
Perbaikan cukup lama dilakukan di dua tempat. Yang pertama tentu saja adalah Sekte Gunung Wushi dan lainnya merupakan Kota Lianyi. Chu Kai sendiri setiap harinya selalu menjaga ayahnya, Chu Tian.
Di sisi lain, Xia Ling Qing masih dalam perawatan Tabib Yun Zhen. Kabar bahwa dia terkena Racun Dingin menyebar dan membuat khawatir para murid, terutama Tetua Xia Feng Hua.
"Yun Zhen! Apa kau serius bahwa putriku terkena racun dingin?!" kekhawatiran dan rasa panik terlihat jelas di wajah Tetua Xia Feng Hua. Dia saat ini berada di kamar Xia Ling Qing dan melihat putrinya itu masih terbaring tidak sadarkan diri di atas sebuah tempat tidur.
Tabib Yun Zhen memejamkan mata sejenak sebelum bernapas pelan, "Tidak mungkin aku menipumu dengan mengatakan kebohongan semacam ini. Ling Qing'Er memang terkena racun dingin,"
Tetua Xia Feng Hua tidak mungkin tidak tahu tentang racun dingin. Ini adalah satu dari tujuh jenis racun mematikan yang pernah ada dan terkenal di Dataran Tengah. Racun jenis ini dimiliki dan dipelajari oleh keturunan langsung dari Sekte Bulan Mati.
Racun Dingin tidak membunuh, tetapi banyak pendekar yang tidak bisa menahan racun ini hingga mengakhiri hidupnya sendiri. Ini adalah jenis racun paling menyiksa yang pernah ada.
Seseorang yang terkena racun ini akan terlihat baik-baik saja dan mampu menggunakan energi spiritualnya untuk bertarung. Tidak ada hambatan pun dalam pelatihannya. Namun... Itu semua akan berbeda ketika hujan turun.
Benar. Racun Dingin baru akan bereaksi ketika hujan turun. Seseorang yang terkena racun dingin akan merasakan sakit yang luar biasa menyiksa, terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum yang dipanaskan ke dalam kobaran api.
Seseorang akan sulit bertahan dengan racun dingin, bahkan besar kemungkinan orang itu akan menghilangkan nyawanya sendiri sebab tidak sanggup menahan rasa sakitnya.
Tabib Yun Zhen melihat rasa cemas yang ada di wajah Tetua Xia Feng Hua. Dia tentu saja merasakan hal yang sama sebab Xia Ling Qing tidak hanya putri dari pria ini, tetapi juga adalah Pendekar Suci Tingkat Pertama Sekte Gunung Wushi. Jadi mendapati seorang yang begitu penting mengalami luka yang parah, apalagi terkena racun berbahaya---jelas merupakan kekhawatiran yang besar.
"Yun Zhen, apa kau tidak bisa membuatkan obat penawar dari racun ini?" Tetua Xia Feng Hua bertanya. "Aku ingat bahwa dahulu ada murid dari sekte ini yang pernah terkena racun serupa."
"Benar, aku juga ingat. Dan bahkan sangat ingat bagaimana murid itu mengakhiri hidupnya karena tidak bisa menahan rasa sakit karena racun dingin." Tabib Yun Zhen bernapas pelan dan berkata, "Karena kejadian itu... Aku merasa sangat bersalah. Aku merasa sudah gagal mengemban tugasku sebagai seorang tabib."
Pandangan Tetua Xia Feng Hua turun, suaranya pelan saat berkata. "Lantas apa yang harus kulakukan..? Bagaimana bisa kubiarkan Ling Qing'Er menderita seperti ini,"
"Tetua..."
*
*
__ADS_1
Wei Zhang Zihan sebelumnya mendengar tentang kondisi Xia Ling Qing yang terkena racun dingin dan hendak menjenguk saudara seperguruannya itu. Hanya saja, langkahnya terhenti ketika berada di depan ruangan tempat Xia Ling Qing dirawat.
Wei Zhang Zihan mendengar pembicaraan Tetua Xia Feng Hua dengan Tabib Yun Zhen. Dia pun bernapas pelan dan kemudian mulai membuka pintu. Kehadirannya langsung menarik perhatian kedua pria tersebut.
"A-Yan?" Tetua Xia Feng Hua menatap Wei Zhang Zihan yang berjalan mendekatinya. Dia melihat pemuda tampan ini menyatukan tangan dan memberi hormat padanya serta pada Tabib Yun Zhen.
"Shizun, biarkan murid ini yang pergi untuk mencari penawar dari racun saudara Xia." Wei Zhang Zihan tanpa basa-basi langsung mengatakan tujuannya dan membuat Tetua Xia Feng Hua serta Tabib Yun Zhen tersentak.
"A-Yan..." Tetua Xia Feng Hua tentu saja kaget, "Apa yang kau katakan...?"
"Murid ini tanpa sengaja mendengar pembicaraan Shizun dengan Tetua Yun Zhen. Murid ini merasa harus melakukan sesuatu,"
Tetua Xia Feng Hua memperhatikan Wei Zhang Zihan dengan saksama sebelum mengarahkan pandangan kepada Tabib Yun Zhen. Dia pun kembali menatap Wei Zhang Zihan dan lalu mulai buka suara.
Tetua Xia Feng Hua berkata, "A-Yan. Aku senang karena kau ingin membantu Ling Qing'Er, tetapi tidak mudah untuk mencari penawar dari racun dingin."
"Mn," Tabib Yun Zhen menggumam sebagai pertanda bahwa dia setuju dengan perkataan Tetua Xia Feng Hua. Dirinya pun kemudian menambahkan dengan berkata, "Untuk mendapatkan penawar racun dingin, kau akan terlibat dengan Sekte Bulan Mati. Dan aku rasa tanpa diberikan penjelasan pun, kau mengerti siapa mereka itu."
Tabib Yun Zhen mengerti maksud dari ucapan Wei Zhang Zihan. Mencari penawar bagi racun dingin bukanlah perkara mudah, apalagi bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Jika Tetua Xia Feng Hua pergi, maka Sekte Gunung Wushi akan kehilangan Tetua Besarnya.
Tetua Xia Feng Hua bukannya tidak mengerti, dia juga tahu bahwa Sekte Gunung Wushi membutuhkannya. Tetapi bukan berarti dia membiarkan Wei Zhang Zihan pergi.
"Nak, aku tidak ingin melibatkanmu ke dalam bahaya." Tetua Xia Feng Hua berkata, "Kau sudah melakukan banyak hal dan jauh lebih baik jika masalah ini kuserahkan pada tetua yang lain. Aku akan mencari cara lain untuk mendapatkan penawar dari racun ini,"
Tetua Xia Feng Hua menatap Wei Zhang Zihan dan kemudian mengembuskan napas, "Tetapi kurasa... Melihat bagaimana karaktermu selama ini---kau pasti akan tetap pergi meski sudah kucegah,"
Wei Zhang Zihan kembali menyatukan tangan dan memberi hormat. Dia pun menatap ke arah Xia Ling Qing yang masih terbaring tidak sadarkan diri di tempat tidur sebelum berjalan keluar.
Setelah sosok Wei Zhang Zihan tidak terlihat lagi, Tabib Yun Zhen lantas menghela napas dan menggeleng pelan. "Aku selalu merasa bahwa anak itu seperti gunung yang kokoh. Dia memiliki pendirian teguh dan sangat setia kawan. Tiap kali dia membuat keputusan, itu seperti badai yang tidak bisa dicegah."
"Yaah... Kau benar." Tetua Xia Feng Hua tersenyum tipis sebelum menurunkan pandangannya. Ingatan tentang pertandingan pemilihan pendekar suci beberapa tahun yang lalu kembali terlintas.
__ADS_1
Saat itu Wei Zhang Zihan dan Xia Ling Qing bertarung untuk kursi pertama sebagai Pendekar Suci. Xia Ling Qing dikenal karena ambisinya yang sangat menginginkan posisi teratas, sementara di sisi lain---Wei Zhang Zihan hanya ingin bertarung dengan segenap kekuatannya.
Hanya saja meskipun pada akhirnya Wei Zhang Zihan dikalahkan oleh Xia Ling Qing, tetapi Tabib Yun Zhen dan Tetua Xia Feng Hua sendiri tahu fakta yang sangat rahasia ini. Itu adalah tentang Wei Zhang Zihan yang bisa saja mencapai posisi sebagai Pendekar Suci Tingkat Pertama, bahkan melebihi Xia Ling Qing.
*
*
Di tempat lain, tepatnya di Kota Lianyi---Chu Kai begitu bersungguh-sungguh merawat ayahnya. Di samping itu, dia pun memikirkan banyak hal dan salah satunya merupakan hubungan dari kondisi ayahnya sekarang dengan dirinya yang dimusuhi oleh anggota Sekte Bulan Mati.
Chu Kai memegang dan menepuk lembut tangan ayahnya. Setelah lama merawat, Chu Kai kini bisa tersenyum lega ketika menyaksikan wajah ayahnya yang sudah tidak pucat lagi. Bahkan tabib yang memberikan pengobatan telah berkata bahwa kondisi ayahnya semakin membaik.
"................." Chu Kai lama menatap wajah ayahnya sebelum mulai buka suara. Dia bergumam pelan, "Aku minta maaf, Ayah. Putramu ini... tidak bisa berada di sisimu saat kau bangun nanti."
Chu Kai berkata, "Aku sudah memutuskan untuk menjadi lebih kuat agar tidak ada lagi yang berani menggangguku, apalagi menyakiti Ayah."
Chu Kai, pemuda dengan mata hijau alami dan sebuah bekas luka pada pelipisnya itu berada di dalam sebuah kamar. Sudah ada bungkusan kain di atas meja di dekatnya dan juga ada sebuah pedang. Siapa pun tahu bahwa sosok ini sudah bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat.
"Aku tidak bisa tinggal di sini lagi. Keberadaanku tidak bisa disembunyikan lagi, tetapi aku berjanji akan selalu datang untuk menjenguk Ayah. Tolong hiduplah dengan baik dan sehat," Chu Kai mencium punggung tangan dan kemudian kening ayahnya sebelum mengambil bungkusan serta pedangnya.
Pemuda itu keluar melalui jendela yang terbuka dan kemudian menutupnya kembali. Dia tidak bisa memberitahukan Jing Hao atau pun orang lain tentang keputusannya ini. Kakinya akan terasa berat melangkah pergi jika sampai bertemu dengan temannya itu.
Chu Kai tidak kembali ke Sekte Gunung Wushi atau pun kediaman Tetua Wei Ji Han. Pedang di tangannya adalah senjata yang dia pungut ketika kondisi Kota Lianyi masih dalam tahap perbaikan. Dia bahkan tidak memberitahu siapa pun terkait lokasi yang akan dia tuju, sama sekali tidak bahkan kepada Wei Zhang Zihan.
Karena itulah ketika Wei Zhang Zihan datang ke Kota Lianyi dan pergi menjenguk Chu Tian kembali, pemuda itu bertanya-tanya tentang keberadaan Chu Kai.
Jing Hao sendiri sudah bisa berjalan walau masih menggunakan tongkat. Ada perban di lengan, leher, dan juga kepalanya. Belum lagi salah satu kakinya juga dibalut perban dan walau demikian, Jing Hao masih sangat semangat menemani Wei Zhang Zihan, termasuk membantu pemuda itu mencari Chu Kai.
Masalahnya, cukup lama mereka mencari dan bahkan dibantu oleh warga lain beserta murid Sekte Gunung Wushi---tetapi semuanya tidak melihat Chu Kai. Perasaan tegang langsung menyelimuti Wei Zhang Zihan, apalagi ketika dia mulai mengingat pembicaraan terakhirnya dengan pemuda itu.
!!
__ADS_1
******