LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
29 - Kota Lianyi


__ADS_3

Xue Xiaowen dan tiga orang rekannya terlihat memperhatikan Kota Lianyi yang sudah kacau-balau. Terputusnya benang-benang milik Meng Yu Ning dan tewasnya Meng Yu Xia sama sekali tidak menghentikan rasa sakit yang dialami oleh warga kota.


Suara Xue Xiaowen dingin saat berkata, "Ini belum seberapa. Kematian Xiao Yi Fei adalah pembalasan berkali-kali lipat untuk kalian,"


Xue Xiaowen melirik seorang rekan yang berada di sampingnya. Sosok pemuda yang kemudian mengangguk dan mulai mengangkat busur di tangannya.


Garis energi spiritual berwarna biru tercipta dan kemudian membentuk sebuah anak panah yang dilesatkan ke arah langit. Anak panah yang berada di udara terlihat membelah diri dan menjadi dua, kemudian empat, dan bahkan sampai menjadi ratusan buah.


Hujaman anak panah membuat kondisi Kota Lianyi yang sebelumnya kacau menjadi lebih parah. Gedung yang terkena anak panah itu terbakar dan warga kota yang tidak bisa mengelak pun ikut terluka, tidak sedikit dari mereka yang kemudian tewas mengenaskan.


Tetua Zhang Lao menyadari hujaman anak panah itu dan kemudian menggunakan Tebasan Lingkaran Petir untuk menghancurkan ratusan anak panah yang masih berada di udara. Hanya saja, cakupan serangannya tidak bisa mencapai seluruh langit di Kota Lianyi sehingga ada anak panah yang tetap jatuh dan melukai warga.


Di sisi lain, pendekar yang membantu Tetua Zhang Lao adalah Wei Zhang Zihan. Pemuda itu berada di sisi lain dan mencegah agar hujaman anak panah tidak mengenai warga yang sebelumnya sudah menderita luka parah.


Wei Zhang Zihan mempunyai Teknik Pernapasan Angin dan Tebasan Lingkaran Angin miliknya bisa menangkis hujaman anak panah musuh termasuk membuat panah itu terpotong menjadi bagian-bagian kecil sebelum mengenai orang-orang.


Kemampuan Wei Zhang Zihan besar, tetapi memang dia juga tidak bisa mencegah semua hujaman anak panah yang ada. Masih ada di antara anak panah itu yang tetap melukai warga.


Entah apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang diincar oleh musuh kali ini sampai melibatkan manusia biasa. Apalagi mereka melakukan sesuatu yang benar-benar tidak bisa termaafkan.


Seseorang yang kemarahannya terlihat jelas di raut wajahnya adalah Xia Ling Qing. Pendekar Suci itu menggerakkan gigi dan mencari pusat hujaman anak panah tersebut berasal. Tidak butuh waktu lama sampai dia menemukannya dan seketika melesat secepat mungkin.


Xue Xiaowen sendiri tahu bahwa dia akan kedatangan tamu. Karenanya dia pun memberi tanda dengan tangan agar ketiga rekannya pergi untuk menjalankan tugas mereka selanjutnya. Di saat para rekan Xue Xiaowen pergi, secara bersamaan seorang gadis mulai berdiri tepat salah satu ujung bangunan.


Dengan tenang, Xue Xiaowen memperhatikan gadis ini dan kemudian tersenyum lembut. Dia pun berkata, "Bukankah ini Nona Xia Ling Qing? Pendekar Suci dari Sekte Gunung Wushi yang terkenal hebat itu. Aku sungguh merasa tersanjung bisa bertemu secara langsung denganmu,"


"Xiaowen dari Sekte Bulan Mati. Apa otakmu sedang tidak kau pakai hingga berani berbuat seperti ini?"


"Astaga, bibir indahmu pedas sekali." Xue Xiaowen berpura-pura terkejut sebelum kembali buka suara. Dia berujar lembut, "Nona Xia. Sepertinya ada kesalahpahaman di sini,"


Xue Xiaowen tersenyum, "Aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Aku sedang berjalan-jalan dan tiba-tiba saja melihat kejadian seperti ini. Rasa terkejutku belum hilang saat kau datang. Sungguh, untuk apa aku melakukan ini pada warga biasa?"


"Berhenti omong kosong!" Xia Ling Qing membentak, "Satu-satunya orang yang terlihat menyukai penderitaan orang lain hanyalah orang-orang dari sektemu. Aku tidak percaya kau bisa sampai berjalan-jalan di saat jarak sektemu berada jauh dari tempat ini. Jelas sekali kau memang meniatkan datang kemari,"


Xue Xiaowen tersenyum, dia menghela napas dan kemudian berkata. "Nona Xia, tolong hilangkan kecurigaanmu. Apa begitu tidak baiknya nama sekteku hingga apa pun masalah yang menimpa kotamu ini adalah salahku? Hanya karena aku berasal dari Sekte Bulan Mati?"


Xue Xiaowen mengusap pelan pipinya, "Ini tidak baik. Berprasangka buruk itu tidak baik. Nona Xia harusnya memikirkan, mungkin saja ada di antara anggota sektemu yang pernah menyinggung seseorang. Tolong jangan salahkan aku atas hal yang sama sekali tidak kulakukan,"


Xia Ling Qing mengepalkan erat tangannya. Tidak bisa dipercaya ada orang yang begitu tebal muka seperti ini. Dia pun mengalirkan energi spiritual pada pedangnya dan kemudian berujar dingin, "Kau sepertinya tidak bisa diajak bicara baik-baik."


"Ya ampun, Nona Xia..." Xue Xiaowen berujar pelan, "Aku datang kemari tanpa senjata. Apa kau sungguh akan melawanku? Bahkan tanpa aku tahu salahku apa. Haah... Tidakkah ini melanggar kesopanan?"

__ADS_1


"Kau-"


"Nona Xia, aku tahu kau mempunyai emosi yang tidak terkendali. Tapi pahamilah kondisi di sekitarmu, memang untuk apa aku membuat kacau tempat ini. Aku punya banyak pekerjaan daripada ini,"


Xia Ling Qing benar-benar ingin sekali merobek mulut gadis di hadapannya. Bahkan di detik ini pun Xue Xiaowen masih belum mengakui apa yang sudah diperbuatnya.


"Kau pikir aku tidak tahu bahwa ini ulahmu dan juga rekan-rekanmu?" Xia Ling Qing buka suara dan membuat kening wanita di hadapannya mengerut.


Melihat adanya perubahan ekspresi pada sosok di depannya membuat Xia Ling Qing kembali berkata, "Sebelumnya aku bertarung dengan dua anggota sektemu. Gadis kembar yang ahli dalam teknik benang dan kutukan itu. Apa sekarang kau masih mengelak bahwa ini semua bukanlah perbuatanmu?"


".............." tatapan Xue Xiaowen berubah tajam. Dia pun tersenyum dan mendengus, "Ini buruk. Aku tidak menyangka kau bisa bertemu mereka secepat itu. Ehm... Baiklah. Sepertinya aku memang harus memberimu muka,"


Ekspresi lembut Xue Xiaowen dalam sekejap menjadi dingin dan tubuhnya pun dipenuhi oleg aura yang menekan. Dia berkata, "Hanya satu pertanyaan. Di mana orang yang sudah menghabisi nyawa Xiao Yi Fei?"


Xia Ling Qing mengerutkan kening. Dia tahu bahwa hal yang dilakukan Xue Xiaowe pasti beralasan, tetapi tidak disangka alasannya karena seseorang membunuh rekannya yang bernama Xiao Yi Fei.


"Untuk apa kau mencarinya di tempat ini?"


"Nona Xia, apa aku harus menjelaskannya padamu? Xiao Yi Fei tewas di hutan yang ada di kota ini dan hanya satu sekte terdekat dan itu adalah Sekte Gunung Wushi. Siapa lagi yang membunuh Xiao Yi Fei selain seseorang dari murid di sektemu,"


"Dan lagi..." Xue Xiaowen mendengus saat berkata, "Bukankah belakangan ini ada kabar bahwa sektemu menunjuk seseorang menjadi Pendekar Naga? Kudengar gelar itu bukan milikmu ataupun milik Pendekar Suci yang lain, jadi aku penasaran... Sosok yang ditunjuk menjadi Pendekar Naga ini... Siapa?"


Gigi Xia Ling Qing terkatup saat dia berkata, "Jadi kau mencurigai Pendekar Naga yang sudah membunuh rekanmu?"


"Kau bisa mencari tahu tanpa menggunakan cara kotor seperti ini. Untuk apa melibatkan manusia biasa dalam permasalahanmu, sialan."


"Nona Xia, jaga ucapanmu. Seorang gadis yang cantik tidak baik bicara sekasar itu,"


"Peduli apa kau! Tidak tahu diri," Xia Ling Qing langsung menggunakan Teknik Tiga Lingkaran Api miliknya dan serangan itu dengan cepat mengarah pada Xue Xiaowen.


!!


Gadis dari Sekte Bulan Mati itu terkejut dan berusaha menahan serangan yang datang. Hanya saja, dia tidak bisa mengatasi Teknik Tiga Lingkaran Api milik Xia Ling Qing hingga harus terpental dan menghantam sebuah pohon dengan keras.


Xue Xiaowen masih mempertahankan posisi berdirinya meski dia terlihat memuntahkan darah. Gadis itu menatap tajam ke arah Xia Ling Qing dan kemudian menggeram kesal.


"Serangan yang kuat. Memang pantas disebut sebagai Pendekar Suci," Xue Xiaowen mulai mengibaskan tangannya dan selendang merah terlihat melambai, nampak dimainkan angin.


Xia Ling Qing memegang kuat pedangnya dan kembali melesat, kali ini Xue Xiaowen tidak tinggal diam dan melakukan serangan balasan. Lesatan selendang merah datang, namun Xia Ling Qing dengan cepat menangkisnya. Gadis itu bahkan tidak gentar untuk melawan Xue Xiaowen. Keduanya berakhir dengan saling bertukar serangannya.


*

__ADS_1


*


Chu Kai terengah-engah saat dia sampai di pinggir Kota Lianyi. Dirinya terkejut bukan main melihat keadaan di sekitarnya yang begitu berantakan. Ada banyak bangunan yang runtuh dan sebagainya terbakar, beberapa murid Sekte Gunung Wushi nampak membawa warga kota yang terluka.


Langkah kaki Chu Kai memberat dan dadanya begitu sakit setiap kali melihat warga yang terluka serta mengerang kesakitan. Banyak anak panah yang menancap dan terlihat terbakar. Napasnya sangat sesak.


Chu Kai baru akan buka suara saat suasana di sekelilingnya berubah. Dia pun spontan menengadah dan terkejut bukan main ketika melihat anak panah yang tidak terhitung jumlahnya. Semua anak panah itu membawa api di ujungnya dan terlihat bagai hujan.


"Hujan panahnya datang lagi..! Semuanya bersiap!"


!?


Suara seruan itu mengejutkan Chu Kai. Dia menyaksikan bagaimana para murid Sekte Gunung Wushi membentuk formasi untuk melindungi kumpulan orang-orang yang terluka parah. Para murid itu sendiri bahkan tidak dalam kondisi yang baik, ada di antara mereka yang terluka namun masih berusaha keras mengeluarkan segenap kemampuannya.


"Hidup adalah kematian. Kau tidak akan bisa melepaskan dirimu dari belenggu takdir. Kau tidak akan bisa melarikan diri,"


"... Banyak sosok manusia, Nak. Namun hati mereka seperti bukan manusia. Kau jangan pedulikan identitasmu yang manusia atau bukan, karena yang menunjukkan seperti apa kemanusiaan seharusnya... Ada di hatimu."


Ada suara asing yang mengerikan dan juga suara ayah Chu Kai yang terngiang, saling bergantian di dalam pikirkan pemuda itu. Dia hanya menatap ke arah para murid Sekte Gunung Wushi itu saat hujaman anak panah sudah semakin dekat.


Asap hitam tipis mulai menyelimuti tangan kiri Chu Kai. Pemuda tersebut memejamkan mata sejenak sebelum mulai berlari pergi ke kedai milik ayahnya. Di saat yang sama, teriakan dan juga seruan karena hujaman anak panah itu terdengar.


Para murid Sekte Gunung Wushi melesatkan serangan mereka, tetapi tidak ada yang bisa menghentikan hujaman anak panah itu. Ada di antara murid yang bahkan mulai ketakutan dan tidak yakin bisa menang, lainnya menyerukan nama shizun mereka.


Saat hujaman anak panah itu hampir menyentuh bangunan kota---di saat yang sama anak panah yang tidak terhitung jumlahnya tersebut berubah menjadi debu dan kemudian menghilang. Para murid dan warga kota yang menyaksikan pemandangan di atas mereka nampak terkejut bukan main. Mereka tidak tahu apa yang terjadi hingga hujaman anak panah itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak.


Kultivator yang berasal dari Sekte Bulan Mati serta sosok yang menjadi pelaku dari hujaman anak panah itu terlihat terkejut. Serangannya entah bagaimana justru tidak berhasil seperti saat yang pertama kalinya.


Kultivator itu pun tidak tinggal diam dan kembali melesatkan serangan, kali ini secara bertubi-tubi. Dia sendiri berada di atas sebuah bangunan yang merupakan tempat terbaik serta sulit diketahui oleh orang lain.


!!!


Para murid Sekte Gunung Wushi dan warga Kota Lianyi kembali panik. Di sisi lain Tetua Zhang Lao dan Pendekar Suci yang ada pun ikut melihat bagaimana hujaman anak panah kembali datang dan semakin banyak dari yang sebelumnya.


Chu Kai sendiri tetap berlari dan hampir tiba di kedai miliknya. Dia kaget melihat ayahnya yang terluka dan sedang dipapah oleh seorang murid Sekte Gunung Wushi saat hujaman anak panah kembali datang.


Chu Kai mengepalkan tangan dan melihat ke langit. Dia pun lantas menghentakkan kaki dan kembali mengeluarkan sebuah serangan yang tidak terduga.


"Teknik Pernapasan Naga... Tanpa Jejak."


!!!

__ADS_1


******


__ADS_2