
Rasa terkejut terlihat jelas di wajah Ruan Zhao Sheng. Dia jadi bertanya-tanya tentang seberapa tinggi praktik Chu Kai yang sebenarnya. Padahal pertemuan awalnya dengan pemuda ini... Praktik Chu Kai jelas tidak bisa terbaca.
Bagi Ruan Zhao Sheng, hanya ada dua sebab dirinya tidak bisa membaca praktik seseorang. Entah karena kemampuan subjek tersebut begitu rendah atau justru lebih tinggi darinya.
Masalahnya, Chu Kai memiliki kasus yang berbeda. Pemuda dengan mata hijau alami ini terlihat mempunyai tenaga rata-rata seperti orang biasa pada umumnya. Bahkan jika diperhatikan dari teknik berpedang, Chu Kai jelas masih pemula---tetapi entah dari mana subjek ini bisa memiliki kekuatan tersembunyi yang begitu mengerikan.
"Pendekar Ruan," Chu Kai buka suara. "Aku akan berterus terang padamu. Sangat sulit bagiku untuk melewati perangkap yang ada di depan, apalagi ketika perangkap tersebut sulit dideteksi. Aku tidak punya kemampuan, apalagi jika harus melindungimu."
"Apa Pendekar Chu tidak bisa memakai Teknik Meringankan Tubuh?"
Chu Kai berkedip. Dia memikirkan pertanyaan Ruan Zhao Sheng dan lantas menjawab, "Aku belajar tapi masih belum ahli melakukannya."
"Yaah, aku tahu. Jika Pendekar Chu bisa, maka sejak tadi kau sudah menggunakannya." Ruan Zhao Sheng menghela napas dan kemudian mulai memandang ke depan.
Sambil bernapas pelan, Ruan Zhao Sheng pun buka suara. "Pendekar Chu, jika kau percaya padaku.. Maka dengarkan ini."
Chu Kai mengerutkan kening, pria yang saat ini dia gendong di punggung mulai memberikan arahan. Ruan Zhao Sheng menjelaskan tentang teknik pernapasan dasar dari kultivator dan bagaimana cara membuatnya bisa memakai teknik meringankan tubuh.
Meskipun menahan rasa sakit, tetapi Ruan Zhao Sheng tetap berusaha untuk mengajari Chu Kai. Walau hanya sekadar teori, tetapi apa yang dijelaskannya bisa dengan baik dimengerti oleh Chu Kai.
Ruan Zhao Sheng meminta Chu Kai untuk secara perlahan menarik napas, kemudian memfokuskan diri merasakan setiap peredaran darah. Dia mengingatkan agar Chu Kai harus tenang, sebisa mungkin hanya memikirkan titik meridian dan bukan hal yang lain.
Cara bimbingan Ruan Zhao Sheng berbeda dengan apa yang dipelajari Chu Kai dari Wei Zhang Zihan dan Xia Ling Qing. Bisa dibilang, pria ini begitu detail menjelaskan teknik dasar padanya. Sama sekali berbeda dengan sikap kedua Pendekar Suci dari Sekte Gunung Wushi tersebut.
"Mulai arahkan energi di dalam tubuhmu ke telapak kaki. Pendekar Chu harus bisa fokus dan saat merasakan pusat energi di telapak kaki---Pendekar Chu dapat memberi sedikit pancingan dengan gerakan seperti ingin melompat."
Chu Kai bernapas pelan, "Aku akan mulai."
!!
Dengan mengikuti arahan Ruan Zhao Sheng, Chu Kai benar-benar melompat dan tanpa peringatan tubuhnya melayang begitu saja di udara. Chu Kai terkejut bukan main saat menyaksikan tanah yang dia pijak sebelumnya kini menjadi agak jauh.
"Aku benar-benar melakukannya, ini.... Mengagumkan!"
Ruan Zhao Sheng sendiri berpegangan pada Chu Kai, "Aku memujimu Pendekar Chu. Hanya sekali diberikan arahan, kau sudah bisa melakukannya dengan benar. Kau berbakat,"
Teknik meringankan tubuh sebenarnya memiliki tingkatan khusus. Chu Kai saat ini baru ditingkat yang paling dasar sebab masih membutuhkan pijakan seperti dahan pohon sebelum kembali melesat. Walau demikian, Ruan Zhao Sheng tetap memberinya pujian.
Di sisi lain, Chu Kai berterima kasih dan tentu saja senang karena mendapatkan pujian. Tapi sejujurnya dalam hati dia merasa bersalah sebab dirinya tak seberbakat yang dikatakan oleh Ruan Zhao Sheng.
Untuk teknik meringankan tubuh seperti ini, Chu Kai sudah berlatih keras di bawah arahan Wei Zhang Zihan. Dan baginya penjelasan Ruan Zhao Sheng merupakan penyempurna dari arahan yang diajarkan oleh Wei Zhang Zihan padanya selama ini.
Kaki Chu Kai kembali berpijak di salah satu dahan pohon. Dia pun buka suara, "Apa Pendekar Ruan baik-baik saja?"
"Mn, perhatikan saja langkahmu. Hati-hati pada beberapa dahan pohon di depanmu," Ruan Zhao Sheng berkata. "Jebakan tidak hanya ada di tanah, tetapi juga berada di atas. Kau harus selalu waspada."
Chu Kai mengangguk pelan, ucapan Ruan Zhao Sheng benar. Meskipun ini hanya jebakan yang dipasang oleh Wei Zhang Zihan dan tidak akan sampai menghabisinya, namun tetap saja dia tidak boleh lengah.
"Berpeganganlah yang erat, Pendekar Ruan. Aku akan berusaha agar kita bisa pergi dari tempat ini secepat mungkin," Chu Kai buka suara dan kemudian melesat. Dia sudah mulai terbiasa menggunakan teknik meringankan tubuh.
Jarak antara hutan tempat Chu Kai dan Ruan Zhao Sheng berada tidak terlalu jauh lagi dari gerbang Kota Bian Xi. Ketika melihat gerbang kota di hadapannya, Chu Kai pun merasa senang sebab akhirnya tiba di tempat di mana Xia Ling Qing dan Wei Zhang Zihan menunggu.
Kota Bian Xi ramai oleh penduduk. Bahkan saat Chu Kai melangkah memasuki gerbang... Dia langsung disambut dengan banyaknya orang yang berlalu-lalang. Ada kereta kuda yang membawa beberapa orang berpakaian indah, sekilas mereka terlihat seperti kaum dari kalangan saudagar kaya.
Chu Kai bergitu kagum dengan banyaknya gedung yang tinggi-tinggi, sama sekali berbeda dari apa yang dulu dilihatnya. Chu Kai bahkan buka suara, "Banyak sekali yang berubah dari Kota Bian Xi yang pernah kudatangi."
Ruan Zhao Sheng menaikkan sebelah alisnya, "Pendekar Chu pernah ke tempat ini sebelumnya?"
"Mn, saat usiaku sekitar 12 Tahun. Aku datang kemari bersama ayahku. Tempat ini dulunya tidak seramai yang sekarang, benar-benar sudah banyak yang berubah."
Chu Kai menurunkan pandangan, dia baru saja akan kembali bicara ketika tiba-tiba mendengar suara keributan. Dia menyaksikan beberapa orang berlari yang mana salah satunya adalah pria berpakaian hijau dan nampak mukul meja buah sambil memanggil rekannya.
__ADS_1
"Hei, hei..! Dengar ini. Penginapan Ling Yun disusupi oleh siluman. Saat ini orang-orang sedang mengejarnya dan kau tahu? Siluman itu mendapat bantuan dari pendekar Sekte Gunung Wushi untuk melarikan diri,"
!!
"A-apa?! Bagaimana itu bisa terjadi?! Mungkin saja bukan siluman,"
"Mustahil, aku melihatnya sendiri. Ada keributan di Penginapan Ling Yun dan seseorang jatuh dari lantai dua. Sosok itu mempunyai telinga seperti milik hewan, apa lagi jika bukan siluman?"
"Dan kalian tahu," pria berpakaian hijau itu kembali berkata, "Siluman itu sudah menghabisi dua orang dan saat dikejar oleh penduduk... Seseorang tiba-tiba datang dan menolongnya. Pakaian pria itu jelas milik Sekte Gunung Wushi dan yang lebih mengejutkannya lagi adalah... Sosok yang menolong siluman itu merupakan Pendekar Suci Wei Zhang Zihan."
!!!
Chu Kai langsung menatap ke arah pria itu ketika mendengar nama Wei Zhang Zihan disebut. Belum lagi, orang-orang yang dia lihat juga ikut terkejut sebelum pada akhirnya membicarakan tentang Gunung Wushi dan para pendekar yang tinggal di sana.
"Apa Sekte Gunung Wushi memiliki hubungan dengan siluman?!"
"Jika memang begitu, bukanlah ini buruk?"
"Apa yang sedang mereka bicarakan?" Chu Kai menjadi tersinggung. Orang-orang ini bicara begitu sembarangan mengenai Wei Zhang Zihan dan juga Sekte Gunung Wushi.
Chu Kai baru saja akan melabrak orang-orang yang dilihatnya itu ketika Ruan Zhao Sheng buka suara. Pendekar dari Sekte Tianzhi itu menghentikan Chu Kai dan berkata bahwa sebaiknya mereka bergegas untuk mencari keberadaan Wei Zhang Zihan, apalagi jika memperhatikan situasi yang ada---Wei Zhang Zihan kemungkinan membutuhkan bantuan.
Chu Kai mengikuti arahan dari Ruan Zhao Sheng. Karena pakaiannya yang tidak seperti seragam Sekte Gunung Wushi, Chu Kai pun tidak terlalu diperhatikan. Dia diminta untuk berjalan di lorong yang sedikit sunyi.
"Kenapa kita lewat tempat ini?" Chu Kai bertanya, dia tidak tahu ke mana Ruan Zhao Sheng akan mengarahkannya.
"Tempat yang tadi terlalu ramai, Pendekar Chu akan sering mendengar pembicaraan seperti itu yang kemungkinan akan membuat Pendekar Chu tidak bisa mengendalikan emosi."
"Aku bukan orang yang seperti itu," Chu Kao buka suara. "Aku hanya tidak suka jika mereka berbicara hal buruk tentang Pendekar Wei dan Sekte Gunung Wushi. Memang apa salahnya jika Pendekar Wei menolong siluman, bukankah pasti ada alasannya?"
"Serius Pendekar Chu mengatakan itu?" Ruan Zhao Sheng berkata. "Siluman adalah makhluk yang sangat memusuhi manusia, mereka sama seperti binatang iblis. Dan sekadar informasi, siluman suka memakan manusia."
!!
"Aku juga tidak tahu," Ruan Zhao Sheng meringis. Dia sudah lama menahan rasa sakit di tubuhnya dan sama sekali tidak mengeluh apa pun, tetapi sepertinya ini memang sudah berada di batas kemampuannya sendiri.
"Pendekar Chu, akan jauh lebih baik jika kau segera mencari rekanmu..."
?!
"Pendekar Ruan?" Chu Kai merasakan tangan Ruan Zhao Sheng turun dan seolah tidak bertenaga. Dia memanggil-manggil pria di gendongannya dan tersentak kala mengetahui bahwa Ruan Zhao Sheng sudah tidak sadarkan diri.
"Dia jelas mengalami luka dalam, tapi masih saja..." Chu Kai menarik napas dan kemudian menggeleng pelan. Dia memang telah salah menilai Ruan Zhao Sheng sebelumnya.
Chu Kai terus berjalan menyusuri jalan kecil ini. Dia memfokuskan pendengarannya dan berusaha mencari suara Wei Zhang Zihan.
"Apa kau sudah bangun?"
!!
Chu Kai melebarkan matanya. Dia mendengar suara Wei Zhang Zihan dan bergegas untuk mencari asal dari suara tersebut. Tidak butuh waktu lama sampai dia berada di lingkungan yang begitu jarang dikunjungi orang-orang.
"Suara Pendekar Wei ada di sekitar sini..? Aku yakin sekali,"
"Cari di sana! Siluman itu tidak mungkin bisa pergi jauh."
"Mereka pasti ada di sekitar sini, cepat cari..!"
?!
*
__ADS_1
*
Anak laki-laki bertudung hitam itu perlahan mulai membuka matanya. Dia bisa melihat cahaya menembus dari atap yang berlubang. Suara seseorang membuatnya tersentak dan dia segera bangun.
!!
Anak laki-laki yang masih remaja itu terkejut melihat ada seorang pria berpakaian biru muda dan nampak duduk bersila. Sosok yang terlihat begitu tenang dan dengan aura yang penuh wibawa.
"Apa kau akan mencoba lari lagi?" Wei Zhang Zihan buka suara ketika remaja laki-laki yang sebelumnya dia selamatkan berniat untuk melarikan diri.
Ucapan Wei Zhang Zihan membuat anak bertudung hitam itu kaget. Dia masih duduk di tempatnya dan dengan tenang berkata, "Di luar sana masih ada orang yang mengejarmu. Tapi kau bisa pergi jika kau lebih aman di luar daripada bersamaku,"
!!
Anak laki-laki itu memperhatikan pria yang bicara padanya. Dia menelan ludah dan baru akan buka suara ketika bunyi aneh keluar dari dalam perutnya. Suara yang datang di waktu tidak tepat itu membuat anak laki-laki tersebut menundukkan kepalanya.
Wei Zhang Zihan berkedip, dia pun lantas mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong lengan pakaiannya. Itu adalah makanan jenis roti kering yang memang akrab dalam hidup para pendekar.
Roti itu mempunyai rasa yang tawar dan agak keras karena dibuat memang supaya bisa bertahan lebih lama. Ini merupakan makanan yang tidak pernah absen dibawa entah itu adalah para pendekar suci Sekte Gunung Wushi, maupun mereka yang berada di sekte lainnya.
Makanan semacam ini sebenarnya sama sekali tidak disukai oleh pendekar mana pun, Wei Zhang Zihan juga sama. Namun bagi orang yang sangat kelaparan, mereka tidak akan memikirkan banyak hal.
Anak laki-laki yang dibantu oleh Wei Zhang Zihan nampak mendekat saat melihat roti tawar di tangan pria berpakaian biru muda tersebut. Remaja itu mengambil roti di tangan Wei Zhang Zihan dan kemudian mulai memakannya.
Wei Zhang Zihan memperhatikan cara makan anak ini dan melihat bahwa remaja yang ada di hadapannya makan begitu lahap. Rasanya seolah-olah subjek kecil ini sangat kelaparan.
"................" Wei Zhang Zihan berkedip. Dia tidak mengatakan apa pun karena merasa dirinya tidak boleh mengganggu remaja ini dahulu.
Niatan Wei Zhang Zihan memang seperti itu, hanya saja tidak disangka bahwa suara riuh yang ada di luar semakin jelas dan seakan sudah berada di sekitaran kuil.
"Tetaplah di sini," Wei Zhang Zihan bernapas pelan dan kemudian berdiri. Dia berjalan ke arah pintu kuil dan secara bersamaan sebuah tendangan datang dan membuat pintu yang sebelumnya tertutup kini terbuka lebar.
!!!
Wei Zhang Zihan spontan menarik pedangnya dan baru akan dihunuskan ketika dirinya tahu siapa pelaku yang sudah menendang pintu kuil di hadapannya. Dia tiba-tiba membeku.
Sosok yang dilihat oleh Wei Zhang Zihan tidak lain adalah Chu Kai. Dia sama sekali tidak menduga bahwa Chu Kai akan bisa sampai ke tempat ini yang mana dirinya sekarang berada di dalam sebuah kuil tua.
"Bagaimana kau--"
"Pendekar Wei, tolong jaga Pendekar Ruan terlebih dahulu. Aku akan segera kembali," Chu Kai menurunkan Ruan Zhao Sheng dan memberikan tanggung jawab penjagaan kepada Wei Zhang Zihan. Dia bahkan tidak membiarkan pemuda berpakaian biru muda di hadapannya bicara.
Tidak hanya itu, Chu Kai bahkan tanpa peringatan malah mengambil pedang di tangan Wei Zhang Zihan sambil berkata bahwa dia akan meminjamnya sebentar. Tentu saja ini mengejutkan dan bahkan membuat Wei Zhang Zihan tidak tahu harus berkata apa.
Di sisi lain, Chu Kai sendiri langsung bergegas keluar dari kuil dan tidak butuh waktu lama sampai terdengar benturan pedang. Wei Zhang Zihan juga ingin pergi untuk melihatnya, tetapi dia saat ini harus menjaga dua orang.
!!
Suara keras kembali terdengar. Chu Kai sekarang ini sedang bertarung, dia melawan pendekar yang mengincar nyawa Wei Zhang Zihan dan pertarungan tersebut berlangsung sangat sengit.
"Kai..!" Wei Zhang Zihan melebarkan mata, "Apa dia serius sedang bertarung?!"
!!
Wei Zhang Zihan membawa dan kemudian membaringkan seorang pria yang sebelumnya dititipkan oleh Chu Kai kepadanya. Wei Zhang Zihan menatap anak laki-laki bertudung hitam itu dan memintanya untuk tidak pergi serta harus menjaga subjek yang asing ini.
Wei Zhang Zihan lantas pergi untuk melihat tindakan Chu Kai dan benar bahwa pemuda itu sedang bertukar serangan dengan para pendekar di luar sana. Dia terkejut saat melihat bagaimana Chu Kai menggunakan pedang pusakanya untuk menebas bagian tubuh seseorang.
!!!
******
__ADS_1