LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
97 - Persiapan


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Jing Hao, Chu Kai kembali ke Sekte Gunung Wushi dengan perasaan yang gusar. Dia tidak tahu ayahnya berada di mana sekarang dan bahkan Jing Hao pun tidak mau mengatakan apa pun padanya.


Teman baiknya itu justru meminta agar Chu Kai bisa melupakan semua hubungan dengan orang-orang terdekatnya dan fokus menjadikan Sekte Gunung Wushi sebagai rumah yang baru.


"Bagaimana ini? Apa aku dibuang?!" Chu Kai menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sudah berulang kali mondar-mandir di dalam kamarnya dan memikirkan ucapan Jing Hao. Entah bagaimana hal semacam ini terjadi pada kehidupannya.


"Tidak benar... Bagaimana bisa ayah membuangku. Bukankah sebelumnya dia sangat bangga? Astaga... Apa yang harus kulakukan?" Chu Kai mengusap-usap wajahnya saat mendengar suara ketukan pada jendela kamarnya.


Dia tersentak dan kemudian mulai berjalan untuk melihat siapa sosok yang mengetuk jendelanya. Dirinya pun mengenali pemuda berusia 23 Tahun dengan pakaian biru muda di hadapannya ini.


"Kawan, apa aku boleh masuk?"


?!


Chu Kai tersentak. Pemuda di depannya langsung melompat masuk ke dalam kamarnya lewat jendela, bahkan sebelum dia memberikan izin. Sosok ini tidak lain adalah Qing Shou.


"Apa yang kau inginkan?" Chu Kai buka suara dan membuat pemuda berwajah bersih di depannya tersenyum.


"Aiya, apa begitu caramu menyambut tamu?" Qing Shou menuangkan air ke sebuah gelas bambu. Dia pun duduk di kursi yang ada dalam kamar itu dan mempersilahkan Chu Kai duduk.


"Jangan malu, ini adalah kamarmu." Qing Shou buka suara. Dia pun tersenyum dan kemudian mulai meminum air, sebelum kembali bicara.


Qing Shou berkata, "Kudengar Kota Lianyi diserang dan ada banyak korban berjatuhan. Aku baru kembali dari menjalankan misi hari ini dan langsung kemari menjengukmu. Untung saja kau ada. Apa kau baik-baik saja?"


Chu Kai berkedip, orang ini cukup cerewet. Dia pun menarik napas dan menjawab, "Aku... Tidak bisa mengatakan bahwa aku baik-baik saja."


"Hei, ada apa?" Qing Shou berkata, "Kawan. Apa yang terjadi pada Kota Lianyi bukan hal baru. Penyerangan dari binatang iblis dan bahkan kultivator aliran hitam itu adalah hal biasa. Kau jangan merasa bahwa ini semua merupakan kesalahanmu,"


Chu Kai memperhatikan sosok di depannya. Dia menurunkan pandangan dan kemudian buka suara. Nadanya terdengar pelan, "Aku... Keluargaku memutuskan hubungan denganku."


"Mn? Bukankah itu hal yang bagus?"


"Apa?"


Qing Shou berkata, "Kau sebelumnya hidup sebagai pelayan di sebuah kedai, kan? Adalah hal yang bagus jika keluargamu memutuskan hubungan denganmu. Kau tidak bisa memiliki kehidupan seperti sebelumnya,"


"Mereka juga mengatakan hal yang sama, tapi merasa sangat tidak terima..."

__ADS_1


"Saat kau berusaha menjadi pelindung bagi dunia, maka kau harus melewati risiko seperti ini. Aku juga memutuskan hubungan dengan keluargaku dan kurasa ada banyak murid sekte ini yang melakukan hal serupa."


Qing Shou memperhatikan Chu Kai yang terlihat murung dan dia pun menarik napas. Dia pun menggeleng pelan dan lantas berkata, "Kau jangan sedih seperti ini, Kawan. Ah, bagaimana jika kau ikut denganku? Kita bisa-!"


Suara ketukan pintu menginterupsi ucapan Qing Shou dan bahkan membuat Chu Kai menoleh. Pemuda bermata hijau alami itu nampak mengerutkan kening sebelum berjalan untuk melihat siapa yang sudah mengetuk pintu kamarnya.


Seorang murid Sekte Gunung Wushi berdiri dengan tangan disilangkan. Chu Kai berkedip karena tidak mengenal remaja laki-laki yang berdiri di hadapannya.


"Pendekar Naga Kai, kau dipanggil oleh Tetua Besar. Segeralah temui beliau,"


?!


Chu Kai tersentak. Tetua Besar Sekte Gunung Wushi yang dimaksud tidak lain adalah Xia Feng Hua. Chu Kai pun menatap ke arah Qing Shou sebelum pamit dengan mengatakan bahwa Tetua Xia Feng Hua sedang memanggil dirinya.


Qing Shou pun ditinggalkan begitu saja. Chu Kai mengikuti murid Sekte Gunung Wushi dan bahkan tidak menunggu respon dari sosok pemuda yang berada di dalam kamarnya.


*


*


Dia sekarang berdiri di depan sebuah gua yang masih berada dalam wilayah Sekte Gunung Wushi. Chu Kai tidak sendirian, tetapi bersama Xia Ling Qing dan itu jugalah yang menjadi alasan dari rasa gugupnya sekarang.


"Kai, aku tahu apa hal yang menimpa Kota Lianyi merupakan ulah dari anggota Sekte Bulan Mati. Kau dan Ling Qing'Er kuminta kemari karena kalian berdua mempunyai kemiripan."


"Ke-kemiripan? Aku... Dengan Nona Xia?"


"Kau dan Ling Qing'Er pasti akan membalaskan dendam pada Sekte Bulan Mati tanpa peduli dengan keselamatan diri kalian sendiri. Aku bahkan menghentikan anak ini yang hendak meninggalkan Kota Lianyi,"


Chu Kai langsung menatap ke arah Xia Ling Qing dan sekarang tahu kenapa raut wajah gadis cantik ini lebih dingin dari biasanya. Dia pun menurunkan pandang sebelum menatap ke arah Tetua Xia Feng Hua.


Xia Ling Qing sudah menahan rasa kesalnya sejak tadi dan dia pun berkata, "Shizun tidak bisa menahanku seperti ini..!"


"Ling Qing'Er, wajar jika kau marah. Siapa pun juga akan merasakan hal yang sama, tapi jangan sampai amarah menguasaimu. Sekte Bulan Mati tidak sesederhana itu untuk bisa diserang,"


"Kenapa selalu kita yang harus mundur, Ayah?! Mereka yang memulainya duluan! Aku tidak akan pernah mengampuni Xue Xiaowen."


"Ling Qing'Er, kau harus menenangkan diri dan gunakan akal pikiranmu. Jika kau menyerang mereka dengan mengikuti hatimu, maka Ayah bisa pastikan kau tidak akan pernah selamat." Tetua Xia Feng Hua buka suara dan kemudian menatap ke arah Chu Kai. Dia pun melanjutkan.

__ADS_1


Tetua Xia Feng Hua berkata, "Kai. Kau mungkin saja saat ini tidak memperlihatkan emosi yang sama seperti Ling Qing'Er, tapi aku tahu bahwa di dalam hatimu... Kau pun menginginkan pembalasan dendam. Karena itulah, kau juga kupanggil kemari,"


!!


Chu Kai menurunkan pandangannya. Bohong jika dia tidak memikirkan hal yang serupa. Dia memang sudah berencana untuk pergi dalam tiga hari ke depan. Mencari markas Sekte Bulan Mati dan membalas perlakuan mereka terhadap kota tempat tinggalnya.


Tetua Xia Feng Hua berkata, "Aku tidak ingin kalian melupakan perbuatan anggota Sekte Bulan Mati. Selalu ingatlah bahwa mereka adalah para kultivator yang selama ini membuat keributan di mana-mana. Namun aku sama sekali tidak setuju jika kalian pergi menyerang mereka tanpa persiapan lebih dahulu,"


"Ada cara yang lebih kesatria untuk membalas perbuatan dari Sekte Bulan Mati," Tetua Xia Feng Hua berujar. "Dan cara tersebut adalah membuktikan nilai kalian,"


!!


Tetua Xia Feng Hua. "Satu bulan dari sekarang... Makam kuno dari Lembah Tanah Berapi akan terbuka. Para kultivator dari berbagai sekte akan datang dan bersaing menjarah makam itu. Kalian memiliki tugas menghentikan anggota Sekte Bulan Mati mengambil teknik dan pusaka terkuat di tempat itu. Dan untuk melakukan misi ini... Praktik kalian berdua harus meningkat."


Chu Kai menelan ludah, dia sepertinya mulai mengetahui di panggil ke tempat semacam ini. Tetua Xia Feng Hua kembali berkata, "Kalian berdua akan menjalani kultivasi tertutup. Ini mempunyai tujuan untuk membuat kalian fokus pada pengembangan diri dan agar kalian berdua tidak berusaha pergi ke Sekte Bulan Mati."


Tetua Xia Feng Hua memperhatikan Chu Kai dan tidak mendapatkan bantahan atas ucapan tentang 'berusaha pergi ke Sekte Bulan Mati', menjadi bukti bahwa sebenarnya pemuda ini memang merencanakan untuk melakukan hal tersebut. Untungnya dia sudah memperkirakan semuanya.


Xia Ling Qing kesal, namun tidak membantah ucapan Tetua Xia Feng Hua sebab dia juga sudah mendengar tentang makam kuno di Lembah Tanah Berapi. Itu adalah jenis makam yang berbeda dari makam penuh roh dan binatang iblis yang pernah dikunjunginya.


Xia Ling Qing melangkah memasuki gua yang ada di hadapannya. Dia memang sering sekali berlatih di tempat ini dan terkadang juga dipakai sebagai tempat hukuman untuknya.


"A-apa aku juga harus masuk?" Chu Kai bertanya pada Tetua Xia Feng Hua dan pria berusia 40 Tahun itu pun menepuk bahunya.


Tetua Xia Feng Hua berkata, "Anggap ini sebagai pengalih kesedihan dari apa yang sudah kau alami."


!


Meskipun Chu Kai tidak pernah menceritakan apalagi memperlihatkannya, namun Tetua Xia Feng Hua tahu seolah pria ini mengerti dirinya dengan sangat baik. Itu membuatnya tersentak sekaligus kagum, namun juga ada perasaan akrab seperti yang dia rasakan ketika bersama ayahnya.


Chu Kai menarik napas. Dia pun menyatukan kedua tangannya dan memberi hormat pada Tetua Xia Feng Hua sebelum menyusul Xia Ling Qing memasuki gua di hadapannya.


"Aku akan menutup pintu gua ini dan untukmu Ling Qing'Er, kau jangan mengganggu Chu Kai apalagi menyakitinya."


!!


******

__ADS_1


__ADS_2