Kandas

Kandas
Curhatan Riko


__ADS_3

Mataku belum lama terpejam, ketika mendengar suara azan subuh berkumandang. Rasa kantuk dan dinginnya udara, membuatku merapatkan kembali selimut yang membungkus tubuh. Namun, suara jam weker yang terletak di pojok kamar, begitu memekakkan telinga. Membuatku mau tak mau harus keluar dari selimut untuk mematikannya.


Cara ini memang selalu ampuh untuk membangunkanku. Fobia yang kuidap, membuatku tak bisa tertidur jika ada suara-suara yang mengganggu. Orangtuaku harus memasang peredam suara pada dinding kamar, agar aku bisa beristirahat dengan baik.


Dengan mata yang setengah terpejam, aku menyeret langkah ke arah meja konsol tempat jam weker diletakkan, persis berada di depan pintu kamar mandi. Karena tak memperhatikan jalan, jari kakiku tak sengaja menendang kaki meja. Otomatis semua saraf di tubuhku yang masih setengah tidur mendadak bangun, diiringi umpatan kecil dari mulutku.


Selesai shalat subuh, kembali pikiranku dipenuhi wajah Runa. Makin hari perasaanku terhadap Runa makin terasa kuat. Tak seperti hari-hari sebelum jadian, biasanya akhir minggu seperti ini aku sudah berkutat di studio kecilku untuk membuat rekaman cover lagu.


Huft, tidak ada waktu untuk bermalas-malasan. Pada dasarnya rasa malas itu seperti candu, sekali saja menikmatinya, kau akan ketagihan.


Berusaha mengumpulkan semangat, kulangkahkan kaki, beranjak turun. Mungkin dengan olahraga ringan bisa sedikit menyegarkan pikiran yang tak mau beralih dari memikirkan Runa.


"Pagi, Aden," sapa pak Karsa ketika melihatku keluar dari pintu samping rumah.


"Pagi, Pak. Sudah sarapan pak?" Kulihat pak Karsa menenteng rantang enamel susun tiga bermotif lurik, mirip cendol.


"Baru saja mau makan, Den. Aden mau sarapan bareng? Ini emak yang masakin." Pak Karsa memamerkan rantang yang ada di tangannya.


"Terima kasih, Pak. Saya mau cari makan di luar saja sekalian mau olahraga," tolakku.


Anak pak Karsa memang setiap pagi selalu mengantarkan sarapan yang disiapkan oleh istrinya. Mama pernah menyediakan sarapan untuk beliau, tapi ditolak secara halus. Alasannya, hanya masakan istrinya yang terasa cocok di lidahnya.


Rumah pak Karsa berada di belakang komplek perumahanku. Jadi setiap pagi, emak—istrinya— menyuruh anaknya mengantarkan sarapan untuk beliau. Biasanya dari jam delapan pagi sampai jam lima sore, pak Karsa digantikan anaknya untuk berjaga di rumah.


"Aden mau olahraga di mana? Sigana bade hujan, Den" (sepertinya mau hujan, Den) Pak Karsa menunjuk langit.


Aku melirik ke arah langit, mendung. Awan gelap menutupi cahaya matahari yang mengintip malu-malu.


"Paling lari di sekitar sini saja, Pak. Enggak bakal jauh-jauh juga," sahutku, tak mau niat untuk berolahraga terkalahkan oleh cuaca.


"Ya sudah, atuh. Hati-hati ya, Den."


"Iya, Pak."


Keluar dari jalanan komplek perumahanku, suasana hingar jalan Tubagus Ismail langsung menyapaku. Kalau dulu, mungkin aku langsung berbalik arah kembali ke rumah


Suara riuh jalanan di pagi hari, dulu membuatku terkena serangan panik.


Ha-ha, kalau di ingat-ingat kembali, betapa lemahnya aku sebagai cowok. Untung saja Runa tidak sampai ilfil dengan kelemahanku. Sehingga dia masih setia bersamaku disaat beberapa orang teman sudah pergi meninggalkanku.


Mencoba mengobati sedikit rindu akan kehadiran Runa, aku menuliskan pesan untuk Runa. Hanya beberapa kata yang mendadak muncul. Tak peduli dia akan menganggapku norak, aku hanya ingin menegaskan padanya bahwa dia benar-benar berharga buatku.


Ditemani lagu creep-nya Radiohead dari headset ponsel, kususuri jalan Tubagus Ismail dengan berlari kecil.


🎶🎶When you were here before


Couldn't look you in the eye


You're just like an angel


Your skin makes me cry


You float like a feather


In a beautiful world

__ADS_1


I wish I was special


You're so fuckin' special 🎶🎶🎶


Lirik lagunya membuat bayangan Runa kembali bermain dalam imajinasiku. Cewek spesial yang mampu membuatku melewati masa-masa berat melawan fobiaku. Dia bagaikan Malaikat yang Tuhan kirimkan. Matahari yang menerangi masa kelamku.


Lantunan vokal Thom Yorke mendadak terhenti ketika ada panggilan masuk ke ponselku. Nama Riko tertera di layar.


Ada angin apa anak ini tiba-tiba menelponku sepagi ini.


"Ya, halo," sahutku ketika tombol terima panggilan telah kupencet.


"Bro, lo hari ini ada acara enggak?"


"Enggak, sih. Kenapa emang?" Masih dengan rasa heran, tidak biasanya Riko menghubungiku di akhir minggu. Biasanya dia telah sibuk menghabiskan weekend-nya dengan cewek-cewek gebetannya.


"Gue ke rumah lo, ya. Ada yang mau gue omongin."


"Jam berapa? Gue lagi di luar ini."


"Memangnya, lo lagi dimana?"


"Di Sabuga."


"Ya sudah, ketemu di sana aja. Gue ke sana sekarang." Riko langsung mematikan sambungan tanpa menungguku menyahut kembali.


Selesai dua kali putaran lari, ponselku kembali berdering, dengan nama Riko yang muncul di sana.


"Oik," sahutku.


Dari arah belakangnya, aku melihat tubuh jangkung Riko ceilingak-celinguk memperhatikan pengunjung Sabuga. Perasaan iseng muncul. Kubiarkan dia menyisiri satu-satu pengunjung yang tengah berlari di track lapangan.


"Woi, Bro. Diem aja lo!" sergahnya.


"Gue udah di belakang, lo," sahutku dengan terkekeh.


"Ngerjain aja lo, ah!" serunya menepuk keras lenganku.


"Mau lari enggak, lo?" Aku mengibas-ngibaskan baju yang telah basah oleh keringat. Baru beberapa putaran saja, rasanya sudah ngos-ngosan. Efek sudah lama tidak olah raga.


"Enggak ah, langsung ke rumah lo aja. Bisa enggak?" tanyanya dengan wajah serius.


"Lagi kenapa, lo?" selidikku melihat gelagat Riko tak seperti biasa.


"Entar, gue cerita di rumah lo aja."


Setengah penasaran, aku mengikuti Riko yang berjalan terburu-buru ke arah parkiran motor.


"Ayo, buruan. Udah gerimis ini!" serunya menstarter motor matic-nya.


Motor matic Riko seperti menjerit ketika berjalan. Membawa dua orang cowok jangkung dengan postur tubuh yang juga cukup berisi, membuat aku dan Riko duduk berdesakan.


"Naha urang asa geuleuh dibonceng ku maneh, lur," (kenapa aku berasa geli dibonceng sama kamu) kekehku ketika motor matic Riko menyalip beberapa angkot.


"Gandeng maneh, ah!" (berisik kamu) sungut Riko.

__ADS_1


Dalam waktu sepuluh menit, motor Riko berhenti di depan gerbang rumahku. Entah apa yang membuat anak ini terburu-buru. Kali ini Danu, anak pak Karsa yang menyambut kami. Tak seperti bapaknya, Danu hanya mengangguk hormat ketika kami melewati gerbang.


"Jun, kasih gue saran dong. Itu cewek udah gue tegur, tapi ekspresinya dingin aja gitu," berondong Riko ketika kami sampai di dalam rumah.


"Duh Gusti, gue kira apaan dari tadi lo kayak orang kesetanan bawa motor," gerutuku.


Aku tak mengira anak satu ini sampai sebegitunya menghadapi cewek. Mungkin ini karma karena selama ini dia terkesan menganggap cewek itu makhluk yang gampang didekati hanya dengan modal kata-kata manis.


"Gue kepikiran dia terus, Jun," ujarnya sambil menggaruk kepalanya, yang kuyakin seratus persen tidak gatal.


"Lo cari cewek lain aja napa, sih? Kalau dia bersikap dingin gitu, berarti memang enggak ada minatnya sama lo. Begitu bukan lo bilang dulu," sahutku.


"Ya elah Jun, kayak lo enggak ngerasain aja. Lo aja betah nungguin Runa dari SMP," ledeknya.


"Kalo gue kan konsisten, dari awal suka sama dia," elakku tidak terima disamakan dengannya.


"Nah, gue baru kali ini ngerasain kayak gitu, Jun. Biasanya gue enggak pernah sampai kepikiran kayak gini banget sama cewek."


Riko duduk di sofa ruang TV, menyandarkan tubuhnya. Tampak seperti orang putus asa.


"Serius, Ko. Gue masih noob urusan hati. Percuma lo minta saran sama gue, mah," sahutku sambil memanaskan sisa pie buatan mama tempo hari, ke dalam microwave.


"Eh, lo sudah makan belum? Jangan sampai lo jadi kurus mikirin gebetan, lo" kekehku geli melihat wajah Riko seperti itu.


"Jadi enggak selera makan gue, Jun," sahutnya lemah.


"Lo tau, enggak? Muka lo jelek kayak gitu, yang ada tu cewek jadi makin jauh ngeliat lo." Aku kembali meledek Riko.


"Lo masak apaan emang? Kok wanginya enak?" tanyanya mendekat sambil mengendus-endus.


"Cuma ngangetin pie bikinan nyokap, mau enggak, lo?" tawarku.


"Eh, mau gue. Enak banget wanginya," sahutnya, lalu duduk di bangku bar dapur dengan wajah kelaparan.


Sambil menghabiskan dua potong pie apple dan segelas kopi, Riko menceritakan karakter Leona—gebetan-nya. Dari namanya aku membayangkan sosok cewek yang agak keras tak ada basa-basi. Bingung juga hendak memberi saran apa. Karena sejujurnya menghadapi Runa saja aku masih gagap.


Aku juga tidak begitu mahir membaca isi hati perempuan. Mendapatkan Runa saja seolah berasa mimpi. Tak pernah aku menyangkakan Runa akan menyambut perasaanku. Selama ini aku juga tidak bisa mendeskripsikan seperti apa cowok idaman Runa.


"Gue kasih tau, lo. Walaupun gue udah hampir sembilan tahun bareng Runa, tapi gue masih enggak bisa ngertiin dia. Jadi kalau lo minta saran gimana cara ngedeketin tu cewe karena lo anggap karakternya mirip Runa, maaf gue enggak bisa bantu."


Ucapanku membuat Riko tercenung. Dia tampak berpikir dengan tangan yang memegang cangkir kopi menggantung di depan bibirnya.


"Berarti gue harus mikirin sendiri kalau kayak gini, mah," sahutnya setelah meneguk habis kopi yang ada di cangkir.


"Iya, tak ada ukuran baku untuk masalah hati. Lo harus cari cara berjuang lo sendiri."


Ya, urusan hati adalah kajian yang rumit. Tak ada hitung-hitungan baku yang mampu menyelesaikan masalahnya. Jika berususan dengan hati, kau juga harus menyelami hati sendiri untuk menemukan rasa yang pas.


_____________________________________________


Terima kasih atas dukungan nya AliceLin, author "My Fate is You" dan Kertia Author "Married with my enemy"


Bagi teman-teman yang ingin mampir, silahkan mampir ke tulisan berikut in


__ADS_1



__ADS_2