
Seperti kehilangan semangat, itu yang aku rasakan setelah membaca pesan dari Runa yang mengatakan dia akan pergi dengan Andin pada jam istirahat. Padahal tadi berharap, aku bisa bertemu lagi dengannya lagi, menghabiskan waktu istirahat berdua.
Heran, kenapa waktu terasa begitu cepat berputar ketika bersamanya, mendadak melambat ketika ia tak ada. Tadinya sempat terpikir untuk memintanya menemaniku saja, tapi ku urungkan. Tak ingin membuatnya merasa aku terlalu posesif.
"Lesu aja, Bro!" Tepukan Riko membuatku kaget, sehingga ponsel yang sedari tadi kupegang terpelanting.
"Siaul, lo ngagetin aja!" rutukku memungut ponsel yang mendarat dengan sukses di pojokan ruangan sekretariat.
"Lagian, dari tadi ngeliatin hp kaya ngeliat wajah pacar aja, dipandangin teroos, " kekeh Riko terpingkal. Sontak wajahku makin terasa memanas.
"Eh, jadi gimana saran gue kemaren? Jadi enggak lo nembak Runa?" tanyanya setelah tawanya mereda.
"Udah," sahutku singkat, mendadak tak mampu menahan senyum ketika wajah Runa tiba-tiba saja berkelebat.
"Wow! Berita baik, nih, hawa-hawanya kalau gue liat tampang lo." Cengiran Riko melebar. Dia mengambil posisi duduk yang berseberangan denganku, memasang wajah serius, seakan menungguku untuk bercerita.
"Ha-ha ... Bener kata lo, gue cuma butuh keberanian aja."
"Terus, diterima, kan sama doi?" Riko menarik turunkan alisnya dengan seringaian lebar.
"Yoha! Thanks ya, kalau lo kemarin enggak nge-push gue, mungkin sampai saat ini gue masih bungkam, nge-galau sendiri."
"Nah! Kan, apa gue bilang. Kalaupun di tolak, tinggal cari cewek lain aja, lo kan laki, Bro. Masa iya bisa galau karena urusan cewek," tukas Riko berapi-api.
"Gila, lo. Urusan hati mana bisa segampang itu," protesku sambil mencebik.
"Ah elah, lo ribet amat masalah hati."
"Entar, lo belum ngerasain aja," gerutuku meninggalkan ruangan sekretariat.
Sebentar lagi jadwal kuliah terakhir akan dimulai. Sebaiknya aku buru-buru ke kelas daripada mendengarkan Riko berceramah panjang lebar soal percintaan. Lagaknya sudah seperti pakar, padahal sama aja denganku kemarin, jomblo akut.
Bagiku selama ini, lebih baik menjomblo daripada bermain-main dengan hati. Jika memang tak ada rasa dengan seseorang, lebih baik tidak memaksakan untuk menjalin hubungan. Kecuali kalau kau mau untuk berusaha merubah perasaan seseorang terhadapmu. Tentunya butuh usaha yang keras. Namanya perasaan, tidak ada yang statis, ia bersifat dinamis. Kau tak akan pernah tau rahasia Tuhan jika menyangkut dengan perasaan. Tapi tetap, prinsipku aku akan menjalin hubungan dengan orang yang mampu masuk ke dalam hatiku dan dia menerima perasaanku.
Selama jam kuliah, berkali-kali aku melirik ponselku, berharap Runa memberikan kabar. Tapi nihil. Aku kehilangan fokus, pikiranku hanya terpatri pada Runa. Aku tak menyangka, pikiranku ternyata malah lebih kacau karena terus mengingat cewek bermata sipit itu.
__ADS_1
Ah! Fokus ... Fokus ... Malu sama Runa jika nilaiku semester ini jeblok.
Kembali mencoba memfokuskan pikiran pada perkuliah yang sedang berlangsung, akhirnya pikiran yang diselubungi wajah Runa perlahan bisa kutepiskan untuk sesaat.
Tepat ketika mata kuliah terakhir selesai, ponselku bergetar. Sebuah pesan yang sedari tadi kutunggu akhirnya datang juga.
[Gue tunggu di tempat biasa, ya] bunyi pesan dari Runa.
Dengan gerakan cepat, aku membalas pesannya, [OK, beib 😘]
Tak menunggu lama balasannya muncul, [ih, apaan, sih pake manggil "beib" gitu, geuleuh tau! 🤣🤣]
Mendadak wajahku memerah. Memilih untuk tak membalas lagi, aku bergegas menuju taman, tempat kami biasa janjian. Aku langsung bisa mengenali gadis itu ketika mendekati area taman.
Runa duduk di bangku yang tak jauh dari gedung jurusanku, sedang menekur membaca buku. Rambut panjangnya yang tadi pagi digerai, sudah tergelung secara asal diatas tengkuknya. Dia memang tak pernah betah menggerai rambutnya seharian. Namun, meskipun begitu dia tak pernah mau memotong rambutnya.
"Gue malas ke salon," ujarnya ketika kutanya alasannya memanjangkan rambut.
Runa memang bukan gadis yang senang memanjakan dirinya ke salon. Baginya ke salon itu hanya membuang waktu dan uang. Gadis itu memang lebih perhitungan kalau masalah waktu dan uang semenjak ditinggal ayahnya. Dia bukan tipe gadis yang suka membelanjakan uangnya untuk hal yang dia anggap tidak terlalu penting. Pun untuk urusan waktu, ia benar-benar memanfaatkan waktu luangnya untuk hal yang bermanfaat.
Kegigihannya itu pulalah yang membuatku makin kagum padanya. Tak ada kata gengsi dalam kamusnya untuk mencari rezki yang halal.
"Sorry, lama nungguin ya?" tanyaku menepuk bahu gadis yang tengah khusyuk membaca buku itu, lalu ikut duduk di sampingnya.
Mencoba meredakan debaran yang mendadak kembali bergemuruh ketika mata bening itu menatapku. Agak berlebihan memang, tapi semenjak tau perasaan Runa, debaran yang selama ini mampu ku tahan, sekarang seolah tak mampu lagi kukendalikan.
"Eh, enggak kok," sahutnya dengan senyum hangat yang langsung menjalar ke hati.
Sontak dentuman irama jantungku kembali tak beraturan melihat senyuman itu.
"Lo apa-apaan sih, pakai beb-beb segala, geli gue!" gelaknya dengan tawa renyah yang agak terasa canggung.
"Lo-nya aja ke-geer-an, kan maksud gue bebek," candaku.
"Berarti lo suka ama bebek, dong," ledeknya menjulurkan lidah dan menjitak pelan sisi kepalaku.
__ADS_1
"Biarin, bebeknya cantik ini," balasku disertai wajah yang mendadak memanas. Aku memang payah dalam urusan menggombal.
"Mulai berani ngegombal, nih," kekeh Runa dengan wajah juga ikut memerah.
"Sekali-sekali enggak apa-apa dong. Udah jalan yuk ah," ajakku menyudahi acara saling meledek. Daripada kehabisan kata, lebih baik disudahi.
"Mau kemana emang? Hari ini gue mau bikin kue, buat pesenan besok."
"Oh, kalau gitu ke rumah lo aja, deh. Gue juga enggak punya rencana apa-apa sih."
"Okay ... Yuk cabs," sahutnya seraya bangkit dari tempat duduknya.
Walaupun agak terasa canggung, tapi Runa tampak berusaha bersikap biasa. Sama seperti sebelum saat kita jadian, ia masih tetap menggandeng tanganku ketika berjalan. Tanganku mendadak dingin. Aku tau Runa pasti menyadarinya, tapi dia terlihat tak peduli.
Suara riuh mahasiswa yang memenuhi taman seketika menghilang begitu saja seiring langkah kakiku dan Runa meninggalkan tempat itu, melewati gedung jurusanku menuju tempat parkir.
***
"Udah jadi bikin blog untuk promosiin kue bikinan, lo?" tanyaku memecah keheningan yang sedari meninggalkan kampus mulai tercipta.
"Hah? Eh, belum. Belum sempat ke warnet."
"Entar gue bantuin, mau enggak? Tapi foto-fotonya udah lu bikin satu file kan?"
"Udah, sih. Tapi apa enggak repot?" Runa memalingkan wajahnya ke arahku.
"Enggak lah, kasihin ke gue aja, entar gue bikinin di rumah."
"Kamu memang yang paling baik, deh, Jun," godanya sambil mencubit gemas pipiku.
Caranya bercanda masih sama, tapi perasaanku mengatakan bahwa Runa juga tengah berusaha membuat semua terasa kembali seperti biasa. Aku bisa merasakan bahwa sebenarnya ada perasaan canggung yang ia rasakan.
Aku penasaran, apakah hubungan orang lain yang memulai dari status sahabat lalu menjadi sepasang kekasih juga merasakan hal sama sepertiku. Hal-hal yang biasa terasa ringan untuk dibicarakan, mendadak terasa canggung. Hubungan yang biasa luwes terasa agak sedikit kaku.
Semoga saja ini hanya karena perubahan status baru saja. Aku berharap, besok kami akan kembali seperti semula. Membicarakan apa saja tanpa kecanggungan yang tercipta.
__ADS_1