
BLAAAAR...!!
Suara ledakan tercipta dan bahkan menghasilkan hujan buatan. Wei Zhang Zihan dan Chu Kai sama-sama terdorong mundur. Keduanya bahkan memuntahkan darah sebelum kembali melesat.
!!
Tetua Fang Tie Zhu berkedip, "Mereka berdua itu.... Jangan-jangan saling bermusuhan?"
"Teknik Serangan, Tinju Pernapasan Matahari..!"
Chu Kai berseru dan serangan yang tercipta dari tinjunya dengan cepat melesat ke arah Wei Zhang Zihan. Bahkan terdengar suara gemuruh yang cukup membuat siapa pun tegang.
Tetua Fang Tie Zhu mengerutkan kening saat mendengar seruan Chu Kai. Dia bergumam, "Nama jurus apa itu barusan? Aku bahkan belum mengajarkannya teknik serangan dari Pernapasan Matahari."
Jelas sekali bahwa Chu Kai hanya asal sebut nama untuk terlihat lebih keren. Masalahnya, meski itu adalah nama jurus yang tercipta secara dadakan, tetapi dampak serangannya sama sekali bukan candaan.
Wei Zhang Zihan yang sadar bahwa dirinya dapat terluka parah pun mulai bergerak, mengatur posisi kakinya dan lantas mengayunkan pedang.
"Teknik Pernapasan Angin, Gelombang Sutra."
!!
Itu adalah serangan yang dahsyat, bahkan tidak hanya mampu menahan serangan Chu Kai---tetapi juga membuat serangan pemuda bermata hijau alami tersebut membesar.
Tetua Fang Tie Zhu merasa bahwa Wei Zhang Zihan akan kalah. Ini dikarenakan elemen dari pendekar suci itu adalah angin yang justru akan membuat elemen api dari serangan Chu Kai menjadi kuat. Sudah menjadi hukum alam bahwa angin lemah terhadap api.
Hukum ini jelas tidak diragukan lagi, tetapi perlu diketahui bahwa Wei Zhang Zihan adalah sosok yang selalu memikirkan setiap kali ia bertindak. Dia tahu cara melihat peluang dan memanfaatkan kelebihan dari serangan Chu Kai untuk menjadi keuntungan baginya.
!!
Tetua Fang Tie Zhu terlihat bersemangat saat menyaksikan pertarungan kedua pemuda itu. Apalagi ekspresi wajahnya begitu senang saat Chu Kai terkena serangan berelemen api miliknya sendiri.
"Ha ha ha," tawa Tetua Fang Tie Zhu meledak. Dia baru saja akan berseru dan mengatai Chu Kai ketika ledakan api yang mengenai pemuda itu perlahan menghilang.
Chu Kai terlihat berdiri sambil berusaha memadamkan api pada lengan pakaiannya. Napasnya terlihat terengah-engah, namun ekspresi wajahnya masih sangat waspada terhadap lawan di hadapannya.
__ADS_1
"Aku benar-benar harus berusaha lagi agar bisa mengalahkan Pendekar Wei," Chu Kai menarik napas dan memikirkan teknik serangan yang harus ia lakukan selanjutnya.
Niatan Chu Kai memang demikian, tetapi saat sedang berpikir---Wei Zhang Zihan menghilang dan tiba-tiba muncul di hadapannya dengan sebuah pedang yang berayun kuat. Belum lagi subjek tersebut dipenuhi aura pendekar yang luar biasa menekan.
Chu Kai yang merasakan nyawanya terancam secara spontan mengeluarkan Teknik Pernapasan Naga. Dia membuat Wei Zhang Zihan terkejut dan dengan mata yang terbuka lebar.
Ledakan dahsyat tercipta dari serangan Chu Kai dan buruknya pepohonan di sekitar danau tumbang, padahal pepohonan itu mempunyai akar-akar yang kuat.
"Pe-Pendekar Wei?" Chu Kai baru menyadari perbuatannya dan langsung menjadi sangat khawatir. Dia kaget karena tidak menemukan Wei Zhang Zihan di hadapannya dan bahkan air danau berubah pucat di bawah kakinya.
"Gawat!" Chu Kai kesulitan bernapas. Dia pun mengedarkan pandangannya dan menyaksikan bagaimana dedaunan pada pohon-pohon yang tumbang itu perlahan menguning sebelum akhirnya menjadi kering.
"Pe-Pendekar Wei..!" Chu Kai menjadi takut. Dia berulang kali memanggil-manggil nama Wei Zhang Zihan bahkan mencari keberadaan dari pendekar suci itu, tetapi sama sekali tidak ia temukan.
"Bagaimana ini, apa aku tanpa sengaja sudah membunuh-"
"Kau ternyata monster,"
!!!
Pria berambut merah tersebut memegang lengan seseorang yang ternyata adalah Wei Zhang Zihan. Chu Kai pun akhirnya bisa bernapas lega saat melihat bahwa rekannya tersebut dalam keadaan yang baik. Dia bahkan tidak peduli dengan ucapan Tetua Fang Tie Zhu yang mengatainya 'monster'.
"Tetua Fang..." Chu Kai bergegas menghampiri pria bertubuh berotot tersebut dan kemudian menatap ke arah Wei Zhang Zihan.
"Ba-bagaimana keadaan Pendekar Wei?" Chu Kai masih terlihat khawatir. Dia mengulurkan tangan dan menyentuh bahu pendekar suci di hadapannya.
"Jika aku tidak bergerak cepat, maka pemuda tampan ini mungkin akan mengalami hal serupa dengan pepohonan yang di sana itu." Tetua Fang Tie Zhu buka suara. Dia menepuk bahu Wei Zhang Zihan dan tersenyum sebelum akhirnya menatap Chu Kai dengan saksama.
Tetua Fang Tie Zhu pun melanjutkan, "Teknik serangan yang kau lakukan barusan... Aku baru pertama kali melihatnya dan itu sangat mengerikan. Kau ini... Sepertinya manusia yang berbahaya."
Chu Kai tersentak, dia menatap Tetua Fang Tie Zhu sebelum akhirnya menatap ke arah Wei Zhang Zihan. Pandangan matanya lantas turun dan suaranya terdengar gugup.
"Aku... Aku..."
"Kau punya banyak rahasia dan aku menyukainya," Tetua Fang Tie Zhu tersenyum. "Sepertinya aku memiliki murid yang tidak biasa. Benar, kan?"
__ADS_1
"................" Chu Kai tidak tahu bagaimana harus mengatakannya. Di sisi lain, Wei Zhang Zihan masih belum juga buka suara dan itu membuatnya merasa canggung. Dia menjadi cemas jika pendekar suci ini mulai membenci dirinya yang sudah menyembunyikan banyak hal.
"Sekarang aku jadi tahu bahwa kau mempunyai kemampuan yang lumayan," Wei Zhang Zihan buka suara. Dia menurunkan pandangan sebelum mulai menggeleng pelan.
Dengan suara tanpa nada, Wei Zhang Zihan berkata. "Jika saja kau menggunakan kemampuanmu sejak awal, maka mungkin saja aku tidak pernah bisa mengatasinya dengan semua teknik berpedang yang kumiliki."
"I-itu tidak benar..." Chu Kai berkata, "Kau sangat mengagumkan Pendekar Wei. Jadi tidak mungkin aku bisa sebanding apalagi mampu mengalahkanmu,"
"Hei," Tetua Fang Tie Zhu menepuk bahu Chu Kai dan berkata. "Kau terlalu merendahkan diri sendiri. Kau mempunyai bakat dan A-Yan pun mengakuinya,"
Sambil tersenyum, Tetua Fang Tie Zhu kembali berkata. "Kau harus tahu hal ini, A-Yan adalah orang yang paling sulit diajak bicara dan sosok yang tidak mungkin memberikan pujiannya pada orang lain. Jadi sangat beruntung jika kau dapat menarik perhatiannya, apalagi membuat pemuda ini mengingat namamu."
"Di samping itu..." nada suara Fang Tie Zhu berubah menjadi serius. Tatapannya tajam saat ia bertanya, "Bagaimana kau melakukan teknik serangan semacam itu? Dari mana kau mempelajarinya."
"Aku..." Chu Kai menarik napas dan menjawab, "Aku mempelajarinya saat... Itu... Saat menjelajah makam! Benar. Ketika aku terkurung di dalam gua makam kuno. Aku berjuang menyelamatkan nyawaku sendiri dan menemukan beberapa gulungan teknik, jadi..."
"Kau mempelajarinya?" Tetua Fang Tie Zhu berkedip. Ekspresi wajahnya seakan meragukan apa yang dikatakan Chu Kai.
"Aku tahu Tetua Fang tidak percaya dengan apa yang kukatakan, tapi memang itulah yang terjadi. Tetua bisa menanyakannya pada Pendekar Wei," Chu Kai berujar pelan. "Aku... pernah terperangkap di gua makam kuno selama setengah tahun dan berhasil mendapat beberapa teknik dari menjelajah makam."
"Mm..." Tetua Fang Tie Zhu menatap ke arah Wei Zhang Zihan dan pemuda itu pun mengangguk pelan seakan sebagai isyarat bahwa apa yang dikatakan Chu Kai memang benar adanya.
Sambil menarik napas, Tetua Fang Tie Zhu berkata. "Aku ingin melihat teknik seranganmu yang dahsyat ini lagi, jadi kau akan terus melakukan pelatihan sambil tetap bergerak ke lokasi misimu."
Chu Kai berkedip. Dia tidak bisa menolak apalagi membantah ucapan Tetua Fang Tie Zhu. Hari itu tidak sepenuhnya berakhir sebab ia terus berlatih di bawah bimbingan pria berambut merah ini.
Tetua Fang Tie Zhu tidak hanya mengajarkan tentang teknik serangan yang bisa dipakai dalam Pernapasan Matahari, tetapi juga membuatnya mampu mengendalikan kekuatan dari Teknik Pernapasan Naga meskipun selama beberapa menit agar tidak sampai menghabisi nyawa seseorang.
Chu Kai dan Wei Zhang Zihan menuju ke tempat di mana Xia Ling Qing dan Liu Han Ying berada. Di sepanjang jalan, Chu Kai tidak pernah melewatkan waktu untuk berlatih di bawah bimbingan Tetua Fang Tie Zhu sampai mereka harus berpisah jalan karena Tetua Fang Tie Zhu mempunyai hal yang harus diurus.
Chu Kai tidak tahu ada hal penting apa sehingga membuat Tetua Fang Tie Zhu pergi, namun apa pun itu---Dia tidak ingin menghalangi Shizun-nya tersebut.
Dia pun melanjutkan perjalanan bersama Wei Zhang Zihan hingga mereka tiba di sebuah kota besar yang dipenuhi kemeriahan malam. Tempat ini memang sangat terkenal dengan hiburan malamnya dan merupakan kota yang memiliki udara tipis kemerahan saat Chu Kai melihatnya.
******
__ADS_1