LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
30 - Anggota Sekte Bulan Mati


__ADS_3

Kultivator Sekte Bulan Mati yang duduk di salah satu atap bangunan terlihat terkejut bukan main. Ini adalah kedua kalinya dia melihat hujaman anak panahnya menghilang sebelum menyentuh tanah. Dia bahkan sampai berdiri dengan mata melotot saking tidak percayanya.


Kultivator bernama Yi Zhi Jian itu menggeram dan kembali melesatkan anak panah. Pemuda tersebut bahkan melakukannya sebanyak tiga kali. Tiga anak panah itu kembali berubah semakin banyak ketika berada di udara dan saat meluncur turun.


Chu Kai yang saat ini hendak menghampiri ayahnya pun nampak kesal dengan hujaman anak panah yang datang. Dia lantas mengait sebuah ranting kayu yang dekat memakai kakinya dan kembali mengeluarkan serangan.


Teknik Pernapasan Naga... Tanpa Jejak.


!!!


Hujaman anak panah itu kembali menghilang, namun kali ini Chu Kai melesat naik ke udara dan karena pendengarannya yang tajam---dia pun bisa tahu pusat dari serangan barusan.


"Teknik Pernapasan Naga... Serangan Satu Cakaran!"


!!


Yi Zhi Jian terbelalak saat lesatan cahaya merah mengarah padanya. Dia pun spontan melompat dan lesatan cahaya itu sendiri lantas mengarah pada gedung yang ditempatinya. Gedung itu pun seketika meledak dan kejadian tersebut langsung menarik perhatian banyak orang.


Wei Zhang Zihan yang berada tidak jauh dengan gedung itu pun bergegas pergi. Dia memegang kuat pedangnya dan saat di udara---dia melihat seorang pemuda berpakaian merah yang dikenalinya sebagai anggota Sekte Bulan Mati.


Tanpa peringatan, Wei Zhang Zihan langsung menerjang sosok tersebut yang membuat Yi Zhi Jian terkejut. Pria itu seketika melompat mundur sambil melesatkan anak panah miliknya.


Wei Zhang Zihan sekarang yakin bahwa sosok inilah yang berada dibalik hujaman anak panah barusan. Dia menggunakan teknik berpedang miliknya dan berusaha untuk memperpendek jarak dengan lawan. Sosok yang dia hadapi adalah seorang pendekar yang ahli dalam serangan jarak jauh, karenanya Wei Zhang Zihan tidak akan memberikan kesempatan pada lawannya untuk memperoleh keuntungan.


Di sisi lain, Chu Kai kembali menapak di tanah. Dia tidak pergi ke tempat di mana dia melesatkan serangan karena masih sangat mengkhawatirkan kondisi ayahnya.


"Ayah..! Ba-bagaimana kondisi ayahku?!" Chu Kai bertanya pada murid Sekte Gunung Wushi yang merawat Chu Tian. Dia sebenarnya kaget melihat ayahnya yang penuh dengan luka.


"Ayah, bangunlah.." air mengalir membasahi pipi Chu Kai tanpa di sadari. Kedua tangannya sampai gemetar saat dia menyentuh lengan Chu Tian.


"Ayah..!"


"Tenanglah, kami akan berusaha menyelamatkannya."


"Tolong biarkan kami bekerja,"


Chu Tian mengambil jarak. Dia membiarkan dua orang murid Sekte Gunung Wushi memeriksa luka ayahnya. Dia benar-benar tidak sanggup melihat keadaan ayahnya yang seperti ini, bahkan tidak sanggup untuk membayangkannya.

__ADS_1


"Kai..."


Chu Kai tersentak. Suara lemah ini berasal dari salah satu warga yang terluka. Dia pun berbalik dan terkejut melihat Jing Hao yang terluka.


"Kai..." Jing Hao mengangkat pelan tangannya yang kemudian membuat Chu Kai langsung meraih tangan yang penuh darah itu.


"Jing Hao, Kawan." Chu Kai memegang kuat tangan temannya. Bahkan keadaan Jing Hao pun jauh dari kata baik.


Pemuda yang terbaring di hadapannya memiliki bekas luka cakaran di dada dan bahkan bekas cekikan di leher. Tidak hanya itu, pipinya juga terlihat berdarah dan sepertinya Jing Hao yang sudah melukai dirinya sendiri.


"Kai..."


Chu Kai tidak pernah melihat teman akrabnya terluka sampai separah ini sebelumnya. Jujur saja dia merasakan perih di dalam hatinya, apalagi saat dia bahkan tidak memiliki daya untuk mengobati orang-orang terdekatnya ini.


Chu Kai lantas meraih bahu seorang murid Sekte Gunung Wushi dan memegangnya dengan kedua tangan. Suaranya kasar saat berkata, "Kau harus menyelamatkan ayah dan saudaraku ini. Selamatkan mereka jika kau tidak ingin sektemu kuhancurkan,"


Murid Sekte Gunung Wushi terkejut mendengar ucapan pemuda di hadapannya. Dia menatap Chu Kai sebelum akhirnya buka suara. Murid itu berkata, "Aku mengerti. Kami akan berusaha keras, jadi jangan khawatir. Tenangkanlah dirimu,"


Chu Kai mengundurkan pegangan tangannya. Dia memejamkan mata dan berusaha untuk mengatur napas. Dirinya pun lantas berdiri saat mendengar semakin banyak suara keras yang menandakan pertarungan belum berakhir.


*


*


Di sisi lain, Wei Zhang Zihan terus membuat lawannya tersudut. Dia melancarkan serangan dan hampir mengenai lawan ketika sebuah lesatan datang menangkis serangannya.


!!


Pedang Wei Zhang Zihan berbenturan kuat dengan senjata milik lawan. Sebuah angin kejut tercipta dan bahkan membuatnya terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.


Senjata lawan yang menahan serangan Wei Zhang Zihan bukanlah pedang, melainkan sebuah kipas besar. Sosok itu pun kembali memberikan serangan namun kali ini dengan cara membuka dan mengayunkan kipas miliknya.


Angin yang berkecepatan tinggi tercipta dan kemudian melesat cepat ke arah Wei Zhang Zihan. Pendekar Suci itu tersentak, namun masih bisa bergerak untuk menahan serangan lawan meski tekanan ini begitu luar biasa.


Sosok dengan kipas setinggi pinggang sebagai senjata itu tidak lain adalah Xiao Fang Shan. Dia menoleh ke arah Yi Zhi Jian dan kemudian buka suara, "Apa kau masih bisa bergerak?"


Yi Zhi Jian sebenarnya tersentak dengan kehadiran rekannya. Dia berkata, "Kau terlalu lama. Dia menyerangku begitu tiba-tiba,"

__ADS_1


Xiao Fang Shan mendengus, "Orang ini adalah Pendekar Wei Zhang Zihan. Biar aku yang hadapi, kau selesaikan tugasmu saja dengan kota ini."


"Aku sebenarnya tidak ingin menyerahkannya padamu karena ini pertarunganku. Tetapi tugas dari nona memang harus segera kupenuhi," Yi Zhi Jian berbalik sebelum kembali berkata, "Sebisa mungkin jangan membunuhnya. Aku ingin dia hidup-hidup untuk kuhabisi sendiri,"


"Baiklah, tapi aku tidak janji dia kuberikan dengan tangan serta kaki yang lengkap padamu." Xiao Fang Shan tersenyum. Tatapan matanya tetap mengarah pada Wei Zhang Zihan bahkan ketika dia bicara dengan rekannya.


Yi Zhi Jian sendiri melesat pergi. Di sisi lain Wei Zhang Zihan hendak menyusul pria itu, namun Xiao Fang Shan mengeluarkan aura pendekar yang begitu besar hingga dia pun terpaksa harus meladeni orang ini.


"Pendekar Suci Wei Zhang Zihan," Xiao Fang Shan berkata, "Aku sudah lama ingin bertemu denganmu. Sebenarnya aku sedikit menyesal sebab pertemuan pertama kita justru berada dalam situasi seperti ini,"


"Apa maksud kedatangan kalian sebenarnya?" Wei Zhang Zihan buka suara tanpa mengurangi kewaspadaannya.


Xiao Fang Shan bernapas pelan dan kemudian menjawab, "Bukan masalah besar. Kami hanya ingin memastikan kematian Xiao Yi Fei apa ada hubungannya dengan sekte kalian atau tidak?"


Wei Zhang Zihan tersentak, "Dan dengan cara membuat kerusakan di kota dan bahkan tanpa ragu mengambil nyawa banyak orang?"


"Maaf, ini hanya salah paham. Nona Xue Xiaowen ingin melampiaskan kemarahannya atas kematian Xiao Yi Fei."


"................." Wei Zhang Zihan memegang kuat pedang di tangannya. Dia menatap tidak percaya ke arah pria di hadapannya.


Tanpa nada, Wei Zhang Zihan berkata. "Mudah sekali kau mengatakan maaf dan berbicara soal salah paham setelah apa yang kalian lakukan,"


"Apa dengan maaf itu... Orang-orang yang kalian habisi bisa dihidupkan kembali?" Wei Zhang Zihan menggeleng tidak menyangka, "Sungguh. Bahkan kalian lebih buruk daripada binatang iblis,"


Xiao Fang Shan tersenyum. "Tolong jangan marah, Pendekar Wei. Orang-orang yang lemah bukankah sudah sepantasnya mati? Mereka tidak punya kekuatan, mereka tidak bisa melindungi diri sendiri. Jadi nasib mereka memang sudah bisa dipastikan,"


Xiao Fang Shan berkata, "Seharusnya kau dan Sekte Gunung Wushi merasa senang sebab kami membantu kalian meringankan beberapa beban. Bukankah merepotkan jika terus melindungi orang lemah yang tidak memberi kalian keuntungan? Rasanya begitu membuang waktu dan tenaga,"


Binar pada mata Wei Zhang Zihan berubah. Nada suaranya dingin saat berkata, "Aku ingin memberimu kesempatan. Tapi mendengarmu bicara membuatku mengurungkan niatan itu. Kau tidak layak diberikan kesempatan,"


"Hmph, seakan kau bisa membunuhku.." Xiao Fang Shan meledek. Dia pun berkata, "Cobalah. Aku jadi penasaran akan sekuat apa seorang Pendekar Suci Wei Zhang Zihan itu,"


"................."


Angin malam yang berhembus menerbangkan dedaunan dan tepat saat satu daun jatuh ke tanah---di saat itu pula ledakan berkekuatan besar tercipta dan pertarungan sengit terjadi antara Wei Zhang Zihan melawan Xiao Fang Shan.


******

__ADS_1


__ADS_2