LAHIRNYA PENDEKAR NAGA

LAHIRNYA PENDEKAR NAGA
83 - Kesepakatan


__ADS_3

"Haah... Aku benar-benar tidak habis pikir mendengar hal itu darimu. Waah... Tsk, tsk, tsk." Wei Shezi memperhatikan pemuda di sampingnya dengan sangat lama sebelum kembali buka suara.


"Apa yang kau inginkan dengan menjadi pendekar?" Wei Shezi bertanya.


"Tentu saja agar bisa dekat dengan nona Xia Ling Qing." Chu Kai percaya diri mengatakan. "Nona Xia Ling Qing itu adalah pendekar yang kuat. Jadi aku juga harus sekuat itu untuk bisa bersama dengannya,"


"Apa itu motivasimu?" Wei Shezi sudah menyaksikan banyak hal selama ini dan apa yang dia dengar sekarang merupakan kejadian pertama dalam hidupnya.


"Kau tahu," Wei Shezi berkata. "Seseorang yang menjadi pendekar... Mempunyai impian yang besar. Menaklukkan dunia, menjadi yang paling kuat, mencapai tingkatan tertinggi dari sebuah pencapaian kultivasi. Bu-bukannya... Menikah."


"Hei, kau pikir menikah itu bukanlah impian yang besar?" Chu Kai protes dan berkata. "Kau bisa melihatnya sendiri. Ada berapa banyak pendekar yang perjaka karena tidak pernah menikah? Populasi manusia bisa berkurang jika orang-orang hanya fokus berkultivasi tanpa ada niatan membina rumah tangga. Aku lebih mengkhawatirkan keselamatan dunia dari apa pun tahu."


"Astaga... Bagaimana bisa kau memikirkannya sejauh itu?" Wei Shezi menggeleng pelan, dia pun berkata. "Manusia berada di puncak rantai makanan walau sejujurnya aku sangat sakit hati mengakuinya. Mereka itu seperti... Membunuh satu, tetapi tumbuh seribu. Manusia masih jauh dari kata punah, kau tahu?"


"Bukankah binatang iblis juga begitu? Bahkan lebih parah lagi,"


Wei Shezi menghela napas dan menggeleng pelan. Dia pun bertanya, "Kau berasal dari sekte apa tadi?"


"Sekte Gunung Wushi,"


"Sekte Gunung Wushi itu.... Kota terdekatnya adalah Lianyi, kan?" Wei Shezi bertanya kembali dan dianggukkan oleh Chu Kai.


Wei Shezi berkata, "Kau melarikan diri dari Hutan Móguǐ saat berusia berapa tahun?"


"Ehm.... Kurasa sekitar 8 Tahun. Kenapa?"


"Ssh.... Kau melarikan diri dari hutan itu dan tinggal di Kota Lianyi saat usia 8 Tahun, apakah ayahmu tidak pernah memintamu untuk mendaftarkan diri sebagai murid Sekte Gunung Wushi?"


"Sama sekali tidak," Chu Kai menjawab. "Ayahku hanya ingin agar aku tumbuh dan hidup dengan baik. Ayahku sama sekali tidak pernah memaksakan apa pun padaku. Dia sosok yang mengagumkan,"


"Itulah.." Wei Shezi berdecak, "Inilah perbedaan antara manusia awam yang hanya ingin menjadi masyarakat biasa dari pada manusia yang memiliki impian menjadi pendekar."


"Memang apa salahnya?" Chu Kai berkata, "Menjadi pendekar justru selalu diterpa masalah. Ayahku ingin agar aku menjadi pengusaha yang sukses dan mengumpulkan mahar untuk menikahi nona Xia Ling Qing."


"Ya ampun, lagi-lagi menikah?" Wei Shezi memijat-mijat kepalanya, "Haiih... Kau sudah tidak tertolong lagi. Apa isi kepalamu itu hanya ada kata itu saja?"


"Maksudmu menikahi nona Xia Ling Qing?" Chu Kai tersenyum saat mengatakannya dan itu membuat Wei Shezi berdecak beberapa kali.


"Tsk, tsk, tsk... Astaga... Kenapa orang sepertimu yang ditunjuk menjadi Pendekar Naga...?"


"Entahlah, mana aku tahu."


Wei Shezi memijat-mijat lehernya dan lantas berkata, "Apa aku harus mengatakan ini? Pendekar yang berkultivasi untuk mencapai tingkatan tertinggi... Tidak akan pernah menikah. Mereka akan memutuskan semua hal tentang keduniawian."


"Sekte Gunung Wushi tidak seperti itu," Chu Kai baru akan bicara kembali saat Wei Shezi menyela.


"Aku tidak membicarakan secara umum tentang sekte ini, yang kumaksud adalah individu yang tinggal di dalamnya. Kuambil satu contoh, mereka yang sebelumnya kita bawa ke tempat ini... Adalah orang dengan ambisi yang besar untuk mencapai tingkat kultivasi tertinggi."


"Mereka yang kau maksud itu adalah Pendekar Suci Xia Ling Qing dan Pendekar Suci Wei Zhang Zihan. Mereka saudara seperguruanku dan sosok yang kukagumi, jadi jangan menjelek-jelekannya."

__ADS_1


"Siapa juga yang melakukan hal itu? Aku bicara sesuai fakta. Gadis yang kau sukai itu... Dia sama sekali tidak tertarik padamu. Kau ini... Lebih baik menyerah saja,"


"Tidak akan," Chu Kai berkata. "Rasa cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Nona Xia mungkin belum tertarik padaku saat ini, tapi masa depan-"


"Dia juga tidak akan tertarik padamu," Wei Shezi menyela dan membuat Chu Kai tersentak.


"Kau ini-"


"Daripada itu, bukankah lebih baik kau memikirkan solusi tentang masalahmu sekarang?" Wei Shezi berujar kembali dan membuat pemuda di sampingnya menaikkan sebelah alis.


"Masalahku? Apa maksudmu?"


Wei Shezi menarik napas dan berkata, "Jujur saja. Kau ini terlambat dalam pelatihan kultivasi. Kau memang mempunyai kekuatan monster, tapi sebenarnya itu belum sempurna."


Wei Shezi melanjutkan, "Aku pernah melihat dan merasakannya sendiri. Serangan dari teknik pernapasan milikmu mempunyai efek yang mengerikan dengan lingkup yang luas. Jika kau menggunakannya di tengah-tengah kota, maka sama sekali tidak bisa dipastikan akan ada berapa banyak orang yang tewas."


"Belum lagi..." Wei Shezi berkata. "Serangan itu juga membunuh tumbuhan di sekitarnya. Aku yakin kau bisa membayangkan betapa bahaya dan mengerikannya teknik pernapasanmu itu."


".......... Jadi aku.... Harus bagaimana?"


"Alasan mengapa fisikmu masih setingkat manusia biasa dan bahkan kualitas tulangmu pun tidak ada bedanya... Adalah karena saat kau berada di Hutan Móguǐ, mereka hanya mengajarimu caranya membunuh. Mereka tidak memberikan penjelasan apa pun tentang tingkat kultivasi, teknik serangan, pertahanan, dan sebagainya. Dan karena itulah saat kau melawanku... Gerakanmu sama sekali tidak bervariasi,"


"Rasa-rasanya... Di Hutan Móguǐ kau hanya diajari tentang bagaimana menghilangkan nyawa lawan tidak peduli apa pun, termasuk keselamatan diri sendiri." Wei Shezi menghela napas dan berujar, "Berlatih di usiamu yang sekarang.... Ehm..."


"Apa sangat mustahil hingga kau bahkan tidak bisa menjawabnya?"


"Bukannya mustahil. Tapi jika kau tidak punya motivasi yang kuat, maka-"


Chu Kai melanjutkan, "Kau mempunyai prinsip dan aku juga sama. Prinsipku adalah 'Pantang Menyerah'. Jadi kapan aku mulai latihan?"


?!


Wei Shezi tersentak, dia baru saja tidak salah dengar. "Kau.... Apa itu berarti kau setuju untuk bekerja sama denganku?"


"Kalau tidak setuju, apa aku akan tetap di sini dan menemanimu bicara?"


"Bagus!" Wei Shezi tersenyum, dia sangat senang sampai memukul gemas Chu Kai hingga membuat pemuda itu terkejut.


"Ehem," Wei Shezi berdeham, "Aku terlalu bersemangat. Ini pertama kalinya aku menerima murid, jadi aku merasa senang."


"............. Apa lebih baik kutarik ucapanku sebelumnya?"


"Kau tidak boleh seperti itu. Kita sudah sepakat. Akan kupastikan bahwa pilihanmu sangat tepat dengan berada dipihakku," asap tipis terbentuk di tangan Wei Shezi sebelum memadat dan berubah menjadi sebuah kipas berwarna merah.


Wei Shezi berkata, "Kau akan mulai berlatih setelah kedua temanmu pulih. Aku ini cukup murah hati, jadi sebelum hari itu tiba... Kau bisa memanfaatkan waktumu untuk istirahat atau apa pun."


Tubuh Wei Shezi tiba-tiba berubah menjadi kabut sebelum pada akhirnya menghilang. Chu Kai tentu saja kaget karena itu terjadi tepat di depan matanya. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana wanita tersebut melakukannya.


"Dan selanjutnya aku tidak bisa terus menampakkan diri. Aku hanya akan bicara padamu seperti ini,"

__ADS_1


Sebuah suara terdengar, seolah berada di dalam pikiran Chu Kai. Pemuda itu pun cukup lama terdiam sebelum mulai mengembuskan napas pelan. Dia benar-benar harus terbiasa dengan banyak kejutan.


*


*


Chu Kai berada di dalam sebuah kamar, dia duduk di sebuah kursi dan menatap sosok yang saat ini terbaring di tempat tidur. Subjek itu tidak lain adalah Xia Ling Qing. Beberapa kali Chu Kai mengembuskan napas berat karena melihat kondisi dari Pendekar Suci ini.


"Dia tidak apa-apa," tabib yang bersama Chu Kai di ruangan itu buka suara. Sosok pria tua dengan janggut putih itu berkata, "Aku sudah meracikkan obat. Kau minumkan padanya dua kali sehari dan kondisinya akan membaik,"


"Terima kasih," Chu Kai membungkuk memberi hormat saat tabib itu hendak berjalan keluar. Pandangannya pun kemudian mengarah pada cawan berisi cairan obat yang dibuatkan oleh tabib tersebut.


Tabib itu sebelumnya memang sudah merebus obat untuk Xia Ling Qing dan Wei Zhang Zihan saat Chu Kai datang. Sekarang, tugas Chu Kai adalah membuat kedua pendekar suci tersebut meminum obat herbal ini.


"Nona Xia masih belum bangun, bagaimana cara melakukannya?" Chu Kai menggaruk pipinya yang tidak gatal saat suara Wei Shezi terdengar.


"Jangan bilang kau akan memanfaatkan kesempatan ini?"


"Tsk, diamlah." Chu Kai mengambil obat di cawan keramik tersebut dan menyesapnya sedikit. Dia pun langsung terbatuk.


"Ini sangat pahit, ouwh. Lidahku sampai mati rasa," Chu Kai sampai merinding karena rasa pahit dari obat di tangannya.


"Gadis itu akan membunuhmu jika sampai bangun,"


"Itulah yang kukhawatirkan," Chu Kai menelan ludah sebelum dengan perlahan mengangkat Xia Ling Qing untuk disandarkan pada dadanya.


"Aku hanya menolong. Tidak sedang melakukan hal yang buruk," Chu Kai dengan hati-hati meminumkan obat pada Xia Ling Qing menggunakan cawan keramik di tangannya.


Hanya saja ini sangat rumit. Xia Ling Qing benar-benar tidak sadarkan diri, jadi mustahil memberikan minum di saat rahang gadis ini tertutup rapat. Juga mustahil memberikan obat menggunakan sendok karena lidah Xia Ling Qing menutupi bagian depan tenggorokannya.


Jika Chu Kai memasukkan obat herbal ini secara paksa, maka hanya akan membuatnya menetes kembali di sudut bibir Xia Ling Qing.


Karena tidak mempunyai pilihan lain, Chu Kai pun kembali menyesap obat herbal itu sendiri. Ia lalu membuka gigi Xia Ling Qing dan menekan lidah gadis itu dengan lidahnya saat dengan paksa memberikan obat herbal tersebut dari mulut ke mulut. Cara ini terbilang efektif sebab setelah beberapa kali, obat herbal yang ada di cawan keramik itu sudah tidak bersisa.


Chu Kai membaringkan Xia Ling Qing, menyelimuti baik-baik gadis tersebut sebelum mulai keluar dari ruangan itu dan bersandar setelah menutup pintu.


Ekspresi wajah Chu Kai terlihat sangat pucat dan seolah tahu apa yang ada dalam benak pemuda itu, Wei Shezi pun buka suara.


"Kau benar-benar sudah melakukannya. Saat gadis itu sadar nantinya, maka dia akan langsung memenggal kepalamu."


"Ka-kau jangan menakutiku. Aku sama sekali tidak ada niatan apa-apa. Itu semata-mata untuk menolong orang. Sebuah rasa kemanusiaan," Chu Kai menelan ludah, rasa pahit karena obat herbal buatan tabib sungguh membuatnya sakit perut.


Chu Kai menggeleng, rasa pahit dari obat tersebut bahkan membuat dirinya tidak sempat memikirkan hal yang bukan-bukan. Dia pun mengembuskan napas dan berjalan ke kamar Wei Zhang Zihan untuk memeriksa kondisi dari Pendekar Suci tersebut.


Pemuda menawan yang menduduki peringkat kedua dari jajaran Lima Pendekar Suci Sekte Gunung Wushi itu juga belum sadarkan diri. Raut wajah Chu Kai pucat saat melihat ada cawan keramik berisi obat herbal yang mirip seperti obat Xia Ling Qing sebelumnya. Ini berarti bahwa Wei Zhang Zihan pun perlu meminum obat yang sama.


Chu Kai membeku.


"Ba-bagaimana ini..."

__ADS_1


"Apa yang kau pikirkan, pfft? Bukankah sebelumnya kau berkata bahwa itu untuk menolong orang? Jadi apa yang kau tunggu?" suara Wei Shezi terdengar bagai ledekan, bahkan Chu Kai seolah bisa melihat bagaimana ekspresi wajah wanita jadi-jadian tersebut.


******


__ADS_2