
Xia Ling Qing, Wei Zhang Zihan, dan Liu Han Ying tidak hanya tahu tentang maksud dari kata 'Bencana Besar', tetapi juga mengerti dengan jelas. Semua ini bermula sejak zaman dahulu kala.
Di antara banyak binatang yang menghuni Dunia Tengah, ada tiga jenis yang sangat berbahaya dan dengan kekuatan yang mampu mengubah dunia. Tiga jenis binatang ini berasal dari klan iblis, klan roh, dan klan kuno.
Klan Binatang Iblis, mereka adalah monster yang sudah sejak dahulu berselisih dengan manusia. Mereka mempunyai wilayah sendiri dan mempunyai perjanjian dengan manusia. Ada banyak sejarah yang mencatat mengenai perjanjian ini.
Klan Binatang Roh, monster ini berada satu tingkat di atas Binatang Iblis. Jumlahnya tidak terlalu banyak, namun daya hancur dari satu monster ini sangat luar biasa. Perbedaan yang mencolok antara klan ini dengan klan binatang iblis adalah sifat haus darah mereka.
Monster dari klan Binatang Roh tidak bisa diajak berkomunikasi. Kekuatan mereka melimpah, namun dengan satu kekurangan. Monster ini tidak mempunyai tubuh fisik dan kerenanya saat mereka muncul, mereka akan masuk ke dalam tubuh makhluk apa pun dan menjadi bencana. Inilah yang dimaksudkan oleh Tetua Sheng Zei Wang.
Monster dari klan Binatang Kuno sendiri berada diluar jangkauan siapa pun. Tidak banyak orang yang pernah melihat binatang dari klan kuno, namun sesuai kabar yang beredar adalah bahwa jika seseorang berusaha mencari tahu tentang klan ini, maka saat itu jugalah dunia selangkah lebih dekat dengan kehancuran.
Di antara orang-orang yang ada di ruangan ini, kemungkinan besar hanya Wei Zhang Zihan yang pernah bertemu dengan binatang dari klan kuno. Itu adalah saat ia menghadapi seekor naga bersama Chu Kai dan Ling Xian Shu. Meski demikian, binatang yang dilihatnya tersegel dalam waktu yang lama di tempat itu hingga kekuatannya tidak terlalu mengerikan.
Namun meskipun demikian, Wei Zhang Zihan mengerti dengan jelas bahwa nyawanya akan terancam bila saja hanya dia sendirian yang menghadapi monster tersebut.
Sheng Zei Wang buka suara, "Beberapa waktu lalu aku mendapatkan kabar bahwa bencana besar muncul di sebuah pulau bernama Yèzi. Kabar ini harusnya tidak boleh sampai ke telinga para pendekar aliran hitam, tetapi yang terjadi justru sebaliknya."
Sheng Zei Wang melanjutkan, "Lokasi kemunculan bencana ini ada di wilayah aliran hitam sehingga beritanya cepat menyebar. Kalian pasti mengerti bagaimana dampak besar yang akan terjadi bila sampai hal seperti ini jatuh ke tangan mereka,"
Tabib yang sebelumnya mengobati Xia Ling Qing ikut buka suara. Dia adalah orang yang dihormati di sekte ini meski tidak masuk ke dalam salah satu tetua Sekte Menara Rufeng.
Tabib itu berkata, "Tidak hanya pendekar aliran hitam yang mengincar bencana besar itu. Tapi juga para binatang iblis. Bencana besar meski merupakan makhluk yang haus darah, tetapi kemunculannya yang masih baru di dunia ini akan dengan mudah dimanfaatkan."
"Tunggu," Liu Han Ying buka suara, "Bencana besar adalah sebutan bagi binatang dari klan roh. Makhluk ini tidak bisa dikendalikan, jadi bagaimana mungkin mereka dapat memanfaatkannya?"
"Binatang dari klan roh tidak memiliki bentuk fisik," Wei Zhang Zihan berkata. "Jika muncul, mereka perlu menempati sesuatu sebagai cangkang."
Liu Han Ying tersentak, "Lalu... Bentuk apa yang dimiliki oleh bencana itu sekarang?"
Wei Zhang Zihan tidak punya jawaban atas pertanyaan Liu Han Ying, tetapi dari ekspresi wajah Tetua Sheng Zei Wang... Dia sepertinya mengerti kekhawatiran Tetua Sekte Menara Rufeng ini.
Wei Zhang Zihan berkata, "Kemunculan bencana adalah hal yang buruk. Namun hal yang sangat berbahaya adalah jika bencana itu justru mampu mengambil seorang manusia sebagai cangkangnya,"
"Itu benar," Sheng Zei Wang menarik napas. "Jika masih tidak berwujud, kita dapat menyegel makhluk itu hingga tidak akan muncul. Namun masalahnya..."
__ADS_1
"Wilayah aliran hitam tidak akan mengizinkan hal ini," Xia Ling Qing buka suara. Dia melihat Sheng Zei Wang menatap ke arahnya dan Tetua Sekte Menara Rufeng itu pun mengangguk pelan.
"Apa rencana anda selanjutnya, Tetua?" Wei Zhang Zihan bertanya.
"Aku telah mengirim sepuluh murid terbaikku untuk pergi ke Pulau Yèzi dan memeriksanya. Sekte yang lain pun pasti sudah bergerak sekarang, tapi aku benar-benar ragu jika mereka memiliki pemikiran yang sama dengan kami." Sheng Zei Wang menatap ke arah Wei Zhang Zihan sebelum kembali bicara.
Tetua dari Sekte Menara Rufeng itu berkata, "Aliran Hitam dan Aliran Putih sudah lama berselisih, namun di antara aliran putih sendiri... Juga tidak terlihat baik-baik saja. Karena semuanya saling bersaing memperoleh kekuatan tertinggi, rasa belas kasihan dan tolong-menolong terasa semakin pudar. Aku... Bahkan tidak yakin harus meminta bantuan kepada siapa,"
"Bukankah Sekte Menara Rufeng salah satu dari Lima Sekte Besar di kekaisaran ini?" Wei Zhang Zihan mengerutkan keningnya, "Anda tidak mungkin tidak memiliki relasi dengan perguruan mana pun."
"Nak, ada banyak perguruan yang menghormati sekte ini. Tapi rasa hormat saja belum cukup untuk membuktikan kesetiaan mereka. Apalagi jika dihadapkan pada keserakahan, seekor anjing pun dapat menggigit leher tuannya."
Sheng Zei Wang menarik napas dan berujar, "Sulit untuk menemukan teman yang memiliki tujuan yang sama. Bahkan ramalan tentang kemunculan iblis dan kehancuran dunia seolah tidak lagi dipedulikan oleh mereka, padahal tanda-tandanya sudah ada di depan mata kita."
Sheng Zei Wang melanjutkan, "Perguruan yang kutahu terus mewariskan ramalan ini dan berusaha menemukan orang yang dapat mencegah kehancuran dunia adalah sekte kalian. Karena itulah aku berani bercerita,"
Liu Han Ying baru akan bicara kembali saat ia melihat Xia Ling Qing berjalan ke arah pintu. Dia pun bertanya, "Kau ingin pergi ke mana?"
Xia Ling Qing menghentikan langkahnya. Dia tanpa menoleh pun berkata, "Tidak ada yang bisa menghilangkan segel pada makam kuno itu dan seperti yang dikatakan Tetua Sheng... Dia akan baik-baik saja. Jadi aku akan pergi ke Pulau Yèzi dan menghentikan bencana itu."
"Sebaiknya kau tetap tinggal di sini," Sheng Zei Wang menyela saat Liu Han Ying memanggil Xia Ling Qing.
Tetua dari Sekte Menara Rufeng itu berkata, "Kalian sudah melalui perjalanan yang sulit sebelumnya. Beristirahatlah terlebih dahulu dan pulihkan kondisi kalian,"
Xia Ling Qing berbalik. Dia menatap Sheng Zei Wang dan berkata, "Bagaimana bisa anda meminta kami tinggal di saat hal seperti bencana besar akan datang?! Ini bukan waktunya beristirahat."
"Paling tidak kau harus mempersiapkan diri sebelum pergi ke sana," Sheng Zei Wang berjalan mendekat.
Tetua dari Sekte Menara Rufeng itu menepuk pundak Xia Ling Qing dan berkata, "Para pendekar yang akan kau hadapi tidak hanya berasal dari satu sekte, belum lagi dengan para binatang iblis. Kau tidak boleh pergi dalam keadaan yang seperti ini,"
"Kalian berdua juga harus beristirahat," Sheng Zei Wang menatap Wei Zhang Zihan dan Liu Han Ying. Dia melanjutkan, "Tidak hanya kalian bertiga yang akan pergi ke Pulau Yèzi, tapi aku sendiri pun juga akan ikut. Kita akan mempersiapkan semuanya sebelum hari keberangkatan,"
Wei Zhang Zihan dan Liu Han Ying mengangguk pelan, keduanya pun lantas menyatukan tangan dan memberi hormat pada Tetua Sheng Zei Wang.
*
__ADS_1
*
Xia Ling Qing diberikan sebuah kamar pribadi oleh Tetua Sekte Menara Rufeng. Dia berdiri di depan sebuah jendela, menyaksikan gunung yang jauh di hadapannya dan dengan nuansa malam hati.
"..............." Xia Ling Qing teringat dengan wanita yang bernama Wei Shezi. Sosok itu sebelumnya sudah menyelamatkannya dan saat sedang membicarakan tentang Chu Kai... Tiba-tiba saja orang itu pergi entah ke mana.
Xia Ling Qing merasa penasaran dengan identitas wanita itu yang sebenarnya, tetapi dia tidak tahu harus mencari sosok itu di mana. Tetapi yang jelas, kepergian subjek tersebut disengaja dan seakan tidak perlu memberitahu dirinya.
"..............." Xia Ling Qing memegang tepian jendela dengan cukup kuat. Ekspresi wajahnya terlihat sangat dingin dan seolah sedang menahan rasa kesalnya.
Berbeda dengan Xia Ling Qing, Wei Zhang Zihan yang berada di kamar lain nampak menulis sebuah pesan untuk yang akan dia kirimkan kepada Sekte Gunung Wushi.
Surat itu membahas informasi tentang Nalan Shu, Chu Kai, dan juga keberadaannya di Sekte Menara Rufeng serta kabar mengenai bencana besar. Tepat saat Wei Zhang Zihan selesai menulis, seekor burung hantu datang dan hinggap di jendela kamarnya.
Wei Zhang Zihan menuliskan kabar tentang Nalan Shu saat ia teringat bahwa rekannya itu tidak ada bersamanya. Terakhir kali yang ia tahu adalah bahwa Nalan Shu dibawa oleh seorang pendekar karena Chu Kai yang menitipkannya.
Wei Zhang Zihan tahu bahwa pendekar itu berasal dari salah satu sekte aliran putih dan yakin bahwa Nalan Shu pasti akan dipulangkan kembali ke Sekte Gunung Wushi. Dia hanya ingin memberikan pesan agar saat Nalan Shu pulang kembali... Tidak ada seorang pun yang melepaskan tali pengikat di tubuhnya.
Jarak yang ditempuh oleh burung hantu pengantar pesan lumayan jauh, namun Wei Zhang Zihan percaya pesan yang ia kirimkan pada tetua sektenya akan sampai tepat pada waktunya. Sekarang, dia hanya perlu untuk mempersiapkan diri menuju ke Pulau Yèzi bersama yang lainnya.
"..............." Wei Zhang Zihan bernapas pelan. Ketenangan yang terasa sama sekali tidak bisa mendamaikannya. Ia teringat dengan kejadian di mana untuk pertama kalinya Chu Kai nampak berbeda.
"Sebenarnya... Bukan hanya tidak ingin memberikan kalian kesempatan untuk memakai altar itu. Aku juga berniat membunuh para pendekar yang ada di altar itu. Sayang sekali... Mereka memperoleh kesadaran dengan lebih cepat."
"Kalian selalu saja menyebut Pendekar Naga, Pendekar Naga yang terpilih, lalu apa aku harus melakukan apa yang kalian inginkan? Melindungi dunia? Ha ha ha, mustahil."
"Maaf saja, tapi aku tidak ingin menjadi Pendekar Naga untuk melindungi dunia."
Wei Zhang Zihan menatap keluar jendela, dia bisa mengingat bagaimana ekspresi dan nada bicara Chu Kai. Apalagi tindakan pemuda itu yang entah bagaimana membuat tidak hanya dirinya yang terlempar keluar dari wilayah makam kuno, tetapi juga para pendekar yang lain.
Wei Zhang Zihan tahu bahwa Chu Kai tidak mungkin mengatakan hal semacam itu dari lubuk hatinya. Jelas bahwa pemuda tersebut berkata demikian agar bisa membuat orang-orang tidak mencemaskannya saat ia menghadapi anggota Sekte Bulan Mati sendirian.
"........ Siapa... Kau sebenarnya?"
******
__ADS_1