
Lima hari sebelum keempat pendekar Sekte Gunung Wushi ini bertemu Xu Huan, mereka sedang menjalankan sebuah misi tentang kasus penculikan wanita.
Kasus yang mereka selidiki ini pun membuat keempatnya bertemu Xu Huan dan mengejar anggota dari Sekte Bulan Mati itu. Sungguh, sebelum ini mereka tidak tahu bahwa orang yang keempatnya kejar adalah anggota sekte aliran hitam yang paling dibenci ini.
Masalah lainnya adalah bahwa para pendekar Sekte Gunung Wushi itu juga tidak mengetahui fakta besar bahwa sosok yang mereka kejar bukanlah anggota biasa Sekte Bulan Mati. Xu Huan yang memancing keempat pendekar itu untuk ke tempat sunyi ini jelas merencanakan sesuatu.
Xu Huan merupakan wanita dengan wajah bersih dan ada tahi lalat kecil di bagian kiri dagunya. Matanya berwarna ungu muda yang membuatnya nampak seperti orang asing. Dia mempunyai senyuman yang menawan.
"Ini sangat mengejutkanku," Xu Huan mulai buka suara. Nadanya tenang saat berkata, "Kalian mengejarku sampai kemari... Apakah ada sesuatu yang penting?"
"Jangan berpura-pura tidak mengetahuinya," seorang murid Sekte Gunung Wushi yang bernama Tao Fang berkata, "Beritahu kami di mana para gadis yang sudah kau culik!"
"Hmm?" Xu Huan memain-mainkan rambut di antara jari-jarinya. Dia tersenyum dan sama sekali tidak membantah tuduhan dari pendekar di hadapannya.
Tindakan Xu Huan ini membuat Tao Fang dan ketiga rekannya merasa bahwa subjek di depan mereka ini memang adalah pelaku sebenarnya dari penculikan para gadis.
Chang Ling yang merupakan satu-satunya wanita di antara keempat anggota Sekte Gunung Wushi ini pun nampak mengerutkan kening ketika memperhatikan dengan saksama subjek yang ia lihat.
?!
"Tanda itu..." gumaman Chang Ling membuat Tao Fang dan dua pendekar lainnya tersentak. Mereka juga melihatnya.
Ada sebuah tanda bulan sabit kecil di leher wanita yang ada di hadapan mereka. Tanda itu membuktikan identitas wanita tersebut dan bukan hanya satu saja.
Chang Ling melebarkan mata dan lantas berseru, "Dia.. Anggota 12 Pilar Bulan, Xu Huan!"
!!!
Tao Fang dan rekannya segera mengatur posisi, mereka lebih waspada dari biasanya. Satu di antara para murid Sekte Gunung Wushi ini sebenarnya sudah mengira-ngira identitas dari lawan mereka, tapi tidak disangka bahwa sosok yang dilihatnya benar adalah anggota Sekte Bulan Mati dan merupakan Pilar Bulan.
Xu Huan tersenyum, "Aku merasa tersanjung bisa dikenal. Namun terlihat sepertinya.... Kalian tidak menyukaiku."
"Hmph, siapa juga yang menyukai penjahat sepertimu!" Chang Ling membentak, "Kau jelas orang yang pantas mati..!"
"Kasar sekali," Xu Huan mengusap lembut lengannya dan berujar, "Seorang gadis tidak seharusnya menyebutkan kata-kata sekasar itu. Karena ucapanmu... Nilai wajahmu jadi berkurang,"
Chang Ling yang merasa sangat marah langsung melesatkan serangan dan Xu Huan hanya sedikit menggeser posisinya untuk menghindari serangan itu.
BAAAAM...!
Suara dari satu serangan Chang Ling membuat bangunan yang tidak jauh di belakang Xu Huan terbelah. Dampaknya begitu mengerikan dan membuat Xu Huan terkesan.
"Indah sekali..." Xu Huan tersenyum. Tangan kanannya menyentuh pipinya dan ia pun menatap lembut ke arah Chang Ling.
"Seranganmu sangat indah..." Xu Huan berujar, "Sepertinya aku mulai ingat... Kalian adalah anggota Sekte Gunung Wushi. Benar, kan?"
Chang Ling tidak menjawab dan justru menerjang Xu Huan. Dia adalah kultivator dengan energi spiritual berelemen angin. Serangannya tidak hanya kuat, tetapi juga berdampak besar. Beberapa bangunan sampai meledak karenanya.
BAAAAM...!
Tao Fang dan rekannya yang lain tidak tinggal diam. Mereka juga ikut menerjang Xu Huan dengan teknik berpedang yang luar biasa hebat. Hanya saja, Xu Huan sama sekali tidak melakukan serangan apa pun dan fokus hanya untuk menghindari semuanya.
"Kasar sekali..." Xu Huan tersenyum, "Kalian bermain keroyokan. Bukankah ini tidak adil?"
__ADS_1
"Keadilan untuk anggota sekte iblis sepertimu tidak dibutuhkan!" Chang Ling berkata, "Kau tidak hanya layak dihabisi, tetapi juga layak dibuang ke tempat sampah!"
Senyuman Xu Huan sedikit memudar, matanya berkilat sebelum akhirnya sesuatu terjadi. Satu selendang merah miliknya melintas, menahan semua serangan dan membuat Tao Fang serta rekannya sontak melompat mundur, menghindari ledakan karena serangan mereka yang berhasil ditahan oleh lawan.
!!!
"CHANG LING..!" Tao Fang berteriak. Dia dan kedua rekannya terkejut bukan main saat menyadari bahwa Chang Ling tidak ada di antara mereka. Gadis itu berada di udara dan nampak dililit oleh selendang merah milik Xu Huan.
Wanita bermata ungu muda itu menapak di salah satu papan kayu yang merupakan bagian dari puing-puing bangunan. Dia menengadah menatap gadis yang seperti teramat sangat membencinya ini. Perlahan, dia pun mulai membuat tubuh gadis itu pun mendekat padanya.
"Jadi namamu Chang Ling, hm?" Xu Huan buka suara, dia mengulurkan tangan dan menyentuh lembut pipi gadis ini sebelum akhirnya bicara kembali.
Xu Huan, "Aku sama sekali tidak mengerti. Kenapa kau sangat membenciku? Apa... Aku pernah membunuh anggota keluargamu?"
!!
Saat Xu Huan mengatakan hal tersebut, ekspresi wajah Chang Ling semakin buruk. Matanya menunjukkan kebencian yang dalam dan ini pun lantas meledakkan tawa Xu Huan hingga Tao Fang dan yang lainnya terkejut.
"Ha ha ha, jadi begitu huh? Aku minta maaf," Xu Huan menyeringai, "Pantas saja kau sangat membenciku. Selama ini aku membunuh orang dengan dua cara. Jika mereka berparas cantik dan muda, maka aku akan memakannya. Lalu sisanya... Aku menguliti mereka,"
"Aku pasti akan memenggal kepalamu!" Chang Ling berusaha melepaskan diri dari kain merah yang melilit kuat tubuhnya. Dia mengeluarkan energi spiritual ke seluruh tubuhnya dan membuat kain merah Xu Huan terkoyak.
!!
Chang Ling kembali bersama dengan ketiga rekannya. Dia mengusap bilah pedangnya dengan dua jari sebelum akhirnya kembali menerjang. Tao Fang dan murid Sekte Gunung Wushi yang lainnya pun ikut membantu Chang Ling.
Xu Huan tersenyum, "Aku sangat ingin berlama-lama bermain dengan kalian. Sungguh kemampuan yang sangat hebat, tapi sayang sekali waktuku tidak banyak."
Xu Huan melambaikan tangannya dan tiga kain merah menyerang dengan kecepatan yang luar biasa. Salah satu selendangnya menghantam bangunan hingga terdengar bunyi ledakan.
TRAANG...!
Dua anggota Sekte Gunung Wushi yang lain juga ikut menyerang selendang merah Xu Huan yang lain. Mereka berusaha mendekat, tetapi selendang-selendang ini menghadang setiap jalan mereka.
TRAANG!
TRANG!
Senyuman Xu Huan mengembang sebelum ia pun melesat dan detik berikutnya berada tepat di hadapan salah satu rekan Tao Fang. Tanpa peringatan, Xu Huan mengulurkan tangannya dan menangkup wajah anggota Sekte Gunung Wushi tersebut.
AAAAKH..!
!!!
Teriakan kesakitan terdengar. Tangan Xu Huan mengangkat kulit wajah dari rekan Tao Fang. Terlihat tangannya dialiri oleh energi spiritual hingga ia dapat melakukan kekejaman yang luar biasa itu.
"ZUAN JING!" Tao Fang berteriak. Dia berusaha untuk menolong rekannya, namun selendang merah milik musuhnya benar-benar tidak membiarkan ia mendekat.
Xu Huan tertawa. Ia tidak berhenti bahkan ketika mendengar teriakan penuh amarah dari lawan-lawannya. Satu selendang miliknya melilit tubuh Zuan Jing dan membawa tubuh pemuda itu naik ke udara.
!!!
Tepat di depan mata Chang Ling dan rekan gadis itu---tubuh Zuan Jing dililit dengan kuat oleh selendang merah Xu Huan hingga hancur. Darah serta dagingnya jatuh berceceran, dan karena kondisi di sekitar siang hari... Kejadian itu sangat jelas dan mengerikan.
__ADS_1
"Indahnya..." suara lembut Xu Huan terdengar sebelum akhirnya wanita itu tertawa. Dia bisa melihat raut wajah lawannya yang luar biasa terkejut hingga terlihat kesulitan berkata-kata.
"Ekspresi wajah yang indah... Aku suka." Xu Huan mengusap lembut pipinya dengan tangannya yang berlumur darah. Dia pun lantas menjilat darah pada jarinya dan memiringkan sedikit kepalanya sambil tersenyum.
Xu Huan, "Saat kalian tahu sedang berhadapan dengan salah satu Pilar Bulan. Harusnya kalian segera pergi. Itulah cara untuk tetap bertahan hidup. Sayang sekali... Padahal ini masih siang hari dan aku harus membunuh orang lagi,"
*
*
Sekte Gunung Wushi, Danau Putih.
"Haah... Haah... Tetua Zhang... Bisakah aku berhenti sekarang?" Chu Kai mengusap keringat yang menuruni pipinya. Tangannya sakit dan gemetar karena ia telah banyak melawan para pendekar yang dipilih oleh Tetua Zhang Lao.
"Pendekar Naga Kai, selanjutnya biarkan aku melawanmu."
"Apa?!" Chu Kai syok. Dia bahkan tidak bisa menghitung berapa kali dirinya bertarung hari ini. Murid Sekte Gunung Wushi yang berlatih di bawah bimbingan Tetua Zhang Lao begitu antusias ingin bertarung melawannya.
"Pendekar Naga, mohon bimbinganmu."
"Saudara Kai, aku juga minta bimbinganmu."
"Qin Shou?!" Chu Kai terkejut dengan tiga orang pendekar termasuk Qin Shou berdiri di atas air, tidak jauh darinya. Kejadian ini... Entah dari mana awal mulanya.
Ah, benar. Dipikirkan lagi membuat Chu Kai merasakan sakit pada perutnya. Sebelumnya dia bertarung karena Tetua Zhang Lao dan berhasil keluar sebagai pemenang. Kemudian setelah itu Tetua Zhang mulai menyuruhnya melawan dua orang yang semakin bertambah setiap kali ia menang.
Para murid Sekte Gunung Wushi yang melihat pertarungannya merasa iri dan bersemangat. Mereka seolah termotivasi untuk melawannya yang membuat keadaan ini terjadi.
"Aku masih belum kalah!" lawan yang dihadapi Chu Kai sebelumnya bangun kembali. Dia merasakan sakit pada dadanya sebelum mulai memuntahkan darah. Pria berusia 28 Tahun itu pun kembali melesat dan berdiri di depan Qin Shou.
"Ini tidak benar... Bagaimana bisa aku kalah dari pemuda yang usianya masih belasan tahun sepertimu." pria itu menghunuskan pedangnya dan berkata, "Aku pasti akan mematahkan teknik berpedangmu itu!"
Chu Kai menelan ludah, ekspresi wajahnya pucat dan ia bahkan tidak sanggup untuk mengatakan apa pun. Pandangan Chu Kai pun mengarah pada Tetua Zhang Lao dan ia berusaha keras mengumpulkan energi untuk bicara pada pemuda tampan itu.
"Tetua Zhang..."
"Kondisi ini lebih baik,"
"Apa?!"
"Mereka tidak pernah merasa se-semangat ini saat latihan. Aku juga ingin menyaksikannya... Sejauh apa kemampuanmu itu,"
!!
Chu Kai tercengang. Dia menatap para murid Sekte Gunung Wushi di hadapannya termasuk Qin Shou sebelum akhirnya berjongkok. Karena terus berlatih dan selalu didesak keadaan, dia kini bisa mengendalikan kemampuannya untuk berdiri di atas air.
Chu Kai masih mengatur napasnya sebelum mengusap-usap wajahnya. Dia mengulurkan tangan dan mengambil beberapa air danau untuk ia minum sebagai pelepas dahaga serta membasuh wajahnya.
"Kalian benar-benar keterlaluan, sungguh." Chu Kai menarik napas dan kemudian mengusap poni rambutnya, dia pun berdiri.
Sambil memegang pedang kayu di tangan kanannya, Chu Kai pun menatap Qin Shou dan juga para murid Sekte Gunung Wushi. Dia berkata, "Tidak hanya kalian berempat. Sebaiknya kalian semua maju. Aku tidak mau lagi menghadapi kalian secara bergantian. Tetua Zhang, anda juga ikut!"
!!!
__ADS_1
******