LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
48 - Menuju Kota Bian Xi


__ADS_3

Chu Kai tidak habis pikir dengan bagaimana Wei Zhang Zihan benar-benar pergi dan tanpa peduli pada Xia Ling Qing. Padahal sebelum ini jelas sekali bahwa pria di hadapannya terus bersama Xia Ling Qing dan merawatnya.


Sambil menghela napas, Chu Kai membatin. "Aku sama sekali tidak bisa memahami sosok Pendekar Wei ini. Dia... Sejujurnya pria yang aneh,"


Chu Kai terus mengikuti Wei Zhang Zihan hingga keluar bangunan. Mereka bahkan tidak lagi pergi menemui Pemimpin Kota Chang'An untuk berpamitan. Dia baru saja akan buka suara dan mengingatkan pemuda di depannya saat dirinya tersentak oleh sesuatu.


Tidak jauh di depannya, Chu Kai melihat ada dua ekor kuda dan seseorang yang nampak menunggangi salah satu kuda tersebut tidak lain adalah Xia Ling Qing.


Chu Kai sampai berkedip beberapa kali dan terperangah saat menyadari bahwa rupanya gadis itu tidak pergi meninggalkannya bersama Wei Zhang Zihan, tetapi pergi untuk membeli kuda.


"Nona Xia...?" Chu Kai berjalan mendekat. Raut wajahnya dengan cepat berubah senang. Dia bahkan begitu gembira saat berkata, "Kau di sini?! Kupikir kau marah dan meninggalkanku."


"Waah, kau bahkan membawakan kuda. Tapi... Ehm, kenapa hanya dua?" Chu Kai berkedip dan dengan semangat berkata, "Mungkinkah kau ingin satu kuda denganku?!"


Xia Ling Qing langsung menatap dingin ke arah Chu Kai saat mendengar ucapan itu. Tindakan yang dia lakukan membuat Chu Kai secara spontan bersembunyi di balik punggung Wei Zhang Zihan.


Xia Ling Qing mendengus dan lantas mulai menarik tali kekang kudanya. Wei Zhang Zihan yang melihat kepergian gadis itu pun mulai mengambil kuda lainnya dan segera menungganginya.


Chu Kai syok dengan tindakan pria ini yang begitu tiba-tiba. Dia pun buka suara, "Pendekar Wei? Lalu bagaimana denganku?! Apa kau akan meninggalkanku sendirian di sini?"


Wei Zhang Zihan tanpa nada berkata, "Kau tentu saja lari."


"Apa?!" Chu Kai tersentak, "Pendekar Wei jangan bercanda. Bagaimana kau begitu tidak punya hati nurani sampai-"


"Latihan untukmu,"


"Latihan?"


"Mn," Wei Zhang Zihan menarik tali kekang kudanya dan meninggalkan Chu Kai yang terkejut bukan main.


Chu Kai tertegun beberapa saat sebelum berkedip karena tidak percaya, "Serius mereka akan melakukan ini padaku? pendekar Wei..!"


Chu Kai segera mengejar Wei Zhang Zihan. Dia berjalan cepat dan masih bisa menyusul sebab pria berpakaian serba biru ini tidak memacu kudanya dengan kencang.


"Pendekar Wei," Chu Kai buka suara. "Bersikap jahat juga ada batasnya. Bagaimana kau bisa membiarkanku berjalan di saat kau duduk tenang dengan kuda itu? Setidaknya berikan aku tumpangan,"


"Aku tidak menyuruhmu berjalan, tapi berlari. Gunakan teknik pernapasan yang kuajarkan dan coba susul kami," Wei Zhang Zihan dengan tiba-tiba mempercepat laju kudanya dan membuat Chu Kai terkejut.


"Pendekar Wei..!?" Chu Kai benar-benar bisa ditinggal jika tidak segera menyusul. Dia pun terpaksa berlari walau tidak sebanding dengan laju kuda milik Wei Zhang Zihan.


"Apa pelatihan memang seperti ini?" Chu Kai berdecak, "Aku merasa ini sebuah penindasan. Begitu tidak adil,"


Sepanjang jalan Chu Kai terus merutuki Wei Zhang Zihan di dalam hati. Tindakan pendekar dari Sekte Gunung Wushi itu sangat keterlaluan. Bagaimana dia bisa mengejar seseorang yang menunggangi kuda secepat itu?! Dan lagi... Entah tujuan mereka mau ke mana sekarang ini.

__ADS_1


Sambil menarik napas, Chu Kai pun mulai berkonsentrasi dan melakukan teknik pernapasan yang diajarkan oleh Wei Zhang Zihan. Ini adalah Teknik Pernapasan Embun Bunga, berfungsi memperlancar aliran darah dan jika caranya benar---maka akan memiliki manfaat seperti membuat diri tidak akan cepat lelah.


Chu Kai cukup bisa mempraktekkan teknik ini dengan baik. Dia menggunakannya terus dan sambil berlari mengikuti Wei Zhang Zihan yang sedang menaiki kuda. Keningnya mengerut saat mengetahui bahwa Wei Zhang Zihan mengarahkan kudanya untuk masuk ke dalam hutan.


"Ini..." Chu Kai masih belum tahu tujuan Wei Zhang Zihan, tetapi dia teringat pada sebuah gulungan yang diberikan oleh Diao Lin Wang padanya.


Chu Kai berhenti untuk melihat isi gulungan yang ada padanya. Hutan yang dia lewati ini bernama Zhī lù, jalan utama menuju Kota Bian Xi. Tempat itu dekat dengan wilayah Sekte Tianzhi.


Chu Kai tegang, dia tidak tahu banyak tentang Sekte Tianzhi selain pada rumor bahwa sekte ini merupakan sekte yang paling tidak boleh disinggung sama sekali. Tentu saja, informasi ini membuat Chu Kai tidak bisa untuk tak merasa khawatir.


"Sekte Tianzhi adalah sekte aliran putih, tetapi..." Chu Kai menarik napas dan menelan ludah. Dia menjadi khawatir sebab salah satu tanaman herbal yang diinginkan oleh Diao Lin Wang berada di lingkup wilayah sekte ini.


Chu Kai mengembuskan napas, ekspresi wajahnya rumit. Dia pun menatap ke depan dan kaget sebab Wei Zhang Zihan sudah tidak lagi terlihat. Dia syok karena ditinggal begitu saja.


"Gawat," Chu Kai menyimpan gulungannya dengan hati-hati dan kembali mengejar Wei Zhang Zihan. Walau tidak melihat pemuda itu, tetapi dia masih bisa mendengar suara derap kaki kuda.


Chu Kai terus berlari menyusuri hutan ketika salah satu kakinya menginjak sebuah ranting kayu dan tiba-tiba saja dahan pohon yang ada di atasnya terjatuh, nyaris menimpa dirinya.


!!


Jantung Chu Kai seakan berhenti berdetak selama beberapa saat sebelum berpacu dengan kencang. Dia berkedip beberapa kali dan begitu syok. Sungguh, hampir saja dia berada dalam bahaya.


Chu Kai memperhatikan dahan pohon di depannya dan mengerutkan kening. "Dahan pohon ini... Sengaja dipatahkan?!"


"Serangan ini sengaja dilakukan. Seolah-olah ada yang telah menjadikan ini sebagai jebakan untukku," Chu Kai memikirkannya baik-baik dan seketika melebarkan mata. "Apa mungkin yang melakukannya adalah..."


Chu Kai langsung teringat pada Wei Zhang Zihan dan kini mengetahui bahwa semua ini adalah perbuatan pendekar dari Sekte Gunung Wushi itu.


"Waah, Pendekar Wei..." Chu Kai menggeleng pelan, "Aku tidak menyangka kau bisa bersikap begitu jahat padaku. Ini... Apa dia sebenarnya ingin menghabisiku?"


Chu Kai mengusap-usap wajahnya, "Haah.. Ini tidak mungkin. Aku yakin Pendekar Wei secara sengaja melakukannya, tetapi bukan untuk mengincar nyawaku. Dia... Aku rasa ini juga bagian dari pelatihan."


"Benar, pasti begitu." Chu Kai menyakinkan diri sendiri dan lantas menarik napas. Dia pun memandang ke depan dan berkata, "Ini adalah pelatihan yang disiapkan Pendekar Wei. Dia ingin agar aku bisa selalu waspada dan tidak boleh lengah. Sedikit saja kecerobohan, maka nyawaku adalah taruhannya."


Chu Kai menarik napas dan kemudian mulai fokus pada jalan di depannya. Pedangnya selalu dibawa ke mana pun dan kali ini dia terlihat memegangnya dengan sangat kuat.


Chu Kai bergegas ketika suara derap kuda yang didengarnya semakin samar. Ini menjadi bukti bahwa Wei Zhang Zihan makin menjauh dan jelas itu hal yang tidak boleh sampai terjadi. Dia harus segera menyusul pendekar suci dari Sekte Gunung Wushi tersebut.


Dahan pohon yang jatuh dan dicurigai sebagai perbuatan sengaja oleh Wei Zhang Zihan benar adanya. Pria tampan berpakaian biru muda itu sengaja membuat beberapa jebakan sebagai rintangan yang harus dihadapi oleh Chu Kai dan hutan ini merupakan tempat yang tepat.


"Bagaimana?" Xia Ling Qing yang menunggang kuda dan berada di depan Wei Zhang Zihan nampak memperlambat laju kudanya. Dia bertanya pada pemuda di belakangnya.


Wei Zhang Zihan bernapas pelan, "Sepertinya tidak bisa menyusul."

__ADS_1


"Hmph, aku juga tidak berharap banyak."


"................" Wei Zhang Zihan memperhatikan jalan di depannya. Kudanya kini berjalan beriringan dengan kuda milik Xia Ling Qing.


Dia dengan suara tenang bertanya, "Bagaimana kondisimu?"


Xia Ling Qing menoleh, menatap dingin ke arah Wei Zhang Zihan dan menjawab. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan,"


"Racun dingin jangan di sepelekan. Kau tahu jelas bagaimana akhirnya,"


"Kau pikir aku tidak bisa bertahan?" Xia Ling Qing tanpa nada berkata, "Aku tidak akan kalah hanya karena racun dari Xue Xiaowen. Gadis itu... Akan kupastikan dia akan membayar semuanya,"


Wei Zhang Zihan, "Sebelum kau mencari masalah dengan Sekte Bulan Mati. Maka lebih baik kau mengobati racun di tubuhmu dahulu. Kita akan pergi... Ke Sekte Tianzhi."


Xia Ling Qing tersentak. Dia menatap Wei Zhang Zihan dan berkata tanpa nada, "Aku hanya ingin pergi ke Kota Bian Xi, sama sekali tidak datang untuk Sekte Tianzhi."


"Di tempat itu ada salah satu tanaman herbal yang berguna untuk penawar racunmu,"


"Wei Zhang Zihan," Xia Ling Qing berkata. "Apa yang terjadi padaku bukanlah urusanmu. Kau tidak seharusnya bersikap sebaik ini,"


"................" Wei Zhang Zihan bernapas pelan. Gadis ini benar-benar tidak bisa diajak bicara. Xia Ling Qing mempunyai prinsip sendiri dan sama sekali tidak tergoyahkan. Baginya, subjek ini terlalu keras kepala.


Wei Zhang Zihan buka suara, "Meskipun kau tidak suka mendapat pertolongan dari orang lain, tetapi kau tidak bisa menghentikan dia yang ingin menolongmu. Menurutnya, karena dirinyalah hingga kau terkena racun dingin."


Sosok yang disebutkan oleh Wei Zhang Zihan tentu saja diketahui Xia Ling Qing dan melihat reaksi dari gadis ini membuat Wei Zhang Zihan kembali buka suara.


"Dia sudah menentukan akan mencarikan obat penawar racun dingin untukmu. Dia tidak akan berhenti sebelum meraih tujuannya, dia jauh lebih dari keras kepala. Bahkan... Jika untuk melakukan itu... Nyawanya bisa menjadi taruhan,"


!!


Bersamaan dengan ucapan Wei Zhang Zihan, di tempat lain Chu Kai sedang menghadapi jebakan yang tidak main-main. Pemuda bermata hijau alami itu terlihat terus berlari dan beberapa kali harus menghindari jebakan yang entah bagaimana bisa dipasang sangat rapi oleh Wei Zhang Zihan.


Belasan tongkat kayu dengan ujung runcing melesat dari arah samping kanan Chu Kai ketika dia sedang berlari. Karena mendengar suara dari lesatan tongkat itu, Chu Kai pun berhasil menghindarinya dengan melompat ke belakang.


Chu Kai secara berangsur-angsur mulai bisa merasakan efek dari kondisinya yang dipaksa berlari oleh Wei Zhang Zihan. Dia kini menjadi lebih cepat dan sangat memperhitungkan setiap langkahnya.


Wei Zhang Zihan tidak hanya menggunakan dahan pohon sebagai bentuk dari jebakan, tetapi juga memakai tanaman merambat yang secara sengaja disembunyikan di antara dedaunan kering.


Chu Kai tanpa sengaja menginjak tanaman merambat itu dan berakhir dengan salah satu kakinya ditarik. Dia hampir saja dibawa naik ke atas pohon saat dengan segera mengayunkan pedang miliknya.


Tentu saja pemuda bermata hijau alami itu berhasil melindungi dirinya sendiri, tetapi bersamaan ketika Chu Kai menebas akar merambat yang menarik kakinya---sebuah suara pertarungan sengit terdengar. Bahkan tanah tempat Chu Kai berada pun ikut bergetar.


!!!

__ADS_1


******


__ADS_2