Kandas

Kandas
Serpihan Harapan


__ADS_3

Fajar terlihat mulai menyingsing, mengintip malu-malu dari celah jendela. Masih terasa berat bagiku untuk keluar dari peraduan. Aku ingin terus berlama-lama berada di kamar ini. Memetakan kembali mimpi yang buyar begitu saja dalam hitungan hari. Helaian mimpi yang telah mulai kurajut bersama Arjun, diurai kembali oleh takdir.


Sungguh kali ini semangatku serasa menguap begitu saja. Untuk pertama kalinya aku mulai merasakan jatuh cinta, disaat itu juga aku harus patah hati. Bukan karena dia yang aku cintai tak membalas perasaanku, tapi takdir tak memihak pada kami


Seharusnya aku tak membangun mimpi dan membesarkan harapan akan masa depanku bersama Arjun. Aku bersalah, membumbungkan harapan hingga aku harus terjerembab jatuh dan tak bertenaga untuk bangkit. Ini bukan kali pertama takdir menyajikan hidangan pahit dalam kehidupanku, tapi kali ini pahitnya seolah tak mampu kutelan.


Begitu kuat goncangan yang aku terima dalam beberapa bulan terakhir. Membuat bangunan kokoh tempatku memupuk semangat hidup, roboh begitu saja. Aku tak terbiasa hidup dalam keputusasaan, tapi kali ini hantaman bertubi-tubi yang kuterima membuatku goyah. Kembali bulir bening lepas dari tampuknya, menyisakan ruang hampa yang terasa sunyi.


Arjun. Nama itu bergema pada ruang kosong dalam hatiku. Aku masih belum mampu membayangkan hidupku kedepan jika tak lagi bersamanya. Hampir sembilan tahun selalu bersama, tentu tidak akan mudah menepikannya begitu saja. Aku harus memulai kembali menyusun sepetak demi sepetak hati yang telah terberai.


Alarm dari ponsel berkali-kali memecah kesunyian di dalam kamar. Aku tidak boleh terus-terusan begini. Aku tak boleh berlama-lama meratapi diri. Aku bukan pengecut yang akan berlari dari kenyataan. Sepahit apapun hidup harus kutelan.


Ah! Hampir saja aku melupakan ibu. Kenapa aku bisa selemah ini. Hanya memikirkan masalah hati, lupa akan perempuan yang telah menghadirkanku ke dunia dan berjuang untukku. Ibu tentu tak ingin melihatku meratapi nasib seperti ini. Aku harus kuat, demi ibu. Agar segala jerihnya selama ini tak sia-sia begitu saja.


Seperti telepati, layar ponselku menyala. Berkedap-kedip menampilkan foto ibu. Seolah merasakan aku sedang berduka. Tentu saja, ibu akan merasakan dukaku dimana pun aku berada. Aku tak bisa berpura-pura dengannya, beliau utusan Tuhan yang mampu menguliti isi hatiku sampai lapisan terdalam.


Segera kugeser tanda untuk menerima telpon dari ibu, "Assalamualaikum, Ibu." Aku menyapa tanpa menyembunyikan sisa perih yang masih menggantung di tenggorokan.


"Waalaikum salam, Run. Sudah bersiap-siap ke kampus?" Suara parau ibu terdengar lembut menyapu gendang telinga. Menghangatkan hati yang terasa dingin.


"Belum, Bu. Masih betah dalam selimut."


"Berarti belum shalat, dong?"


"He-he iya, belum Bu," sahutku dengan rasa bersalah.


"Bagaimana kamu bisa meminta kesembuhan ibu, jika kamu saja melalaikan shalat?" intonasi suara ibu masih terdengar rendah, tapi telak menohok.


"Iya. Aku shalat dulu kalau begitu." Menyibakkan selimut, aku bergegas turun dari tempat tidur.


"Ya sudah, ibu tutup ya."


Terngiang kembali perkataan ibu ketika aku mengeluh, kenapa Tuhan seolah tak henti mendera kami dengan cobaan yang bertubi.


"Kamu sudah tau kan, besi yang ditempa berkali-kali setelah di bakar berulang kali, ia akan menghasilkan pedang yang mampu menggentarkan musuh. Begitu pun hidup, berkali-kali kita ditempa masalah, membuat kita makin kuat menghadapi apa saja rintangan yang menghadang. Semua ini proses pembelajaran diri. Boleh bersedih, tapi jangan terlalu dalam hingga kamu tak mampu merangkak buat naik. Rasakan saja kesedihan itu, lalu lepaskan. Jangan digenggam terlalu lama. Kesedihan yang kamu genggam erat, bagai bara api. Dia akan membakar semangat hidupmu."


Perlahan kukumpulkan kembali kepingan puzzle hidupku yang telah berserak. Mencoba menyusunnya kembali agar menjadi gambar yang utuh. Menghentikan seribu tanya mengapa Tuhan memberiku hantaman yang tampak tak berbelas kasihan. Aku harus bangkit, kalau bukan untuk diriku sendiri, setidaknya untuk ibu.


Kuputuskan untuk menelpon Arjun. Berusaha melerai perih yang masih menggigit. Aku kuat, tak boleh menyerah hanya karena patah hati. Suara Arjun terdengar tak bersemangat. Sudah tentu, tapi aku berusaha untuk terdengar baik-baik saja. Tidak mudah memang, hanya saja aku harus membiasakan diri.

__ADS_1


Kutatap wajahku yang terpantul pada cermin di kamar mandi. Kulit pucatku makin terlihat pucat, lingkaran mataku menggelap. Kantung mata membengkak. Terlihat hancur. Tak ingin Arjun melihat wajahku seperti ini, aku mengambil beberapa bongkahan es batu dari dalam kulkas, mengompres sesaat sebelum aku bersiap-siap ke kampus.


Sebelum Arjun sampai, aku sudah terlebih dahulu menunggunya di luar rumah. Menghirup udara pagi cukup mampu melenyapkan gundah. Selain itu, bertegur sapa dengan para tetangga yang kutemui pagi ini cukup memberiku sedikit energi.


Terlalu larut dalam lamunan, membuatku tak menyadari kedatangan Arjun. Seperti sebelumnya, sosoknya masih mengundang getaran halus dalam dada. Sosok yang tampak begitu sempurna di mataku. Wajahnya masih terlihat sendu. Gurat luka jelas terukir dalam sorot matanya.


"Jun. Kata Andin, daftar pembagian desa untuk KKN, sudah keluar." Aku memulai percakapan. Setelah memutar otak mencari topik.


"Eh, kok cepat? Padahal kan baru daftar minggu lalu." Tampaknya usahaku berhasil. Arjun menoleh padaku, tanpa sorot nelangsa seperti tadi. "Terus Lo sudah tau ditempatin dimana?"


"Belum tau juga, sih."


"Kok Andin udah tau aja pagi-pagi?"


"Dia bilang, sih, dari Sabtu sudah di tempel. Dia juga tau dari anak BEM."


"Kok ribet? Ha-ha." Ada perasaan lega ketika melihat tawa itu kembali menghiasi bibirnya.


"Tau, tuh si Andin." Aku pun ikut tertawa.


"Eh, nyokap tadi nitip nasi bakar, tuh." Arjun menunjuk bangku penumpang belakang.


"Ha-ha, sudah. Itu memang khusus buat, Lo."


Segala khawatir yang memenuhi hatiku sedari kemarin sedikit demi sedikit mulai menguap. Mungkin tidak terlalu sulit untuk kami memulai hubungan kembali pada status sahabat. Walaupun hati telah terlanjur terluka. Mungkin kami masih bisa saling mendukung satu sama lain.


Awal yang tidak terlalu buruk untuk hari ini. Ibarat terjatuh, untuk pertama kali, lukanya akan terasa begitu sakit. Namun lambat laun dia akan sembuh seiring berjalannya waktu. Walaupun waktu tak dapat menyembuhkan, tapi aku akan terbiasa dengan rasa sakit ini.


Seperti yang Andin bilang, pengumuman pembagian tempat kuliah kerja nyata memang telah ditempelkan pada papan pengumuman di depan ruang administrasi.


"Kita beda desa, Run." Suara Arjun terdengar tidak bersemangat.


"Kan memang kemarin sudah gue bilang, kita KKN pisah desa saja, biar Lo bisa belajar berbaur dengan yang lain."


Arjun manggut-manggut. "Iya-ya. Apalagi nanti kita harus mulai lagi dari awal."


Aku tau maksud Arjun. Hubungan kami lah yang harus dimulai lagi dari awal. Mencoba untuk menghapus sedikit demi sedikit rasa yang telah mengakar dalam hati.


Semua urusan administrasi KKN selesai sebelum jam makan siang. Aku dan Arjun yang memang tidak terlalu betah berlama-lama di kampus, bergegas pulang.

__ADS_1


"Run, makan cuanki yuk."


"Eeh, kok tiba-tiba?"


"Pengen makan yang berkuah pedes, katanya bisa buat ngilangin sakit hati," sahutnya disertai senyum getir.


"Ah, bisa aja Lo!"


"Yuk! Mau enggak?"


"Dimana?"


"Ganesha aja." Arjun melajukan mobilnya ke arah jalan Ganesha tanpa menungguku menyetujui ajakannya. Mau tak mau, yang nebeng harus setuju.


Jalan Ganesha siang ini cukup lengang, mungkin karena sudah lewat masa ujian akhir semester. Hanya beberapa mahasiswa yang berlalu lalang keluar masuk kampus tertua di Bandung yang terletak di jalan Ganesha itu. Arjun berbelok ke jalanan belakang mesjid Salman dan berhenti tepat di halaman belakang mesjid.


Suasana damai kentara terasa ketika kami memasuki halaman mesjid. Mesjid dengan desain unik tersebut memang menjadi pusat kegiatan mahasiswa kampus berlambang gajah Ganesha yang terdapat di seberangnya. Di dalam area mesjid tidak hanya bangunan yang menjadi markas kegiatan mahasiswa saja ada disana, tetapi terdapat kantin yang menjadi tempat favorit mahasiswa karena harganya terjangkau. Arjun memang suka mengajakku sesekali makan di kantin yang terdapat di dalam area mesjid ini, karena dulu dia memang berita-cita untuk kuliah di sana.


Kami memesan dua porsi cuanki, dan memilih memakannya di dalam mobil. Aroma kaldu dari kuah yang ditaburi bawang goreng dan seledri benar-benar menggugah selera. Seperti yang Arjun katakan sebelumnya, dia memang membubukan sambal yang banyak ke mangkok pesanannya.


"Enggak takut sakit perut, apa?" tanyaku melihat warna kuah cuanki yang dia bawa.


"Sakit perut enggak seberapa sakit hati, Run," kekehnya.


"Gue jadi ngerasa bersalah, tau, Jun." Aku membalas lemah.


Arjun tak menjawab.


"Jun, menurut Lo ... Kalau nanti kita sudah punya pasangan masing-masing, kita masih bisa ngobrol seperti ini enggak, ya?" Tiba-tiba rasa gamangku kembali muncul. Apakah nanti aku akan bisa menemukan seseorang yang mampu mengerti diriku dan membuatku nyaman seperti Arjun.


"Enggak tau ... Dan gue juga enggak mau terlalu mikirin apa yang belum terjadi. Kalau gue pikir-pikir, rasa cinta bisa saja bertambah, berkurang atau malah hilang sama sekali. Jadi kita jalani saja lah. Gue udah pasrah. Toh bokap nyokap gue yang dulu tampak saling mencintai saja, tiba-tiba mau cerai tanpa gue tau apa penyebab bokap gue berpaling pada wanita lain."


Setengah tak percaya apa yang baru saja kudengar, aku menatap lekat mata Arjun. Pasrah, memang itu yang kutangkap dari dua manik matanya yang gelap.


"Gue enggak salah dengar kan, Jun?" tanyaku tak percaya. Bagaimana mungkin sosok wanita sempurna seperti mama Arjun masih dikhianati. Wanita seperti apakah yang mampu mengalihkan perasaan seorang laki-laki dari wanita hebat seperti mama Arjun.


Arjun hanya menggeleng. Tampak jelas dia menahan perih di hatinya. Ya Tuhan, kapal kami sama-sama kandas. Entah berapa lama kami akan mampu mengumpulkan serpihan yang terberai, terombang-ambing dilautan ganas. Bertahan agar tak tenggelam ke dasar samudera.


"Tuhan, mampukan tangan kami untuk bisa mengayuh melawan ganasnya ombak yang menghadang kami." Aku memohon lirih, menghadang bulir bening yang memaksa luruh.

__ADS_1


__ADS_2