [Bisa] balasku cepat, karena aku memang ingin mendengar suara Arjun.


Tak lama, ponselku bergetar menampilkan wajah Arjun memenuhi layar.


"Halo," sapa ku setelah tombol menerima panggilan kugeser.


"Kangen," balasnya singkat.


"Ha-ha, baru juga pisah sehari." Aku tersipu mendengar pengakuan Arjun.


Hening.

__ADS_1


"Jun, kenapa?" tanyaku karena tak mendengar jawaban darinya.


"Ha-ha, enggak. Tadi kemana aja emang?"


"Cuma nge-mall aja. Tadi di traktir sama kakak kelas Wina waktu SMA. Gimana acara pdkt Riko?"


"Eh, ternyata gebetan si Riko itu si Leon," sahutnya terdengar bersemangat bercerita.


Memoriku langsung memunculkan sesosok cewek tomboy dengan gingsulnya.


"Leon yang tomboy itu?" tanyaku mencoba meyakinkan.


"Iya! Tapi dia udah enggak tomboy lagi, beda 180 derajat, sekarang jadi kelihatan cantik. Pantesan Riko sampai kelepek-kelepek."


Cara Arjun mendeskripsikan sosok Leona, entah kenapa membuatku kesal. Jarang-jarang Arjun sampai memuji seorang cewek seantusias itu.


"Jadi, lo ikutan naksir?" tanyaku ketus.


"E-eh ... Bukan begitu maksud gue ... lo cemburu ya Run? Ha-ha ...." Tawa Arjun pecah.


"Ih siapa yang cemburu, biasa aja tuh," sahutku dengan nada kesal.


"Itu suaranya begitu," sahutnya masih dengan sisa tawa di ujung suaranya.


"Gue, cuma heran aja. Enggak biasanya lo muji-muji cewek sampai segitunya," terangku.


"Oh-iya-ya. Eung ... gue tadi cerita kayak gitu karena kaget aja, ternyata cewek yang ditaksir Riko adalah orang yang kita kenal. Itu aja, sih."


"Oh."


"Kok 'oh' doang? Masih kesal?"


"Ih siapa yang kesal?"


"Itu suaranya masih begitu."


Arjun memang paling hapal dengan sikapku. Sejujurnya aku memang masih sedikit kesal dengan caranya menceritakan Leona tadi. Tunggu, kenapa aku mesti kesal? Memang benar juga apa yang dijelaskan Arjun tadi, wajar kita bersemangat bercerita ketika bertemu teman lama.


Leona memang sempat dekat dengan kami waktu SMA, tetapi menjelang kenaikan kelas tiga dia pindah keluar kota karena ayahnya di pindah tugaskan.


Cemburukah ini? Kalimat apa yang lebih pantas untuk menjelaskan perasaan yang mendadak kesal ketika mendengarkan kekasihnya menceritakan cewek lain?


"Run?" Suara Arjun membuatku tersentak, "kok jadi diam?" tanyanya. Kali ini suara tawanya berganti dengan nada serius.


"Enggak ... mungkin benar kata lo, gue cemburu. Tapi dikit." Aku mengakui dengan nada ragu, tak ingin Arjun merasa jengah dengan kecemburuanku.


"Banyak juga enggak apa-apa, gue seneng," kekehnya mengusir kekhawatiran yang tadi sempat singgah.


"Aneh lo, ah."


"Lho, kok aneh?"


"Orang, mah, biasa enggak seneng dicemburui, lo malah seneng." Aku terbahak menanggapi kebingungan Arjun.


"Berarti lo takut kehilangan gue, ya, kan?" kekehannya kembali terdengar.


Ah, Jun. Gue kangen, gumamku dalam hati.


"Udah ngantuk, ya?" Suara rendah Arjun menyapu gendang telingaku.


Tadinya aku masih ingin berlama-lama mendengarkan suara Arjun, tapi begitu melihat Wina keluar dari kamar mandi, membuatku membatalkan niatku untuk melanjutkan percakapan dengan Arjun.


"Iya. Sambung besok ya," sahutku.


"Ya sudah, have a nice dream," balasnya sebelum mematikan sambungan telpon.

__ADS_1


Untuk pertama kali aku merasakan perasaan yang sulit kujelaskan dengan kata-kata seperti saat ini. Rasa memiliki dan takut akan kehilangan Arjun menggelembung menyesakkan. Kalau saja tidak mengingat kondisi ibu saat ini, aku ingin cepat-cepat kembali ke Bandung. Kembali ke sisi Arjun. Tak ingin perasaan Arjun padaku berubah. Karena bagiku, dia hanya milikku seorang.


__ADS_2