LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
112 - Naga dari Klan Kuno


__ADS_3

Wei Zhang Zihan dan Chu Kai jatuh ke sebuah tempat di bawah kota. Beruntung keduanya dengan cepat segera mengambil posisi mendarat yang sesuai hingga tidak mengalami luka yang serius.


Napas Chu Kai tidak beraturan, jelas sekali bahwa ia sangat terkejut dengan kejadian yang menimpanya. Dia pun teringat seseorang dan segera buka suara, "Pendekar Wei..?!"


"Ada apa?"


!


Chu Kai melihat Wei Zhang Zihan berdiri dan pemuda itu dalam kondisi yang baik. Dia pun mengembuskan napas lega dan lantas mulai memperhatikan sekitarnya.


"Tempat ini..." Chu Kai melihat reruntuhan yang nampak seperti pilar-pilar besar. Ada puing bangunan di sekitarnya dan sebuah tangga dengan singgasana di ujungnya. Tempat ini seperti sebuah aula dalam istana, namun dengan kondisi yang sudah sangat tua seolah telah termakan usia.


Wei Zhang Zihan juga memperhatikan sekeliling dan baru mengambil beberapa langkah---ia pun mendengar Chu Kai berseru.


"Pendekar Wei, lihat..!"


Wei Zhang Zihan mengikuti arah jari telunjuk Chu Kai dan mulai melihat dengan baik beberapa kepingan emas di lantai. Ia pun mengikuti pemuda berpakaian hitam itu dan tepat di belakang puing-puing bangunan, ada sekitar enam gunung tumpukan emas serta benda-benda berharga lainnya.


Chu Kai tanpa sadar membuka mulutnya lebar. Tempat ini sama berkilaunya dengan ruangan yang penuh mutiara roh waktu itu. Dia menelan ludah dan kemudian mengarahkan pandangan pada Wei Zhang Zihan.


"Pendekar Wei, harta sebanyak ini..." Chu Kai tidak tahu bagaimana mengatakannya. Di tempat ini hanya ada dirinya dan Wei Zhang Zihan. Dia jadi penasaran dengan isi pikiran Pendekar Suci di sampingnya. Mungkinkah.. Mereka harus memonopoli gunungan emas ini?


"Dengan harta sebanyak ini, Sekte Gunung Wushi dan Kota Lianyi akan memperoleh kejayaannya. Benar, kan?" Chu Kai buka suara, namun ekspresi Wei Zhang Zihan tidak banyak berubah.


"Jangan serakah. Ambil yang kau butuhkan saja dan kita harus keluar dari tempat ini," Wei Zhang Zihan melangkah dan membuat Chu Kai tersentak.


"Tsk, apa dia pikir gunungan emas itu tidak penting?" Chu Kai menyilangkan tangan dan menggeleng pelan.


Dia merasa bahwa Pendekar Suci Wei Zhang Zihan terlalu lurus sebagai manusia. Padahal dengan harta sebanyak ini, Sekte Gunung Wushi bisa memperoleh kejayaan. Mereka dapat membeli herbal berkualitas tinggi atau bahkan pil yang dapat membantu praktik kultivasi meningkat, intinya emas-emas di tempat ini akan sangat berguna. Tapi Wei Zhang Zihan sama sekali tidak tertarik.

__ADS_1


Chu Kai melihat Wei Zhang Zihan berjalan lebih jauh, dia pun melangkah ke tempat lain untuk melihat-lihat benda apa saja yang bisa dibawa walau sejujurnya dia benar-benar tertarik dengan tumpukan emas berkilauan ini.


"Pendekar Wei, aku minta maaf. Tapi jika berhubungan dengan harta, aku ini cukup serakah." Chu Kai mengangguk pelan, "Daripada membiarkan orang lain yang mengosongkan tempat ini, lebih baik aku yang mengambilnya. Mereka mungkin akan memakainya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi aku tidak akan melakukan hal itu."


Chu Kai berusaha menyakinkan diri dan juga memikirkan tindakan yang harus dia lakukan untuk setidaknya membuat Wei Zhang Zihan pergi dari tempat ini. Dia harus membuat Pendekar Suci itu menjauh sehingga ia dapat mengeluarkan gulungan penyimpanannya dan mengosongkan tempat ini.


Di sisi lain, Wei Zhang Zihan tidak mengetahui niatan Chu Kai. Dia berjalan seolah-olah ada firasat yang menariknya untuk ke bagian lain di antara gunungan emas-emas ini. Bahkan rasanya ada semacam angin misterius yang berhembus dari suatu arah dan itu membuat Wei Zhang Zihan penasaran.


Pemuda dari Sekte Gunung Wushi itu pun melihat pilar kecil, setinggi pinggang orang dewasa dan ada sebuah gulungan di atas pilar tersebut. Hembusan angin makin kuat dan memang berasal dari gulungan tersebut.


".............." Wei Zhang Zihan berjalan semakin dekat dan kemudian mulai mengulurkan tangan. Tidak ada hal berbahaya dan seolah memang gulungan inilah yang menuntunnya untuk mendekat. Namun meski demikian, Wei Zhang Zihan tetap berhati-hati bahkan saat mulai membuka gulungan di tangannya.


Pendekar Suci dari Sekte Gunung Wushi itu langsung disambut dengan tulisan kuno dan sejujurnya tidak dimengerti. Hanya saja tidak butuh waktu lama sampai energi spiritual keluar dari gulungan tersebut dan cahaya yang menyilaukan muncul.


!!


Wei Zhang Zihan sampai menutup mata dan cahaya itu bahkan sampai ke tempat Chu Kai. Pemuda yang merupakan Pendekar Naga terpilih tersebut pun langsung bergegas sambil memanggil-manggil nama Wei Zhang Zihan. Chu Kai menjadi khawatir jika pemuda yang bersamanya mengalami kesulitan.


"Pendekar Wei, kau tidak apa-apa?" Chu Kai buka suara, ekspresi wajahnya nampak cemas.


Cahaya yang sebelumnya sudah hilang saat Chu Kai datang dan Wei Zhang Zihan pun melihat bahwa tulisan dalam gulungan di tangannya sudah tidak ada. Dia keheranan, namun tetap menjawab Chu Kai dengan berkata bahwa ia baik-baik saja.


"Pendekar Wei, apa yang kau lakukan tadi? Aku benar-benar khawatir jika sesuatu yang buruk padamu terjadi." Chu Kai tidak menipu, dia memang sangat mencemaskan Wei Zhang Zihan. Pemuda ini sama seperti Xia Ling Qing yang sudah banyak menolongnya.


"Aku baik-baik saja. Selain itu, kau dari mana saja?" Wei Zhang Zihan baru akan bicara kembali ketika udara di sekitarnya menjadi menekan. Ia dan Chu Kai pun tersentak.


Wei Zhang Zihan meletakkan kembali gulungan di tangannya dan kemudian berjalan bersama Chu Kai. Mereka dengan hati-hati melangkah dan kaget saat mendengar suara geraman.


!!!

__ADS_1


Di belakang singgasana yang Chu Kai dan Wei Zhang Zihan lihat sebelumnya ternyata ada sesosok makhluk berukuran besar yang kemungkinan sedang tertidur. Mungkin karena kebisingan dan juga cahaya dari gulungan itu hingga makhluk tersebut pun mulai terganggu.


Chu Kai menahan napas. Makhluk yang dia lihat mempunyai sepasang tanduk di kepala dengan moncong dan surai berwarna putih. Surai itu ada di kepalanya, punggung, hingga mencapai ekor.


Makhluk tersebut mempunyai tubuh besar dengan kulit berwarna merah dan bagian perut hingga leher berwarna putih pucat. Ada sayap seperti kelelawar dan tangan yang menyatu dengan sayap tersebut. Sosok itu mempunyai kaki dan kuku besar yang tajam. Chu Kai kembali menelan ludah saat melihat gigi tajam dari makhluk yang mengerikan tersebut.


"Naga..." Wei Zhang Zihan buka suara dan membuat Chu Kai tersentak.


"Naga?!" Chu Kai memperhatikan baik-baik makhluk yang kini mulai bangun itu dan merasa bahwa meski subjek yang dia lihat merupakan seekor naga, namun naga ini jelas berbeda penampilan dari naga yang pernah dia lihat.


"Pe-Pendekar Wei, apa kau yakin?" suara Chu Kai pelan saat bertanya.


"Itu naga dari klan kuno," Wei Zhang Zihan menjawab. Dia pun berkata, "Tetap waspada. Dia mungkin mulai merasakan kehadiran kita,"


!!!


Chu Kai merasakan jantungnya berhenti berdetak beberapa saat sebelum berpacu dengan kencang. Ucapan Wei Zhang Zihan sangat mengguncangnya dan jelas ini bukan hal yang baik. Mereka benar-benar dalam situasi yang berbahaya.


"Makhluk itu terlihat sangat kuat," Chu Kai menekan dadanya, seolah-olah dengan cara ini ia bisa menenangkan debaran jantungnya.


"Naga dari klan kuno memang sangat kuat, karena itulah lebih baik kita menghindarinya. Melawan makhluk itu akan sulit jika hanya kita berdua yang melakukannya,"


Chu Kai mengangguk pelan sebagai respon dari ucapan Wei Zhang Zihan. Dan selain itu, dia juga mengerti dengan baik tentang batas dari kemampuannya sendiri. Apalagi sebelum ini, dia dan Wei Zhang Zihan sudah banyak memakai tenaga ketika menghadapi anggota Sekte Bulan Mati.


"Pendekar Wei, ke mana nona Nalan Shu?" Chu Kai baru tersadar dan pertanyaannya barusan juga membuat Wei Zhang Zihan terkejut.


Keduanya saling berpandangan dan segera bergegas mencari Nalan Shu. Gadis itu sebenarnya juga ikut terperosok bersama mereka sebelumnya dan dalam kondisi yang masih terikat. Karenanya mereka pun panik sebab Nalan Shu mungkin dalam masalah.


"Tunggu, Pendekar Wei." Chu Kai buka suara. "Naga sebelumnya menggeram, mungkinkah itu..."

__ADS_1


!!!


******


__ADS_2