LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
52 - Kota Bian Xi


__ADS_3

Wei Zhang Zihan baru saja keluar dari sebuah bangunan di Kota Bian Xi. Tempat tersebut merupakan salah satu penginapan yang akan digunakan untuk beristirahat.


Tidak hanya dirinya, tetapi juga Xia Ling Qing ada di bangunan yang sama. Gadis cantik itu memesan dua kamar sebelum berkata akan pergi ke suatu tempat. Wei Zhang Zihan bahkan disuruh untuk tetap tinggal dan menunggu Chu Kai datang.


Wei Zhang Zihan sebenarnya ingin tahu ke mana Xia Ling Qing akan pergi, tetapi gadis ini sama sekali tidak ingin mengatakannya. Belum lagi jika dia nekat mengikuti Xia Ling Qing dari belakang, Chu Kai bisa saja tidak dapat menemukan mereka.


Lama menunggu membuat Wei Zhang Zihan bertanya-tanya tentang keberadaan Chu Kai saat ini. Dia pun mulai memutuskan untuk kembali mengambil kuda miliknya dan berniat mencari Chu Kai ketika sesuatu terjatuh dari lantai dua bangunan penginapan tempatnya berada.


"Tangkap dia!"


!!


Wei Zhang Zihan tersentak. Sesuatu yang terjatuh itu tidak lain adalah seorang laki-laki yang nampak berusia remaja. Subjek tersebut berjubah hitam dengan tudung yang tersingkap.


Pandangan mata Wei Zhang Zihan dan anak laki-laki itu bertemu sebelum anak yang tidak jauh di hadapannya kembali menutupi kepalanya dengan tudung. Wei Zhang Zihan belum beranjak sebab tidak menyangka akan melihat hal aneh dari sosok barusan itu.


"Tangkap! Jangan biarkan dia lari..!"


"Cepat kejar..!!"


Ada tiga orang pegawai penginapan yang berlari keluar sambil membawa senjata tajam. Mereka berteriak dan mengejar anak laki-laki berjubah hitam itu. Wei Zhang Zihan masih berdiri di tempatnya, dia nampak mengingat tentang anak tersebut dan benar-benar yakin bahwa dia melihat subjek tadi mempunyai telinga yang mirip dengan telinga rubah.


"Sialan! Bagaimana bisa ada siluman yang datang kemari. Cepat tangkap dan habisi dia!"


Wei Zhang Zihan menoleh kala mendengar suara seruan bernada kasar tersebut. Dia melihat banyak orang yang keluar dari penginapan, tidak sedikit wanita yang terlihat ketakutan dan menangis. Padahal yang dia saksikan, justru merekalah yang ditakuti oleh anak laki-laki tadi.


Wei Zhang Zihan mengikat kembali tali kekang kudanya. Dia memegang pedang yang terselip di pinggangnya dan kemudian mulai mengejar orang-orang yang berlari tadi.


Wei Zhang Zihan melihat ke sekitaran dan mendapati sebuah lorong kecil. Dia memotong jalan untuk bisa mendahului orang-orang itu, mencegah mereka melakukan perbuatan yang tidak seharusnya.


Anak laki-laki yang tadi jelas bukanlah siluman. Sosok yang disebut siluman umumnya tidak akan menghindari manusia karena mereka memiliki kemampuan untuk menyerang dan bahkan membunuh. Dan yang paling penting, siluman tidak pernah menampakkan diri mereka di siang hari karena mempunyai kelemahan terhadap sinar matahari.


Tidak hanya siluman, binatang iblis pun jarang menampakkan wujud ketika siang hari. Anak laki-laki yang dilihat oleh Wei Zhang Zihan tentu saja berbeda, tetapi dia berusaha untuk mencari tahu kebenarannya.


!!


Meskipun Wei Zhang Zihan sudah memotong jalan, tetapi ketika keluar dari jalan kecil itu---dia tetap tertinggal. Dirinya pun menatap ke salah satu atap bangunan dan kemudian melesat naik. Teknik pernapasan membuatnya memiliki kemampuan meringankan tubuh dan dari atas sini, dia bisa melihat anak laki-laki yang dikejar oleh orang-orang itu.


Wei Zhang Zihan berlari di atap bangunan dan melebarkan mata saat ada di antara warga kota yang merupakan pendekar. Suara tarikan pedang pendekar itu merupakan pertanda buruk bagi anak laki-laki yang menjadi target mereka.


Wei Zhang Zihan menarik napas dan semakin mempercepat langkahnya. Dia pun melesat dengan kecepatan tinggi walau harus merusak atap bangunan dan membuat riuh orang-orang yang tinggal di dalam bangunan tempatnya berada.


!!!


Sebuah serangan melesat dan hampir saja mengenai anak laki-laki berjubah hitam itu andai Wei Zhang Zihan tidak cepat menangkis serangan tersebut. Tanpa peringatan, Wei Zhang Zihan merangkul remaja itu dan membawanya pergi.


Semua orang termasuk pendekar yang melesatkan serangan tadi jelas saja terkejut karena sosok yang mereka anggap siluman rupanya mempunyai penolong.


Wei Zhang Zihan membawa anak laki-laki yang diselamatkannya ke tempat yang cukup jauh. Tindakannya yang berani ini mungkin saja akan menjadi masalah, apalagi ada di antara orang-orang yang mengenali seragamnya.


Kaki Wei Zhang Zihan mulai menapak lembut di halaman depan sebuah bangunan. Tempat tersebut merupakan kuil tua yang sudah tidak terawat. Besar kemungkinan tidak ada lagi yang pernah datang ke kuil ini.


"Lepaskan aku! Jangan bunuh aku..!"


"Tenanglah," Wei Zhang Zihan kaget karena tiba-tiba remaja di hadapannya memberontak dan berusaha untuk lari darinya.


"Tenanglah, tidak ada yang akan menyakitimu." Wei Zhang Zihan memegang kuat lengan anak laki-laki ini dan berusaha menjelaskan bahwa dia bukanlah penjahat.


Anak laki-laki itu menengadah untuk melihat wajah dari pria di hadapannya. Napasnya terengah-engah sebelum pandangannya memburam dan akhirnya tidak sadarkan diri.


Wei Zhang Zihan tersentak dan segera menangkap anak laki-laki di hadapannya. Subjek berusia 14 Tahun ini terlihat begitu menyedihkan. Dia tahu bahwa anak ini sudah banyak mengalami hal-hal yang berat.


"................."

__ADS_1


Sulit untuk menemukan jawaban dari pertanyaan yang dipikirkan oleh Wei Zhang Zihan saat ini. Dia pun memutuskan untuk membawa anak laki-laki tersebut masuk ke dalam kuil dan menunggu sampai subjek ini bangun.


*


*


Di tempat lain, Ruan Zhao Sheng perlahan membuka matanya. Dia meringis sebelum akhirnya menyadari bahwa saat ini posisinya berada dalam gendongan seseorang. Dia terkejut saat tahu siapa pemilik dari punggung ini.


"Kau..."


"Oh, kau sudah sadar?" Chu Kai buka suara, "Sebaiknya jangan bergerak. Lukamu terlihat parah,"


"................."


Ruan Zhao Sheng saat ini dalam posisi digendong di punggung Chu Kai. Pendekar dari Sekte Tianzhi itu sebenarnya tidak ingin terlihat seperti ini, tetapi apa yang dikatakan Chu Kai benar. Lukanya parah dan bahkan untuk bergerak pun rasanya akan sangat sakit.


"Kenapa... Kau menolongku lagi?" suara Ruan Zhao Sheng terdengar pelan. Dia berujar, "Aku... Padahal sebelumnya aku... Berusaha untuk membunuhmu,"


"Mungkin karena aku bukanlah pendekar yang tinggal dan besar di sebuah sekte sehingga tidak tahu caranya membalas orang lain. Ayahku berkata bahwa aku harus menjaga hati manusiaku dan inilah yang kulakukan," Chu Kai tetap berjalan sambil terus menggendong Ruan Zhao Sheng.


"Hmph," Ruan Zhao Sheng mendengus. Dia berujar, "Ayahmu orang yang baik. Tetapi memiliki kebaikan hati saja... Tidak menjamin keselamatan nyawanya di dunia yang seperti ini. Kau... Bisa saja mati karena rasa simpatimu."


"Ucapan Pendekar Ruan memang benar," Chu Kai berkata, "Namun untuk melindungi nyawa sendiri dan orang lain... Aku hanya perlu menjadi lebih kuat."


"................." Ruan Zhao Sheng bernapas pelan. Dia tidak mengatakan apa pun untuk waktu yang lama. Tentu saja dia tahu bahwa Chu Kai bisa mempertanggungjawabkan perkataannya, apalagi saat mengingat bagaimana kuatnya orang ini.


Chu Kai mengerutkan kening ketika tidak lagi mendengar suara dari Ruan Zhao Sheng. Dia berkedip dan berpikir bahwa pria yang digendong di punggungnya ini kembali tidak sadarkan diri.


"Pendekar Ruan, apa kau pingsan?"


"............ Jangan ganggu,"


"Oh, kupikir kau tidak sadarkan diri lagi."


"Maafkan aku," Chu Kai tersenyum pahit.


"............ Ini sebenarnya memalukan. Apa aku tidak berat kau bawa dengan cara seperti ini?"


"Aku sudah biasa mengangkat hal yang berat, jadi Pendekar Ruan justru begitu ringan bagiku."


"Ucapanmu menyinggungku,"


"Aku minta maaf," Chu Kai tersenyum pahit dan tetap berjalan menyusuri hutan. Ada hal yang sebenarnya ingin ditanyakan kepada Ruan Zhao Sheng, tetapi jika dipikirkan lagi... Dia seharusnya tidak boleh terlalu terlibat.


Chu Kai hanya menunggu sampai pria ini mau mengatakannya sendiri. Dia sudah membuat keputusan tidak akan mencampuri masalah yang terjadi di antara Ruan Zhao Sheng dengan Shuang Ling Feng.


"Jika aku boleh tahu..." Ruan Zhao Sheng buka suara. Nadanya pelan ketika bertanya, "Apa tujuanmu sehingga kau pergi ke Kota Bian Xi? Tidak ada acara besar di kota itu karena saat ini... Kebanyakan pendekar sedang mengikuti Konferensi Pendekar Muda di Kota Chang'An."


Chu Kai menatap lurus ke depan dan berkata, "Banyak pendekar yang mengikuti konferensi, tetapi kenapa Pendekar Ruan tidak ikut di dalamnya?"


"Aku yang bertanya lebih dahulu, tidakkah seharusnya kau menjawabku?"


Chu Kai dalam hati menghela napas. Rencana untuk mengalihkan pembicaraan gagal. Ini membuktikan bahwa Ruan Zhao Sheng adalah pendekar yang cukup pintar dan dia harus lebih berhati-hati.


Chu Kai membutuhkan cara lain dan dia pun mulai buka suara, "Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu, Pendekar Ruan? Aku saat ini masih belum tahu niatmu. Apalagi sebelumnya kau menyerangku,"


Ruan Zhao Sheng mendengarnya dan dia pun menurunkan pandangan. Suaranya pelan saat berkata, "Pendekar Chu. Meskipun kau orang yang baik, tapi kau rupanya sangat berhati-hati. Tindakanmu benar dengan berkata seperti itu,"


Ruan Zhao Sheng menarik napas, "Aku dan Ling Feng terlibat perebutan peta makam kuno. Aku seharusnya membuat dia tidak bisa bicara, tetapi karena kebaikan Pendekar Chu... Dia jadi bisa melarikan diri. Sekarang, mungkin saja Ling Feng sudah mengirimkan sinyal pada saudara seperguruannya. Sekte Tianzhi... Kemungkinan akan diserang."


!!


Chu Kai berhenti melangkah. Dia terkejut saat mendengar penjelasan dari pria ini. Ruan Zhao Sheng sendiri nampak mengerutkan kening dan bertanya mengapa Chu Kai tiba-tiba berhenti.

__ADS_1


"Pendekar Chu. Kau bisa menurunkanku jika kau lelah,"


"Tidak apa..." Chu Kai kembali berjalan. Dia berujar pelan, "Itu hanyalah peta. Kenapa begitu diperebutkan sampai kau dan Pendekar Shuang Ling Feng terlihat sangat ingin saling membunuh."


"............. Tentu saja karena itu bukanlah peta biasa. Takdir bagi masa depan dunia... Akan ditentukan hanya dengan satu kertas ini,"


"Tapi kenapa Pendekar Ruan mengatakannya padaku?" Chu Kai bertanya, "Jika itu sangat penting... pendekar Ruan harusnya tetap membuat ini menjadi rahasia."


"Karena jika tidak kukatakan... Aku akan menjadi orang jahat di mata Pendekar Chu," Ruan Zhao Sheng tersenyum. Dia menarik napas dan berkata, "Itu adalah peta milik sekteku yang sudah lama dicari. Aku kini menemukannya dan justru ditargetkan oleh orang lain. Apa yang bisa kulakukan selain mempertahankannya?"


Ruan Zhao Sheng kembali berkata. "Menara Rufeng merupakan sekte Aliran Putih, sama seperti perguruanku. Tetapi lihatlah tindakan Shuang Ling Feng, dia yang berasal dari aliran putih justru ingin merebut milik orang lain."


"Karena itulah saat mendengar Pendekar Chu berbicara tentang prinsip, aku menjadi ingin tertawa." Ruan Zhao Sheng berujar, "Tidak semua pendekar aliran putih memegang prinsip yang benar. Pemikiran bahwa pendekar aliran putih tidak akan bertindak jahat hanyalah anggapan polos anak kecil,"


"Tapi tidak seharusnya kau memiliki niatan untuk membunuh Pendekar Shuang Ling Feng,"


"Jika tidak kulakukan, maka dia akan menjadi sumber dari kekacauan di sekteku. Kematian Ling Feng bisa mencegah hal buruk untuk Sekte Tianzhi."


"Pemikiranmu salah, Pendekar Ruan." Chu Kai berkata, "Jika kau menghabisi nyawa Pendekar Shuang Ling Feng... Maka itu akan membuat dendam muncul dan tidak hanya sektemu yang akan dalam bahaya, tetapi juga penduduk di Kota Bian Xi. Kau tidak bisa menyelesaikan sebuah masalah dengan mengambil nyawa seseorang. Justru itu akan memunculkan masalah yang lebih parah,"


Chu Kai menarik napas, "Dan sejauh ini... Bukankah Sekte Tianzhi itu... Memiliki rumor yang buruk?"


Ruan Zhao Sheng memperbaiki posisinya dan nampak menahan ringisan. Dia mengangguk pelan, "Itu benar. Tapi kami... Tidak perlu melakukan sesuatu untuk memperbaiki rumor itu. Orang-orang bisa mempunyai pendapat masing-masing tentang bagaimana mereka melihat Sekte Tianzhi."


Chu Kai berkedip. Setelah beberapa lama bicara dengan Ruan Zhao Sheng, dia jadi lebih memahami pria ini. Dia merasa memang harus menilai seseorang dengan tidak berdasarkan hal yang didengarnya, tetapi tentu saja dia perlu mengumpulkan cukup banyak informasi. Apalagi jika saat ini dia mempunyai tujuan untuk pergi ke wilayah Sekte Tianzhi.


Ruan Zhao Sheng mengerutkan kening dan tiba-tiba berkata, "Berhenti melangkah!"


!!


Suara Ruan Zhao Sheng mengandung nada peringatan dan itu membuat Chu Kai tersentak. Pemuda bermata hijau alami itu pun buka suara, "Pendekar Ruan. Ada apa?"


Ruan Zhao Sheng mengedarkan pandangan dan meringis akibat rasa sakit di tubuhnya. Hanya saja dia tetap berusaha untuk bicara dengan Chu Kai.


Ruan Zhao Sheng berkata, "Berhati-hatilah. Ada jebakan di sepanjang jalan di hadapanmu. Entah siapa yang membuatnya, tetapi itu sepertinya memang ditujukan bagi orang yang ingin pergi ke Kota Bian Xi."


Chu Kai tentu saja terkejut. Beruntungnya sebab Ruan Zhao Sheng mengingatkan dirinya tentang sesuatu.


"Ini aneh," Ruan Zhao Sheng berujar. "Sebelumnya aku yakin bahwa jalanan di depan sana tidak ada masalah. Siapa yang kira-kira memasang banyak perangkap?"


!!


Chu Kai mengulum senyum, "Aku rasa aku tahu siapa orangnya. Ini... Bisa dibilang memiliki hubungan denganku,"


"Mn?" Ruan Zhao Sheng mengerutkan kening, "Ada hubungannya denganmu? Apa nyawa Pendekar Chu juga diincar oleh seseorang?"


"Bukankah sebelumnya kita sudah membahasnya?" Chu Kai buka suara. "Menjadi Pendekar Naga memang akan selalu diincar bahaya. Hanya saja untuk yang satu ini... Jebakan di depan dibuat oleh rekanku sendiri,"


Ruan Zhao Sheng tersentak, "Tunggu. Apa mungkin sepanjang jalan sebenarnya Pendekar Chu..."


"Benar. Aku menyusuri hutan sambil berlatih menghindari jebakan yang dipasang oleh rekanku. Tetapi mungkin karena serangan yang waktu itu... Beberapa pohon jadi meledak dan alhasil jebakan yang ada dalam jarak tertentu pun ikut meledak. Ini... Adalah batasnya,"


?!


Ruan Zhao Sheng mengikuti arah pandangan Chu Kai dan baru menyadari bahwa selama ini pemuda yang menggendongnya di punggung berjalan di tanah yang rerumputannya telah mati dan sama sekali tidak memiliki pepohonan.


Sementara Di hadapan mereka sekarang adalah hamparan rerumputan hijau dengan pepohonan yang rimbun, sangat berbanding terbalik. Bahkan kondisi tanah pun mempunyai perbedaan yang bisa terlihat jelas.


"Ini..." Ruan Zhao Sheng melebarkan matanya. Dia tanpa sadar menahan napas saat membatin, "Apakah ini dampak dari serangan Pendekar Chu yang waktu itu?!"


!!!


******

__ADS_1


__ADS_2