
BRAAAK!
Seorang pria menabrak meja buah yang berada di luar kedai. Ada empat pendekar berpakaian ungu dan sedang bertarung dengan dua orang. Suara benturan pedang begitu keras, apalagi mereka sepertinya saling memusuhi.
"Ukh," sosok pria yang menabrak meja buah itu tidak lain adalah Chu Kai. Dia sungguh tidak tahu bagaimana harus menjelaskan situasi yang dialaminya saat ini.
Chu Kai masih ingat bahwa awalnya dia sedang muntah karena merasa tidak nyaman pada perutnya setelah menunggang kuda. Tapi tiba-tiba saja terjadi perkelahian dan sebuah tendangan langsung mengenainya.
Dia sama sekali tidak menduga hal semacam ini hanya bisa terkejut sambil menahan sakit pada perutnya yang terkena tendangan. Dia pun menyaksikan bagaimana para pendekar asing itu berkelahi di depannya.
"Aduh... Mereka ini sebenarnya siapa, menyebalkan sekali..." Chu Kai meringis dan tersentak saat mengenali corak pada pakaian para pendekar tersebut.
"Sekte Wuya dan Paviliun Yù Jiàn?" Chu Kai mendengus dan menggeleng pelan. "Tidak tahu malu. Bahkan dalam kondisi selarut ini, mereka tetap saja bertengkar."
Chu Kai menyaksikan salah satu pendekar yang berpakaian ungu terlempar karena terkena serangan, tepat di dadanya. Dia menghantam sebuah dinding dengan sangat keras yang mana mengundang perhatian orang-orang.
"Ini tidak benar, mereka harus dihentikan sekarang-"
"Kai!"
Chu Kai tersentak mendengar seseorang memanggilnya. Dia pun menoleh dan melihat Wei Zhang Zihan bergegas menghampirinya.
"Pendekar Wei,"
"Apa yang terjadi?" Wei Zhang Zihan melihat kondisi Chu Kai yang memegang perutnya dan dengan penampilan yang sedikit berantakan.
"Entah bagaimana menjelaskannya padamu. Aku tiba-tiba saja ditendang oleh salah satu di antara mereka. Rasanya sakit sekali.." Chu Kai mengeluh.
"Sekte Wuya dan Paviliun Yù Jiàn..." Wei Zhang Zihan memperhatikan para pendekar yang bertarung di hadapannya. Dia pun meraih tangan Chu Kai dan menariknya, bersamaan dengan datangnya sebuah serangan nyasar.
BAAAAM...!
Meja buah yang ditabrak oleh Chu Kai sebelumnya sampai terbelah. Pemuda bermata hijau alami itu tanpa sadar menahan napas. Beruntung Wei Zhang Zihan bergerak cepat melindunginya.
Sekte Wuya dan Paviliun Yù Jiàn, siapa pun tahu tentang pertikaian mereka yang sudah berlangsung sangat lama. Keduanya berasal dari aliran putih, namun tidak pernah akur sama sekali. Chu Kai yang sebelumnya hanya bekerja di kedai pun tahu tentang kedua sekte ini.
"Pendekar Wei, mereka harus dihentikan sekarang." Chu Kai mengedarkan pandangan dan mulai banyak orang yang keluar dari bangunan-bangunan di sekitarnya. Mereka jelas penasaran dengan suara keributan yang begitu tiba-tiba.
Wei Zhang Zihan menatap Chu Kai sejenak sebelum mulai menarik pedangnya. Dia pun bergerak dan masuk ke dalam pertempuran para pendekar. Chu Kai tersentak, namun ikut mengambil tindakan.
Seorang pendekar berpakaian ungu yang sedang bertukar serangan dengan anggota Paviliun Yù Jiàn terkejut saat ada yang ikut campur dalam urusannya. Di sisi lain, anggota Paviliun Yù Jiàn pun ikut terganggu. Mereka secara spontan merubah gerakan dan menyerang orang yang entah datang dari mana itu.
TRANG!
Pedang kedua pendekar itu langsung berbenturan keras dengan pedang Wei Zhang Zihan. Sementara, Chu Kai menangkap ayunan pedang seorang pendekar dengan kedua tangan. Dia pun memberikan tendangan pada pria yang merupakan anggota Sekte Wuya.
Tetua Fang Tie Zhu sendiri terlihat berdiri di bibir pintu kedai dan menyaksikan bagaimana Wei Zhang Zihan serta muridnya melawan para pendekar tersebut. Dia menyilangkan tangan dan seperti tidak berniat untuk menghentikan mereka bertarung.
Brak!
Chu Kai terjatuh dan detik berikutnya sebuah serangan datang, nyaris membelahnya andai ia tidak segera berguling untuk menghindari serangan itu.
__ADS_1
Dengan cepat, Chu Kai memutar tubuhnya dan mengait kaki pendekar yang ia lawan. Dia pun berhasil menjatuhkan lawannya dan saat akan melakukan tendangan, pendekar lain datang dan langsung menyerangnya.
"Bagaimana bisa kalian bertarung di tempat seperti ini?!" Chu Kai mengeluarkan serangan dengan memakai tinjuan tangannya.
!!
"Astaga!" Chu Kai kaget ketika pendekar yang ia serang terkena tepat di dadanya dan membuat subjek itu terpental cukup jauh, bahkan nyaris menabrak Wei Zhang Zihan yang sedang bertarung.
BAAAM...!
Tubuh pendekar itu menghantam dinding bangunan hingga tercipta lubang yang cukup besar. Suaranya yang keras membuat Wei Zhang Zihan dan pendekar lainnya seketika menghentikan serangan mereka.
!!!
Chu Kai menjadi tegang. Salah satu pendekar berseru dan bergegas menghampiri rekannya itu. Dia kaget saat wajah temannya terlihat sangat pucat, bahkan dengan kulit leher yang agak membiru.
"Gwei Cheng! Saudara Cheng!"
"Ohok! Ohok!"
Pemuda berpakaian ungu yang berasal dari Sekte Wuya tersebut menghela napas lega saat ia mendengar batuk dari temannya. Gwei Cheng langsung memuntahkan cukup banyak darah dan terlihat menekan dadanya.
Rasanya seakan serangan yang ia terima barusan membuat jantungnya tidak berdetak, bahkan dia sempat merasakan tidak bisa bernapas. Syok pada wajahnya begitu jelas.
"Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?"
Wei Zhang Zihan melihat betapa khawatirnya pendekar dari Sekte Wuya itu terhadap rekannya. Dia pun menarik napas sebelum berbalik dan menatap ke arah Chu Kai.
Chu Kai mengatupkan mulutnya saat melihat tatapan tajam dari Wei Zhang Zihan. Karena tindakannya, pertarungan di antara anggota Sekte Wuya dan Paviliun Yù Jiàn terhenti.
"Apa kau berniat membunuh temanku, hah?!" seorang pendekar berpakaian ungu berseru. Dia membentak Chu Kai dan membuat pemuda bermata hijau alami itu tersentak.
"Apa?" Chu Kai mendengus. Dia menunjuk pria di hadapannya dan berkata, "Kalian yang duluan memulainya, menyebalkan!"
Chu Kai berkata, "Aku tidak melakukan apa pun dan sama sekali tidak mengganggu kalian. Kau dan orang-orangmu itu yang tiba-tiba saja datang, menendangku, lalu bertarung di tempat seperti ini. Haiih, dan kenapa kau harus marah jika aku menyerang rekanmu, hah?"
"Kau!"
"Apa?!"
"Kai, hentikan." Wei Zhang Zihan buka suara, dia melihat Chu Kai menyilangkan tangan dan memasang ekspresi cemberut.
"Hei, kalian semua." Tetua Fang Tie Zhu akhirnya buka suara. Ucapannya membuat Wei Zhang Zihan, Chu Kai dan para pendekar seketika menatap ke arahnya.
Tanpa nada, Tetua Fang Tie Zhu berujar. "Orang-orang sedang mencoba untuk tidur. Jika kalian ingin bertarung, maka lakukanlah di tempat lain. Aku tidak peduli bahkan jika kalian saling membunuh satu sama lain, tapi jangan di tempat ini. Apa kalian mengerti?"
!!!
Walaupun tanda nada, namun Chu Kai dan yang lainnya bisa merasakan aura menekan keluar dari tubuh pria berotot yang berdiri di bibir pintu. Pendekar dari Sekte Wuya bahkan terlihat menelan ludah, tanpa bisa berkata apa-apa.
"Maafkan kami, Tetua." dua orang dari anggota Paviliun Yù Jiàn menyatukan tangan dan memberi hormat pada Tetua Fang Tie Zhu. Mereka pun menyarungkan kembali pedangnya dan berjalan pergi. Keduanya sempat menatap sinis ke arah pendekar dari Sekte Wuya.
__ADS_1
Chu Kai bisa melihat kedua kelompok pendekar itu masih saling tidak menyukai. Dia tersentak ketika mendapat tatapan tajam dari anggota Sekte Wuya yang sedang membantu rekannya berjalan. Mereka pun pergi dan meninggalkannya bersama dengan Wei Zhang Zihan.
"Kau membuat masalah," Wei Zhang Zihan berujar dan membuat Chu Kai seketika menoleh.
"Pendekar Wei, mereka yang memulainya lebih dulu. Aku ini pemuda yang cinta damai, tahu." Chu Kai membela diri meski dalam hati dirinya jelas sangat tidak tenang. Sungguh, dia harus melakukan sesuatu pada kekuatannya yang terlalu besar atau seseorang dapat tewas hanya dengan sekali tinjuan darinya.
Wei Zhang Zihan menyenggol lengan Chu Kai dan berjalan ke arah Tetua Fang Tie Zhu. Chu Kai menyusul pendekar suci dari Sekte Gunung Wushi itu dan masuk ke dalam kedai.
"Aku lapar dan mengantuk," Tetua Fang Tie Zhu kembali ke tempat duduknya dan menatap ke arah Chu Kai. Dia pun berujar, "Jika kau ingin mengambil nyawa seseorang, maka lakukan secara diam-diam. Pendekar dari aliran putih itu... Tidak boleh terlihat kejam di depan orang lain."
!!
Chu Kai terkejut. Dia berkedip dan duduk di salah satu kursi sambil berkata, "Tetua Fang. Bukankah ucapan Anda menunjukkan bahwa pendekar aliran putih itu.... Adalah orang yang licik?"
"Tidak, tapi kau harus bertindak secara hati-hati." Tetua Fang Tie Zhu mulai menyantap hidangan di depannya dan berkata, "Meskipun berasal dari aliran putih... Bukan berarti kau harus bersikap baik hati. Ingat, bertingkah lugu pun harus tahu batasannya. Sekarang makan,"
"Ah..." Chu Kai menatap ke arah hidangan yang ada di atas meja, tepat di depannya dan baru saja akan menyumpit sepotong daging saat Wei Zhang Zihan buka suara.
"Sekte Wuya dan Paviliun Yù Jiàn... Mereka sepertinya masih belum menyelesaikan permasalahan di masa lalu."
"Permasalahan?" Chu Kai mengerutkan kening, dia berusaha mengingat-ingat sesuatu dan lalu berkata. "Aku pernah menerima anggota dari dua sekte ini sebelumnya dan sama seperti tadi, mereka langsung terlibat pertarungan entah meributkan apa."
"Teknik berpedang," Wei Zhang Zihan berkata. "Sekte Wuya dan Paviliun Yù Jiàn menyebut diri sendiri sebagai pewaris dari Teknik Seribu Pedang. Kedua perguruan ini mengklaim bahwa merekalah yang berhak menggunakan Teknik Seribu Pedang yang terkenal sangat luar biasa itu dan menganggap yang lain hanyalah peniru."
Chu Kai tersentak saat sebelumnya pendekar yang duduk di sampingnya ini menyebutkan nama 'Teknik Seribu Pedang'. Dia langsung teringat dengan insiden ketika berada di gua makam kuno dan menyaksikan sebuah ilusi.
"Bukit... Bunga Persik," gumaman Chu Kai membuat Wei Zhang Zihan tersentah. Bahkan Tetua Fang Tie Zhu menatap ke arahnya.
"Dari mana kau tahu nama itu?" Wei Zhang Zihan buka suara dan sepertinya Tetua Fang Tie Zhu pun ingin menanyakan hal serupa.
"Ehm... Aku..." Chu Kai mengusap tengkuknya dan kemudian berujar, "Aku mendengarnya. Pe-Pendekar Wei kan tahu bahwa a-aku tinggal di kedai sebelumnya. Tempatku menerima banyak orang dan dari sanalah banyak sekali informasi yang bisa didapatkan,"
"............." Wei Zhang Zihan memperhatikan Chu Kai dengan saksama sebelum bernapas pelan. Dia tidak mengatakan apa pun lagi.
"Bukit Bunga Persik.... Sudah lama tidak pernah mendengar tentang namanya." Tetua Fang Tie Zhu buka suara. Dia menjelaskan, "Dahulu kala. Tempat itu adalah perguruan paling besar dan sangat dihormati di Dataran Tengah. Perguruan yang memiliki murid-murid paling berbakat dan sampai sekarang pun... Tidak ada perguruan yang bisa sebanding dengan Bukit Bunga Persik."
"Bahkan... Termasuk Sekte Bulan Mati?" Chu Kai bertanya, dia terlihat serius mendengarkan ucapan Tetua Fang Tie Zhu.
"Mn, tapi tidak sesederhana itu." Tetua Fang Tie Zhu berkata, "Karena mempunyai banyak murid berbakat... Bukit Bunga Persik mengalami beberapa perpecahan. Ada di antara para muridnya yang memutuskan pergi untuk memperoleh kekuatan yang lebih besar,"
Tetua Fang Tie Zhu melanjutkan, "Sekte Bulan Mati sudah ada sejak saat itu, namun belum menjadi yang terbesar seperti sekarang ini. Mereka bisa berkembang sejauh ini adalah karena mendapat beberapa murid dari Bukit Bunga Persik,"
"Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" Chu Kai terlihat sangat ingin mengetahuinya.
"Dahulu pernah ada murid yang paling berbakat dari Bukit Bunga Persik, tapi tidak layak untuk dibahas."
Chu Kai mengerutkan kening, dia menatap Tetua Fang Tie Zhu dan tanpa nada berkata. "Apa maksud Anda bahwa itu tidak layak dibahas? Apa karena.... Pendekar itu membantai seluruh anggota sektenya?"
!!!
Ucapan Chu Kai mengejutkan Tetua Fang Tie Zhu dan Wei Zhang Zihan. Dia sebenarnya merasa perlu mencari tahu lebih dalam tentang Bukit Bunga Persik karena itu berhubungan dengan pemilik sebelumnya dari Pedang Pendekar Naga.
__ADS_1
******