
Seorang wanita dengan rambut merah bergelombang nampak berdiri di atap bangunan tertinggi Kota Lianyi. Sosok wanita itu menatap ke arah Gunung Wushi dan terlihat kilat merah di matanya.
Wanita tersebut tidak sendirian, dia bersama lima orang kultivator berpakaian merah dengan corak anggrek bulan. Mereka semua berasal dari Sekte Bulan Mati, Aliran Hitam. Wanita itu sendiri tidak lain adalah putri tetua sekte, Xue Xiaowen.
"Apa kalian semua sudah siap?" suara Xue Xiaowen memecah keheningan malam. Lima orang yang masing-masing ada di atap bangunan berbeda nampak menyeringai, dua di antara mereka adalah wanita dengan wajah yang serupa.
Salah satu wanita itu terlihat memain-mainkan rambutnya. Dia berkata, "Nona Xiaowen. Apa kita akan menghadapi 13 orang Tetua Sekte Gunung Wushi?"
Wanita tersebut berkedip dan kembali berkata, "Aku sebenarnya tidak masalah, tapi aku tidak mau menghadapi mereka secara langsung."
"Kau takut mereka akan mengalahkanmu?" seorang pemuda meledek. Dia memegang kipas setinggi pinggang di sampingnya. "Biar aku yang menyerang duluan jika kau takut, atau kau bisa kembali ke sekte."
"Siapa bilang aku takut. Hanya saja pikirkan dengan kepalamu itu. Biarpun kau sangat hebat, tapi kita datang ke markas musuh. 13 Tetua Sekte Gunung Wushi... Kau jangan meremehkan mereka. Apalagi, di sana masih ada para muridnya. Meski mereka lemah, mereka tetap akan merepotkan."
Xue Xiaowen menatap wanita yang menjadi rekannya itu dan berujar tanpa nada. "Jangan merendahkan dirimu. Kalian kubawa kemari tidak untuk mati sia-sia. Ayo pergi,"
*
*
Sekte Gunung Wushi mempunyai 13 Tetua dan masing-masing mempunyai kediaman sendiri. Di antara tetua tersebut, ada enam orang yang menyukai bertualang ke dunia luar. Sisanya tetap ada di sekte dan sesekali turun gunung membawa murid-murid mereka untuk menjalankan misi.
Salah seorang tetua Sekte Gunung Wushi bernama Zhang Lao. Dia terlihat seperti pria berusia 36 Tahun dan saat ini sedang berlatih pedang di halaman kediamannya.
Meski praktiknya sudah cukup tinggi, namun Tetua Zhang Lao masih belum merasa puas. Dia ingin menyempurnakan teknik berpedang Tebasan Lingkaran Petir miliknya agar bisa digunakan untuk menghadapi binatang iblis dan melindung banyak orang.
Beberapa murid luar Sekte Gunung Wushi, yakni mereka yang belum memilih 'Shizun' ada yang sedang berlatih malam di dalam hutan. Hanya saja ada juga murid perempuan beserta teman-temannya yang lebih suka mengintip Tetua Zhang Lao berlatih.
Kehadiran murid ini jelas disadari oleh Tetua Zhang Lao, namun dia tidak memikirkannya lebih jauh. Baginya ini justru bisa menjadi media agar para murid belajar sesuatu darinya.
Para tetua biasanya mengelilingi kediaman mereka dengan sebuah penghalang dari energi spiritual, karena itu mereka bisa tahu jika ada orang luar yang masuk ke wilayahnya tersebut. Tentu saja, Tetua Zhang Lao juga melakukan hal yang serupa.
Para murid yang memperhatikan Tetua Zhang Lao begitu kagum dengan bakat hebat dari pria itu. Ada di antara mereka yang sebenarnya sudah mengajukan lamaran untuk menjadi murid Tetua Zhang yang luar biasa ini, tetapi Tetua Zhang sendiri tidak pernah mau menerima murid perempuan.
Tetua Zhang Lao sebenarnya baik, dia juga bisa mudah diajak bicara jika ada wanita yang menyapanya. Tetapi jika untuk menerima mereka menjadi murid, penolakannya begitu tegas dan sebuah keputusan yang tidak bisa diubah.
!!
Gerakan terakhir yang dilakukan oleh Tetua Zhang Lao menciptakan suara gemuruh petir yang keras, para murid yang memperhatinnya nampak berdecak kagum dan baru akan memuji saat hembusan angin tiba-tiba membawa perasaan tidak nyaman.
__ADS_1
Tetua Zhang Lao tersentak, ini adalah aroma samar-samar darah dan merupakan bukti bahwa ada hal buruk yang sedang terjadi saat ini. Dia merasakan arah anginnya yang tidak lain berasal dari kota. Keterkejutan yang terlihat di wajahnya begitu jelas, dia pun langsung melesat pergi.
"A-apa yang terjadi?!" salah seorang murid perempuan terkejut menyaksikan Tetua Zhang Lao yang tiba-tiba pergi. Perasaannya menjadi khawatir.
"Aroma ini..." murid perempuan lain yang memiliki penciuman lebih baik dari teman-temannya langsung kaget, "Aroma darah ini... Oh, tidak."
"Hei, tunggu!"
*
*
Tidak hanya murid perempuan dan Tetua Zhang Lao yang mencium aroma tersebut, tetapi juga murid lain yang sedang berlatih di dalam hutan, salah satunya adalah sosok Nalan Shu. Pendekar Suci yang menduduki posisi keempat itu langsung melesat menuju Kota Lianyi.
Kondisi saat ini gelap, bahkan begitu larut dan di waktu-waktu seperti inilah biasanya sesuatu yang tidak terduga terjadi. Apa yang terlihat di bawah langit Kota Lianyi jelas bukan hal yang indah untuk dipandangi.
!!!
Ada banyak suara teriakan kesakitan dan suasana yang sebelumnya tenang kini dipenuhi riuh memekakkan telinga. Beberapa pintu dan jendela bangunan terbuka, orang-orang yang tinggal di dalamnya keluar sambil memegang kuat dada mereka seolah sangat kesakitan.
Ada yang terlihat terjatuh dengan kedua tangan yang menggaruk dada mereka hingga berdarah dan ada yang bahkan mencekik leher sendiri secara menggila. Belum lagi, ada yang sampai berlari dan menceburkan kepalanya ke dalam gentong berisi air.
Sudah banyak korban yang berjatuhan dan kondisi tubuh mereka begitu mengerikan. Tetua Zhang Lao yang baru saja sampai begitu terkejut melihat kondisi di sekitarnya.
Aaakh..!
Aaakh..!
Pria yang sudah mengalami banyak luka itu melotot tajam pada sosok di sampingnya. Dia menggeram dan langsung memberikan tendangan. Tetua Zhang Lao tersentak, namun dia masih bisa menghindari serangan yang mengejutkan itu.
!!
Beberapa warga Kota Lianyi yang sedang kesakitan dalam sekejap merubah ekspresi mereka. Orang-orang itu memberikan tatapan tajam dengan niatan membunuh kepada Tetua Zhang Lao dan detik itu juga pertarungan langsung pecah.
Tetua Zhang Lao tidak bisa mengayunkan pedang untuk membunuh orang-orang ini karena mereka adalah warga Kota Lianyi. Apalagi jika diperhatikan baik-baik, para orang awam ini jelas dalam sebuah pengaruh jurus seseorang. Yang bisa dia lakukan hanyalah menangkis dan menghindari serangan yang ada.
Jauh di tempat lain, Chu Kai terlihat gelisah dalam tidurnya. Titik keringat terbentuk di dahinya dan kedua tangannya mencengkeram kuat alas dari tempat tidurnya. Dia pun lantas tiba-tiba bangun dan dengan perasan seperti sedang terkejut.
Napas Chu Kai tidak beraturan. Dia memegang kuat dadanya dan berusaha bernapas dengan baik. Mimpi buruk yang baru saja dia alami terasa begitu nyata sampai membuat detakan pada jantungnya berdebar begitu cepat.
__ADS_1
"Haah... Astaga," Chu Kai menggeleng pelan. "Sudah lama aku tidak pernah mengalami mimpi seburuk ini. Haah... Ya ampun,"
Chu Kai mengusap-usap wajahnya dan lalu menatap kedua anak yang sekamar dengannya. Murid Sekte Gunung Wushi itu masih terlihat tertidur pulas. Dia pun lantas mengembuskan napas dan turun dari tempat tidur.
Chu Kai keluar dari kediaman. Ada sebuah wadah penampungan air di belakang kamarnya dan dia ke sana untuk membasuh wajah. Bulan masih bersinar di atas sana dan kondisi yang ada di sekitar pun begitu gelap. Hanya saja penerangan dari obor bambu di tempat ini cukup bagi Chu Kai hingga dia tidak perlu meraba-raba jalan.
Niat Chu Kai memang hanya sekadar membasuh wajah dan minum, namun tidak disangka telinganya mendengar suara aneh dan membuatnya terkejut, bahkan sampai melebarkan mata.
Chu Kai spontan berbalik. Dia memandang ke arah hutan yang gelap dan dengan perasaan gelisah yang tidak wajar. Ini jelas berbeda dari mimpi buruknya tadi.
Chu Kai berlutut dan menempelkan telinganya ke tanah. Dia bisa mendengar jelas suara ribut dari serangga malam, namun instingnya membuat dia dapat mendengar suara lain yang lebih tidak biasa. Itu adalah suara teriakan pilu dan tebasan pedang.
!!!
Chu Kai seketika bangun dengan ekspresi wajah yang lebih terkejut. Detakan jantungnya semakin cepat, apalagi dia yakin mendengar suara teriakan dari ayahnya. Itu benar-benar suara milik ayahnya, Chu Tian.
"Ayah..!" Chu Kai bergegas. Dia berlari masuk ke dalam hutan dengan perasaan yang luar biasa gelisah. Ayahnya berada dalam bahaya sekarang ini, dia harus menolongnya.
Kekacauan di Kota Lianyi masih terjadi. Tetua Zhang Lao ada dalam situasi yang kewalahan sebab dia harus menahan kekuatannya agar tidak sampai menghabisi nyawa warga kota yang dipengaruhi teknik buruk ini.
Di sisi lain, warga kota yang melawan Tetua Zhang Lao jelas mengerahkan kekuatan penuh mereka, bahkan dengan niat membunuh yang besar. Para warga ini membuat lawan mereka dalam kondisi yang menyulitkan.
Nalan Shu yang kini berada di Kota Lianyi terlihat menggeram kesal, "Apa yang sebenarnya sedang terjadi ini?!"
Meski sebelumnya Nalan Shu memfokuskan diri untuk berlatih meningkatkan teknik bertarungnya, namun merasakan firasat tidak nyaman---dia pun meninggalkan latihannya dan datang ke kota ini. Namun tidak disangka, dia disambut dengan kekacauan yang entah dibuat oleh siapa.
Nalan Shu menghindari serangan dua orang warga. Mereka adalah pria yang mengerang kesakitan, namun tidak bisa mengendalikan gerakan tubuh sendiri. Rasanya seolah-olah ada sesuatu yang mengontrol pergerakan mereka.
"Bagaimana ini? Tidak mungkin kubunuh mereka," Nalan Shu berusaha memikirkan cara terbaik untuk menghadapi orang-orang ini, namun dia masih belum menemukan cara yang bisa diterapkan.
Nalan Shu membutuhkan waktu, tetapi situasi di hadapannya tidak mungkin menunggu. Para warga Kota Lianyi yang dalam pengaruh teknik aneh ini terus menyerang, bahkan orang yang mengendalikan mereka tidak mempedulikan bahwa para warga mengerang kesakitan.
Nalan Shu menggunakan gerakan memutar dan saat hendak menendang salah seorang warga---tatapan matanya menangkap lintasan keperakan yang nampak seperti benang.
Tanpa ragu, Nalan Shu menebas bentangan benang tipis keperakan itu. Hanya saja di saat yang bersamaan, keterkejutan memenuhi wajahnya.
!!
Bukan benang itu yang putus, melainkan pedang Nalan Shu-lah yang patah. Gadis kecil yang dikenal sebagai salah satu dari Pendekar Suci tersebut begitu syok kala mengetahui bahwa serangannya berhasil dipatahkan. Dan tidak hanya itu, tetapi pedangnya pun sampai patah.
__ADS_1
"Tidak mungkin..."
******