LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
148 - Chu Kai [3]


__ADS_3

Teknik berpedang yang dilakukan oleh Jing Hao membuat Chu Kai terkesan. Temannya ini bahkan telah mampu membentuk elemen dasar dan itu terlihat pada serangan energi spiritual yang dilesatkannya.


!!


Air bergerak, membentuk pusaran dan kemudian mulai terangkat mengikuti ayunan pedang Jing Hao. Pusaran air itu dengan cepat mengarah pada Chu Kai, namun rupanya dapat ditangkis dengan mudah.


BAAAAM...!


Suara ledakan tercipta dan Chu Kai terlihat melompat mundur. Ekspresi wajahnya serius dan ia sedikit mengingat beberapa hal tentang lawannya saat ini.


".................."


Jing Hao hanyalah manusia biasa dan tinggal di Kedai Bulan Merak bersamanya. Pemuda ini tidak pernah terlihat berlatih pedang ataupun sesuatu yang berhubungan dengan para pendekar, jadi Chu Kai bisa menyimpulkan bahwa kemampuan Jing Hao sekarang didapat setelah menjadi bagian dari Sekte Gunung Wushi.


"Jing Hao, kau memang berbakat." Chu Kai buka suara. Ekspresi wajahnya serius ketika ia mulai mengayunkan pedang kayunya.


"Teknik Berpedang.... Sambaran Tiga Petir!"


!!!


BLAAAAR...!


Qin Shou dan para pendekar Sekte Gunung Wushi terkejut bukan main kala mendengar suara petir yang sangat keras. Tetua Zhang Lao sendiri tanpa berkedip menyaksikan bagaimana Chu Kai melesatkan serangan yang begitu luar biasa.


Jing Hao tanpa ragu menghadapi serangan itu. Dia juga mengeluarkan teknik berpedang yang selama ini terus dilatihnya, "Ombak Pemecah Angin!"


BLAAAAR...!


BAAAAM....!


Sambaran petir dengan suara hantaman keras terdengar secara bersamaan. Air pada danau benar-benar seperti dihantam ledakan yang luar biasa dahsyat, bahkan Qin Shou serta yang lainnya nyaris kehilangan keseimbangan sebab tanah yang dipijak mereka bergetar.


"Hebat sekali...!"


"Mereka sama-sama kuat,"


"Lihat itu!" seorang pendekar Sekte Gunung Wushi berseru sambil mengarahkan telunjuk kanannya ke arah danau.


Qin Shou dan yang lainnya menyaksikan Jing Hao terdorong jauh sebelum akhirnya jatuh ke dalam danau. Satu-satunya yang masih berekspresi tenang dalam situasi semacam ini adalah Tetua Zhang Lao. Pria itu bahkan nampak menyilangkan tangannya.


Chu Kai segera bergegas membantu Jing Hao, membawa temannya itu kembali ke daratan dan kemudian meminta maaf sebab memakai terlalu banyak tenaga. Padahal sejujurnya, Chu Kai benar-benar sudah menekan kekuatannya. Bahkan ia tidak menggunakan teknik pernapasan sama sekali, namun dampak dari serangannya masih saja kuat.

__ADS_1


"Sejak awal pertarungan kalian, kau sudah kalah." Tetua Zhang Lao buka suara. Dia bicara pada Jing Hao, namun mendapatkan tatapan dari Chu Kai.


"Tahukah kau alasannya?" Tetua Zhang Lao bertanya.


Jing Hao berusaha menenangkan diri. Dia menatap Tetua Zhang Lao dan kemudian mengangguk. Jing Hao berkata, "Air... Lemah terhadap petir. Awalnya kupikir aku unggul sebab pertarungan kami berlangsung di air, namun tidak disangka Kai memiliki energi spiritual berjenis petir."


"Energi spiritual tidak berwujud. Namun saat seorang pendekar memfokuskan diri berlatih hanya dalam satu elemen, maka saat itulah energi spiritual akan berwujud." Tetua Zhang Lao buka suara. Di hadapan para murid Sekte Gunung Wushi, dia pun kembali menjelaskan.


"Cara terdasar untuk menjadi kuat adalah dengan mempelajari satu elemen, kemudian mengembangkannya. Satu keahlian yang terus diasah akan menjadi kekuatan besar dan kalian harus mengingat hal ini."


"Baik, Tetua!"


Tetua Zhang Lao bernapas pelan dan lantas berujar, "Mn. Baiklah, selanjutnya yang akan bertarung... Wang Jian melawan Kai."


"Apa?" Chu Kai berkedip, dia menunjuk dirinya sendiri. "A-aku lagi?"


Qin Shou tercengang, dia menatap Chu Kai dan tahu bagaimana perasaan dari pemuda bermata hijau alami tersebut. Chu Kai pasti merasa sangat dibenci oleh Tetua Zhang Lao sehingga diperlakukan seperti ini.


Chu Kai berkedip beberapa kali. Dia tersenyum pahit dan kemudian mengembuskan napas pelan. Dirinya pun menyatukan tangan, memberi hormat pada Tetua Zhang Lao dan kembali melesat ke danau.


Tidak hanya Qin Shou yang merasa bahwa Chu Kai tidak disukai oleh Tetua Zhang Lao, tetapi juga pendekar Sekte Gunung Wushi yang lain, termasuk Jing Hao. Namun apa yang terjadi sebenarnya adalah sebaliknya.


Tetua Zhang Lao belum bisa memastikan sejauh apa kemampuan Chu Kai sehingga ia masih ingin menguji kekuatan pemuda itu. Di sisi lain, pelatihan untuk seorang Pendekar Naga memang mempunyai porsi berbeda dari pendekar biasa pada umumnya.


Wang Jian dan Chu Kai saling memberi hormat. Mereka memegang pedang kayu masing-masing dan tepat ketika sebuah daun kering terlepas di tangkai pohon---keduanya menghilang.


!!!


BAAAAM...!


Ledakan besar secara mengejutkan tercipta, dua pedang kayu berbenturan satu sama lain dan subjek yang sebelumnya menghilang itu kini berada di tengah-tengah danau.


Qin Shou dan Jing Hao menyaksikan Chu Kai yang bertarung sangat sengit dengan Wang Jian. Tidak ada yang saling bicara antara kedua orang itu, namun pergerakan mereka benar-benar luar biasa.


Ekspresi Wang Jian begitu serius. Dia bertarung seakan-akan menghadapi seorang musuh besar yang bisa membunuhnya kapan saja di saat dirinya lengah. Itulah sebabnya ia sama sekali tidak menahan kekuatannya.


BAAAAM...!


Karena cara bertarung Wang Jian, Chu Kai pun harus lebih berkonsentrasi lagi. Hanya saja bila diperhatikan baik-baik, dirinyalah yang lebih banyak berada di posisi bertahan.


"Dia sangat kuat dan cepat. Mengagumkan," Chu Kai mencoba mengambil jarak, namun yang mengejutkannya adalah Wang Jian melesat dan seperti tidak ingin membiarkan dirinya, bahkan untuk mengambil napas.

__ADS_1


!!


Ujung dari pedang Wang Jian sedikit menggores pipi kanan Chu Kai hingga terlihat garis tipis berwarna merah. Chu Kai yang merasakan hal tersebut nampak mendengus, matanya berkilat dan detakan jantungnya memburu.


Pertarungan dengan Qin Shou dan Jing Hao sebelumnya juga cepat, namun tidak secepat sekarang. Chu Kai seperti berada di tepi jurang yang jika hanya sekali kesalahan saja... Maka ia akan mengalami hal yang sangat berbahaya.


"Sepertinya aku ingat bahwa Tetua Zhang Lao tidak membiarkan kita saling membunuh," Chu Kai buka suara seolah sedang menyadarkan lawannya saat ini.


"Aku tahu," Wang Jian akhirnya buka suara dan ia kembali melakukan serangan yang cepat.


"Tapi kenapa kau seperti ini?!" Chu Kai menghindari serangan Wang Jian dan sangat terkejut karena nyaris saja ia tertusuk oleh pedang kayu milik lawannya.


"Apa maksudmu?" Wang Jian buka suara. "Ini adalah latihan. Kau tidak bisa mengalami perubahan apa pun dalam teknik berpedangmu jika niat bertarungmu masih setengah hati..!"


BAAAAM...!


Chu Kai menelan ludah, "Gawat. Meskipun hanya pedang kayu, tapi jika tertusuk dalam kecepatan dan kekuatan itu... Aku benar-benar akan berakhir,"


BLAAAAR...!


Pedang Chu Kai dan Wang Jian berbenturan, di mana elemen angin serta petir menciptakan suara selayaknya gemuruh badai. Qin Shou dan pendekar Sekte Gunung Wushi yang lain bahkan tanpa sadar menahan napas mereka.


Tetua Zhang Lao fokus memperhatikan jalannya pertarungan Chu Kai dan Wang Jian Jian yang semakin cepat. Dia bisa menilai bahwa dalam sisi ini, Wang Jian lebih banyak melakukan serangan dibandingkan dengan Chu Kai.


"................" bagi Tetua Zhang Lao, Chu Kai terlalu menahan kekuatannya sehingga ia bisa dibuat terpojok seperti ini oleh lawan. Namun tidak butuh waktu lama baginya untuk mulai menyadari sesuatu.


Tetua Zhang Lao menyaksikan Wang Jian kembali melesatkan serangan berelemen angin yang luar biasa besar, kali ini bahkan mampu menarik air danau.


Di saat serangan itu berada semakin dekat dengan Chu Kai, pemuda bermata hijau alami itu pun mengeluarkan teknik berpedang yang mampu menciptakan api. Tetua Zhang Lao melebarkan matanya dan melesat dengan sangat cepat.


!?


Wang Jian terkejut bukan main, dia bahkan belum sempat bereaksi ketika bahunya ditarik dan ia pun kini berada di luar danau. Sama sekali tidak menyangka akan berada di tempat ini, padahal pertarungannya dengan Kai belum selesai.


BLAAAAR...!


Air di danau meledak dengan sangat yang besar, bahkan sampai menciptakan hujan buatan. Para pendekar yang berada tidak jauh dari danau itu pun bahkan terkena imbasnya, pakaian mereka semua terlihat basah.


Di sisi lain, ledakan itu juga bercampur dengan petir yang menyambar di air sampai membentuk akar-akar selayaknya akar pohon. Dan dari semua ini adalah bahwa ledakan petir itu juga bercampur dengan api.


Tetua Zhang Lao yang menyadari hal itu pun segera bergegas menyelamatkan Wang Jian. Dia tahu bahwa jika pemuda di sampingnya ini tidak diselamatkan, maka Wang Jian akan tiada dengan cara yang paling menakutkan.

__ADS_1


Serangan Chu Kai barusan jelas mampu membunuh orang hingga tidak bisa dikenali. Sedikit saja Tetua Zhang Lao terlambat, maka pelatihan ini jelas akan menjadi tragedi.


******


__ADS_2