LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
41 - Xia Ling Qing (2)


__ADS_3

"Nona Xia..!" Chu Kai melempar pedang kayu di tangannya dan bergegas ke arah Xia Ling Qing. Dia membantu gadis itu berdiri saat tangannya tiba-tiba ditepis dengan kasar.


"Menjauh dariku!" Xia Ling Qing membentak dan membuat pemuda di sampingnya kaget. Dia meludahkan darah sebelum kembali menghunuskan senjata miliknya.


Xia Ling Qing berkata, "Ambil pedangmu dan latihan lagi."


"Tapi kau terlihat tidak baik--!" Chu Kai mengatupkan bibirnya. Gadis ini memberinya tatapan tajam yang menusuk seolah tidak membiarkannya bicara. Dia pun tidak punya pilihan selain pergi dan mengambil pedang kayunya.


Baru saja Chu Kai memegang pedang tersebut, Xia Ling Qing kembali menyerangnya. Dengan spontan, Chu Kai menggerakkan pedang di tangannya ke belakang dan kemudian membalas dengan memakai tendangan.


Pertarungan itu berlangsung sangat lama dan bahkan Chu Kai sendiri tidak tahu kapan dia bisa ada di kamarnya. Ketika pagi menjelang dan saat membuka matanya---dia langsung melihat langit-langit kamar.


!!


Chu Kai meringis kesakitan, seluruh tubuhnya pegal dan bahkan dia terkejut ketika kedua tangan serta dahinya diperban. Dia baru saja akan mencoba bangun ketika mendengar suara laki-laki.


"Bagaimana keadaanmu?"


Chu Kai tersentak, dia berkedip karena melihat Wei Zhang Zihan duduk di sebuah kursi, tepat di samping tempat tidurnya.


"Pe-Pendekar Wei?"


"Kau bertarung habis-habisan dengan Xia Ling Qing semalam, ah bukan. Kurasa Xia Ling Qing yang sudah menghajarmu habis-habisan semalam. Baguslah tidak butuh waktu berhari-hari untuk melihatmu pulih,"


Wei Zhang Zihan mengambil sebuah cawan keramik yang ada di atas meja dan kemudian menyerahkannya pada Chu Kai. Dia berkata, "Minum ini. Rasa sakitmu akan mereda jika meminumnya,"


"..............." Chu Kai mengambil cawan keramik berisi obat herbal berwarna hijau-kehitaman itu. Raut wajahnya berubah pucat dan rasa tidak nyaman menyelimuti perutnya.


"Jangan melihat tampilannya. Kau minum saja," Wei Zhang Zihan buka suara.


Chu Kai memejamkan mata dan langsung meminum cairan obat yang diberikan Wei Zhang Zihan. Rasa pahit yang luar biasa dan aroma herbal yang kuat membuat tenggorokan serta lidahnya seolah mati rasa.


"Apa tidak ada... Manisan gula merah?" Chu Kai nyaris muntah, "Rasa pahitnya seperti tinggal di tenggorokanku."


"Kau ini bukan anak kecil. Apa pentingnya manisan gula merah,"


"Pendekar Wei, kau tidak mengerti. Ini... Sangat pahit. Sungguh,"


"Haaah..." Wei Zhang Zihan mengembuskan napas dan berkata, "Sebelumnya memang ada manisan gula merah. Tapi aku memakannya,"


"Apa?!"


"Aku bosan menunggumu bangun,"


Chu Kai tercengang mendengar jawaban dari pemuda ini. Dia berkata, "Ka-Kau tidak seharusnya seperti itu, Pendekar Wei. Bukankah harusnya itu manisan untukku?"


"Sudahlah. Apa kau mau aku memuntahkannya dan kuberikan padamu? Dan lagi... Obat yang kau minum barusan adalah buatan Xia Ling Qing. Tidakkah harusnya kau lebih peduli pada itu?"


!!


Chu Kai tersentak. Binar pada matanya kembali. Dia tersenyum dan nampak bersemangat saat menatap Wei Zhang Zihan.


"Pendekar Wei," Chu Kai buka suara. "Apa sungguh nona Xia yang meracik obat untukku?"


"Untuk apa aku membohongimu. Memang dia yang melakukannya," Wei Zhang Zihan berkata, "Xia Ling Qing bahkan yang membawamu kemari. Dia juga yang memperban lukamu meski dia butuh bantuanku untuk memberikan balutan di punggungmu,"


"Mm..." Chu Kai mengerutkan kening, "Kenapa nona Xia tidak melakukannya sendirian saja? Dia bukannya pernah melihat tubuh bagian atasku.."


"Hah? Kau serius bicara seperti itu?"


"Hanya sedikit... Tapi kan tetap saja... Ehm.."


Wei Zhang Zihan menggeleng, pemuda ini sepertinya lupa tentang siapa yang sudah membuatnya terluka. Dia pun berdiri dan kemudian berkata, "Istirahatlah sejenak dan setelahnya turun ke bawah. Kita harus pergi sekarang,"


"Tapi aku baru saja bangun-!" Chu Kai melihat pintu tertutup dan lantas menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hanya saja detik berikutnya dia meringis karena sakit pada tangannya.

__ADS_1


"............" Chu Kai memperhatikan kedua tangannya yang diperban. Kepalanya pun masih terasa nyeri. Dia tidak tahu bagaimana sekarang, tetapi luka ini seharusnya butuh perawatan selama beberapa hari.


"Jika pendekar Wei bicara seperti itu... Maka pasti ada hal yang begitu penting terjadi," Chu Kai menarik napas dan tanpa sengaja melihat sebuah gulungan di samping bantal miliknya.


"Apa lagi ini..?" Chu Kai sedikit menahan rasa sakit di kedua tangannya ketika mengambil gulungan tersebut. Dia mengerutkan kening saat melihat isi dari benda ini yang ternyata adalah gambar tubuh dengan titik meridian.


!!


Chu Kai membuka lebih banyak gulungan di tangannya dan terbelalak saat membacanya. Benda ini membahas tentang jalur pernapasan dan fungsinya pada setiap gerakan tubuh serta peningkatan pada otot manusia.


"Apa Pendekar Wei memintaku mempelajari ini?" Chu Kai menarik napas dan kemudian memperhatikan baik-baik tulisan yang ada pada gulungan di tangannya.


Raut wajah Chu Kai berubah. Dia memegang kuat gulungan di tangannya ketika tatapannya tiba-tiba menajam. Dirinya pun melihat ke arah pintu yang tertutup, tempat di mana Wei Zhang Zihan keluar dari kamar ini.


Chu Kai merasa curiga jika Wei Zhang Zihan menyadari sesuatu tentangnya. Dia bukannya tidak percaya dengan pemuda itu, tetapi jika membahas tentang dunia pendekar---dirinya tidak boleh sampai kehilangan kewaspadaan.


Warna mata Chu Kai berubah menjadi merah saat dia memperhatikan kembali gulungan di tangannya. Tidak butuh waktu lama sampai dia kembali menarik napas dan perubahan terjadi di dalam tubuhnya.


Jalur meridian Chu Kai seperti bergejolak, aliran darahnya menjadi lebih lancar dan rasa sakitnya berangsur-angsur menghilang. Bekas cakaran pada pelipis Chu Kai memudar dan bekas cakaran pada punggungnya pun ikut mengalami perubahan.


Bekas cakaran tersebut menghilang, tetapi tidak butuh waktu lama sampai bekas itu kembali dan Chu Kai meringis. Cakaran pada pelipis pemuda itu bukan dibuat oleh hewan biasa, apalagi sejenis binatang iblis. Itu adalah tanda sekaligus pengingat tentang masa lalu yang tidak biasa dari pemuda ini.


Warna mata Chu Kai kembali seperti semula bersamaan ketika dia menarik napas. Dirinya pun menyimpan gulungan di tangannya dan lantas bersiap untuk kemudian turun menemui Wei Zhang Zihan.


Pendekar Suci dari Sekte Gunung Wushi itu rupanya menunggu Chu Kai di luar bangunan. Wei Zhang Zihan terlihat bersama Xia Ling Qing dan suasana tegang terasa menyeruak di antara mereka.


Chu Kai sendiri tidak mengetahui apa yang sedang kedua orang ini bicarakan. Apalagi, saat melihat dirinya---Xia Ling Qing langsung mendengus sebelum berjalan pergi sambil bersilang tangan.


"Ayo pergi," Wei Zhang Zihan berujar tanpa nada. Dia satu-satunya orang yang mau berjalan beriringan dengan Chu Kai, tidak seperti subjek cantik yang bertingkah seperti pemimpin rombongan itu.


"Pendekar Wei," Chu Kai buka suara. "Melihat sikap nona Xia... Rasanya seperti tidak ada yang berubah di antara kami. Kau... Kau yakin bahwa nona Xia yang sudah membalut lukaku dan bahkan membuatkan obat?"


Wei Zhang Zihan menatap pemuda di dekatnya dan tanpa nada berkata, "Memang Xia Ling Qing yang melakukannya. Apa kau mau jika aku yang melakukan itu semua?"


"Te-tentu saja aku lebih suka jika nona Xia yang buat..."


Wei Zhang Zihan buka suara, "Saat kubantu Xia Ling Qing membalut perban di tubuhmu... Kami melihat banyak sekali bekas cakaran. Itu mirip dengan bekas cakaran hewan buas. Kau... Apa pernah terlibat hal yang berbahaya?"


Chu Kai berkedip. Sejujurnya dia memang sedang bertanya-tanya mengapa Wei Zhang Zihan dan Xia Ling Qing tidak membahas apa pun tentang bekas luka di punggungnya, dia pikir kedua pendekar ini mungkin tidak mau peduli, tetapi ternyata Wei Zhang Zihan terus kepikiran.


Dan bila diperhatikan baik-baik, bukan hanya Wei Zhang Zihan---tetapi Xia Ling Qing pun nampak penasaran. Gadis cantik itu bahkan sengaja melambatkan langkahnya agar bisa mendengar ucapan dari Chu Kai.


"Aku..." Chu Kai memikirkan beberapa hal sebelum kembali bicara, "Aku mengalami kemalangan saat masih kecil. Sejenis itulah..."


Xia Ling Qing berdecak dan kemudian berbalik. Dia menatap Chu Kai dan buka suara, "Apa kau pikir kami bodoh? Mana ada cerita yang seperti itu? Kau ingin menipu siapa, huh?"


"A-apa maksud Nona Xia?" Chu Kai menjadi agak gugup, "Memang itu faktanya. Nona Xia harusnya juga tahu... Anak kecil itu selalu tertarik dengan hal baru dan bahkan tidak tahu apa pun dari risiko tindakannya. Aku.... Pergi ke hutan yang tidak seharusnya,"


Xia Ling Qing mendengus dan berjalan lebih cepat. Chu Kai yang melihat tindakannya nampak tersenyum pahit, "Sebenarnya nona Xia itu kenapa? Dia... Sepertinya tidak suka mendengar ceritaku,"


"Kurasa dia menunggu kisah yang berbeda," Wei Zhang Zihan buka suara dan membuat Chu Kai mengerutkan kening.


"Apa maksudmu, Pendekar Wei?"


"Sama seperti yang kukatakan. Xia Ling Qing menunggu kau menceritakan tentang masa kecilmu dan awal mula kau mendapatkan luka-luka itu. Sejujurnya saat aku melihatnya... Anak kecil seharusnya sudah tewas karena mengalami luka separah itu, tetapi kau... Justru bertahan dan bahkan sudah sebesar sekarang."


"............. Itu karena kata ayah aku mempunyai semangat hidup yang tinggi." dalam hati Chu Kai meminta maaf. Dia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena jika Wei Zhang Zihan dan Xia Ling Qing tahu, maka sesuatu yang berbahaya juga akan mengincar mereka.


Wei Zhang Zihan memperhatikan pemuda yang berjalan di sampingnya dan memang masih bertanya-tanya tentang beberapa hal. Fakta bahwa hubungannya dengan Chu Kai belum bisa disebut teman membuatnya terhalang untuk bertanya lebih jauh.


Wei Zhang Zihan bernapas pelan sebelum kembali buka suara. Kali ini dia mencoba membahas yang lain dengan berkata, "Kau melihat gulungan di samping bantalmu, kan? Bagaimana pendapatmu?"


"Oh?" Chu Kai berkedip karena tiba-tiba Wei Zhang Zihan membahas hal ini. Dia menggaruk pelan pipinya dan menjawab, "Aku melihatnya. Itu gambar bagian tubuh dan jalur meridian. Apa... Aku harus mempelajarinya?"


"Mm, kurasa kau sudah mempelajarinya."

__ADS_1


"Apa?"


"Tanganmu terlihat tidak sakit lagi. Bukankah begitu?"


Chu Kai tersentak, "I-ini masih sakit. Agak nyeri saat digerakkan,"


"..............." Wei Zhang Zihan menggeleng pelan. Dia menyilangkan tangan dan berkata, "Kuharap kau bisa.... Lebih berlatih untuk menipu orang lain."


!!


Chu Kai tersentak saat pemuda berpakaian biru muda itu berjalan mendahuluinya dan seolah menyusul Xia Ling Qing. Dia memijat pelan dahinya dan merutuk di dalam hati. Tidak seharusnya dia memperlihatkan hal yang bisa menimbulkan rasa curiga pada orang lain terhadap dirinya.


Dia sendiri sebenarnya tidak tahu bagaimana harus memberikan penjelasan. Gulungan yang diberikan oleh Wei Zhang Zihan tentang bagian tubuh dan jalur meridian tersebut bisa begitu mudah dipelajarinya.


Chu Kai menyusul kedua pendekar suci tersebut sambil sedikit meringis. Dia pun lantas buka suara, "Ehm... Konferensi Pendekar Muda itu... Apa benar hanya jebakan?"


Xia Ling Qing buka suara, "Konferensinya benar. Itu ada di kota ini. Hanya saja karena kecerobohan seseorang, kau masuk dalam jebakan."


Chu Kai tersentak. Dia sepertinya tahu siapa 'Seseorang' yang dimaksud oleh Xia Ling Qing. Dia pun bernapas pelan dan tersenyum saat berkata, "Tapi... Aku ingin berterima kasih pada orang itu. Karena kecerobohannya... Aku jadi bisa meminum obat buatan Nona Xia."


!!


Xia Ling Qing nyaris tersandung kakinya sendiri karena ucapan tidak terduga dari pemuda ini. Dia menatap sinis ke arah Chu Kai dan berkata dengan dingin, "Apa kau sedang berbangga diri?"


"Mm," Chu Kai dengan polos berkata, "Aku tentu saja bangga. Aku adalah orang biasa yang menerima kebaikan Nona Xia. Sejujurnya luka ini tidak terlalu buruk. Nona Xia juga sudah membantuku membalut luka ini dan begitu memperhatikanku. Bagaimana mungkin aku tidak senang,"


"Kau..!" Xia Ling Qing mengepalkan tangannya. Dia kesal sekali pada betapa tebalnya muka subjek di sampingnya ini. Beruntung karena ada suara orang asing yang menyerukan namanya sehingga dia tidak kelepasan untuk langsung memberi tendangan pada sosok di hadapannya.


"Bukankah itu Nona Xia Ling Qing?!"


"Dia Pendekar Suci Xia Ling Qing..!"


"Aku juga melihat Pendekar Suci Wei Zhang Zihan..!"


"Waaah...! Ini berita besar...!"


Chu Kai mengedarkan pandangan. Keningnya mengerut ketika melihat banyak orang yang seolah sudah menyadari kehadiran Wei Zhang Zihan dan Xia Ling Qing. Mereka semua nampak begitu mengelu-elukan kedua Pendekar Suci ini dan justru tidak ada satu pun yang memperhatikannya.


Xia Ling Qing mengembuskan napas, "Kau sebaiknya mulai menjaga mulutmu dari sekarang. Karena jika tidak, maka akan kubuat kau tidak bisa bicara."


Wei Zhang Zihan melihat Xia Ling Qing berjalan masuk ke sebuah bangunan besar yang tidak jauh di hadapan mereka. Dia menarik napas dan menepuk bahu Chu Kai.


Wei Zhang Zihan berkata, "Usahamu bagus. Tapi sebaiknya jangan ulangi lagi,"


"A-Apa? Tapi kenapa?" Chu Kai berkata. "Aku hanya memujinya. Dia sudah baik padaku, tapi kenapa responnya seperti itu?"


"Namanya juga perempuan. Kau tidak bisa mengerti," Wei Zhang Zihan menepuk punggung Chu Kai dan berjalan memasuki gedung besar di hadapannya.


Chu Kai mengembuskan napas dan kemudian mengikuti Wei Zhang Zihan. Dia sendiri bisa mendengar beberapa orang yang tengah berbisik tentang dirinya. Ada yang bertanya mengapa dia bisa bersama dengan pendekar suci dan mengapa Wei Zhang Zihan begitu dekat dengannya. Orang-orang ini... Seolah mulai memperhatikan dirinya.


Bangunan besar yang berada di pusat Kota Chang'An ini bernama Paviliun Merak Putih. Tempat sesungguhnya dari pertemuan untuk Konferensi Pendekar Muda.


Aura di tempat ini cukup menekan dan bahkan orang biasa pun dapat merasakan udara yang berbeda, seakan menandakan bahwa ini adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang kuat. Chu Kai pun menyadari hal yang sama dan menjadi tersadar bahwa sebenarnya bangunan yang dia datangi sebelumnya bukanlah tempat pendaftaran untuk konferensi yang sebenarnya.


Langkah Chu Kai terhenti sejenak sebelum kembali berjalan. Dia memperhatikan Wei Zhang Zihan dan yakin bahwa pemuda ini sudah sengaja membuatnya pergi ke tempat yang salah.


"Apa... Pendekar Wei curiga padaku?" Chu Kai mengepalkan tangannya sebelum menyentuh perban yang membalut kepalanya.


Dalam hati dia berdecak beberapa kali, "Orang sakit harusnya berbaring di tempat tidur. Dia dan nona Xia Ling Qing membalut kedua tangan, kepala dan bahkan punggungku, lalu esoknya menyuruhku mengikuti mereka ke sini. Mana ada orang sakit yang bisa berjalan setelah pengobatan sehari dan dengan luka yang parah? Obat ajaib pun bahkan butuh waktu sekitar dua atau tiga hari sebelum efeknya muncul, kan? Dan meski diberikan gulungan, tetap saja butuh waktu. Aiya... Kai. Kau bodoh sekali,"


"Apa yang kau pikirkan?" suara Wei Zhang Zihan terdengar tiba-tiba.


Chu Kai menggeleng pelan, "Tidak ada."


"Hmph, jalan lebih cepat."

__ADS_1


"Mn..." Chu Kai meringis dan mengikuti langkah Wei Zhang Zihan. Dalam hati dia berulang kali menghela napas, "Tunggu. Tapi kenapa mereka tidak membahasnya? Mereka tidak curiga kenapa aku bisa berjalan seperti orang normal saat penuh luka begini? Atau... Apa ini juga termasuk ujian yang tidak kuketahui?"


******


__ADS_2