
Sebelum Wei Shezi melakukan hibernasi, ia sudah banyak mengajari Chu Kai berbagai hal dan termasuk penggunaan spirit stone serta mutiara roh.
Chu Kai mengalami pelatihan paling keras di bawah bimbingan Wei Shezi, walau tentu saja ia sering kali mengeluh seperti saat Tetua Zhang Lao menyuruhnya melawan banyak murid Sekte Gunung Wushi.
Ukh!
Keringat mengucur di dahi dan leher Chu Kai. Pemuda itu masih dalam kondisi terbaring di atas tempat tidur dengan mata yang tertutup. Di dalam tubuhnya, energi spiritual mengalir deras di setiap jalur meridiannya.
Tidak hanya retakan pada tulangnya yang perlahan mulai sembuh, tetapi tulang Chu Kai pun mengalami perubahan dan menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Di dalam ruangan itu... Energi spiritualnya memenuhi seluruh tempat.
Cukup lama Chu Kai menyembuhkan dirinya sendiri, tetapi meskipun sudah mampu untuk bergerak sekarang---dia masih harus tetap berpura-pura sakit. Tabib Yun Zhen dan siapa pun dari Sekte Gunung Wushi akan menaruh curiga bila ia bisa langsung bergerak padahal mengalami patah tulang.
Chu Kai menatap langit-langit ruangan tempatnya berada sekarang saat ia mendengar suara pintu dibuka. Dia pun menoleh dan melihat bahwa yang menjenguknya tidak lain adalah Wei Zhang Zihan.
"Pendekar Wei..." Chu Kai bersuara lemah. Dia berkedip, sedikit tidak percaya dengan kehadiran pendekar suci ini. Apalagi Wei Zhang Zihan membawa nampan berisi bubur di tangannya.
"Bagaimana keadaanmu?" Wei Zhang Zihan buka suara. Dia meletakkan nampan itu di atas meja dan kemudian duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur.
Chu Kai sampai tidak tahu harus merespon seperti apa. Ini sungguh pemandangan langka di mana Wei Zhang Zihan memegang sesuatu yang bukanlah sebuah senjata, apalagi itu adalah benda yang sama sekali tidak diduga siapa pun termasuk dirinya.
"Aku...." Chu Kai menelan ludah. Dia berujar pelan dan dengan gugup berkata, "Aku masih... Belum bisa merasakan kaki dan tanganku."
Tidak mungkin Chu Kai mengatakan yang sebenarnya. Dia memperhatikan Wei Zhang Zihan sambil berharap-harap cemas. Khawatir jika pendekar suci ini tahu sandiwaranya.
"................" Wei Zhang Zihan memperhatikan Chu Kai dan kemudian bernapas pelan. Nada suaranya tenang saat ia berkata, "Selama ini tidak banyak orang yang mampu menghadapi teknik berpedang Tetua Zhang Lao. Bukan hanya tidak bisa dilihat, tapi teknik berpedang miliknya juga sangat berbahaya. Kau sangat percaya diri menantang seorang Tetua, apa otakmu tidak kau bawa?"
Chu Kai tersenyum pahit, "Itu... Karena tetua Zhang sangat menyebalkan. Dia membuatku bertarung dengan banyak orang dan caranya memperlakukanku pun sangat berbeda. Shh... Aduh... Aku merasa bahwa tetua Zhang tidak menyukaiku,"
Wei Zhang Zihan sedikit menurunkan pandangan matanya sebelum kembali buka suara. Dia pun berujar, "Kebanyakan murid sekte ini memang tidak suka padamu."
?!
__ADS_1
Chu Kai tersentak dan Wei Zhang Zihan tahu reaksi pemuda bermata hijau alami ini pun menjelaskan, "Seseorang yang bukan bagian dari tempat ini tiba-tiba datang dan ia ditunjuk sebagai Pendekar Naga.... Siapa pun pasti akan membencimu."
"................"
"Orang-orang di tempat ini menaruh harapan bahwa Xia Ling Qing-lah yang akan ditunjuk menjadi pendekar naga, jadi tentu saat apa yang terjadi tidak sejalan dengan harapan mereka... Kau pun menjadi target kebencian."
Chu Kai memperhatikan Wei Zhang Zihan dan ia pun buka suara. Nadanya pelan saat berkata, "Pendekar Wei.... Apa kau juga ingin menjadi Pendekar Naga?"
Wei Zhang Zihan menoleh, menatap Chu Kai dengan ekspresi wajah yang tenang. Sama sekali tidak berubah. Chu Kai yang melihat itu pun kembali berujar, "Yang kuingat saat pemilihan hari itu... Pendekar Naga harusnya ditunjuk di antara Lima Pendekar Suci. Jadi aku ingin bertanya... Apa kau ingin menjadi Pendekar Naga?"
"Sama sekali tidak," Wei Zhang Zihan tanpa ragu berkata. "Aku bahkan tidak ingin Pendekar Naga itu muncul. Keberadaannya... Merupakan pertanda awal bahwa dunia akan berada dalam era kekacauan dan pertanda kebangkitan iblis."
Wei Zhang Zihan mengambil mangkuk berisi bubur, mengaduknya perlahan, dan kembali buka suara. Dia berujar, "Dipilihnya seseorang menjadi Pendekar Naga bukanlah kabar yang baik. Tetapi karena ini bagian dari takdir langit, maka tidak ada yang bisa menghalanginya, termasuk aku sekali pun."
!
Chu Kai tersentak saat Wei Zhang Zihan mulai menyodorkan sendok berisi bubur padanya dan ini membuatnya berkedip beberapa kali. Tindakan pemuda ini jelas sedang menyuapinya.
"Kau pernah dirawat oleh Xia Ling Qing, jadi apanya yang aneh tentang ini?"
"Ini pertama kalinya aku membenci diriku yang suka berpura-pura," Chu Kai terpaksa memakan bubur yang diberikan Wei Zhang Zihan.
"Pendekar Wei, ini akan membuatku sangat canggung jika bubur itu pun kau yang memasaknya." Chu Kai berujar dan membuat sendok yang dipegang Wei Zhang Zihan berhenti sejenak saat ia menyendok bubur kembali.
Chu Kai yang menyadari reaksi itu pun terlihat berekspresi pucat. Dia tersenyum pahit, "Di mana nona Xia Ling Qing sekarang?"
"Pergi bersama Liu Han Ying ke Kota Yanshi,"
"Aku juga ingin pergi ke sana, tapi...." Chu Kai menatap Wei Zhang Zihan dan bertanya, "Pendekar Wei tidak ikut dengan mereka?"
"Aku akan menyusul setelah urusanku selesai,"
__ADS_1
"........ Kudengar itu misi penyelidikan,"
"Mn," Wei Zhang Zihan berkata, "Ada kabar bahwa gadis-gadis di Kota Yanshi menghilang secara misterius. Ada jejak Pilar Bulan dan ini berhubungan dengan Sekte Bulan Mati,"
Chu Kai menatap Wei Zhang Zihan sebelum bernapas pelan. Dia bertanya, "Aku memikirkan hal ini. Kenapa kalian selalu... Melibatkan diri dengan Sekte Bulan Mati? Mereka adalah perguruan yang sangat kuat dan merupakan salah satu dari 5 Sekte Besar. Menyinggungnya jelas sangatlah berdampak buruk,"
"Harus ada yang mengambil tindakan untuk menghentikan setiap kekejaman Sekte Bulan Mati. Selama bertahun-tahun, mereka memang sering kali berselisih dengan sekte ini, tetapi kau sendiri bisa melihat---Sekte Gunung Wushi tetap berdiri kokoh sampai sekarang. Itu adalah tanda bahwa hanya perguruan ini yang dapat menghadapi mereka,"
Ucapan Wei Zhang Zihan mempunyai beberapa makna. Tentu salah satunya adalah fakta bahwa Sekte Gunung Wushi bukan perguruan yang lemah. Ini dikarenakan Sekte Gunung Wushi hingga sekarang masih tetap ada, bahkan di saat sekte lain yang berselisih dengan Sekte Bulan Mati akan rata dengan tanah.
"................" Chu Kai kembali disuapi bubur oleh Wei Zhang Zihan. Rasanya masih tidak nyaman untuknya, tetapi sepertinya pemuda berwajah menawan ini terlihat biasa-biasa saja.
Chu Kai sebenarnya sering disuapi bubur oleh Jing Hao dan Sheng Lian ketika ia sakit saat masih tinggal di kedai dahulu. Namun tentu saja disuapi oleh Wei Zhang Zihan merupakan hal lain, mengingat identitas pemuda ini yang adalah seorang Pendekar Suci.
"Saudara Jing..." Chu Kai baru teringat, "Di mana Jing Hao sekarang?"
"Mn?" Wei Zhang Zihan sedikit mengerutkan kening dan Chu Kai pun memberikan penjelasan.
"Pendekar Wei pernah bertemu dengannya. Dia adalah teman yang tinggal bersamaku di kedai dan sudah menjadi bagian dari Sekte Gunung Wushi. Jing Hao juga mendapat latihan pedang di bawah bimbingan tetua Zhang, namun saat aku tidak sadarkan diri.... Aku jadi tidak tahu bagaimana kondisinya sekarang."
"Siapa pun itu, dia akan baik-baik saja dan pasti diobati. Kau... Cobalah untuk lebih mempedulikan kesembuhanmu sendiri,"
Chu Kai bernapas pelan. Dia tahu bahwa Wei Zhang Zihan bertingkah seolah ia harus lebih baik pada diri sendiri. Perkataan Wei Zhang Zihan tidak salah dan memang dia tidak boleh terus terbaring di tempat tidur.
"Terima kasih, Pendekar Wei. Aku akan berusaha agar bisa segera pulih. Nona Xia Ling Qing tidak boleh menghadapi bahaya sendirian, apalagi dengan kondisi tubuhnya yang terluka."
"Mn, sekarang habiskan ini."
Wei Zhang Zihan cukup lama berada di mana Chu Kai terbaring, bahkan ketika Tabib Yun Zhen datang dan membawakan obat herbal.
Di hari ketiga saat Wei Zhang Zihan hendak meninggalkan Sekte Gunung Wushi dan berniat pergi ke Kota Yanshi... Chu Kai pun datang dan ikut bergabung. Kedua tangannya masih terlihat dibalut perban, namun sudah dapat digerakkan.
__ADS_1
******