LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
85 - Ancaman


__ADS_3

Sekte Bulan Mati,


Di bawah langit malam, sebuah pilar meledak karena terkena serangan dari selendang merah milik Xue Xiaowen. Putri Tetua Besar Sekte Bulan Mati tersebut terlihat sangat marah, dia bahkan kembali melesatkan selendangnya yang kini mengenai ekor dari sebuah patung kalajengking.


"Akan kuhabisi... Aku pasti akan membuat Sekte Gunung Wushi hancur," Xue Xiaowen mengepalkan tangannya dan teringat dengan tindakan Xia Ling Qing saat itu. Tatapannya menjadi tajam.


"Lihat saja, Xia Ling Qing..." Xue Xiaowen berkata, "Kau tidak akan pernah kumaafkan. Hutang ini... Aku pastikan kau akan membayar semuanya,"


Xue Xiaowen melambaikan selendangnya dan kini mengenai kepala patung kalajengking besar di hadapannya hingga meledak. Kepala patung itu rupanya adalah sebuah pintu gua dan kini aura gelap dari dalam gua tersebut mulai keluar.


"Pergi dan buat tidak hanya Sekte Gunung Wushi kacau, tetapi juga seluruh Kota Lianyi. Kali ini aku ingin... Xia Ling Qing melihat kematian di depan matanya."


Asap hitam keluar dari gua dan kemudian melayang pergi. Napas Xue Xiaowen terlihat tidak beraturan, tetapi dibandingkan dengan apa yang akan menimpa Sekte Gunung Wushi... Lelah semacam ini tidak ada apa-apanya.


Para murid di Sekte Gunung Wushi dan warga Kota Lianyi sama sekali tidak mengetahui akan bahaya yang mengincar mereka. Bahkan termasuk Chu Kai yang saat ini masih berada di penginapan.


Xia Ling Qing malam itu terlihat berlatih pedang di halaman samping penginapan ini. Chu Kai memperhatikan gadis itu di jendela dan beberapa kali mulai menguap.


"Tidakkah harusnya kau juga ikut berlatih?" suara Wei Shezi terdengar dan Chu Kai pun menjawab.


"Kau kan bilang bahwa aku bisa istirahat? Latihannya nanti saja, lalu apa-apaan pertanyaan barusan?"


"Kau ini... Sebenarnya benar-benar niat menjadi pendekar atau tidak?"


"Aku ingin, tapi untuk sekarang...." Chu Kai berbalik dan menatap sosok yang saat ini masih belum sadarkan diri. Dia pun berkata, "Pendekar Wei masih belum bangun. Perlu ada orang yang menjaganya,"


Chu Kai baru akan buka suara saat melihat Xia Ling Qing menyarungkan pedangnya kembali. Gadis itu pun berjalan memasuki penginapan dan sepertinya sudah mulai ingin tertidur.


*

__ADS_1


*


Di pagi hari, Wei Zhang Zihan pun mulai membuka matanya. Pemuda itu menatap langit-langit kamar dan menyadari bahwa ini bukanlah ruangan pribadinya. Dia pun mulai bangun, tetapi tersentak saat merasakan lengan pakaiannya begitu berat.


Wei Zhang Zihan menoleh dan terkejut saat mengetahui bahwa dia tidak sendirian berada di atas tempat tidur ini. Ada seseorang yang tidur di sampingnya dan itu tidak lain adalah Chu Kai.


Wei Zhang Zihan berkedip dan kemudian menarik lengan pakaiannya hingga membuat Chu Kai terbangun. Pemuda itu terlihat mengusap-usap matanya sebelum mulai menguap.


"Oh, Pendekar Wei sudah bangun?" Chu Kai memperbaiki posisinya dan kemudian bertanya, "Bagaimana kondisimu? Apa Pendekar Wei baik-baik saja?"


"Kenapa kau ada di sini?" Wei Zhang Zihan bertanya dan membuat Chu Kai berkedip.


Sambil menggaruk pipinya, Chu Kai pun menjawab. "Hanya ada dua kamar kosong yang tersisa di tempat ini dan tidak mungkin bagiku untuk satu kamar dengan Nona Xia Ling Qing, kan? Jadi maaf... Ehm... Apa kau merasa tidak nyaman?"


Wei Zhang Zihan memperhatikan Chu Kai dengan saksama sebelum mulai menghela napas. Dia pun berkata, "Tempat tidurnya jadi sempit."


"Maafkan aku... Tapi aku sama sekali tidak bisa tidur di lantai. Lagipula kamar ini aku yang bayar, jadi bagaimana bisa aku tidur di lantai?" Chu Kai tentu tidak mengatakan apa yang ada dalan pikirannya. Dia hanya meminta maaf.


Chu Kai baru akan bicara kembali saat pintu kamarnya tiba-tiba dibuka. Sosok Xia Ling Qing berdiri di bibir pintu dan tanpa nada meminta keduanya bersiap sebab mereka harus segera pulang ke Sekte Gunung Wushi.


Wei Zhang Zihan dan Chu Kai makan di penginapan itu bersama Xia Ling Qing sebelum mulai pergi. Mereka melesat dan sesekali menapak di dahan pepohonan di mana Chu Kai mengikut di belakangnya.


Perlu waktu bagi ketiga orang itu untuk sampai di Sekte Gunung Wushi. Chu Kai berpisah dengan Xia Ling Qing dan Wei Zhang Zihan karena kedua pendekar itu hendak melaporkan sesuatu pada Tetua Sekte Gunung Wushi.


Chu Kai ditinggal sendirian dan ini dimanfaatkan oleh Wei Shezi untuk memintanya mendaki sebuah gunung karena ini saatnya bagi mereka untuk berlatih.


Chu Kai tanpa ragu melakukannya dan dia pun mendaki Gunung Wushi yang terkenal sangat menyulitkan itu. Bahkan membutuhkan waktu yang cukup lama baginya untuk bisa sampai di pertengahan dari gunung ini.


Chu Kai menekan dadanya dan bergumam, "Sebenarnya berapa lama kita akan pergi? Tempat ini membuatku kesulitan bernapas dengan baik. Semakin tinggi keberadaan kita, maka akan semakin sesak rasanya.

__ADS_1


"Berhenti." Wei Shezi akhirnya memberikan aba-aba. Dia pun berkata, "Kita akan mulai dengan 'Pelatihan Pernapasan.'"


Wei Shezi melanjutkan, "Sekarang aku ingin kau berlari menuruni gunung ini dan tidak boleh sampai lewat pagi hari. Ini untuk melatih pernapasanmu,"


"Jadi begitu..." Chu Kai mendengus. Dia pun berkata, "Aku sudah menebak jalurnya. Ini terlihat jelas, sama sekali tidak layak untuk disebut sebagai latihan."


Chu Kai memang niatannya ingin berlari menuruni gunung dengan melewati jalur yang dia lalui tadi, namun siapa yang sangka bahwa akan ada banyak jebakan di setiap jalannya. Dia bahkan sangat kaget karena tiba-tiba menginjak jebakan yang membuatnya jatuh terperosok ke dalam lubang.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Chu Kai meringis, lengannya sedikit terluka.


"Aku diam-diam menaruh jebakan di jalanmu," Wei Shezi berkata. "Apa kau pikir menuruni gunung ini akan semudah saat kau mendakinya? Sekarang latihan pernapasan baru saja dimulai."


Chu Kai menelan ludah. Dia pun berusaha keluar dari lubang dan kemudian kembali menuruni gunung. Wei Shezi menyuruhnya berlari dan harus lebih cepat.


Chu Kai menarik napas dan kemudian melakukan seperti yang diperintahkan. Sejujurnya ini adalah pelatihan yang pernah dia jalani, tetapi jebakan hasil buatan Wei Shezi benar-benar menakutkan dan mengancam nyawa.


Entah bagaimana cara wanita tersebut melakukan hal yang demikian dan bukan hanya menyulitkan untuk Chu Kai, namun juga membuatnya mengalami beberapa luka hingga berdarah.


"Wei Shezi, bukankah ini keterlaluan?" napas Chu Kai tidak beraturan. Berlari di gunung luar biasa menyakitkan dan sungguh napas sangat sesak karenanya. Apalagi dia perlu memperhatikan tentang jebakan seperti apa yang sedang menunggunya.


Pelatihan Pernapasan ini merupakan pelatihan pertama bagi pendekar yang berada di Tingkat Kultivasi Duniawi. Berlari di gunung adalah hal paling standar yang bisa dilalui dengan mudah. Namun tentu selain pegunungan, Wei Shezi pun juga menggunakan metode lain untuk melatih Chu Kai.


Wei Shezi meminta Chu Kai untuk menahan napas se-lama mungkin di dalam air. Pemuda itu sempat keberatan, tetapi setelah dijelaskan bahwa sosok seperti Wei Zhang Zihan dan Xia Ling Qing pun bahkan pernah melakukan hal serupa---Chu Kai pun mulai ikut melakukannya.


Hari itu, Chu Kai menggunakan sungai besar di Kota Lianyi. Dia melepaskan sepatu miliknya dan kemudian melompat ke dalam sungai. Tindakan Chu Kai di pagi hari itu membuat warga di sekitar tersentak.


Ada beberapa anak yang memperhatikan sungai tempat Chu Kai melompat dan mereka sudah menatap ke sekitaran, namun tidak menemukan sosok yang keluar dari air.


Merasa bahwa ini adalah sesuatu yang berbahaya membuat anak-anak itu berteriak meminta pertolongan. Beberapa warga pun mulai melompat ke dalam sungai untuk mencari keberadaan Chu Kai.

__ADS_1


Hari itu Kota Lianyi gempar dengan kabar bahwa Chu Kai sudah mengalami penindasan yang sangat keras sehingga ingin mengakhiri hidupnya. Bahkan Chu Tian dan Jing Hao serta para pelayan di Kedai Bulan Merak pun menjadi begitu riuh.


******


__ADS_2