
Di Aula Xing, Tetua Xia Feng Hua berada dalam sebuah ruangan bersama dengan Wang Zhong Xian, Wei Ji Han, Zhang Lao, dan Tabib Yun Zhen. Keempat pria ini merupakan tetua dari Sekte Gunung Wushi.
Tetua Xia Feng Hua tahu bahwa masih ada beberapa tetua sekte yang tidak datang sebab lebih memilih bertualang di dunia luar. Dia pun tidak terlalu memikirkan mereka.
Wang Zhong Xian adalah pria dengan janggut putih tebal. Dia tetua yang mengajari para murid baru Sekte Gunung Wushi tentang dasar kultivasi. Di sisi lain, ada Tetua Wei Ji Han yang merupakan pendekar berusia 65 Tahun dan dengan rambut putih serta kulit wajah yang sudah mengendur.
Satu-satunya tetua yang nampak muda di sini adalah Tetua Zhang Lao. Dia merupakan pria berusia 36 Tahun dan sosok yang terkenal akan ketampanannya. Sementara itu, Tabib Yun Zhen adalah salah satu tetua Sekte Gunung Wushi yang tidak banyak diketahui oleh para murid, itu karena dia lebih sering berada di Aula Lixing dan fokus hanya mengobati.
Tetua Xia Feng Hua menarik napas dan berkata, "Anggota Sekte Wulin datang dan membawakan sebuah pesan. Sebagian besar mereka merendahkan harga diri sekte ini, tapi intinya mereka meragukan keputusan Master Zhuang dalam memilih Pendekar Naga."
"Aku sudah menyelidikinya," Tetua Zhang Lao buka suara. "Alasan mengapa Kota Lianyi dan sekte ini diserang oleh anggota Sekte Bulan Mati adalah karena ingin membalas kematian rekan mereka,"
"Informasi yang kudapat, ada di antara murid sekte ini yang membunuh anggota Sekte Bulan Mati," Tetua Zhang Lao berujar. "Murid itu tidak bisa disalahkan sebab anggota Sekte Bulan Mati datang untuk menghabisi Pendekar Naga."
Tetua Wang Zhong Xian bernapas pelan dan kemudian mengusap janggut tebalnya. Dia pun buka suara, "Apa yang membunuh anggota Sekte Bulan Mati adalah... Xia Ling Qing? Pasalnya, hanya dia yang terkena racun dingin. Seolah-olah musuh lebih menginginkan penderitaannya daripada kematiannya,"
"Tidak peduli siapa," Tabib Yun Zhen bukan suara, "Mereka sudah membuat kekacauan di kota dan melukai banyak orang. Apa pun alasannya, ini sama sekali tidak dibenarkan."
Tetua Xia Feng Hua mengangguk pelan. Dia menarik napas dan berkata, "Karena kekacauan yang dibuat anggota Sekte Bulan Mati, nama sekte baik kita dipertaruhkan. Aku sama sekali tidak meragukan setiap ucapan Master Zhuang, tetapi pandangan orang lain berbeda-beda."
Tetua Xia Feng Hua berkata, "Master Zhuang memilih orang yang sama sekali tidak terduga sebagai Pendekar Naga. Pilihannya... Membuat banyak spekulasi dan salah satunya adalah pernyataan bahwa sekte ini sudah putus harapan hingga bahkan orang biasa pun dipilih menjadi Pendekar Naga. Sejujurnya, aku sangat marah akan hal ini."
Tetua Xia Feng Hua kembali buka suara, "Akan ada konferensi pendekar muda di Kota Chang'An dan itu bisa diikuti oleh siapa pun. Aku berpikir mengirimkan Chu Kai untuk pergi dan berpartisipasi dalam konferensi ini. Kupikir itu bisa membuktikan dirinya sendiri dan juga membuktikan bahwa pilihan Master Zhuang tidak bisa diragukan. Bagaimana pendapat kalian?"
"Tetua Feng Hua," Tetua Wang Zhong Xian buka suara. Dia pun berkata, "Aku tahu bahwa nama baik sekte ini dipertaruhkan. Tetapi anak itu... Dia masih terlalu pemula. Dia belum banyak mempelajari dasar-dasar kultivasi dan jika boleh kukatakan ini... Usia untuk belajar dasar kultivasi minimal 7 Tahun, tetapi pemuda itu... Dia sudah melampaui usia rata-rata."
Wei Ji Han menarik napas dan berkata, "Aku pun tidak memiliki kesempatan yang banyak untuk mengajarinya. Serangan oleh anggota Sekte Bulan Mati.... Datang di awal dia datang ke tempatku. Jadi bagaimana bisa... Pemuda itu ikut serta dalam konferensi?"
"Waktu tidak menunggu siapa pun," Tetua Zhang Lao buka suara. Dia menatap Tetua Xia Feng Hua dan berkata, "Pemuda itu harus ikut dalan konferensi. Kirimkan pesan pada tetua yang sedang menjalankan misi dan minta mereka untuk mendidik pemuda itu. Dia harus belajar dengan cara yang berbeda,"
Tetua Xia Feng Hua mengangguk, "Saat ini Chu Kai bersama A-Yan. Aku sudah mengirimkan pesan padanya, tetapi usulan Tetua Zhang Lao pun ada benarnya. Aku akan mengirimkan pesan pada tetua yang lain untuk membantu dalam penyelesaian masalah ini,"
Tetua Zhang Lao mengerutkan kening dan bertanya, "Pemuda itu bersama Wei Zhang Zihan? Mereka ada di mana?"
"Dalam perjalanan ke Kota Chang'An."
*
*
Selama tiga hari di hutan, Chu Kai terus diajari oleh Wei Zhang Zihan. Dia memang hanya fokus pada latihan menusuk dengan pedang, tetapi karena kegiatan yang berulang itu---ada beberapa perubahan pada dirinya.
Chu Kai awalnya sulit berlatih tusukan sebanyak seratus kali. Dia merasa tangannya akan terlepas, belum lagi Wei Zhang Zihan bisa dengan sangat kejam menyuruhnya untuk mengulang berhitung jika dia berhenti melakukan gerakan menusuk.
Memang melelahkan pada awalnya, tetapi dalam bimbingan Wei Zhang Zihan patut untuk dipuji. Pendekar Suci itu tidak hanya fokus memperhatikan gerakan menusuk yang Chu Kai lakukan, tetapi juga mengarahkan pemuda tersebut dalam teknik pernapasan.
Di samping itu, Chu Kai mempunyai tubuh yang proporsional. Pemuda tersebut memiliki otot tubuh yang lumayan dan Wei Zhang Zihan bisa tahu dengan pasti bahwa subjek ini sebenarnya cukup sering melatih otot-ototnya dan itu dibuktikan dengan apa yang dia lihat sekarang.
Chu Kai berlatih menusuk sebanyak 150 kali sambil mempraktekkan teknik pernapasan yang diajarkan Wei Zhang Zihan. Dia sama sekali tidak mengeluh sebab jika itu dilakukan, maka waktu latihannya akan ditambah.
Chu Kai bahkan harus mandi keringat karena terus berlatih dan bahkan di bawah sinar matahari yang terik. Keringat itu membuat pakaiannya basah dan rasanya tidak nyaman.
"Di kedaimu... Apa semua pelayan dilatih untuk mempunyai otot sepertimu?" Wei Zhang Zihan akhirnya buka suara. Dia bisa melihat otot di lengan Chu Kai karena pakaian subjek ini basah.
Chu Kai menoleh mendengar pertanyaan itu dan kemudian menggeleng, "Tidak. Memangnya kenapa?"
"Secara fisik, kau mempunyai stamina yang baik." Wei Zhang Zihan menyilangkan tangan dan menjelaskan, "Aku menyuruhmu untuk melakukan 150 gerakan menusuk sebenarnya tidak terlalu berharap. Orang biasa... Umumnya hanya sanggup menusuk sebanyak 50 kali dan mereka akan kehilangan stamina lebih cepat karena ini merupakan teknik berpedang,"
"Apa?" Chu Kai berkedip. Dia terlihat kaget, "Ha-hanya lima puluh kali?!"
"Mn, tetapi kau berlatih sebanyak 150 kali. Aku bahkan menyuruhmu mengulang menghitung dan kau melakukannya. Bukan itu saja, pada dasarnya... Gerakan menusuk orang biasa akan makin melemah seiring stamina mereka berkurang. Tetapi kau... Kekuatan tusukanmu tetap sama besar meskipun terlihat kelelahan."
!!
__ADS_1
Wei Zhang Zihan melihat mata pemuda ini melebar, jelas saja Chu Kai nampak tercengang dan seolah tidak percaya. Dia pun berjalan dan kembali berkata, "Kau bahkan melakukannya selama tiga hari berturut-turut. Aku sejujurnya tidak menduga akan mendapat hasil seperti ini,"
"Ta-tapi... Bukankah itu karena teknik pernapasan yang kau ajarkan?"
"Teknik pernapasan hanya membantu agar kau mudah mengayunkan pedang. Pada dasarnya semua bergantung pada staminamu sendiri,"
Wei Zhang Zihan memperhatikan Chu Kai dan kemudian berkata, "Aku menanyakan tentang apakah pelayan di kedaimu dilatih untuk meningkatkan otot tubuhnya, itu karena fisikmu terlihat seperti ini. Kau jelas mempunyai fisik yang kuat,"
Chu Kai berkedip. Dia memperhatikan kedua lengannya dan buka suara, "Aah... Pendekar Wei menanyakan anak-anakku ini?"
Chu Kai tersenyum dan berkata, "Aku memang sering berlatih. Hanya hal biasa seperti push-up dan sit-up,"
Chu Kai menggaruk kepalanya dan berkata, "Para gadis suka pria yang tubuhnya berotot. Aku tidak tampan, jadi kupikir setidaknya bisa membentuk tubuh dengan olahraga sedikit."
"Berapa banyak kau melakukannya setiap hari?"
"Ehm... Lima puluh kali. Aku juga berlatih dari mengangkat potongan kayu besar. Kulakukan setidaknya dua kali sehari,"
"Hmph, pantas kalau begitu." Wei Zhang Zihan menarik pedangnya dan kemudian berkata, "Walau hanya gerakan sederhana, tetapi kau memperhatikan dirimu sendiri. Olahraga dibutuhkan untuk menjaga kebugaran tubuh dan meski terlambat memulai berlatih pedang, kau sebenarnya tidak terlalu jauh tertinggal."
Wei Zhang Zihan berbalik dan berujar, "Ambil posisi. Kali ini akan kuajarkan teknik dalam peningkatkan kecepatan tusukan,"
"Baik!" Chu Kai memperbaiki posisi kakinya dan mulai mengikuti gerakan Wei Zhang Zihan. Angin bertiup menerbangkan dedaunan dan memain-mainkan rerumputan saat mereka berlatih.
"Saat mengayunkan pedang, buat itu menjadi bagian dari anggota tubuhmu sendiri." Wei Zhang Zihan memberikan arahan. Dia terus mengulang dua gerakan dan Chu Kai pun secara bertahap mulai bisa menyamakan kecepatan dengannya.
Cukup lama berlatih, Wei Zhang Zihan berhenti saat merasa Chu Kai mulai bisa menghapal tekniknya menghunuskan pedang beserta caranya mengatur pernapasan. Dia kini fokus memperhatikan gerakan dari pemuda bermata hijau alami tersebut.
Wei Zhang Zihan merasakan kehadiran sesuatu dan menengadah. Ada seekor burung hantu yang terbang mendekat, dia pun mengangkat lengannya dan hewan itu pun hinggap dengan perlahan.
Wei Zhang Zihan mengambil sebuah kain yang terikat pada salah satu kaki burung hantu itu. Wūyā adalah burung pengantar pesan dari Sekte Gunung Wushi.
'Untuk murid terkasihku, A-Yan.
Guru ini meminta agar kau bisa pergi dan belajar untuk dirimu di sana. Maaf jika Guru ini selalu merepotkanmu,'
Wei Zhang Zihan mengembuskan napas. Pesan yang dikirimkan padanya jelas memiliki maksud lain. Anggota Sekte Wulin tentunya tidak datang ke Sekte Gunung Wushi hanya untuk menyampaikan kabar tentang konferensi pendekar muda. Itu terlalu sederhana.
"Pendekar Wei?"
Suara Chu Kai membuat Wei Zhang Zihan menoleh. Dia pun mengusap kepala burung hantu di lengannya sebelum menerbangkan burung itu. Chu Kai terlihat bergegas dan menghampirinya.
"Burung hantu?"
"Benar. Itu burung pengantar pesan dari Sekte Gunung Wushi," Wei Zhang Zihan menjawab seadanya.
"Ada pesan apa dari Tetua Xia Feng Hua? Apa Nona Xia Ling Qing baik-baik saja?" Chu Kai terlihat khawatir.
Wei Zhang Zihan menarik napas dan berkata, "Xia Ling Qing terkena racun dingin. Ini racun yang sangat menyiksa dan sulit menemukan penawarnya,"
Chu Kai terkejut, dia menurunkan pandangan dan baru akan menyalahkan diri sendiri ketika mendengar Wei Zhang Zihan kembali bicara.
"Akan ada konferensi pendekar muda di kota Chang'An. Shizun meminta agar kau ikut dalam konferensi itu. Ini saatnya untuk menguji latihan yang kau jalani,"
"Apa?" Chu Kai berkedip. "A-aku? Tapi aku bahkan belum seminggu berlatih..!"
Chu Kai berkata, "Pendekar Wei. Kau tahu Pendekar Suci Nalan Shu, kan? Dia adalah seorang Pendekar Suci meski usianya jauh lebih muda dariku. Dia sangat hebat. Nona Nalan Shu saja sangat kuat, lalu bagaimana dengan para pendekar yang ada dalam konferensi itu?"
Chu Kai menelan ludah dan menggeleng pelan, "Aku bisa mengatakan ini padamu. Jika aku ikut dalam konferensi, itu sama saja dengan menyerahkan hidupku untuk dicabik-cabik oleh mereka."
"Ada seorang tabib bernama Diao Lin Wang. Dia merupakan tabib yang hebat dan tahu banyak tentang obat penawar. Hanya dengan menjadi pemenang di konferensi pendekar muda, kau bisa bertemu dengannya."
Chu Kai tersentak. Wei Zhang Zihan tidak membalas ucapannya tetapi mengatakan informasi tentang seseorang. Dia bahkan bisa mengerti maksud dari ucapan pemuda ini.
__ADS_1
"Pendekar Wei..."
"Aku tidak bisa menjadi peserta pada konferensi itu, tetapi berbeda denganmu. Lagipula, jika kau benar-benar berniat untuk menyelamatkan Xia Ling Qing---maka kau harus melakukan ini."
!!
Chu Kai menatap pemuda di hadapannya dan bernapas pelan. Dia mengangguk, "Pendekar Wei benar. Nona Xia Ling Qing terluka karena aku. Dia pun sudah beberapa kali membantu dan menyelamatkan hidupku. Kali ini ada kesempatan bagiku membalas kebaikannya, aku pasti akan berusaha."
"Mn, sekarang bersiaplah. Bersihkan dirimu dan kita akan menuju ke Kota Chang'An,"
"Baik."
Wei Zhang Zihan memperhatikan Chu Kai yang bergegas ke arah sungai sambil membawa bungkusannya. Dia sendiri pun berjalan ke arah hutan dan membiarkan pemuda bermata hijau alami itu untuk membersihkan diri.
Wei Zhang Zihan duduk di bawah sebuah pohon. Dia mengeluarkan kertas dan alat tulis dari lengan pakaiannya. Dia menggerakkan kuas dan mulai menuliskan surat balasan pada Tetua Xia Feng Hua yang ada di Sekte Gunung Wushi.
Wei Zhang Zihan mengeluarkan suara siulan saat memanggil burung hantu pengantar pesan. Wūyā datang dan hinggap pada sebuah batu berukuran sedang yang ada di samping Wei Zhang Zihan.
Surat balasan tersebut dilipat kecil dan diikat pada salah satu kaki Wūyā. Wei Zhang Zihan mengusap punggung burung hantu tersebut dan Wūyā pun kembali terbang.
'Hormatku pada Shizun,
Murid ini dalam perjalanan menuju konferensi. Shizun jangan mengkhawatirkan apa pun, kami akan baik-baik saja.
Murid ini akan berusaha agar tidak pernah mengecewakan Shizun,'
*
*
Perjalanan ke Kota Chang'An memakan waktu sekitar 12 hari jika berjalan kaki, apalagi sering kali beristirahat di malam hari. Tetapi waktu yang lumayan itu masih belum lambat untuk mendaftar sebagai peserta konferensi.
Selama berada di hutan, Wei Zhang Zihan terus membimbing Chu Kai. Dia bahkan menyuruh pemuda itu untuk berburu di hutan walau pada faktanya---dia lebih banyak membantu Chu Kai.
Mereka tiba di Kota Chang'An ketika langit sudah berganti warna menjadi jingga. Chu Kai merasa senang melihat kota dan nuansa yang begitu ramai ini membuatnya seakan-akan hidup kembali. Sungguh, selama ini dia hanya melihat rimbunan pepohonan dan satu-satunya manusia yang bersamanya adalah Wei Zhang Zihan.
"Aku hanya memakan makanan yang dibakar dan buah-buahan saja selama ini..." Chu Kai menarik napas dan bergumam, "Bisa mencium aroma rempah masakan sungguh membuat nyawaku kembali. Ini mengagumkan,"
"Pendekar Wei," mata Chu Kai berbinar. Dia baru akan menunjuk sebuah kedai makan ketika Wei Zhang Zihan tiba-tiba berjalan mendahuluinya.
"Pendekar Wei, kita akan pergi ke mana? Kedai yang di sana memiliki aroma masakan yang mengagumkan. Pendekar Wei,"
"Kita tidak datang untuk makan," Wei Zhang Zihan buka suara. "Kita harus mendaftarkan namamu untuk ikut dalam konferensi terlebih dahulu,"
"Apa?" Chu Kai tersentak. "Tapi aku--kita kan bisa melakukannya nanti? Sungguh kau tidak mau ke kedai yang di sana itu?"
"Ikuti aku,"
"Pendekar Wei..!" Chu Kai tidak percaya. Dia menghela napas dan agak kecewa karena tidak bisa mengisi perutnya terlebih dahulu.
"Tidakkah seharusnya kita istirahat terlebih dahulu, Pendekar Wei?" Chu Kai buka suara. Dia masih berusaha untuk membujuk pemuda, tetapi Wei Zhang Zihan sama sekali tidak terpengaruh.
Chu Kai baru akan kembali buka suara ketika Wei Zhang Zihan tiba-tiba berhenti melangkah. Dia mengerutkan kening dan memperhatikan bahwa saat ini mereka berada di depan sebuah bangunan yang cukup besar.
"Kau masuk ke sana untuk melakukan pendaftaran. Aku akan pergi sebentar," Wei Zhang Zihan menoleh dan menatap Chu Kai. Dia berkata, "Ada hal yang harus kuurus. Itu tidak akan lama,"
"Tapi, Pendekar Wei--!!" Chu Kai kaget Wei Zhang Zihan bergegas pergi seolah sedang terburu-buru. Dia pun menengadah untuk melihat dengan baik bangunan di depannya.
Wei Zhang Zihan tidak semata-mata meninggalkan Chu Kai begitu saja. Dia pergi karena sejak awal memasuki kota, firasatnya sudah tidak biasa. Seolah ada yang tengah mengawasi dirinya dan Chu Kai.
Wei Zhang Zihan memilih sebuah lorong kecil yang cukup terpencil dan tidak banyak dilalui orang. Dia berdiri dengan tenang tepat di tengah-tengah lorong tersebut sebelum mulai buka suara.
"Keluarlah. Aku tahu kalian di sini,"
__ADS_1
******