
Arjuna
Pernahkah merasa mimpi burukmu seolah menjadi nyata? Ketika apa yang kalian idam-idamkan sulit untuk didapatkan hingga hampir putus asa untuk meraihnya?
Inilah yang kurasakan ketika melihat laki-laki yang rela menempuh ratusan kilometer hanya untuk memastikan gadis yang disukainya baik-baik saja, datang menemui Runa.
Dia memastikan dirinya ada untuk orang yang disayangnya ketika gadis itu membutuhkannya. Sementara aku? Aku hanya bisa merengek untuk tidak ditinggalkan oleh gadis itu.
Tidak sepejam pun aku mampu tidur malam ini. Wajah laki-laki yang menjadi pesaingku membuatku tidak tenang. Aku bahkan telah mempersiapkan hati jika nanti hati Runa harus kulepaskan kepada hati yang lain.
Pagi ini aku kembali ke rumah sakit untuk menggantikan mama yang menjaga Runa dari semalam. Bahkan ibu angkatku itu pun telah mencoba untuk menghiburku agar tidak terlalu terpuruk jika memang nanti gadis itu lebih memilih untuk bersama Beni.
"Kamu tidak perlu cemas, Jun. Jika kalian memang ditakdirkan bersama, tentu akan ada jalan untuk kembali," ujarnya dengan lembut.
Aku hanya mengangguk lemah. Entah kapan itu akan terjadi. Harapanku yang terlanjur bahagia ketika mengetahui bahwa hubungan kami akan bisa kembali seperti itu, pupus sudah. Aku tak menyalahkan Runa karena dia bisa berpaling secepat itu. Kehadiran laki-laki itu dengan kharismanya memang sulit ditolak oleh perempuan, apalagi saat ini perasaan Runa sedang galau.
***
Kulihat laki-laki jangkung yang kemarin datang menemui Runa memasuki lift. Dia menahan tombol lift ketika melihatku sampai di depan pintu.
"Terima kasih," ucapku mengangguk pelan padanya. Canggung tentu saja.
"Sama-sama." Dia juga membalas dengan anggukan. "Arjun. Benar kan, ya?" tanyanya kemudian.
"Iya." Aku menoleh padanya.
Denting penanda lift telah sampai di lantai yang kami tuju menghentikan percakapan yang baru saja dimulai.
"Boleh saya bicara sebentar sebelum masuk ke tempat Runa?" tanyanya ketika telah berada di luar lift.
"Iya, ada apa?" Aku meliriknya heran.
"Seberapa besar rasa sayangmu pada Runa?" tanyanya tanpa basa-basi.
Aku menatapnya lama. "Aku tidak bisa mengatakan seberapa besarnya. Hanya saja, ketika kakak ibunya mengatakan kami tidak bisa meneruskan hubungan karena persamaan suku, aku merasa sudah tidak mempunyai keinginan untuk hidup," sahutku tercekat.
"Ah! Saya minta maaf jika tiba-tiba hadir menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian. Saya tidak bermaksud merusak hubungan kalian. Saya kira, saya mampu mengobati luka hati Runa, tetapi nyatanya tidak bisa," tuturnya dengan senyum tipis.
"Dia keras kepala memang," kekehku berusaha mencairkan suasana.
"Ha-ha, iya benar, tapi dia selalu berusaha terlihat kuat," laki-laki di hadapanku ikut terkekeh. Mencairkan suasana kaku yang sempat tercipta.
Ternyata sudah sejauh itu dia mengenal sifat Runa. Aku hanya tinggal menunggu keputusan gadis itu untuk mengucapkan selamat tinggal dan berlalu dari hadapanku.
Wajah Runa sudah terlihat agak segar pagi ini. Namun raut wajah risih jelas terjejak di wajahnya ketika melihat aku dan Beni datang bersamaan.
Mama memintaku untuk mengantarkannya keluar. Tidak seperti kebiasaannya, tetapi aku tidak tega membantah.
"Kasih mereka waktu buat ngobrol. Kasihan Beni, sudah jauh-jauh ke sini," ujar mama ketika kami telah berada di luar.
Aku hanya mengangguk. Bagiku sama saja, ada dan tiada Beni pun, aku yakin hati Runa telah berpihak padanya.
Begitu aku kembali ke ruangan, Beni sudah tidak ada lagi di ruangan. Kulihat wajah Runa sudah terlihat lega. Sebenarnya melihatnya seperti saja aku sudah senang. Kendati senyum itu tidak lagi dapat kumiliki.
Caranya mengajakku bicara kali ini sudah lebih santai, seperti biasa. Seakan awan hitam yang selama ini menghalangi sinar hangatnya telah sirna. Cukuplah bagiku melihatnya seperti itu.
__ADS_1
Senyum jahil berhiaskan lesung pipi pun sudah kembali hadir menghias wajah pucatnya. Begitu manis. Aku hanya memperhatikannya dari brankar kosong seberang brankarnya dalam diam. Menikmati momen-momen seperti ini untuk nanti kukenang ketika tak lagi bersamanya.
Namun perkataannya yang tiba-tiba, seolah mengubah duniaku. Dunia yang hampir gelap karena kehilangan harapan untuk memilikinya.
"Tadi Kak Beni pesan, Lo tidak usah khawatir gadis yang Lo sayang akan berpaling padanya. Gadis itu masih menyayangi Lo," bisiknya ketika aku mendekat.
Aku menatapnya tak percaya. Berharap apa yang diucapkannya bukan mimpi belaka. Namun senyum itu, memang senyum yang dulu pernah kumiliki. Api semangat yang kulihat sempat padam di matanya, kembali menyala.
Terima kasih Tuhan, telah mengembalikan dia salah satu sumber kebahagiaanku. Terima kasih telah mengembalikan matahari itu untuk menerangi hidupku.
****
Apakah kalian percaya benang takdir jodoh? Sejauh apapun dan serumit apapun jalan yang kalian tempuh untuk menemukan jodohmu, dia akan selalu menuntunmu kembali pada orang yang memang telah ditetapkan untukmu. Tak peduli berapa lama waktu yang harus kalian habiskan untuk menemukannya, pada akhirnya dia tetap selalu ada di suatu tempat yang tidak pernah kalian sangka.
Begitulah hubunganku dengan Runa. Dari awal menjalani hubungan, kami selalu dihadapkan dengan masalah yang membuat kami merasa segala cita-cita masa depan kami akan kandas begitu saja.
Bahkan ketika kami merasa semua sudah baik-baik saja, rintangan lain pun datang. Beasiswa yang kuajukan untuk melanjutkan pendidikan post graduate di Sydney diterima. Dilemma baru pun datang.
"Sudah, enggak usah Lo pikirin masalah jarak, mah, Jun. Lo kejar aja dulu cita-cita Lo. Gue enggak akan kemana-mana. Gue akan nungguin Lo di sini," ucap gadis itu ketika kuutarakan hal yang membuatku berat meninggalkannya.
Untuk kedua kalinya kami berpisah. Membuat kesepakatan untuk tidak saling berhubungan satu sama lain sampai masa pendidikanku selesai.
"Apa gue bakal sanggup dua tahun enggak menghubungi, Lo?" tanyaku ragu ketika hendak berpisah di bandara.
"Gue yakin Lo sanggup," sahutnya mantap.
"Terus, Lo bisa?"
"Insya Allah, Lo enggak usah khawatir. Gue kan cewek kuat," kekehnya.
"Hei! Belum muhrim!" cecar mama tiba-tiba ada di samping kami, membuatku serta merta melepaskan pelukanku.
"Sekali aja, sih, Mam," tukasku, menggaruk kepala yang tidak gatal. Rasanya seperti tertangkap basah melakukan kejahatan. Malu dan takut.
"Nih, kopi buat Arjun. Ini buat Runa, coklat hangat." Mama menyodorkan dua gelas kertas dari sebuah kedai kopi dengan santai. "Sudah, tidak usah khawatir, Mama akan jaga Runa buat kamu. Iya kan Run?" ujarnya memeluk gadis berwajah oriental itu.
Runa mengangguk cepat. "Lo belajar aja yang rajin, biar cepat balik ke Bandung," tandasnya.
Aku berjalan meninggalkan dua perempuan yang ku cintai di pelataran bandara. Berjalan lurus ke depan dengan mata memanas. Aku tidak ingin terlihat lemah dengan memperlihatkan airmata pada mereka. Toh mereka akan kembali menyambutku dengan senyum yang lebih cerah.
***
Dua tahun kemudian.
Aku menatap bangunan berlantai dua di hadapanku. Bangunan bergaya klasik dengan cat warna mint yang manis. Bagian depan bangunan itu di tutup jendela kaca besar dengan tulisan "Sweet Treat". Kanopi berwarna coklat menaungi bagian atas jendela kaca lebar itu.
Aku memasuki bangunan itu. Lonceng kecil pada pintu berbunyi, membuat gadis yang berada dibalik etalase kaca mengangkat wajahnya.
Wajah yang selalu ku rindu selama dua tahun ini. Dua tahun membuat wajah itu makin terlihat dewasa. Rambut hitamnya digelung diatas tengkuk. Bibir pucatnya dipoles lipstik warna natural, makin memberi warna pada kulit putih bersihnya.
"Jun!" teriaknya, tergopoh keluar.
"I'm back!" sahutku tercekat. Dua tahun bagiku terasa lama untuk sebuah perpisahan. Menjalin hubungan jarak jauh hanya bermodalkan rasa saling percaya tidaklah mudah.
"Masih ada tempat di hati Lo buat gue, kan?" tanyaku pelan ketika gadis itu telah sepenuhnya ada di hadapanku.
__ADS_1
"Masih kosong seperti saat ditinggalkan pemiliknya dulu," sahutnya dengan mata berkaca. "Mau gue bikinin kopi?" tanyanya kemudian.
"Enggak usah, gue mau ketemu nyokap Lo. Seperti janji gue dulu, akan melamar Lo begitu gue balik." Mantap kuutarakan maksudku.
Aku sudah tidak ingin ada lagi perpisahan diantara kami jika pun Tuhan berniat memisahkan kami, aku berharap hanya maut yang nantinya mampu memisahkan.
Aruna si mentari pagi, akan menjadi cahaya kehidupanku untuk hari ini hingga aku menutup mata.
*****
Aruna
Kembali berpisah dengan orang yang kau cintai bukanlah hal yang mudah. Menjaga hati untuk selalu setia, mengunci rapat pintunya agar tiada yang berani menyusup masuk, butuh keteguhan yang kuat.
Beruntung Tante Aliya—mamanya Arjun selalu memberi support buatku. Sehingga aku percaya saja Tuhan akan menjaga hubungan kami.
Sepeninggal Arjun, Tante Aliya menyampaikan niatnya menjadi investor untuk usaha kue yang telah kurintis sebelum lulus. Niat itu terlaksana seperti cita-citaku dulu. Sebuah bangunan toko dengan gaya klasik yang manis disediakan oleh Tante Aliya untuk tempat usahaku.
Dua tahun merintis usaha, membuatku bisa fokus menjalani hari. Terlebih, kondisi ibu yang telah stabil dan bisa kembali ke Bandung, membuat bahagia yang kurasakan berlipat.
Hari ini, kalender untuk menghitung mundur kedatangan pria yang kucinta telah habis kutandai. Harusnya dia kembali menemuiku. Untuk menyambutnya, aku merasa perlu untuk berpenampilan beda dari biasa.
Maxi dress berwarna coral menjadi pilihanku kali ini. Sedikit polesan riasan wajah dan rambut yang kutata rapi membuatku merasa cukup percaya diri untuk menyambut kedatangannya.
"Aduh! Anak Ibu cantik banget hari ini," puji ibu ketika melihatku keluar dari kamar.
"Arjun pulang hari ini. Doain dia enggak lupa ya, Bu," sahutku sambil memeluk ibu.
"Pasti lupa kalau melihatmu seperti ini, beda begini," sahut ibu mematut penampilanku.
"Ha-ha, Ibu ... jadi aneh ya?"
"Enggak, kok. Kan sudah Ibu bilang, cantik."
"Kalau begitu, aku pamit, Bu." Aku mencium punggung tangan perempuan yang menjadi kekuatanku selama ini. Memeluknya erat dan mencium pipinya.
***
Lonceng penanda pengunjung masuk di pintu berbunyi. Ketika aku mengangkat wajah hendak menyambut tamu yang masuk, mataku terpaku pada sosok jangkung yang namanya selalu kusebut setiap kali berdoa. Wajah itu masih sama, sorot mata tajam dengan alis tebal yang menaunginya. Hidung mancung diatas bibir tipis kemerahan. Serta rahang yang terpahat kokoh membingkai wajah tampannya.
Serasa melihat mimpi yang berubah menjadi nyata tatkala melihatnya berdiri di sana. Mengatakan bahwa dia akan melamarku untuk menjadi pendamping hidupnya.
Hari ini adalah hari dimana aku merasa kehidupan baruku akan dimulai setelah perjalanan yang panjang. Satu babak kehidupan, akan kubuka. Berharap kali ini Tuhan memberi kesempatan padaku untuk berbahagia bersama makhluk yang telah Dia ciptakan.
****
Alhamdulillah,
Sudah sampai di ujung episode ya All.. Terima kasih buat semua dukungan kalian. Terutama reader yang rajin Vote untuk karyaku.
Terima kasih buat keluargaku tercinta atas dukungannya. Yang turut membantu menyebarluaskan hasil karyaku yang belum seberapa ini.
Buat temanku, Manda. Terima kasih atas support nya, yang selalu menjadi editorku selama menulis. Memberi semangat untuk terus berkarya.
**Buat para reader yang selalu vote. Makasi banyak yaa... Tanpa kalian karyaku tidak akan berarti apa-apa.
__ADS_1
Buat yang menyukai tulisanku, mampir yuk ke karyaku yang lain. Silahkan follow instagramku @ayanawawi. Kalian akan menemukan link atau update untuk cerita baruku disana**.