Kandas

Kandas
Matahari tertutup senja


__ADS_3

Sosok yang kurindukan akhirnya muncul setelah hampir setengah jam menunggu. Rasa sesak akibat rindu yang menumpuk, membuat lidahku kelu. Ingin rasanya merengkuhnya dan tak lagi kulepas, tapi aku hanya mampu memerhatikan setiap geriknya dengan penuh kerinduan. Hingga dia menjejalkan tubuhnya tepat di hadapanku.


Dalam enam bulan, perubahan begitu nyata terlihat dari wajahnya. Matanya yang biasa selalu memancarkan kehangatan bagai cahaya matahari pagi, terlihat redup. Pipi bulatnya menirus. Senyum cerianya seolah tenggelam bagai ditelan langit senja. Lingkaran di bawah matanya terlihat gelap. Bibirnya yang memang selalu terlihat pucat, makin pias.


"Lo kelihatan capek, banget," sapaku padanya saat dia duduk di hadapanku.


"Biasalah, penyakit lagi skripsi," desahnya dengan senyum kaku. "Ada apa? Kenapa Lo ngajak ketemuan?" tanyanya dingin.


Ya Tuhan, kemana Engkau bawa Aruna si mentari pagi itu? Jika saja dia bukan perempuan yang kucintai, bisa saja aku tak mengenal sosok yang tengah duduk berhadap-hadapan denganku saat ini.


Meski begitu, rasa ini masih sama terhadapnya. Rasa yang tak mampu tergantikan oleh siapapun. Rasa yang semakin hari semakin membesar terhadapnya.


"Sepertinya kita masih bisa meneruskan hubungan kita, Run. Ternyata gue enggak punya darah Minang sama sekali."


"Maksud Lo apa?"


Mata sipitnya melebar, tatkala kukatakan bahwa aku bukan anak kandung kedua orangtuaku. Berharap dia akan tersenyum ceria kembali setelah mengetahui bahwa tidak ada pertalian suku atau adat istiadat yang akan menghalangi hubungan kami. Namun sorot mata bingungnya, membuat harapanku melemah.


"Memangnya Lo enggak seneng dengar berita ini, Run?" Semangat yang tadi menggebu seketika merosot melihat reaksi Runa.


"Lo enggak ngarang cerita, kan, Jun?" Kalimat tanya itu makin membuatku putus asa.


"Kok Lo, kayanya biasa aja gitu, enggak sedih?" Kembali pertanyaan dengan nada penuh curiga, dia lontarkan.


Buat apa aku bersedih mengetahui fakta bahwa aku hanya anak angkat. Tak peduli lahir dari rahim siapa, toh selama ini aku selalu mendapat perhatian penuh dari orangtua angkatku. Aku bahkan sempat berharap, terlahir bukan dari rahim mama. Mungkin terdengar kejam, tapi perasaan hancur saat mengetahui bahwa aku dan Runa tidak bisa bersama karena terhalang adat, membuat pikiran itu muncul begitu saja.


Kesedihan yang kurasakan saat mengetahui bahwa aku bukan anak kandung kedua orangtuaku, tertutup oleh kebahagiaan untuk bisa kembali bersama Runa. Tiba-tiba aku teringat, tadi mama kutinggalkan begitu saja.


"Eh, gue mesti balikin motor Riko dulu. Sekalian balik ke rumah gue, yuk! Tadi gue pergi gitu aja ninggalin mama." Teringat juga sahabatku yang tadi sempat naik pitam gara-gara motornya kularikan.


Kami meninggalkan taman bacaan, menuju rumahku. Ini pengalaman pertamaku berdua dengan Runa mengendarai motor. Aku tidak dapat melihat ekspresinya kali ini. Meski tubuhnya cukup jangkung, tapi tetap tersembunyi di balik punggungku. Biasanya di saat menyetir, aku masih bisa mencuri pandang padanya. Sesekali melihat ekspresinya yang begitu menenangkan.


Di sepanjang jalan, tidak ada sepatah kata pun terucap di antara kami. Hanya raungan mesin motor yang kukendarai terdengar memecah ketenangan jalan Sekeloa yang terlihat sepi siang ini.


Sampai di bengkel tempat Riko menunggu, kulihat mukanya masam. Aku merasa bersalah.


"Sorry Bro! Jadi nyusahin Lo." Aku menyerahkan kunci motor dengan wajah penuh sesal.


"Gue pikir kenapa Lo kayak kesetanan gitu ngedorong motor mogok, taunya mau jemput Runa doang!" cecarnya mengambil kunci yang ku serahkan dengan wajah yang ditekuk.


"Runa doang! Penentu masa depan gue, ini!" tukasku tidak terima dengan kalimat yang baru saja dia ucapkan.


"Ya tapi jangan seenaknya gitu juga main ngelariin motor orang, gue juga butuh, tau!" sengitnya masih dengan muka kesal.


"Iya, gue minta maaf. Terus apa yang harus gue lakukan biar Lo maafin gue?" tantangku. Aku tau Riko tidak akan betah berlama-lama marah.


"Udah deh, gue cuma kesal aja. Acara kencan gue jadi tertunda."

__ADS_1


"Ini, gue kasih buat ganti bensin. Maaf bukan maksud gue ngehargain bantuan Lo dengan duit, cuma gue ngerasa hutang Budi banget sama Lo. Segini juga ga seberapa." Kujejalkan dua lebar uang seratus ribuan ke dalam tangan Riko.


"Wah! Tau aja Lo obat pereda marah ya! Ha-ha," gelak Riko, seketika wajah masamnya berubah cerah.


"Ya sudah, terima kasih ya, Bro! Gue ...."


Bruk!


Sekonyong-konyong suara benda jatuh, disusul tubuh Runa yang roboh membuatku bergegas menghampiri. Dan seperti biasa, dengan setengah gemetar aku berlari mendekati tubuh Runa yang tergolek di lantai depan bengkel.


"Bro! Lo jangan panik, kalem! Gue cariin taksi dulu, bawa Runa ke rumah sakit." Riko seolah memberi instruksi padaku meredakan rasa panik yang mulai datang.


Pemilik bengkel tergopoh datang mendekat.


"Kenapa si Eneng ini?" tanyanya dengan raut cemas.


"Enggak tau, Bu. Tiba-tiba saja pingsan."


Aku terperanjat ketika tanganku menyentuh kulit Runa, begitu panas. Wajahnya makin pias.


"Ini, coba oles minyak ini di hidungnya." Ibu pemilik bengkel menyerahkan botol kecil minyak oles.


Baru saja aku mengoleskan minyak ke hidung Runa, Riko datang tergopoh.


"Jun, itu taksinya sudah ada. Buruan!" kulihat Riko juga terlihat sama panik nya denganku.


"Ko, tolong Lo simpenin itu goody bag si Runa. Kayaknya itu skripsi dia!" ujarku setengah berteriak dari dalam taksi.


Meski supir taksi telah melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh, tapi aku masih merasa geraknya begitu lambat.


"Pak, bisa tolong dipercepat?" pintaku setengah putus asa.


"Ya enggak bisa, Mas. Nanti saya nabrak orang," sungut supir taksi melirik sinis dari spion.


Runa seperti tertidur pelukanku, panas tubuhnya membuat pendingin udara di dalam taksi seperti tidak berfungsi, terasa begitu panas. Keringat membanjiri keningnya. Berbait-bait doa Kurapalkan agar mata itu kembali terbuka dan bibirnya menyunggingkan senyum kembali.


Setengah berlari, aku memasuki ruang Instalasi Gawat Darurat rumah sakit dengan Runa dalam gendonganku. Telingaku bahkan tak bisa mendengar kalimat apa yang kuteriakkan pada petugas medis. Dengan tergesa, petugas medis yang berjaga mengarahkanku ke brankar yang kosong di sudut ruangan.


"Mas tunggu di luar saja biar kami akan tangani," ujar petugas medis yang berjaga sambil menarik tirai pembatas antar brankar di ruang IGD.


"Apa saya tidak bisa menunggu di sini?" pintaku setengah memelas.


"Silahkan urus pendaftaran pasien dulu ke bagian admisitrasi," tunjuknya ke bagian loket yang terdapat di pintu luar IGD dengan nada mengusir.


"Mas, tas pasiennya dipegang dulu saja," kata petugas medis yang baru keluar dari tempat Runa ditindak, menyodorkan tas kecil dari kain kanvas milik Runa.


Aku berbalik mengambil tas kecil yang biasa diselempangkan Runa di bahunya dari tangan petugas medis tersebut, kemudian berjalan tergesa ke arah loket pendaftaran.

__ADS_1


Baru saja endak kembali ke dalam ruangan IGD setelah mendaftarkan Runa, ponselnya berdering. Aku mengambil benda itu dari dalam tas kecil miliknya untuk membisukan nada dering agar tidak mengganggu pasien yang lain. Mataku seketika terpaku pada nama yang tertera di layar.


"Kak Beni?"


Aku mencoba mengingat-ingat nama itu. Sepertinya Runa pernah mengatakannya. Aku baru mengingat nama itu ketika panggilannya berhenti. Nama itu adalah nama laki-laki yang pernah Runa katakan pernah jalan dengannya waktu di Jakarta.


Panggilannya kembali masuk ketika ponsel Runa hendak kukembalikan ke dalam tas. Rasa penasaran membuatku memencet tanda menerima panggilan.


"Halo?"


"Ini siapa?" tanyanya dengan nada penuh curiga.


"Gue cowoknya ...."


"Cowoknya yang mana? Runa kemana?" potongnya


"Runa pingsan, sekarang lagi ditangani dokter," sahutku dingin.


Tiba-tiba sambungan diputus. Aku mendengus, memasukkan kembali ponsel Runa ke dalam tas.


"Pak, hasil tes darah pasiennya sudah keluar. Gejala typus," terang petugas medis yang tadi menangani Runa. "Silahkan didaftarin untuk rawat inap saja," kembali dia memberi instruksi.


***


Aku menelpon mama untuk memberitahukan bahwa aku harus menemani Runa di rumah sakit, agar mama tidak terlalu khawatir atas kepergianku yang tiba-tiba.


"Jun! Mama kira tadi kamu pergi begitu saja, karena kamu kecewa," isak mama dari ujung sambungan. "Mana mobil juga ditinggal. Makanya mama sudah mikir macam-macam," lanjutnya dengan suara serak.


"Aku minta maaf, Mam. Nanti aku jelaskan ke Mama kenapa aku tiba-tiba pergi ke tempat Runa."


"Nanti Mama susul ke rumah sakit, ya."


"Iya, Mam. Terima kasih."


Warna langit telah berubah oranye ketika Runa membuka mata. Aku bernafas lega, ketika kelopak matanya mengerjap pelan, menoleh padaku.


"Lo sudah sadar?" selidikku mengusap punggung tangannya. Tangannya sedingin es, berbanding terbalik dengan kulit pada wajahnya yang terasa membakar.


"Gue dimana?" tanyanya dengan suara lemah.


Aku menjelaskan padanya penyebab dia pingsan tadi. Tiba-tiba saja dia tergugu menangis. Ketika kukatakan bahwa dia harus istirahat beberapa hari di rumah sakit.


Sorot matanya menampilkan keputusasaan. Runaku yang selalu terlihat kuat, pada akhirnya menyerah. Terlihat tak berdaya terbaring di brankar. Airmatanya membuatku iba. Bahkan tangisan ketika perpisahan kami dulu belum ada apa-apanya dibanding kepiluan yang kulihat kali ini.


Dia merasa, Tuhan memperlakukannya dengan tidak adil. Memberikannya cobaan berkali-kali. Kini baru kusadari, kenapa wajah itu begitu terlihat begitu putus asa. Dia selama ini memendam sendiri rasa sakit setiap kali Tuhan memberinya cobaan.


Matahariku, kali ini senja merenggut hangatmu, tetapi aku akan tetap di sini menunggu pagi membawamu kembali. Beristirahatlah, agar esok kau bisa mengusir malam, menepiskan badai dengan kehangatanmu.

__ADS_1


__ADS_2